Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 25
Ruangan itu mendadak senyap. Jackman terdiam, matanya menyipit seolah sedang menimbang setiap kata yang keluar dari bibir Jay.
Jika benar Zavier adalah otak di balik penculikan Anna untuk menyabotase acara tersebut, maka itu bukan lagi sekadar persaingan saudara, melainkan penghinaan langsung terhadap otoritas Jackman yang sedang menyelenggarakan acara amal itu.
Jackman tidak suka dipermainkan. Ia tidak keberatan putranya saling sikut, namun ia tidak akan mentoleransi seseorang yang membuat acaranya berantakan dan membuatnya terlihat lemah di depan publik.
Pria tua itu kemudian menekan tombol interkom di mejanya dengan gerakan tegas.
“Panggil Helena dan Zavier ke ruanganku sekarang juga,” perintah Jackman dingin kepada kepala pengawal di luar.
“Bawa mereka kemari tanpa alasan. Detik ini juga.”
Jackman kembali menatap Jay, tangannya meraih gelas wiski yang masih tersisa.
“Jika kau berbohong hanya untuk menyelamatkan posisimu, Jay. Aku sendiri yang akan memastikan kau tidak akan pernah melihat gadis itu lagi.”
Jay hanya menyeringai tipis, sebuah seringai penuh percaya diri yang mengandung ancaman.
“Dan jika aku benar, pastikan kau tahu apa yang harus dilakukan pada pengkhianat di bawah atapmu ini.” Jawab Jay tanpa rasa takut.
Pintu ganda dengan arsitektur rumit itu terbuka dengan dentuman pelan namun tegas. Helena melangkah masuk dengan keanggunan yang dipaksakan, dagunya terangkat tinggi meski batinnya bergejolak.
Di belakangnya, Zavier menyusul dengan wajah datar yang nyaris sempurna—sebuah topeng ketenangan yang telah ia latih.
Di dalam ruangan, aroma cerutu dan wiski terasa menyesakkan. Jackman duduk di balik meja besarnya seperti seorang hakim agung, sementara Jay berdiri di sudut gelap, mengamati mereka dengan tatapan predator.
“Duduk,” perintah Jackman singkat. Suaranya rendah, jenis suara yang biasanya mendahului badai besar.
Helena melirik Jay sekilas sebelum beralih pada suaminya.
“Ada apa ini, Jackman? Pengawalmu menjemput kami seolah-olah kami ini buronan. Sangat tidak sopan.”
Jackman tidak bergeming. Ia menatap Zavier, mengabaikan keluhan istrinya.
“Zavier, kau yang telah merencanakan penculikan gadis yang bernama Anna?”
Zavier mengerutkan kening, tampak bingung dengan sangat meyakinkan.
“Anna? Maksud ayah? Anna siapa?”
“Berhenti bersandiwara, Zavier. Aku mengetahui apa yang sebenarnya kau inginkan. Kalian berdua, tidak suka aku mewarisi kekuasaan ini.”
Helena segera memotong, suaranya naik satu oktav.
“Jaga bicaramu, Jay! Kau menuduh saudaramu sendiri tanpa bukti hanya karena kau tidak becus melaksanakan perintah ayahmu di malam amal itu? Jangan melimpahkan kegagalanmu pada Zavier. Begini kah tanggung jawabmu? Beginikah kau membalas ku atas apa yang telah ku berikan padamu? Aku merawatmu sedari kau di bawa ke mansion ini!” Kata Helena dengan suara yang anggun namun penuh penekanan.
“Ya. Dan anda diam saja ketika anak anda memukuli saya setiap hari.”
“Masalah itu sudah di selesaikan dan di tutup dengan menghukum Zavier pergi. Hari ini Zavier kembali karena permintaan ayahnnya bukan karena keinginannya sediri!”
Helena beralih menatap Jackman dengan tatapan memohon yang dibuat-buat. Seolah dari sorot matanya ia meminta perlindungan.
“Ayah, jika ini soal persaingan posisi di perusahaan, dan kekuasaan, saya terima. Tapi menculik? Itu tindakan kriminal yang kotor dan hina.”
Jackman menyesap wiskinya perlahan, matanya menyipit menembus kulit mereka, mencari retakan sekecil apa pun dalam ekspresi wajah istri dan putranya.
“Saksi bisa dibeli, Zavier. Dan mulut bisa berbohong,” ucap Jackman dingin. Ia condong ke depan, aura otoritasnya menekan ruangan itu hingga terasa kedap udara.
“Tapi jika aku menemukan satu saja bukti bahwa kalian membuat acara amal ini menjadi bahan tertawaan karena drama penculikan ini... kalian tahu konsekuensinya.”
Helena tersenyum tipis, meski jemarinya meremas tangannya sendiri.
“Kami tidak punya alasan untuk berbohong, Sayang. Jay hanya sedang melimpahkan kesalahannya pada kakaknya, karena ia tidak mau bertanggung jawab. Ini kali pertama Jay melakukan kesalahan setelah sekian lama ia selalu bekerja dengan sempurna menjalakan semua perintah mu Jackman. Pasti ada perasaan yang retak dalm jiwanya. Obsesinya tingg.”
Zavier tetap diam, wajahnya sedingin es, namun detak jantungnya yang memburu tersembunyi rapat di balik setelan jas mahalnya. Permainan kata-kata ini baru saja dimulai.
Pintu ganda berarsitektur rumit itu terbuka dengan dentuman pelan namun tegas. Helena melangkah masuk dengan keanggunan yang dipaksakan, dagunya terangkat tinggi meski batinnya bergolak hebat.
Di belakangnya, Zavier menyusul dengan wajah datar yang nyaris sempurna—sebuah topeng ketenangan yang telah lama ia latih.
Di dalam ruangan, aroma cerutu dan wiski terasa menyesakkan. Jackman duduk di balik meja besarnya bak hakim agung di ruang sidang, sementara Jay berdiri di sudut gelap, mengamati mereka dengan tatapan predator yang tajam dan tak terbaca.
“Duduk,” perintah Jackman singkat. Suaranya rendah—jenis suara yang selalu mendahului badai besar.
Helena melirik Jay sekilas sebelum menatap suaminya.
“Ada apa ini, Jackman? Pengawalmu menjemput kami seolah-olah kami buronan. Sungguh tidak sopan.”
Jackman tidak bergeming. Tatapannya lurus pada Zavier, mengabaikan protes istrinya.
“Zavier, apakah kau yang merencanakan penculikan gadis bernama Anna?”
Zavier mengernyit, kebingungannya tampak begitu meyakinkan.
“Anna? Maksud Ayah… Anna yang mana?”
“Berhenti bersandiwara, Zavier.” Jay memotong dengan suara dingin, sorot matanya tajam dan mengintimidasi. Tenang, namun menekan.
“Aku tahu apa yang sebenarnya kau inginkan. Kalian berdua tidak pernah suka aku mewarisi kekuasaan ini.”
Helena segera menyela, suaranya naik satu tingkat.
“Jaga bicaramu, Jay! Kau menuduh saudaramu sendiri tanpa bukti hanya karena kau gagal menjalankan perintah ayahmu di malam amal itu? Jangan limpahkan kegagalanmu pada Zavier. Begitukah caramu bertanggung jawab?”
Ia melangkah maju setengah langkah.
“Beginikah balasanmu atas semua yang telah kuberikan? Aku merawatmu sejak kau dibawa ke mansion ini!”
Jay tersenyum tipis, getir.
“Ya. Dan Anda juga diam ketika putra Anda memukuli saya setiap hari.”
Helena menegang.
“Masalah itu sudah diselesaikan. Zavier dihukum dan diasingkan. Ia kembali hari ini atas permintaan ayahnya, bukan atas keinginannya sendiri!”
Helena lalu menoleh pada Jackman dengan tatapan memohon yang dibuat-buat, seolah meminta perlindungan.
“Ayah, jika ini soal persaingan posisi di perusahaan dan kekuasaan, saya terima. Tapi menculik? Itu tindakan kriminal yang kotor dan hina.”
Jackman menyesap wiski perlahan. Matanya menyipit, menembus wajah istri dan putranya, mencari retakan sekecil apa pun dalam ekspresi mereka.
“Saksi bisa dibeli, Zavier. Dan mulut bisa berbohong,” ucapnya dingin.
Ia condong ke depan, auranya menekan ruangan hingga terasa kedap udara.
“Tapi jika aku menemukan satu saja bukti bahwa kalian menjadikan acara amal ini bahan tertawaan lewat drama penculikan itu… kalian tahu konsekuensinya.”
Helena tersenyum tipis, meski jemarinya saling meremas.
“Kami tidak punya alasan untuk berbohong, Sayang. Jay hanya sedang melimpahkan kesalahannya pada kakaknya karena tidak mau bertanggung jawab. Ini pertama kalinya ia membuat kesalahan setelah sekian lama menjalankan semua perintahmu dengan sempurna. Mungkin ada sesuatu yang retak dalam jiwanya. Obsesinya terlalu tinggi.”
Zavier tetap diam, wajahnya sedingin es. Namun detak jantungnya yang berpacu cepat tersembunyi rapi di balik setelan jas mahalnya.
Permainan kata-kata ini baru saja dimulai.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....