NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi kerikil tajam. Jubah biru milik Kang Dae yang kukenakan terasa sedikit sempit di bagian bahu, mengingat struktur tulangku kini jauh lebih padat setelah evolusi. Sinyal darurat di belakangku masih menyala terang, membelah langit fajar yang pucat.

Kenapa aku tidak berlari secepat mungkin untuk menjauh dari wilayah sekte? Jawabannya sederhana, karena berlari hanya akan memancing perhatian para pengejar yang memiliki kemampuan pelacakan tingkat tinggi. Berjalan santai seperti seorang pengelana adalah penyamaran terbaik yang bisa kulakukan saat ini.

Sebuah desa kecil mulai terlihat di kaki bukit. Namanya Desa Bambu Kuning, sebuah pemukiman yang biasanya menjadi tempat persinggahan para pedagang kelas menengah.

"Berhenti di sana, anak muda," tegur seorang pria tua yang sedang menyapu halaman penginapan kecil di pinggir desa.

Aku menghentikan langkahku tepat di depannya. Pria itu menatap jubah biruku dengan mata yang menyipit. "Jubah itu milik Sekte Awan Azure, bukan?"

"Benar, Pak Tua," sahutku sembari mengangguk sopan. "Aku baru saja menyelesaikan tugas luar dan berniat mencari sarapan."

"Tugas luar di jam sebegini?" tanyanya menyelidik sembari mengamati wajahku yang tampak bersih dari debu.

"Dunia persilatan tidak mengenal jam tidur bagi mereka yang masih berada di posisi bawah," jawabku dengan senyum tipis yang kupaksakan.

Pria tua itu tertawa pendek, suaranya terdengar serak. "Masuklah. Kedai di dalam sudah buka, meski pilihannya belum banyak."

Aku melangkah masuk ke dalam penginapan yang didominasi kayu-kayu tua yang sudah mulai melapuk. Di sudut ruangan, seorang pria bertubuh kekar sedang duduk sembari memegang cangkir teh. Pedang besar yang disandarkan di samping mejanya menandakan bahwa ia adalah seorang kultivator pengelana.

"Pelayan, berikan aku apa saja yang bisa mengisi perut ini," pesanku sembari duduk di meja yang paling pojok.

"Segera datang, Tuan Muda," sahut seorang gadis remaja dari balik tirai dapur.

Sembari menunggu, aku mencoba merasakan sirkulasi energi di dalam tubuhku. Esensi dari Jang Gwang masih terasa panas di dalam meridianku. Sistem memberikan sebuah jendela notifikasi kecil di sudut penglihatan.

[Status Sinkronisasi: 92%. Energi Formasi Inti sedang diubah menjadi esensi murni Asura.]

Kenapa aku merasa lapar yang luar biasa padahal aku baru saja mengonsumsi energi dari lima orang sekaligus? Alasannya adalah karena sel-sel monstertu membutuhkan nutrisi fisik untuk memperbaiki jaringan otot yang sempat rusak selama proses evolusi. Energi murni hanya berguna untuk kultivasi, bukan untuk metabolisme dasar.

"Ini pesanan Anda. Bubur ayam dan teh hangat," ucap gadis pelayan tadi sembari meletakkan nampan di hadapanku.

"Terima kasih," balasku singkat.

Saat aku hendak menyuapkan bubur ke mulut, pria kekar di meja seberang tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arahku. Ia berhenti tepat di sisi mejaku.

"Kau dari Awan Azure, ya?" tanyanya dengan suara yang berat.

Aku mendongak, menatap matanya yang berwarna kecokelatan. "Ada perlu apa?"

"Kulihat sinyal darurat menyala di puncak bukit sekte kalian. Apakah ada serangan dari Sekte Iblis?" selidiknya dengan nada bicara yang penuh rasa ingin tahu.

"Aku tidak tahu. Aku sudah berada di luar sejak semalam," bohongku dengan wajah datar.

Pria itu mengusap dagunya yang kasar. "Sayang sekali. Jika sekte besar seperti Awan Azure dalam masalah, itu bisa mengganggu jalannya Turnamen Naga Langit yang akan diadakan bulan depan."

Turnamen Naga Langit? Nama itu terdengar tidak asing di telingaku. Itu adalah ajang bergengsi bagi para kultivator muda untuk memperebutkan akses ke Makam Pedang Kuno.

"Apakah turnamen itu tetap diadakan di Kota Guntur?" tanyaku mencoba menggali informasi lebih dalam.

"Tentu saja. Semua sekte besar sudah mulai mengirimkan perwakilan mereka," timpalnya sembari kembali ke mejanya. "Tapi jika sekte kalian sedang kacau, mungkin satu slot akan kosong tahun ini."

Aku terdiam sejenak. Jika aku ingin menghilang sepenuhnya dari radar pengejaran Sekte Awan Azure, bergabung dengan keramaian di Kota Guntur adalah pilihan yang masuk akal. Di sana, ribuan kultivator akan berkumpul, menjadikannya tempat persembunyian yang sempurna bagi monster sepertiku.

Tiba-tiba, rasa gatal yang hebat menyerang telapak tangan kananku. Aku segera menyembunyikannya di bawah meja. Di balik kain jubah, aku bisa merasakan sisik-sisik hitam mulai muncul kembali secara tidak terkendali.

[Peringatan: Residu emosi negatif dari target terdeteksi. Risiko transformasi parsial yang tidak disengaja: Tinggi.]

"Sial," umpatku pelan.

"Ada masalah, Tuan Muda?" tanya gadis pelayan yang kebetulan lewat di dekatku.

"Tidak, aku hanya teringat sesuatu yang tertinggal," sahutku sembari bangkit berdiri dengan terburu-buru.

Aku meletakkan sekeping perak di atas meja dan segera berjalan keluar. Aku harus mencari tempat yang sunyi untuk menstabilkan kondisi ini sebelum aku kehilangan kendali di tengah keramaian desa.

Kenapa sistem ini tidak bisa menekan insting monsterku sepenuhnya saat aku berada di dekat manusia? Jawabannya karena monster tetaplah monster, ia akan selalu merespon keberadaan mangsa potensial di sekitarnya.

Saat aku mencapai pinggiran hutan bambu di belakang desa, aku mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di belakangku.

"Berhenti di sana, Han Wol!"

Suara itu sangat kukenal. Itu adalah suara salah satu pengawal pribadi Jang Mi yang sepertinya berhasil selamat. Aku menoleh perlahan, membiarkan tangan kananku yang kini sudah sepenuhnya berupa cakar hitam menggantung di samping tubuh.

"Kau cukup gigih untuk ukuran seorang pecundang," ucapku sembari menyeringai.

Di depanku berdiri tiga orang murid batin dengan wajah yang penuh amarah. Mereka memegang gulungan kertas yang sepertinya adalah surat penangkapan.

"Kau pikir bisa kabur setelah membunuh Tetua Agung?" teriak salah satu dari mereka sembari menghunuskan pedang.

Aku menghela nafas panjang, merasakan detak jantungku mulai berdegup kencang seiring dengan hasrat membunuh yang kembali bangkit. "Aku hanya ingin sarapan dengan tenang, tapi kalian justru ingin menjadi sarapan tambahanku."

"Jangan sombong! Formasi Pengikat Awan!" seru pemimpin mereka.

Tiga helai tali energi biru keluar dari tangan mereka, melesat ke arah kaki dan tanganku. Namun, sebelum tali itu sempat menyentuh kulitku, aku sudah menghilang dari posisi berdiriku.

"Ke mana dia?" tanya salah satu murid dengan nada panik.

"Di atas kalian," bisikku tepat di atas kepala mereka.

Cakar kananku berkilat tertimpa cahaya matahari. Kali ini, aku tidak akan membiarkan satupun dari mereka mengirimkan sinyal tambahan. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat jika aku ingin sampai di Kota Guntur tepat waktu.

Denting logam kembali terdengar, namun kali ini bercampur dengan suara robekan daging yang sangat jelas. Aku bisa merasakan esensi mereka mulai terserap, mengisi celah delapan persen terakhir dalam proses sinkronisasiku.

Sesuatu yang besar sedang menunggu di Kota Guntur, dan aku harus memastikan bahwa monster di dalam diriku sudah benar-benar jinak sebelum aku sampai di sana.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!