NovelToon NovelToon
Satu Di Hati

Satu Di Hati

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: mom fien

Satu di Hati.
Kamu seperti matahari,
Hangat di pagi hari,
Menyengat di siang hari,
Meredup saat senja hari.
Namun kamu tetap satu di hati.
# Red_Dexter (pinterest)

Kisah cinta ringan antara Erick dan Jeny. Bagi Erick, Jeny adalah mataharinya, ia tidak bisa hidup tanpanya.
Keraguan, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Jeny.
Senja, waktu favorit Jeny, dan Erick memastikan bahwa Jeny harus melihat kearahnya saat senja.

Kisah nyata seorang kenalan, dengan bumbu dramatisasi, untuk menemani kamu melepas penat menjelang tidur agar bermimpi indah tentang cinta.

Full of love,
Author ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom fien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berlutut satu kaki

Ini gila, aku melihat pantulanku di cermin kamar mandi, beberapa tanda kemerahan muncul di area dadaku, aku menyentuh tanda merah itu, mengulang memoriku tentang semalam.

Kami pulang kerumahku setelah makan siang.

"Babe, aku ke kamar dulu ya, beresin koper sama ganti baju."

"Ya", ucapnya lalu duduk di sofa keluarga dan menyalakan TV.

Setelah aku selesai membereskan kamarku, aku turun menuju ruang keluarga. Di tangga aku melihatnya menatapku dengan sebuket bunga di tangan.

"Babe.... kapan kamu beli ini?"

"Pesan antar waktu di apartemen."

"Makasih babe", aku mengambil buket bunga itu, mengagumi susunan beberapa rose berwarna merah dan pink, mencium harum bunganya. Saat mataku kembali menatapnya, ia berlutut satu kaki dengan cincin menghadapku.

"Sudah lama aku merencanakan ini, dan memilih rumah ini sebagai lokasi yang tepat untuk melakukannya, aku ingin om dan tante melihatku dan merestuiku dari alam sana. Aku ga memintamu menikah secepatnya, kita bisa bertunangan dan menikah setelah kamu lulus, soal pekerjaan aku juga akan mendukung kamu untuk melakukan apapun keinginanmu. Jadi Cecilia Jeny Prayoga, apa kamu bersedia menjadi istriku?"

Aku sungguh terharu melihatnya berlutut di hadapanku, di rumah ini, tempat dimana aku tinggal dan dibesarkan dengan penuh cinta kedua orangtuaku, aku yakin saat ini mereka tersenyum bahagia melihatku.

"Kak kita duduk dulu", aku membantunya berdiri lalu berjalan ke sofa sambil meletakkan buket bunga di meja. Kak Erick terlihat kecewa, ia menutup tempat cincin itu dan menggenggamnya.

"Aku sungguh bahagia babe, dan tentu saja aku mau menjadi istrimu", aku menatapnya sambil menggegam salah satu tangannya yang tidak memegang cincin.

"Ada tapinya kan babe?", ucapnya tidak bisa lagi menutupi kekecewaannya.

"Kita baru jadian berapa bulan sih babe?"

"Terus apa penting angkanya?", tanyanya lagi.

"Ga penting", ucapku menyadari kesalahan kalimat yang aku utarakan.

"Aku tau aku bisa berkarir dengan status menikah, tapi mau bagaimanapun status itu punya beban tersendiri bukan? Dalam pikiranku, kata istri itu berarti aku harus mengutamakan suamiku sebagai kepala keluarga. Untuk sementara aku masih ingin egois untuk diriku sendiri. Aku ingin memutuskan pilihanku tanpa beban. Bukan berarti saat ini juga aku ga mikirin kamu dalam berbagai keputusanku babe. Belum lagi soal anak, aku ga tau bagaimana pendapatmu soal itu, tapi aku tau papa dan mama pasti ingin segera punya cucu kan?"

"Kita ga perlu menuruti keinginan mereka", potongnya, aku tersenyum dan melanjutkan perkataanku.

"Ya aku tau kamu lebih mementingkan keinginanku kan. Tapi sesungguhnya aku ga keberatan punya anak setelah menikah, aku rasa itu hal yang wajar. Aku hanya butuh waktu untuk menikmati diriku sendiri tanpa ada beban."

"Cincin ini aku akan menyimpannya sama seperti gelang ini.", tunjukku pada gelang yang melingkar pada lengan kiriku.

"Aku sendiri ga tau kapan aku siap memakai cincin ini. Mungkin saat lulus, mungkin aku berpikir aku sudah puas bekerja hanya dalam waktu 1 bulan, atau mungkin tiba-tiba besok aku berubah pikiran dan ingin segera bertunangan. Jadi untuk saat ini bolehkah aku memintamu menunggu lagi?"

"Ya tentu saja, aku tau kemungkinan aku ditolak cukup besar, aku hanya tidak ingin menyesal dan memberanikan diri dengan sedikit harapan."

"Ohhh babe... makasih banyak.", aku mencium bibirnya kemudian berkata,

"Boleh aku lihat cincinnya?"

"Ini, kamu simpan dulu."

"Cincinnya cantik banget babe, aku suka."

"Iya, lebih cantik lagi kalau dipakai loh.", godanya sambil tersenyum.

"Aku bisa ngobatin rasa kecewa kamu, mau ke kamar?", bisikku di telinganya.

Ia tersenyum seakan mengerti maksudku, lalu menggendongku ala bridal style.

"Babe malu nanti dilihat mba."

"Aku udah bilang sama mba mau lamar kamu, sebenarnya dari tadi mba kamu udah kasih privasi mangkanya ga lalu lalang masuk ke ruang keluarga kan?"

"Oooo...", ternyata ia benar-benar sudah mempersiapkan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!