“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 5
Miranda keluar dari kamar dengan tubuh gemetar. Ia masih tidak menyangka pernikahannya berujung pada perceraian. Langkahnya goyah seperti orang kehilangan arah. Dinding rumah terasa asing bagi dirinya sendiri.
Miranda melangkah ke ruang tengah. Belum juga sampai ke ruang tengah, ibu Rina berteriak, “miranda!!!!”.
Miranda tertegun, badannya semakin gemetar.
Rani melangkah mendekat ke Miranda lalu mengambil paksa koper yang dibawa olehnya. Gerakannya kasar tanpa rasa iba. Koper itu seolah barang haram yang harus disita.
“ini adalah koper anakku”ucap Rani membuka resleting koper lalu mengeluarkan semua isinya.
Hati Miranda semakin sakit. Ternyata pengorbanannya selama ini benar-benar tidak diakui. Ia hanya menerima penghinaan yang terus berulang. Tidak ada satu pun pembelaan.
Ibu Rani melangkah ke dapur. Ia mengambil plastik sampah lalu kembali lagi ke arah Miranda. Plastik itu dilemparkan begitu saja.
“pakai ini jangan bawa koper itu”ucap ibu Rani.
Air mata Miranda keluar tanpa bisa ditahan. Dadanya terasa sesak seperti dihimpit batu besar. Ia kembali mengambil satu per satu bajunya yang berserakan.
Miranda melangkah menatap Raka dengan pandangan sayu. Dengan nada terbata-bata ia berkata, “mas aku pergi.”
Raka tertegun. Entah mengapa ada sesuatu yang salah yang belum ia mengerti. “ya,” jawab Raka, “hati-hati dijalan.” Nadanya pelan.
Lina tampak merengut melihat hal itu. Ia tadinya ingin melihat Miranda melawan Raka. Dalam bayangannya akan ada tamparan atau kekerasan, tetapi tidak terjadi.
Miranda melangkah demi selangkah keluar dari rumah Raka. Rumah tempat ia mencurahkan semua upaya demi pengakuan. Namun mereka memang tidak pernah suka dan tidak akan pernah menerima dirinya.
Miranda hanya perempuan tanpa status jelas. Itulah cap yang selalu dilekatkan padanya. Seluruh usahanya seperti debu diterbangkan angin.
“akhirnya benalu itu pergi”ucap Rani dengan senyum puas.
Pak Budi tampak sayu. Seperti ada sesuatu yang hilang dari rumah itu. Ia ingin sekali membela Miranda, tetapi tidak punya kuasa.
Pak Budi hanyalah lelaki dari keluarga biasa. Sekarang ia sudah tidak punya pekerjaan. Hidupnya mengandalkan Raka semata.
Karena yang kaya adalah Rina, anak dari Sagara, salah satu orang kaya di Cikarang. Posisi Pak Budi semakin lemah di rumah itu. Suaranya tak pernah dianggap penting.
“ah sayang sekali miranda pergi”ucapnya nyaris tak terdengar.
“kenapa lu bang,,suka sama miranda”ucap Rani dengan nada kesal.
“dasar gila”ucap Pak Budi. “aku hanya takut asma atau jantungku kambuh dan tidak ada yang membelikan aku obat-obat.”
Pak Budi teringat Miranda yang tak pernah menolak diperintah. Pernah tengah malam asmanya kambuh. Miranda berkeliling Cikarang mencari obat saat hujan deras.
Kenangan itu membuat hatinya getir. Tidak ada anak lain yang sepeduli Miranda. Namun kini perempuan itu diusir tanpa harga.
“tenang saja yah”ucap Lusi. “aku akan merawat ayah dengan baik.”
Pak Budi memegang kepalanya. “kepala ayah pusing lusi,” ucapnya sambil menyandarkan tubuh ke sofa. “belikan ayah obat lusi.”
Lusi tampak masam dan melihat ke arah luar. “masih gerimis yah,,besok pagi aja ya.”
Pak Budi berdiri. Ia tadi hanya mengetes kesungguhan Lusi. Dengan nada kecewa ia berkata, “kalian hanya omong kosong, tidak pernah benar-benar peduli sama ayah.”
Ia melangkah ke arah kamar. “sepertinya rumah ini tidak akan sama lagi seperti saat ada miranda.”
Pak Budi terus berjalan menuju kamarnya. Pintu ditutup perlahan seolah ia tak mau terlibat urusan rumah lagi. Kesunyian jatuh di ruang tengah.
Rina merasa tidak enak pada Lina. Sikap Budi tentu membuat calon menantunya tidak nyaman. Rina berusaha menutup suasana.
“jangan hiraukan ayahnya raka itu, dia memang seperti itu, dia itu gimana ibu ko, tenang saja lina kamu adalah pilihan ibu, kamu akan jadi kebanggaan ibu”ucap Rina lirih.
Lusi memegang tangan Lina dengan erat. “tenang aja ka lina, aku ka lela dan ibu akan selalu mendukung kaka.”
Lina tersenyum dan menggenggam tangan Lusi. Ia merasa posisinya aman di rumah itu. Semua orang berada di pihaknya.
Raka hanya diam. Sebenarnya ia merasakan hal ganjil sejak Miranda pergi. Ia tidak mencintai Miranda, tetapi juga tidak membencinya.
Lina sangat disukai Rina karena dandanan dan jabatannya. Ia asisten direktur di sebuah perusahaan. Bagi Rina itu kebanggaan besar.
Raka tidak bisa mengabaikan keinginan ibunya. Baginya karier lebih penting dari cinta. Ia melihat Lina sebagai jembatan masa depan.
Sedangkan Miranda hanyalah wanita tanpa pendidikan. Asal usul keluarganya tidak jelas. Bahkan keluarga angkatnya saja tidak mengakui.
Semua alasan itu membuat Raka menyingkirkan rasa bersalah. Ia meyakinkan diri bahwa pilihannya benar. Namun hatinya tetap gelisah.
Sementara itu Miranda berjalan di luar rumah. Ia memakai daster lusuh dan membawa plastik sampah berisi baju. Tidak ada sepeser uang pun.
Hujan turun perlahan membawa hawa dingin. Angin menusuk kulit seperti jarum halus. Namun Miranda tidak lagi merasakan apa-apa.
Pikirannya kosong dan langkahnya tanpa tujuan. Ia bingung harus ke mana sekarang. Dunia terasa begitu sempit baginya.
Sejak bayi ia tidak pernah mengenal orang tua kandung. Ia dibesarkan oleh Santoso dan Yuni. Pasangan itu mengadopsinya dari panti.
Delapan tahun mereka menunggu anak kandung. Miranda sempat diperlakukan penuh kasih sayang. Ia merasa memiliki keluarga sungguhan.
Namun setelah Yuni melahirkan, semua berubah. Miranda diperlakukan dengan buruk. Statusnya kembali seperti orang asing.
Sejak usia delapan tahun Miranda dipaksa mencuci baju dan piring. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tenaganya diperas tanpa iba.
Ia diberi nasi banyak dengan lauk sedikit. Alasannya agar Miranda kuat bekerja. Dalih itu menutupi kekejaman yang nyata.
Miranda benar-benar diperlakukan seperti pembantu. Lisa, anak kandung Yuni, selalu merasa jijik padanya. Kebencian itu tumbuh sejak kecil.
Miranda tidak disekolahkan. Andai Pak RT tidak menegur Santoso, ia pasti tidak lulus SD. Masa depannya sudah ditutup rapat.
Kini Miranda masih bingung harus melangkah. Jalan di depannya seperti lorong gelap tanpa ujung. Tidak ada tempat untuk pulang.
Ia mengingat kejadian sepuluh tahun lalu. Saat Santoso butuh uang operasi batu empedu. Jika tidak dioperasi ginjalnya akan rusak.
Miranda yang mengemis meminta bantuan Kakek Sagara. Ia menahan malu demi menyelamatkan nyawa ayah angkatnya. Usahanya akhirnya berhasil.
Kenangan itu menumbuhkan sedikit harapan. Mungkin keluarga angkat masih punya hati. Setidaknya ada utang budi di masa lalu.
“aku akan pulang ke keluarga angkatku, bagaimanapun aku sudah ikut andil menyelamatkan ayah”ucap Miranda dengan bibir gemetar.
Jarak rumah Santoso dan rumah Rina sekitar lima belas kilometer. Dekat jika naik kendaraan. Namun kini Miranda tak punya uang sepeser pun.
Ia menatap jalan basah yang memanjang. Setiap langkah terasa berat seperti menyeret masa lalu. Plastik di tangannya bergoyang tertiup angin.
Miranda mencoba menguatkan diri. Ia menghapus air mata dengan punggung tangan. Tidak ada lagi tempat mengadu selain pada dirinya sendiri.
Suara petir terdengar jauh. Hujan mulai sedikit mereda. Miranda memutuskan berjalan saja sejauh yang ia mampu.
Di kepalanya hanya ada satu tujuan. Pulang ke rumah Santoso meski belum tentu diterima. Itu satu-satunya arah yang tersisa.
Miranda menarik napas panjang. Hidupnya mungkin hancur hari ini. Namun ia belum ingin menyerah pada takdir.
gemes bgt baca ceeitanya