Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. MELEPASKAN BEBAN.
Lampu kristal di langit-langit restoran itu memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan. Meja-meja berlapis taplak putih, denting sendok dan garpu, serta alunan musik piano yang pelan seharusnya menciptakan suasana romantis. Namun bagi Khayla Atmaja, tempat itu justru terasa pengap dan menyesakkan.
Di hadapannya duduk seorang wanita glamor dengan riasan tebal dan perhiasan berkilau di setiap jarinya. Usianya hampir kepala lima, tetapi sikapnya tajam dan tatapannya dingin, seolah Khay hanyalah barang murah yang sedang ditawar. Di samping wanita itu duduk Romi kekasih Khay selama satu tahun terakhir dengan wajah gelisah, kemeja mahalnya tampak tak mampu menutupi keraguan di matanya.
“Kamu pilih,” ucap wanita itu akhirnya, suaranya tenang namun penuh tekanan. “Tinggalkan kedua orang tua kampung kamu itu dan hidup bersama putra saya, atau pilih mereka dan tinggalkan putra saya.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa rasa bersalah. Seolah perasaan Khay, perjuangannya, dan kasih sayang orang tuanya tak lebih dari sekadar pilihan sederhana di menu makan malam.
Khay menahan napas. Tangannya yang sejak tadi berada di pangkuan sedikit mengepal. Ia menatap wanita itu dengan sorot mata datar, berusaha menjaga dirinya agar tidak terpancing emosi.
“Ma, jangan begitu,” sela Romi cepat, meski suaranya terdengar lemah. Lalu ia menoleh pada Khay dan meraih tangannya, namun Khay menariknya kembali dengan halus. “Ayolah, Khay. Kamu tinggal pilih aku. Aku janji akan membahagiakan kamu.”
Khay memandangi wajah Romi. Wajah yang dulu membuatnya jatuh hati senyum manis, perhatian kecil, janji-janji tentang masa depan. Namun kini, wajah itu tampak asing. Tak ada keberanian. Tak ada pembelaan yang sungguh-sungguh.
Ia terdiam sejenak, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. Lalu, dengan suara tenang namun tegas, Khay bertanya, “Jika aku meninggalkan kedua orang tuaku… apa keuntungannya bagiku?”
Wanita glamor itu tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu sangat bodoh. “Tentu saja kamu akan mendapatkan Romi,” jawabnya ringan.
Bibir Khay melengkung membentuk senyum kecil senyum yang bukan karena bahagia, melainkan karena iba. “Sayangnya,” ucap Khay pelan, “Romi tidak sebanding dengan kedua orang tuaku yang sudah membesarkanku dan mendidikku dengan baik.”
Romi terkejut. “Khay...”
Khay melirik Romi sekilas, tatapannya dingin namun jujur. “Romi itu sangat tidak cocok untukku perjuangkan,” lanjutnya. Ia lalu sedikit mendekat, suaranya merendah namun jelas. “Jadi… kita putus.”
Tanpa menunggu jawaban, Khay berdiri. Ia mengibaskan rambut panjangnya ke belakang dan melangkah pergi meninggalkan meja itu, meninggalkan Romi dan ibunya yang kini menatapnya dengan wajah geram dan tak percaya.
Langkah Khay mantap saat keluar dari restoran. Begitu pintu kaca tertutup di belakangnya, ia menghirup udara malam dalam-dalam. Dadanya terasa lega, seolah beban besar yang selama ini menekan akhirnya runtuh.
Ia tidak menangis. Tidak pula menyesal.
Ponsel di tangannya bergetar, memecah keheningan malam. Nama Ayah tertera di layar. Tanpa ragu, Khay mengangkat panggilan itu.
“Halo, Ayah.”
Suara di seberang terdengar hangat, khas suara lelaki paruh baya yang selalu membuatnya merasa pulang. “Pulang sekarang. Ada hal penting yang ingin Ayah sampaikan kepadamu.”
Khay terdiam sejenak. “Baiklah, Ayah. Aku akan pulang.”
Panggilan berakhir. Khay menatap layar ponselnya sebentar, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia tidak tahu apa yang ingin disampaikan ayahnya, tetapi nada suaranya terdengar serius dan itu cukup membuat Khay memutuskan untuk segera kembali ke kampung.
...****************...
Kereta malam melaju membelah gelap, membawa Khay menjauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Dari balik jendela, lampu-lampu kota perlahan berganti menjadi hamparan sawah dan rumah-rumah kecil yang berjajar rapi. Angin malam menyelinap melalui celah jendela, membawa aroma tanah dan dedaunan yang begitu ia rindukan.
Selama di ibu kota, Khay tinggal di asrama kampus. Ia hanya pulang ke kampung saat libur kuliah atau jika ada hal mendesak. Meski begitu, kampung halaman selalu menjadi tempat di mana hatinya berlabuh.
Aneh rasanya baru saja putus dengan Romi, namun tak ada sesak di dada. Justru ada perasaan ringan yang mengalir, seperti seseorang yang akhirnya berani memilih dirinya sendiri.
Khay menyandarkan kepala ke kursi dan membiarkan pikirannya melayang. Ia teringat awal pertemuannya dengan Romi setahun lalu. Romi datang dengan mobil mewah, penampilan rapi, dan tutur kata yang manis.
Khay sempat merasa beruntung seorang gadis kampung yang bisa dicintai pria kota seperti Romi.
Namun sejak awal, ada jarak yang tak pernah benar-benar bisa ia jembatani. Terutama saat orang tua Romi mulai menunjukkan ketidaksukaan mereka.
Bagi mereka, Khay hanyalah gadis kampung dengan orang tua sederhana. Tidak cukup pantas untuk menjadi bagian dari keluarga mereka. Dan malam ini, semuanya menjadi jelas.
“Lebih baik kehilangan pria yang tak bisa memperjuangkanmu,” gumam Khay pelan, “daripada kehilangan orang tua yang rela melakukan apa pun demi kebahagiaanmu.”
Kereta berhenti di stasiun kecil menjelang dini hari. Khay turun dengan membawa tas ransel dan satu koper kecil. Udara kampung terasa lebih dingin, lebih bersih. Dari kejauhan, ia bisa melihat ayahnya berdiri menunggu di dekat motor tua kesayangannya.
“Ayah,” panggil Khay sambil tersenyum.
Ayahnya menoleh, lalu wajahnya langsung berbinar. “Khay.”
Ayah memeluknya erat, seperti biasa pelukan yang selalu membuat Khay merasa aman. “Kamu capek? Perjalanan jauh,” tanya ayahnya sambil mengambil koper Khay.
“Tidak, Yah. Khay baik-baik saja.”
Mereka berkendara menyusuri jalan kampung yang sepi. Lampu-lampu rumah menyala redup, suara jangkrik bersahutan. Khay menatap sekeliling dengan perasaan hangat. Inilah rumahnya. Tempat di mana ia selalu diterima apa adanya.
Sesampainya di rumah, Mama Hera sudah menunggu di teras. Begitu melihat Khay, mama langsung tersenyum lebar.
“Khay pulang?” Mama memeluknya erat. “Kamu kurusan.”
Khay tertawa kecil. “Mama lebay.”
Mereka masuk ke dalam rumah sederhana itu. Setelah Khay membersihkan diri dan berganti pakaian, ia duduk di ruang tengah bersama ayah dan mamanya. Suasana mendadak terasa lebih serius dari biasanya.
Ayah berdehem pelan. “Khay, Ayah memanggilmu pulang karena ada hal penting.”
Khay mengangguk. “Apa itu, Yah?”
Ayah dan Mama saling berpandangan sejenak, seolah memastikan kesiapan masing-masing. Lalu ayah berkata, “Tentang masa depanmu.”
Jantung Khay berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu bahwa kepulangannya kali ini akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar sesuatu yang akan mengubah arah hidupnya selamanya.