NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konsekuensi

Ruangan itu tetap pengap.

Bau kayu lembap dan debu tua bercampur dengan sisa aroma anggur yang melekat pada pakaian Count. Lampu minyak di dinding bergetar pelan, menciptakan bayangan yang bergerak seperti makhluk hidup di sepanjang papan kayu kasar.

Count belum sepenuhnya memproses apa yang terjadi.

Alberto masih mencengkeram kerah bajunya, napasnya berat, dadanya naik turun cepat. Amarahnya tidak lagi disembunyikan. Sementara Kael berdiri di depan Elenna, satu langkah lebih maju, tubuhnya menjadi dinding yang tidak bisa ditembus.

Sunyi yang tegang menggantung di antara mereka.

“Lepaskan aku,” desis Count, berusaha menarik diri.

“Kalian tidak berhak masuk ke tempat pribadiku.”

“Tempat pribadi?” Alberto mendorongnya ke belakang hingga punggung Count membentur meja kayu.

“Mengikat seorang gadis di gudang pelabuhan adalah definisi barumu tentang privasi?”

Count menatapnya tajam. “Kau tidak tahu apa yang ia lakukan padaku.”

“Yang kulihat,” potong Alberto, suaranya rendah namun bergetar, “adalah seorang pria dewasa hendak memukul gadis yang terikat.”

Count hendak membalas, tetapi Kael berbicara lebih dulu.

“Cukup.”

Suaranya tidak keras. Namun, membuat udara terasa lebih dingin.

Kael menoleh sedikit, memastikan Elenna benar-benar bisa berdiri. Pergelangan tangannya memerah, ada bekas tangan di lehernya. Matanya sempat berhenti sepersekian detik di sana. Rahangnya mengeras.

“Siapa saja yang tahu ia ada di sini?” tanya Kael tanpa mengalihkan pandangan dari Count.

Count tertawa pendek, mencoba mengembalikan wibawanya. “Kau pikir aku akan menjawab?”

Alberto hampir memukulnya saat itu juga, tetapi Kael mengangkat tangan sedikit, isyarat halus untuk menahan diri.

“Kau menculik anggota keluarga Marquess,” lanjut Kael tenang. “Itu bukan sekadar perselisihan pribadi. Itu tuduhan pengkhianatan terhadap kehormatan keluarga bangsawan.”

Ekspresi Count berubah tipis.

“Kata ‘menculik’ terlalu berlebihan,” katanya kaku. “Ia datang tanpa pengawal. Sendirian. Aku hanya mengajaknya berbicara.”

Elenna akhirnya bersuara.

“Omong kosong apa lagi yang kau katakan, pria tua."

Semua mata beralih padanya.

Suaranya tidak gemetar. Tidak meninggi. Justru tenang, dan itu membuat kata-katanya lebih tajam.

Count menatapnya dengan kebencian yang belum padam. “Kau tidak memberiku pilihan. Kau selalu memancing emosiku."

“Memancing?” Elenna menahan tatapannya. “Dengan menolak disentuh?"

Alberto mengepalkan tangan lagi.

“Berhenti menyalahkannya,” katanya dingin. “Kau mempermalukan dirimu sendiri malam itu. Jangan menyeretnya untuk menutupi kelemahanmu.”

Count berusaha berdiri tegak meski kerahnya masih dicengkeram. “Kelemahan? Aku hampir kehilangan reputasiku!”

“Reputasi yang dibangun di atas paksaan memang rapuh,” balas Elenna pelan.

Itu yang memecahkan sisa kendali Count.

Ia mendorong Alberto sekuat tenaga. Alberto mundur setengah langkah, cukup untuk memberi ruang bagi Count mengangkat tangannya kembali, kali ini bukan ke arah Elenna, melainkan untuk mendorong Kael yang menghalangi.

Gerakan itu cepat. Namun, Kael lebih cepat. Tangannya menangkap pergelangan Count di udara. Cengkeramannya kuat, presisi, tanpa ragu.

“Jangan,” katanya lirih.

Hanya satu kata.

Tapi Count meringis karena tekanan di pergelangannya meningkat perlahan.

“Kau menyentuhnya lagi,” lanjut Kael, suaranya hampir datar, “dan aku tidak akan peduli berapa banyak gelar yang kau miliki.”

Count mencoba menarik tangannya, namun tidak berhasil. Untuk pertama kalinya, ada kilat ketakutan di matanya.

Alberto berdiri di sisi lain, wajahnya keras. “Kau pikir kami datang tanpa bukti? Orang-orangmu sudah bicara.”

Itu bohong setengah jadi, tapi cukup membuat Count ragu.

“Apa maksudmu?” tanyanya cepat.

"Lima pria di lorong belakang pasar,” jawab Alberto. “Mereka terlalu keras membicarakan ‘gadis rambut perak’ yang melawan.”

Count terdiam. Satu detik, dua detik. Waktu Itu cukup untuk memastikan semuanya.

Kael melepaskan tangannya dengan dorongan tajam hingga Count terhuyung ke belakang.

“Kau bodoh,” kata Kael dingin. “Jika ingin melakukan sesuatu seperti ini, pastikan orang-orangmu tidak membual di tempat umum.”

Count menelan ludah. “Aku tidak berniat—”

“Tidak berniat apa?” potong Elenna. “Memukulku? Mencemarkan namaku? Atau membuatku terlihat bersalah saat ditemukan di sini?”

Count menatapnya. Kebencian itu masih ada, tetapi kini tercampur kecemasan.

“Kau tidak akan bisa membuktikan apa pun,” katanya akhirnya. “Aku bisa mengatakan kau datang sendiri. Kau bisa saja berbohong.”

“Dan luka di tangannya?” tanya Alberto tajam. “Dan bekas tali? Dan saksi yang melihatmu menyuruh orang mengikuti lorong ini?”

Count membeku.

Ia tidak menyangka mereka bergerak secepat ini. Kael melangkah mendekat, berhenti hanya satu langkah dari Count.

“Kau memiliki dua pilihan,” katanya tenang. “Kita menyelesaikan ini secara terhormat. Atau kita membiarkan Ayahku yang menyelesaikannya.”

Nama Marquess tidak perlu diucapkan dengan ancaman. Semua orang tahu konsekuensinya.

Count mencoba mempertahankan sisa harga dirinya. “Kau pikir ayahmu akan percaya begitu saja pada cerita seorang gadis?”

Kael menatapnya tanpa berkedip “Dia tidak perlu percaya cerita,” jawabnya. “Ia hanya perlu melihat siapa yang kehilangan kendali.”

Sunyi lagi.

Lampu minyak berderak kecil.

Elenna akhirnya melangkah maju, meski Kael sempat ingin menahannya.

“Aku tidak ingin balas dendam,” katanya pelan. “Aku hanya ingin ini berhenti.”

Count memandangnya dengan campuran emosi yang tidak stabil. “Kau menghancurkan namaku.”

“Kau menghancurkannya sendiri.”

Kalimat itu tidak keras. Tapi terasa menohok hati Count.

Alberto berdiri lebih dekat ke Elenna sekarang. “Kita pergi sekarang."

Kael tidak langsung bergerak. Ia masih menatap Count, memastikan pria itu tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh.

“Jika ada satu kata saja beredar tentang dirinya setelah malam ini,” ujar Kael perlahan, “aku akan memastikan setiap orang di Ibu kota tahu apa yang kau lakukan pada Elenna."

Count mengepalkan rahangnya. Namun, Ia tahu untuk hari ini, Ia kalah.

“Bawa dia pergi,” katanya getir. “Aku tidak ingin melihatnya.”

Alberto hampir tertawa sinis. “Percayalah. Perasaan itu sama.”

Kael akhirnya berbalik.

Ia membuka pintu gudang lebih lebar. Udara malam yang lebih segar masuk, mengusir sedikit pengap ruangan. Alberto membantu Elenna melangkah keluar. Langkahnya masih sedikit goyah, tapi ia berdiri sendiri. Ia tidak ingin terlihat rapuh di hadapan Count.

Saat mereka hampir keluar, suara Count terdengar lagi, lebih pelan.

“Ini belum selesai.”

Kael berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Tidak,” jawabnya datar. “Ini sudah selesai.”

Mereka keluar ke lorong pelabuhan yang sepi.

Suara ombak terdengar samar dari kejauhan. Langit malam gelap, hanya diterangi cahaya bulan tipis.

Begitu pintu gudang tertutup di belakang mereka, ketegangan yang ditahan sejak tadi perlahan mengendur.

Alberto menoleh pada Elenna. “Apa dia menyakitimu?”

Elenna hanya terdiam.

Satu kata itu membuat rahang Alberto mengeras lagi.

Kael memperhatikan pergelangan tangannya. “Kita harus membersihkan lukanya.”

“Aku baik-baik saja,” jawab Elenna.

“Kau tidak harus selalu baik-baik saja,” kata Alberto lebih lembut sekarang.

Elenna terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak diculik, napasnya terasa lebih ringan. Bukan karena ancamannya hilang sepenuhnya, tetapi karena ia tidak lagi sendirian menghadapi itu.

Kael berjalan di sisi kirinya, Alberto di kanan.

Tanpa sadar, mereka membentuk posisi melindungi. Beberapa langkah kemudian, Kael berbicara pelan, cukup hanya untuk mereka bertiga.

“Lain kali, jangan pergi sendirian.”

Itu bukan teguran keras. Lebih seperti permintaan.

Elenna menatap lurus ke depan. “Aku tidak tahu ia akan melakukan ini.”

“Aku tahu,” jawab Kael singkat.

Alberto menghembuskan napas panjang. “Dia akan membayar atas perbuatannya."

Elenna menoleh sedikit. “Tidak dengan cara gegabah.”

Alberto mengangkat alis. “Kau masih memikirkan reputasinya setelah semua ini?”

“Aku memikirkan reputasi kita,” jawabnya.

Kael meliriknya sebentar. Ada sesuatu di matanya, pengakuan. Ia mengerti apa yang Elenna maksud. Skandal bisa menjadi pisau bermata dua.

“Kita akan berhati-hati,” kata Kael akhirnya. “Tapi dia tidak akan menyentuhmu lagi.”

Elenna tidak menjawab. Namun, langkahnya kini lebih stabil. Di belakang mereka, gudang itu kembali sunyi. Tetapi malam telah berubah arah. Bukan lagi tentang seorang gadis yang sendirian melawan.

Sekarang, garis telah ditarik, dan siapa pun yang mencoba melewatinya, akan berhadapan bukan hanya dengan Elenna. Tapi dengan mereka berdua.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!