Lea Michele wanita berusia ( 22 ) tahun, seorang wanita berdarah dingin, dan bekerja sebagai pembunuh bayaran, yang harus mengalami kecelakaan hebat. alih-alih pergi ke alam baka. jiwanya malah terperangah di dalam tubuh seorang gadis yang bernama Carlin Christine. seorang gadis yang sudah menikah. tapi yang tidak pernah di anggap sebagai istri oleh suaminya.
__________________________________________
lantas bagaimana kelanjutan kisahnya, mari kita bersama-sama untuk membacanya. mampukah Lea sang pembunuh bayaran, berperan sebagai Carlin Christine. atau malah sebaliknya...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ecly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
( Salah sasaran.)
Selain itu ada Juan, yang sedang mematung di depan kamar nyonya-nya. langsung berbalik, dia tidak ingin menganggu momen langka majikannya. Dia meletakkan paper bag di atas meja-nya, Karena kedatangan dia ke kamar nyonya-nya, memang untuk membawa paper bag itu, karena Axel juga membawa beberapa paperbag, di tangannya.
Dengan ekspresi wajah, yang sulit di jelaskan Juan menelusuri lorong mansion Tujuannya sekarang adalah ke tempat seleksi para calon pasukan khusus, para penjaga dan pelayan yang berpapasan Dengan-nya sampai merasa heran. Saat melihat ekspresi wajah tangan kanan, dari tuannya itu. Yang nampak sangat berbeda dari biasanya, terlebih Juan juga Baru saja keluar dari kamarnya sang nyonya.
" Aku pikir, nyonya tidak bisa menangis Tapi tadi dia menangis kira-kira karena apa yah? Apa ada yang menindas nya di sini? Tapi itu nggak mungkin, mulut nyonya kan pedas aku yakin nyonya tidak akan diam saja, ketika ada yang menindasnya." gumam Juan, bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dengan kebingungan.
Rasanya wajar saja, kalau Juan merasa bingung mengingat Carlin yang di ancam dan di marahi tuanya saja, dia tidak pernah takut dan malah balik mengancam, saat di serang dia juga ikut menyerang, yah meskipun pada akhirnya dia tertembak juga. sesampai di ruang seleksi anak baru, Juan kembali ke mode wajah dingin dan tegas. Begitu Juan membuka pintu, semua orang di dalam ruangan langsung mengambil posisi sikap sempurna. Mengingat status Juan, yang tidak beda jauh dari pemimpin mereka.
" Lanjutkan, apa yang sebelumnya kalian. lakukan tadi? " tegas Juan, Mereka semua mengangguk kepalanya saja. Para pemuda itu, segera kembali ke posisi awal, di mana mereka saat ini sedang latihan.
*****
Axel menatap lekat wajah Carlin, yang ambyar! karena terlalu lama menangis. Dia merasa geli, karena selama ini wanita itu tidak pernah menangis, Jadi hari ini enggak mencerminkan sikapnya, yang beberapa waktu lalu agak galak pedas, dan mesterius.
" Kenapa, kamu menangis? Apakah ada yang sudah menyakiti mu? Katakan kepada ku! Atau sudah terjadi sesuatu dengan mu." tanya Axel yang terlihat sangat khawatir.
" Bukan, urusan mu. Oh iya Kenapa kamu masuk ke dalam kamar ku? " tanya Carlin dia dengan cepat mengambil ponsel-nya, yang ada di lantai. Lalu keluar dari situs jaringan-nya, dia takut Axel melihat-nya bisa rumit urusan-nya nanti.
" Aku, datang Untuk mengantar mu. bingkisan." Axel mengabaikan tatapan curiga Dari istri-nya. Karena memang tujuan-nya, datang ke kamar istri-nya untuk memberikan bingkisan itu
" Tiba-tiba, dalam rangka apa? Kamu nggak lagi menyogok ku kan." mata-nya yang bengkak, langsung menyipit curiga.
" Apa, aku seburuk itu. di mata mu? " Axel mulai jengah, karena istri-nya, selalu berpikir buruk tentang-nya.
" Axel kamu, nggak lagi amnesia kan? Kamu lupa dengan segudang fakta, yang merugikan aku dan orang tuaku? Kamu bahkan nggak mau minta maaf, Untuk semua itu Axel Alexander! " Di sindir tentang pernikahan mereka, membuat Axel! terdiam beberapa menit.
" Aku, dari beberapa waktu yang lalu ingin menjelaskan, semuanya kepada mu. Tapi kamu yang nggak mau mendengar, penjelasan ku. Kamu bahkan tidak mau memaafkan ku, akhir-akhir ini aku benar-benar sedang sibuk, maka-nya aku belum bisa menjelaskan apapun kepada mu."
" Apa kamu, benar-benar laki-laki. Axel Alexander? "
" Apa, maksudmu. Pertanyaan macam apa itu? " Sahut Axel jengkel. dia tidak paham kenapa istri-nya, bertanya seperti itu.
" Ck, lupakan saja? " ucap Carlin ketus.
Cukup lama, pasangan suami-istri itu terdiam membisu, dan dengan isi pikirannya masing-masing.
" Axel, bagaimana kalau kita bercerai? " Ucap Carlin tiba-tiba.
Mata Axel langsung menggelap, Beberapa menit, entah kenapa dia tidak suka mendengar perkataan itu, dari istri-nya.
" Kamu, ingin cerai dari ku? " tanya-nya, dengan wajah dingin.
" Menurut, mu? Bukan selama ini kita juga nikah karena terpaksa." Carlin menatap lurus ke depan.
" Sejak, awal pernikahan kita hanyalah sebuah syarat untuk mu. Mendapatkan posisi kepemimpinan Alexander! Sekarang kamu juga sudah mendapatkan posisi itu, Lalu untuk apa lagi aku tetap menjadi istrimu? Atau kamu memang ingin membuatku mati secara perlahan? " Lea menatap lekat wajah tampan suami laknat-nya itu, Axel yang mendengar perkataan dari istrinya langsung memalingkan wajahnya.
" Aku, tidak mau bertengkar denganmu. Aku datang ke kamarmu, untuk memberimu ini! teman ku melakukan perjalanan bisnis, ke kota lain, jadi dia membeli banyak oleh-olehnya untuk mu." ucap Axel mengalihkan pembicaraan, dari istri-nya.
" Apa, ini? Kenapa dia seolah-olah enggan mendengar topik perceraian. Kenapa juga dia malah menjelaskan soal oleh-oleh itu? aku kan nggak perduli. Kalau dia ingin menceraikan ku, aku bisa pergi membawa tubuh ini." batin Lea.
dia semakin lekat menatap Axel, yang mulai melangkahkan kaki-nya, menuju meja. Yang ada paper bag. entah sejak kapan ada di atas meja itu. Dia nggak tau kalau tadi ada Juan, yang menyimpan paper bag itu, di atas meja Karena dia terlalu sibuk menangis.
" Axel, kamu...tidak mungkin tiba-tiba jatuh cinta denganku bukan? " tanya Lea, Dengan serius, dia berhenti begitu dekat, di depan Axel.
" Kenapa? kamu ingin aku mencintaimu? " sahut Axel, yang menatap Rumit, Wajah istri-nya.
" Justru aku, berharap kamu tidak menaruh perasaan seperti itu, kepada ku! Karena di dalam hidup ku' aku nggak pernah memiliki perasaan seperti itu." jelas Lea, dia memang tidak pernah memiliki perasaan suka dengan seorang pria, karna di dalam hidup-nya, hanya menghabiskan waktu-nya, untuk bekerja saja.
" Oh, iya terimakasih atas bingkisannya, dan maaf, aku sudah mengotori pakaian mu." Lea meringis pelan, saat melihat ada jejak ingus Di jas Axel, yang dia kenakan, Betapa memalukan diri-nya.
Carlin berjalan melangkah menuju walk closet, setelah sadar bahwa diri-nya, dari tadi hanya memakai handuk saja.
Axel menatap rumit ke arah istri-nya, sambil memperhatikan punggung sang istri, yang sudah mulai menjauh. entah Kenapa dia tidak nyaman rasa-nya, setelah mendengar ucapan dari istrinya.
" Apa, aku tanpa sadar. sudah mencintainya?" gumam-nya. Dan kembali teringat dengan ucapan dari teman-nya, di kantor tadi Tapi buru-buru Axel menggelengkan kepalanya, menipis semuanya.
" Nggak...aku nggak ada mencintai-nya, Aku hanya ingin memperlakukan Nya. sedikit lebih baik." Axel hanya ingin mengubah sudut pandang Carlin pada-nya, Nggak lebih dari itu iya itu saja nggak lebih.
" Kalau, dia minta cerai! Aku---" Axel tidak bisa melanjutkannya kata-katanya, Dia binggung sendiri. dan pada akhir-nya dia memutuskan pergi saja, dari kamar Carlin.
Sedangkan Lea Alias Carlin, duduk termangu di sofa. dia kembali teringat dengan pesan, yang di kirim teman kampret-nya.
" Bagaimana, dengan keadaan Bryan." dia merasa khawatir, dan mereka bersalah karena sudah meninggalkan adik-nya sendirian Raut wajah-nya berubah, secepat kilat.
" Oh, Tunggu aku kan mati. Maksud ku tubuh ku yang mati. Apa itu artinya Carlin Christine. benar-benar sudah mati Betapa kasihan ayah-nya! Istri dan anak-nya, sudah mati semua." Carlin memejamkan matanya, dia berharap semua ingatannya segera kembali. Tapi sialnya dia benar-benar tidak ingat apa-apa, Yang ada wajah Axel yang muncul dengan tatapan rumit-nya..
" Ck, kenapa juga pria bajingan itu. yang muncul Nyebelin banget." ucap-nya sewot.
" Baiklah, kalau begitu aku akan menyelesaikan semua masalah di sini secepatnya. lalu kembali ke New York! Untuk menemui Bryan. " ucap-nya mantap, Tapi beberapa detik kemudian Wajahnya berubah murung.
" Tapi...! Apakah Bryan percaya, kalau aku ini mengatakan bahwa aku ini, adalah kakak-nya? Yang ada di akan mengatai aku perempuan gila. Karena sudah jelas tubuh ini milik orang lain tapi mengaku-ngaku sebagai kakak-nya, Dia pasti tidak kenal." Carlin tersenyum masam, raut wajahnya kembali suram...
*****
( New york )
" Menurut mu, Siapa orang yang sudah berani dan begitu lancang. melakukan ini semua?" tanya Alvin Pemuda absurd itu, sedang rebahan dengan gaya. Kakinya sandaran di sofa, kepalanya bertumpuk, di atas karpet berbulu. Sebelah tangannya memangku kepalanya.
" Enggak tahu, tapi dia sudah kurang ajar! Awas saja kalau aku bertemu dengannya nanti, akan ku buat dia menyesal telah lahir ke dunia ini." sahut Gyan geram.
Gyan dan Alvin, menoleh ke arah Bryan yang sedang duduk termenung. semua ini gara-gara tabungan milik Lea yang tiba-tiba menghilang uangnya tanpa sisa, awalnya mereka berpikir positif mungkin sistemnya sedang error, mengingat Gyan dan Alvin tak henti-hentinya mencoba meretas tabungan Lea. Tapi setelah di cek berkali-kali di waktu yang berbeda hasilnya tetap sama, semua uang tabungan Lea, raib entah ke mana.
" Kok, bisa sih Bryan. ada orang asing yang mengambilnya dengan mudah. Apa mungkin pamanmu, yang sudah menyewa jasa hacker? Untuk membobol tabungan Lea." ucap Alvin.
" Itu nggak mungkin al, Sekalipun hacker nya sangat ahli. pasti nggak akan berhasil, aku dan kamu bahkan tidak mampu meretas nya! Apa lagi orang lain." ucap Gyan tak setuju.
" Kenapa, siapa tahu kam---"
" Soal, kamu yang tidak pernah gagal. dan ahli meretas pun, enggak bisa menembus-nya tuh." potong Gyan sambil mengangkat sebelah alisnya.
" Ck, kamu juga nggak mampu." sahut Alvin, yang juga tak mau di salahkan.
" Padahal aku, sudah berencana kalau tabungan kakakku. bisa di retas kalian berdua aku akan menyumbangkan semuanya ke rumah Amal." ucap Bryan' dengan raut wajah yang menyedihkan.
Gyan, dan Alvin. saling bertatapan kedua pemuda tampan itu jadi merasa bersalah Terutama Alvin. karena sejak awal dia yang paling semangat untuk meretas tabungan milik Lea, tapi apa sampai sekarang mereka belum juga berhasil.
" Jangan, merasa bersalah. kalian memang nggak ada salah. Tapi aku harap orang yang sudah mengambil semua isi tabungan kakak-ku, bukan orang jahat. Siapa tahu itu pihak ke tiga yang berasal dari bank." ucap Bryan.
Klik~
Mereka bertiga, kompak menoleh ke arah Ethan. yang muncul dengan beberapa kotak pizza, di tangannya.
" Exclusive, huh." ejek Gyan, dan Alvin. Saat melihat pakaian Ethan, yang terciprat darah segar dan pipinya seperti habis kena tampar karena memerah.
" Aku hampir saja, salah membunuh orang sialan. memalukan sekali." ucap Ethan yang blak-blakan sambil duduk di sofa, Gyan Alvin dan Bryan, langsung membulatkan matanya
" Hah serius, Seorang Ethan Robots. salah target hahaha." celetuk Gyan menyindir.
" Itu artinya, aku masih manusia. nggak sekejam kalian." sahut Ethan, membungkam mulut Gyan Alvin dan Bryan. agar tidak menyindirnya.
" Lalu, bagaimana kelanjutan-nya. Dia pasti langsung trauma, karena ulah mu? " ucap Gyan, memicing mata-nya.
" Enggak, gimana-gimana. Aku sudah memberi-nya dengan beberapa jumlah uang, dan sudah mengancam-nya juga. Lagian dia juga sempat menampar wajah ku...! Jadi kita imbas." Ethan memegang pipi-nya di akhir.
" Ck, nggak seru. seharusnya mereka memukuli mu! Sampai masuk rumah sakit? dan berdarah-darah, Sampai pingsan." akhirnya Bryan, yang dari tadi hanya diam menyimak buka suaranya, Ethan yang mendengar perkataan dari Bryan, hanya menatapnya dengan malas.
Ke 4 pemuda tampan itu, menikmati pizza! yang si bawa oleh Ethan tadi. Hingga Ethan membuka percakapan kembali.
" Bagaimana, al? Si anonim itu. sudah membalas pesan mu? Atau belum. "
Alvin hanya menggelengkan kepalanya, dia lalu menunjukkan layar ponsel-nya. Sehingga ke 3 pemuda tampan itu. ikut bisa melihat bahwa pesan yang di kirim Alvin. sudah di baca oleh si anonim itu, Tapi tidak ada di balas.
" Sumpah aku, kesal banget. Kayak nggak ada habis-nya.." keluh Alvin.
" Iya, semoga saja dia. mau membalas pesan darimu, dan mau mengakui siapa dia sebenarnya. Meskipun itu aku rasa sangat mustahil...! " Sahut Ethan. Dan ke 3 pemuda tampan itu, hanya Ikut mengangguk kepalanya saja.
ahh keren Thor cerita.. i like 😍😍😍
semangat up trus sampai tamat ya... 😍😍😍😍 aku menunggu kelanjutan nya
emang si Lea bar bar banget..
semangat up nya trus thor😍😍😍🤭🤭🤭😂😂
semoga seru dan sampai tamat ya 😍😍
aku lanjut baca lagi