NovelToon NovelToon
MAS KADES, I LOVE YOU

MAS KADES, I LOVE YOU

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Tamat
Popularitas:870.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Cerita ini hanyalah fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, desa ataupun kota, itu hanyalah kebetulan Semata.

Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.

Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.

Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.

Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.

Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

03. Pergi

Amelia keluar dari ruang kerja papanya dan terkejut mendapati mamanya, Eliza, berdiri di depan pintu, dengan wajah cemas. Mungkin mamanya sengaja menunggu atau bahkan mendengarkan pembicaraan antara dirinya dengan papanya.

Amelia berusaha tersenyum meski hatinya hancur. Ia tahu, mamanya pasti sangat sedih dengan pertengkaran mereka. Tanpa berkata apa-apa, Amelia berjalan menuju kamarnya, berusaha menghapus air mata yang tak lagi bisa ditahan.

Eliza segera mengikuti putrinya. "Amelia…" panggil Eliza lirih. "Papamu hanya sedang emosi, Sayang. Jangan pergi dari rumah. Tunggu Papa tenang kembali, nanti kita bisa bicara lagi."

Amelia menggelengkan kepalanya dengan keras. "Itu tidak akan ada gunanya, Ma," ucap Amelia, dengan suara bergetar. "Papa sudah membuat keputusan. Dan keputusan Papa bukanlah sesuatu yang bisa diubah."

Amelia meletakkan laptopnya di atas kasur, kemudian membuka pintu walk-in closet dan mengeluarkan sebuah koper berukuran sedang. Ia mulai membereskan baju-bajunya, memilih hanya beberapa potong yang benar-benar ia butuhkan. Pakaian-pakaian mewahnya, gaun-gaun cantiknya, semuanya ia tinggalkan.

"Amelia, apa yang kamu lakukan?" tanya Eliza, panik. "Jangan bertindak gegabah, Sayang. Pikirkan baik-baik."

Amelia tidak menjawab. Ia terus memasukkan baju-bajunya ke dalam koper dengan gerakan cepat dan cekatan.

"Amelia, mama mohon…" Eliza berusaha meraih tangan putrinya, namun Amelia menghindar.

"Maafkan aku, Ma," ucap Amelia, dengan air mata yang terus mengalir. "Aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi."

Setelah selesai membereskan pakaian, Amelia meraih tas selempangnya dan memasukkan ponselnya, dan beberapa barang penting lainnya. Amelia mengambil dompetnya, mengeluarkan beberapa kartu berwarna hitam yang pernah diberikan oleh papanya dan meletakkannya di atas meja rias. Ia hanya menyisakan satu ATM yang merupakan hasil tabungannya sendiri.

“Sayang, kenapa kartunya ditinggal? Bagaimana kamu hidup di luar nanti jika tanpa kartu?" Eliza terlihat cemas melihat apa yang Amelia lakukan. Apalagi saat melihat Amelia juga meletakkan kunci mobil dan kunci apartemennya.

Amelia menggeleng. "Aku tidak akan membawa kartu ini, Ma," ucapnya. "Aku bawa pun percuma. Papa pasti akan membekukannya.”

Eliza menghapus air matanya. Anak dan suaminya sama-sama keras kepala. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Eliza menatap putrinya dengan tatapan tak percaya. "Amel, jadi kamu akan benar-benar meninggalkan Mama?"

Amelia mengangguk mantap. "Maafkan Amel, Ma. Tapi ini adalah keputusan yang terbaik untukku, juga untuk Papa."

Ia menutup kopernya, meraih tas selempangnya, dan berbalik menghadap ibunya.

"Ma, aku pergi," ucap Amelia, dengan senyum yang dipaksakan. Ia menyeret kopernya menuju pintu kamarnya. Eliza berusaha mencegahnya.

"Tunggu sebentar, Sayang," cegah Eliza, dengan nada cemas. "Kamu mau tinggal di mana? Bagaimana caranya Mama bisa menemui mu? "

Amelia menggelengkan kepalanya. "Aku juga belum tahu, Ma. Tapi nanti aku akan mengabari Mama kalau aku sudah mendapatkan tempat tinggal," ucap Amelia, berusaha menenangkan ibunya.

"Tunggu sebentar. Di luar sangat dingin, Mama akan ambilkan baju hangat untukmu," ucap Eliza, dengan nada khawatir. Tanpa menunggu jawaban Amelia, Eliza berlari menuju kamarnya.

Amelia terdiam sejenak, menatap punggung ibunya yang menjauh. Hatinya terasa perih melihat kekhawatiran di wajah ibunya. Ia tahu, ia telah membuat ibunya sedih. Tapi ia juga tidak punya pilihan lain.

Amelia melanjutkan langkahnya, menyeret kopernya hingga kakinya sampai di ruang tengah. Langkahnya terhenti ketika Eliza kembali, membawa sebuah jaket tebal dan sebuah selendang berwarna lembut.

Eliza memakaikan jaket di tubuh Amelia dengan gerakan sayang. "Pakai ini, Sayang. Di luar pasti dingin sekali." Amelia mengangguk, sesayang itu mamanya padanya. Dia pasti akan merindukan mamanya nanti.

“Oh iya, ini selendang Mama. Jaga selendang ini baik-baik, ya. Jangan sampai hilang." Eliza kemudian mengambil koper dari tangan Amelia dan membukanya. Dengan hati-hati, ia menyimpan selendang itu di dalam koper, lalu menutupnya kembali.

"Berjanjilah untuk mengabari Mama jika kamu sudah mendapatkan tempat tinggal," ucap Eliza, dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Amelia mengangguk, tak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk ibunya erat-erat.

Setelah beberapa saat berpelukan, Amelia melepaskan pelukannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia mencari sosok ayahnya, namun ia tidak melihatnya di sana.

Amelia memejamkan matanya, merasakan sakit yang teramat sangat di hatinya. Ayahnya, orang yang seharusnya mencintainya tanpa syarat, kini seolah-olah tidak peduli padanya.

Amelia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka matanya kembali. Ia sudah memutuskan. Ia harus pergi.

Ia meraih kopernya, bersiap untuk melangkah keluar dari rumah itu, namun kemudian ia mengurungkan niatnya. Ia meletakkan kembali kopernya di lantai dan berjalan menuju ruang kerja ayahnya.

Amelia berdiri sejenak di depan pintu ruang kerja ayahnya, memejamkan matanya, dan menarik napas dalam-dalam.

"Papa…" ucapnya, dengan suara lirih namun jelas. "Amelia pergi. Terima kasih untuk semua yang Papa berikan pada Amelia selama ini. Dan sampai kapan pun, bagi Amelia, Papa adalah Papa terbaik di dunia."

Tidak ada satu jawaban pun terdengar dari dalam ruang kerja itu. Namun, Amelia tahu, di dalam sana, ayahnya mendengar suaranya.

Amelia menghapus air matanya sekali lagi, lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.

"Sampai jumpa, Papa," ucapnya dalam hati, dengan air mata yang kembali mengalir.

Sementara itu, tanpa Amelia tahu, di balik pintu ruang kerjanya, Tuan Alexander Bramasta menyandarkan punggungnya di pintu yang kokoh itu. Mulutnya tertutup rapat. Namun, pipinya tampak basah.

Di depan gerbang rumah mewah itu, Amelia berdiri di samping mobil taksi yang baru saja datang menjemputnya. Langit sore telah berubah menjadi malam yang pekat tanpa bintang. Sepekat hati Amelia saat ini.

Amelia mengangkat wajahnya ke atas, menatap ke arah jendela ruang kerja papanya. Berharap di sana papanya sedang berdiri menatap melepas kepergiannya. Namun, apa yang ia tunggu sama sekali tak muncul. Jendela ruang kerja itu tampak gelap dengan gorden yang tertutup rapat. Papanya benar-benar tak lagi peduli padanya.

Amelia menarik nafas dalam-dalam kemudian masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu. “Sampai jumpa, Mama,” ucapnya sebelum menutup pintu mobil.

Perlahan mobil melaju dan semakin semakin lama semakin tak terlihat, meninggalkan Eliza yang melambaikan tangan dengan air mata berderai.

Sementara itu, di dalam ruang kerja yang terlihat gelap karena lampu yang sengaja tak dinyalakan oleh pemiliknya. Alexander Bramasta, pria paruh baya itu tengah berdiri di balik gorden yang tertutup rapat, matanya menatap kosong ke bawah. Jalanan yang berada di depan gerbang rumah mewahnya. Mobil berwarna biru muda itu telah berlalu. Membawa pergi kesayangannya, AMELIA.

1
Tyaga
wkwkwk sokorr 🤣🤣🤣🤦‍♂️
aneh2 ajaa mau ke sawah kok pakai sepatu hak tinggi 🤣
Tyaga
wkwwk sokor
Tyaga
udah tau Raka ga nrima Sundari knpa tetap mau dinikahin
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
busyeett kalau sudah baca tentang klenik² jadi gimana yaa... ngeri thor karna pernah ngalamin, Naudzubillahi Mindzalik.
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: salam kenal kembali dari Ngawi Jawa Timur
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
di daerah ku masih ada thor termasuk aku dulu pas hamil anak pertama juga gitu ngadain 7 bulanannya cuma pendampingnya di wakilkan sama keluarga dan trauma juga karna ada sodara yg nyiramin airnya ga kira² sampe aku mengap² plus saking banyaknya orang yang hadir nunggu saweran sama uang yg di bambu kurungnya itu sampe rebutan ora karuan.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
weehhh akhirnyaa... akhirnyaaa ketangkep juga para silumannya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amelia juga bandel sih ngikut ke pasar segala, sudah tau kalau pasar itu sudah pasti ramai harusnya pikirkan baik².🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
padahal Amelia tahu sejak dia dekat dengan Raka trs ada yg ngincar keselamatan dia dan papahnya juga sudah tau kalau anaknya dalam bahaya bahkan tau pelakunya tp kenapa ga di beresin daribawal di penjarakan dengan bukti bukan malah memberi peluang pelaku bertindak lebih lagi pak Alex apa lagibRaka ga peka.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh bukannya ada yang ngawasin Amel orang suruhan papahnya kok bisa kecolongan.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Laaahh ngejek diri sendiri anda Sundari.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau mau identitas mu di rahasiakan boleh saja Mel tapi harus di rencanain mateng² tanpa harus merendahkan harga diri ortumu juga apa lagi kamu sudah tau lingkungan kampung itu bagai mana nyinyirnya... dari cara kamu manggi papah mamah saja sudah ngambang buat mereka dan jd cibiran mereka jd menurutku percuma.🤭🫣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: Aaaaa 🤣🤣
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh Amelia kayaknya lebih suka ortunya di cibir dan di rendahkan orang lain dari pada di hargai, kalau cara berpikirnya trs seperti itu sama saja kamu ga menghormati ortu mu Mel justru menginjak² harga diri mereka sebagai orang tua bukan sebagai orang kaya.. hargai lah ortu mu kasihan mereka harus di permalukan karna permintaan anaknya yg justru ga mencerminkan hormatnya seorang anak....
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah mending jujur lagian ngapain di sembunyiin Mel sudah ga ada alasan lagi buat kamu sembunyiin status kamu karna kamu sama papahmu saja sudah baikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amel sudah mau nikah tapi masih rahasiain keluarganya padahal awal hubungan itu baik ya jujur lebih baik karna keterbukaan itu penting.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
harusnya Amel menghargai ortunya juga, karna mereka yg seharusnya yg di utama kan Amel jangan egois trs, boleh saja ngadain pesta di kampung tapi selanjutnya ngadain pesta lagi di kota untuk mewujudkan keinginan ortu karna kamu satu²nya anak mereka jd jangan kesannya hanya keinginan kamu trs yg harus di utamakan sedari awal.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
penjaga keamanan kamu maksudnya Amel mereka orang kiriman papahmu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
tenang Raka kalau kamu masih khawatir saat dia pulang kamu bisa nyusul minta alamat sama bu Sukma.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
betul, semarah apa pun orang tua pasti ada luluhnya juga tapi aku juga paham sih dengan ketakutan Amel karna pernah ngalamin juga di posisi nya Amel tp ketakutan itu ga seburuk yg di pikirkan ternyata... cuma karna rasa bersalah Amel saja.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
besteettt ternyata cuma numpang taahh... gayanya saja setinggi langit eehh ga taunya anda cuma tumbuhan benalu yg numpang hidup di pohon lain.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
wkwkwk mulutmu Mel pedas juga.🤣🤣🤣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Joyful//Joyful//Joyful/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!