NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peran Ganda

Udara di tempat nongkrong ojol Palmerah terasa lebih pengap dari biasanya. Atau mungkin itu hanya perasaan Arman.

Seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Nadia, dan setiap hari terasa seperti menelan pasir. Pulang ke rumah bukan lagi tentang kehangatan, tapi tentang dinginnya keheningan yang memekakkan telinga dan tatapan penuh tanya Rani yang ia hindari.

Setiap pagi ia berangkat dengan alasan "narik", padahal hati kecilnya berteriak mencari jalan keluar dari kebuntuan ini.

Juki dan Bayu bercerita tentang penumpang lucu, tentang rencana arisan keluarga, tapi suara mereka seolah terdengar dari balik tembok kaca. Arman hanya mengangguk, sesekali tersenyum palsu, sementara pikirannya melayang ke sebuah kartu nama di dompetnya dan pesan yang belum terjawab.

Godaan untuk membuka pintu yang ia biarkan menganga itu semakin tak tertahankan. Dalam keputusasaan dan kebosanan yang mendalam, keputusan itu akhirnya jatuh.

Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka WhatsApp, mencari chat Nadia. Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Pesan akhirnya terkirim, sederhana dan penuh harap:

[Arman] : Selamat siang Mba Nadia. Maaf mengganggu. Kalau tawaran alternatifnya masih berlaku, gimana ya? Saya tertarik untuk diskusi lebih lanjut.

Ia menaruh ponsel di pangkuan, berusaha terlihat santai. Hanya dalam hitungan menit, ponselnya bergetar.

[Nadia] : Selamat siang, Mas Arman. Tentu masih. Senang Anda menghubungi. Bagaimana kalau kita ketemu besok? Jam 10 pagi di kafe yang sama? Kita bicarakan detailnya.

Rasa lega yang memabukkan menyergap Arman. Ada jalan! Ia segera membalas setuju.

---

Keesokan harinya, Arman memilih kemeja yang paling rapi—yang sama ia pakai saat wawancara dengan Budi. Ia berangkat pagi-pagi, berpura-pura berangkat narik.

Di kafe itu, Nadia sudah menunggu. Kali ini ia mengenakan blazer berwarna taupe di atas kaus putih, dengan celana kain hitam yang sleek. Tampil profesional, namun ramah.

"Mas Arman, tepat waktu. Silakan duduk," sambutnya dengan senyum yang hangat namun terkendali.

"Mba Nadia. Terima kasih waktunya," balas Arman, berusaha tenang.

Nadia langsung ke pokok bahasan. "Saya perhatikan ritme bisnis saya, sering perlu mobilitas ke supplier kain di Pasar Mayestik, meeting dengan klien, kadang ke pameran atau event.

Saya butuh driver pribadi yang fleksibel, bisa diandalkan, dan mengerti kondisi lalu lintas Jakarta. Saya tawarkan kontrak kepada Anda.

Kerja dari Senin sampai Jumat, jam kerja fleksibel sesuai jadwal saya, tapi rata-rata 6-8 jam sehari. Gaji tetap 6 juta per bulan, diluar tunjangan bensin, tol, dan parkir yang semuanya saya tanggung. Bagaimana?"

Angka itu membuat telinga Arman berdenging. Enam juta. Stabil. Lebih tinggi dari tawaran Budi. Dan ini dari Nadia, orang yang sama sekali tidak ada dalam "larangan" Rani.

"Apa… apa tugasnya hanya menyetir, Mba?" tanyanya, berhati-hati.

"Utamanya menyetir dan membantu barang-barang ringan. Kadang mungkin menemani meeting sebagai driver sekaligus asisten logistik. Tapi tidak ada pekerjaan rumah tangga atau urusan pribadi yang aneh-aneh," jelas Nadia dengan jernih. "Ini murni hubungan profesional."

Hubungan profesional. Kata-kata itu menenangkannya. "Saya menerima, Mba. Terima kasih banyak."

"Baik. Kita mulai besok. Saya akan kirim jadwal via WhatsApp malam sebelumnya. Oh, dan…" Nadia menatapnya, "ini antara kita saja dulu, ya. Sampai semuanya berjalan lancar. Saya tidak ingin ada pihak ketiga yang belum paham kondisi mencampuri kerja sama kita."

Permintaan itu sejalan dengan keinginan terdalam Arman. Ini bukan pelanggaran perjanjian, bisiknya pada diri sendiri.

Perjanjiannya dengan Rani hanya melarang berurusan dengan Budi dan kroni-kroninya. Nadia bukan kroni Budi. Ia bahkan menegaskan independensinya. Dan merahasiakan pekerjaan baru ini? Itu hanya untuk menghindari penilaian prematur dan pertengkaran yang tidak perlu.

Ia yakin, nanti ketika gaji pertamanya masuk dan ia bisa membantu ekonomi rumah dengan signifikan, ia akan memberitahu Rani. Saat itu, Rani pasti akan mengerti.

Demikianlah rutinitas baru Arman dimulai. Pagi-pagi buta, ia berpamitan pada Rani, "Aku berangkat narik, Ran."

Lalu ia mengenakan jaket ojol hijau, menghidupkan aplikasi, dan menerima beberapa orderan pagi di sekitar Bekasi-Cikarang.

Pukul 9 ia melepas jaket ojol, berganti kemeja rapi, dan berangkat ke tempat Nadia.

Hari pertama, tugasnya mengantar Nadia ke Pasar Mayestik. Ia belajar bahwa Nadia bukan sekadar pengusaha thrift shop, tapi punya jaringan supplier yang luas.

Nadia berbicara dengan pedagang kain dengan cerdas dan tegas. Di dalam mobil, setelah urusan selesai, Nadia bertanya, "Hari pertama kerja, sudah nyaman Mas?"

"Alhamdulillah, Mba. Lebih enak dari narik ojol, sih," jawab Arman polos.

"Pasti. Di sini ada AC, tidak kepanasan," sahut Nadia sambil tertawa kecil. "Cerita dong, Mas Arman, kenapa memilih jadi driver ojol sebelumnya?"

Pertanyaan itu membuka keran. Dengan santai, Arman bercerita tentang kesulitan ekonomi, tentang usaha katering yang gagal, tentang sulitnya mencari kerja tetap.

Nadia mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk, sesekali mengajukan pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia benar-benar menyimak. Tidak ada sindiran, tidak ada nasihat sok tahu. Hanya empati.

Hari berikutnya, setelah meeting dengan klien di sebuah hotel, di perjalanan pulang macet, Nadia bertanya lagi, "Kalau di rumah, Mas Arman biasa ngobrol apa sama istri?"

Pertanyaan itu menusuk. Arman terdiam. "Akhir-akhir ini… jarang. Sibuk masing-masing."

"Wah, itu bahaya. Komunikasi itu penting. Tapi saya ngerti, kadang wanita itu kalau sudah punya prasangka, susah diajak bicara," ucap Nadia, suaranya lembut seperti memahami benar.

Ia tidak menyalahkan Rani secara langsung, tapi kata-katanya seolah memberikan pembenaran pada perasaan tersumbat Arman.

Pelan-pelan, Nadia menjadi lebih dari sekadar bos. Ia menjadi tempat curhat. Arman bercerita tentang tekanan tagihan, tentang keraguan akan masa depan, bahkan—dengan samar—tentang konflik rumah tangganya yang ia rasa tidak ada jalan keluarnya.

Nadia selalu mendengarkan. Ia tidak pernah menawarkan solusi poligami seperti Budi. Ia hanya berkata, "Saya ngerti, Mas. Hidup memang berat. Tapi Mas Arman orang yang kuat, pasti bisa melewati ini." Kata-kata itu seperti obat bagi jiwanya yang terluka.

Di rumah, kebohongan mulai menumpuk.

"Loe tadi siang kemana? Kok nggak online di aplikasi?" tanya Rani suatu malam, sambil menatap ponselnya sendiri yang penuh notifikasi pesanan kue.

"Ada orderan khusus, Ran. Orang pesen anterin barang dari Cikarang ke Jakarta. Bayar langsung tunai. Lumayan," jawab Arman, menghindari tatapan Rani. Ini bohong pertama.

"Malam-malam gini masih narik?"

"Iya, lagi ngejar setoran buat bayar listrik," kalau gw gak narik emang siapa yang mau bayar cicilan rumah? listrik dan sekolah aldi?”

Ia membangun tembok kebohongan yang rapi, namun terselip kebenaran disitu. Uang dari Nadia ia simpan di rekening terpisah. Ia hanya mengeluarkan sedikit-sedikit, mencampurkannya dengan uang ojol, dan menyerahkannya pada Rani seolah-olah itu semua hasil narik.

Rani, yang tenggelam dalam usahanya sendiri—melayani warung, membuat risoles dan kue pisang untuk pesanan tetangga, dan kini mulai dapat pesanan kecil-kecilan untuk arisan lagi—tidak terlalu mengejar. Ada kelegaan dalam jarak ini, pikir Rani.

Setidaknya mereka tidak bertengkar.

Tapi naluri seorang istri tidak pernah mati. Rani mulai menyadari perubahan halus. Jaket ojol Arman tidak lagi bau keringat dan asap knalpot di siang hari.

Kadang malah wangi, seperti habis di ruang ber-AC. Lalu, ada caranya berbicara. Dulu ia hanya mengeluh tentang penumpang atau macet. Sekarang, kadang ia menyebut istilah-istilah yang tidak biasa: "supplier", "meeting", "klien".

Saat Rani menanyakan, ia hanya berkata, "Dengar-dengar dari penumpang yang ngobrol."

Yang paling membuat Rani curiga adalah sikapnya. Arman jadi lebih tertutup. Dulu, meski bertengkar, ada intensitas. Sekarang, ia seperti ada di balik kaca. Fisiknya hadir, tapi pikirannya entah ke mana.

Saat Rani mencoba membuka obrolan tentang rencana memperbesar warung atau tentang prestasi Aldi di sekolah, jawaban Arman pendek, datar, seperti buru-buru.

Namun, uang yang ia berikan rutin, lebih besar dari sebelumnya. Ini yang membuat Rani bingung. Apakah ia harus bersyukur atau justru khawatir?

Suatu sore, saat Arman pulang lebih awal dari biasanya (karena jadwal Nadia kosong), ia menemukan Rani sedang mengemas pesanan kue untuk sebuah pengajian.

"Bantuin dong, ikatin pita ini," pinta Rani.

Arman membantu, tapi tangannya canggung, pikirannya jelas melayang.

"Lo akhir-akhir ini… sering banget dapat orderan khusus ya?" tanya Rani, tanpa menoleh.

"Lagi hoki aja," jawab Arman singkat.

"Penumpangnya pada mau bayar mahal, gitu?"

"Ya… ada aja."

Rani berhenti mengemas. Ia memandang Arman. "Arman, lo… nggak ada yang disembunyikan dari gue, kan?"

Senyum palsu cepat muncul di wajah Arman.

"Mana ada. Urusan kita aja udah ribet, mau nyembunyiin apa lagi?" Ia berusaha bercanda, tapi nadanya datar.

Diam yang menyergap setelah itu lebih berbicara daripada kata-kata. Rani tahu ada yang tidak beres. Tapi tanpa bukti, tanpa konfirmasi, apa yang bisa ia lakukan selain mengawasi? Ia memutuskan untuk fokus pada usahanya yang mulai menunjukkan titik terang.

Pesanan kue untuk yayasan yatim itu membuka pintu pada pesanan lain dari komunitas-komunitas serupa. Warungnya tetap hidup. Ia mulai menabung pelan-pelan dari laba bersihnya, menyimpan uang receh itu di celengan kaleng bekas susu Aldi. Ia membangun bentengnya sendiri.

Sementara itu, dalam SUV yang nyaman, hubungan Arman dan Nadia semakin dalam. Suatu hari, saat terjebak macet parah, Nadia bercerita tentang hidupnya. Tentang pernikahan yang singkat, tentang keinginan punya anak yang tidak kesampaian, tentang kesepian mengelola usaha sendirian.

"Kadang, punya seseorang untuk diajak bicara seperti Mas Arman ini, sudah sangat berharga," ujarnya, menatap jalan di depan dengan ekspresi lembut.

Arman merasa dipilih, dihargai. Di sini, di ruang ber-AC ini, dengan seorang wanita cantik dan sukses yang mendengarkan keluh kesahnya, ia merasa seperti pria yang berarti. Berbeda dengan di rumah, di mana ia merasa seperti mesin ATM yang gagal dan sumber kekecewaan.

Ia tidak menyadari bahwa ia sedang menggali lubang untuk dua kehidupan yang paralel. Yang satu di bawah terik matahari dan debu, mengenakan jaket hijau, penuh kebohongan.

Yang lain, di dalam kenyamanan ber-AC, dengan kemeja rapi dan percakapan yang membangun ego. Di tengah-tengahnya, ada sebuah rumah dengan seorang perempuan yang mulai merasakan dinginnya pengkhianatan yang belum terbukti, dan seorang anak kecil yang hanya tahu bahwa bapaknya kini lebih sering diam.

Dan Arman, ia terus melaju di dua jalur itu, percaya bahwa ia bisa mengendalikan semuanya. Bahwa rahasianya aman. Bahwa "hubungan profesional" dengan Nadia akan tetap berada di batas yang ia tentukan. Ia lupa bahwa di jalanan yang licin sekalipun, mengemudi di dua jalur sekaligus adalah resep pasti untuk kecelakaan.

1
falea sezi
enak bgt si arman g dpet karma nya bkin crrai lah trs buat hancur males liat laki. model. kayak arman gini
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!