NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 20 - Tekanan

Steven bukan diseret pulang oleh mamanya, melainkan ke perusahaan ayahnya.

Tak ada sedikit pun suara yang keluar dari mulut Steven ketika berhadapan langsung dengan Gavin, ayah tirinya—orang yang paling tidak Steven sukai. Bukan takut atau segan, tapi muak.

Gavin melempar sebuah koran dan tab di hadapan Steven.

"Jelaskan itu, Steven!" katanya, dingin.

Steven meraih koran yang kertasnya terasa hangat seolah - olah baru keluar dari mesin cetak. Matanya langsung menangkap headline yang menjadi kabar utama di koran tersebut.

STEVEN MENYATAKAN KELUAR, DI TENGAH PUNCAK POPULARITAS BAND NOVA.

Tak ada penjelasan apa pun dari Steven yang justru terlihat menikmati isi koran itu sebagai bacaannya.

"PAPA BILANG, JELASKAN, STEVEN!" bentak Gavin kehilangan kesabaran.

"Aku memang bilang aku akan keluar." Akhirnya Steven angkat bicara—menatap mata ayahnya dengan berani.

"Kenapa?" Intonasi Gavin kembali menurun.

"Aku bosan. Aku nggak mau cari musuh, aku nggak mau jadi idola, aku nggak mau menyanyi, aku nggak mau menulis lagu, aku nggak mau melayani penggemar."

Semua alasan Steven lontarkan. Sejak dulu, dia selalu bilang pada mamanya kalau tidak ingin menjadi seorang idola ataupun aktor. Steven ingin menjadi penulis.

Tapi tak pernah didengarkan.

Cassandra memaksanya tampil di hadapan publik, menjadi yang paling bersinar di hadapan banyak orang tanpa tahu bahwa Steven sendiri sudah redup sejak pertama kali ada di atas panggung sebagai idola.

Itulah alasan mengapa Steven menjadi satu - satunya anggota NOVA yang paling tidak menikmati pekerjaannya.

"Karena itu, kau ingin keluar dari NOVA?" Cassandra turut menimpali.

"Iya." Steven menjawab tanpa ragu.

"Kamu sudah terbang, kenapa ingin jatuh?" Gavin berusaha keras untuk menguatkan Steven.

"Papa sama Mama dukung kamu sepenuhnya. Apa pun yang kamu mau, tidak pernah sekali pun tidak kami turuti. Apartemen, mobil balap dan semua yang kamu minta."

Steven mendapat kedua orang tuanya secara bergantian. Dia tidak menyangkal ucapan ibunya karena itu benar. Dia memiliki semua fasilitas mewah bahkan sebelum dia akhirnya bisa membelinya sendiri.

Dulu, ketika teman - temannya datang latihan menggunakan taksi, Steven bersama dengan mobilnya. Teman - temannya masih tinggal di rumah kecil bersama orang tua mereka, Steven sudah memiliki rumah dan apartemen.

"Kamu seharusnya bersyukur karena kami memikirkan masa depan kamu, Steven."

"Terima kasih sudah memikirkan masa depanku, Pa. Tapi sebenarnya aku tidak butuh fasilitas itu. Aku butuh dukungan kalian dibidang yang aku minati," tuntut Steven.

Cassandra mengangkat tangannya hendak menampar tapi Gavin menghentikan itu.

Sikap keduanya membuat Gavin tersenyum getir. Dia tidak tahu alasan ayahnya menghentikan tangan ibunya, yang padahal dulu ayahnya yang selalu keras padanya ketika Gavin gagal memainkan alat musik.

"Kamu pikir, kamu akan mendapatkan semua yang kamu punya saat ini kalau kamu jadi penulis?" ledek Gavin.

"Papa bicara seperti itu, tapi Papa sendiri punya perusahaan penerbitan, Pa!" sanggah Steven.

Gavin menjentikkan jarinya—menyetujui sanggahan Steven.

"Kalau kamu mau meneruskan perusahaan Papa, kamu tidak perlu bekerja keras di atas panggung," katanya, "tapi kamu menolak."

Selalu saja seperti itu.

Kehidupan Steven terlalu diatur dan harus diikuti. Steven seperti anjing yang dirantai sehingga pemberontakannya sia - sia. Entah harus sejauh apa Steven mengikuti semua aturan orang tuanya.

Kini tatapan Steven berpindah pada ibunya yang akhirnya membuka kacamatanya untuk membalas tatapan Steven yang begitu menantang.

"Beraninya kamu menatap Mama seperti itu," tegur Cassandra.

Steven langsung memalingkan wajahnya sambil mendengus kesal.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk dari luar membuat semuanya menoleh ke arah pintu.

"Masuk!" teriak Gavin.

Saat pintu dibuka, muncullah Daffa. Dan yang bersamanya, Abi—dengan beberapa plaster di wajahnya akibat luka pertengkaran mereka tadi.

Pandangan Steven dan Abi bertemu dan mereka melontarkan tatapan tak suka satu sama lain beberapa detik sebelum akhirnya saling memalingkan pandangan kebencian itu.

"Aku mau pergi." Steven bangkit.

"Kau sudah dewasa. Jangan kekanakan!" tegur Gavin menghentikan Steven yang akhirnya kembali duduk.

Cassandra mempersilakan Abi duduk di samping Steven dan kini keduanya berhadapan langsung dengan Gavin, bukan sebagai orang tua Steven. Melainkan sebagai pemilik perusahaan media terbesar di Indonesia.

"Sudah lebih dari seratus berita yang meliput pertengkaran kalian." Gavin membuka pembicaraan. Sesaat menjeda untuk menatap kedua idola yang ada di hadapannya.

"Kenapa?" lanjutnya bertanya.

"Saya minta maaf atas keributan yang terjadi, Oom," ungkap Abi memilih untuk tidak mengatakan apa pun mengenai pertengkaran mereka.

Steven cukup heran. Padahal bisa saja Abi mengatakan semua yang telah Steven lakukan sebagai pelanggaran kontrak kerja dengan agensi dan masalah yang bisa menjatuhkan nama baik NOVA juga agensi.

Tapi Abi ternyata memilih bungkam.

"Surat kabar, portal media, stasiun televisi, belum saya ijinkan meliput berita ini. Bahkan bisa saya batalkan rilisnya jika kalian memberitahu kami, apa yang membuat kalian saling pukul tadi."

"Kalau memang mau diliput, tidak masalah, Pa. Aku benar - benar mau keluar dari NOVA." Steven angkat bicara karena dia tidak mau repot - repot menceritakan semuanya.

Abi langsung melirik Steven kesal.

"Jangan egois dong, Stev!" tegurnya.

"Gue nggak egois. Lo aja yang dari dulu obsesi banget sama band itu tanpa mikirin perasaan anggota lainnya."

"Kita udah sejauh ini. Masa mau bubar begitu aja."

"Yang minta kalian bubar siapa? Banyak orang bisa nyanyi."

Abi terlihat mengepalkan tangannya menahan diri untuk tidak memukul Steven di hadapan Gavin. Sementara Steven tetap bersikap santai tidak peduli dengan apa yang ingin Abi lakukan.

Keputusannya sudah bulat. Dia juga ingin hidup sebagai orang biasa tanpa harus menyamar dan dikejar - kejar penggemar setiap kali keluar.

"Kalau gitu, kita omongin baik - baik jalan tengahnya." Abi berusaha mengalah demi mempertahankan kelengkapan NOVA.

"Gue mengundurkan diri juga baik - baik. Makanya gue bilang, nggak masalah kalaupun harus ada konferensi pers." Steven masih kekeh dengan keputusannya.

Abi sampai menggelengkan kepalanya tak menyangka dengan sikap Steven yang jauh lebih menyebalkan dari pada sebelumnya.

"Lo beneran ninggalin semua cuman karena cewek itu?! bikin muak tau nggak?!" tampik Abi akhirnya tak bisa menahan apa yang ada di otaknya.

Gavin dan Cassandra yang mendengar itu—saling pandang mengerutkan kening. Mereka kini tidak tahu ke mana arah pembicaraan Abi dan Steven.

Niat awal, Gavin memang ingin membiarkan keduanya saling beradu argumen sampai menemukan jalan tengah untuk menyelesaikan masalah mereka. Siapa sangka kalau dia mendapatkan fakta baru.

"Maksud lo apa ngomong begitu?!" Steven menarik kerah Abi.

Abi menepisnya dengan kasar. "Lo cuman nunjukin kalau lo nggak profesional hanya karena belain seorang cewek yang punya keluarga bermasalah."

"BANGSAT!" Steven menendang kursi yang Abi duduki hingga terbalik dan jatuh.

"STEVEN!" Gavin berdiri—membentak sebagai ancaman.

"Lo nggak tahu apa - apa! Gue bertahan di NOVA selama ini aja itu berarti gue nggak egois dan masih mikirin nasib kalian. Gue bahkan nahan diri buat nggak bun*uh orang tua gue yang terus nekan gue buat jadi bentuk sempurna seorang idola." Steven menjelaskan semuanya tanpa rasa tenang.

Cassandra yang mendengar itu langsung menarik kerah baju putranya dengan kasar.

"Apa maksud kamu hah?!" serangnya.

"Seharusnya dari awal aku ikut Ayah dan nggak merestui Mama menikah lagi sama Papa."

Dua tamparan sekaligus mendarat di pipi Steven. Cassandra melakukannya dengan mata berkaca - kaca tidak menyangka kalau Steven akan mengatakan hal seperti itu.

Ya, Gavin bukanlah ayah kandung Steven.

Karena Cassandra tak bisa lagi melahirkan seorang anak, Gavin menaruh semua harapan pada Steven—sehingga tanpa sadar, terlalu menekan.

"Aku benci kalian!" ucap Steven yang akhirnya melangkah pergi.

Semua orang hanya menatap punggungnya yang menjauh sampai hilang di balik pintu.

"Cari tahu alamat cewek bernama Alexa itu." Gavin berbicara pada Daffa. "Pastikan bawa dia ke hadapanku dalam keadaan hidup." [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!