Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Cinta yang menantang kematian.
Sejak pagi itu, ada sesuatu yang berubah—bukan secara dramatis, bukan pula dengan pengakuan besar. Perubahannya kecil, hampir tak terlihat, tapi terasa.
Haruka mulai membuka jendela lebih sering daripada berdiri di balkon. Ia masih terbangun lebih awal dariku, masih memulai hari dengan diam, tapi suara batuknya tak lagi terdengar seperti pertaruhan antara hidup dan menyerah. Setidaknya… tidak sesering sebelumnya.
Dan rokok itu—
tidak menghilang sepenuhnya.
Namun tidak lagi menjadi pelarian pertamanya.
Kami tidak membicarakan pagi itu lagi. Seolah ada kesepakatan tak tertulis untuk menyimpannya di ruang paling rapuh di antara kami. Tapi justru karena tidak dibahas, keberadaannya semakin nyata.
Suatu malam, aku menemukannya duduk di ruang makan dengan berkas-berkas terbuka. Lampu meja menyinari wajahnya dari samping, mempertegas garis lelah di bawah matanya.
“Kamu belum tidur?” tanyaku.
“Sebentar lagi,” jawabnya. Nada suaranya netral, tapi ia menutup map itu lebih cepat dari biasanya.
Aku menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu meletakkannya di hadapannya tanpa berkata apa pun.
Ia menatap gelas itu lama.
“Ini apa?”
“Air,” jawabku singkat.
Ia mendengus kecil. “Aku tahu.”
“Tenggorokanmu kering,” kataku. “Suaramu dari tadi serak.”
Ia terdiam, lalu akhirnya meminum air itu. Pelan. Hati-hati. Seolah setiap tegukan perlu izin dari tubuhnya sendiri.
“Kamu memperhatikanku terlalu detail,” katanya kemudian.
Aku duduk di seberangnya. “Kamu terlalu sering pura-pura baik-baik saja.”
Tatapan kami bertemu. Tidak ada ketegangan seperti biasanya. Tidak ada dingin. Hanya kelelahan yang jujur.
“Kalau suatu hari aku tiba-tiba jatuh,” katanya pelan, seolah hanya berpikir keras, “kamu akan menyesal tinggal di sini.”
Kalimat itu membuatku menegakkan punggung.
“Kalau suatu hari kamu jatuh,” jawabku tenang, “aku akan berada cukup dekat untuk menangkapmu. Itu bukan penyesalan.”
Ia menatapku lama. Terlalu lama untuk dianggap biasa.
“Alya,” katanya akhirnya, “hidup bersamaku bukan cerita yang indah.”
Aku tersenyum tipis. “Aku tidak pernah minta cerita indah. Aku hanya tidak ingin cerita yang berhenti tiba-tiba.”
Malam itu, ia tidak membalas. Tapi saat aku bangkit untuk pergi, ia berkata pelan, hampir tak terdengar—
“Terima kasih… sudah tidak pergi.”
Langkah kakiku terhenti sejenak.
Sejak saat itu, Haruka Sakura tidak lagi hidup seolah setiap hari adalah hari terakhirnya.
Ia masih keras. Masih tertutup. Masih berbahaya.
Tapi kini, ia mulai menyisihkan ruang kecil untuk
untuk seseorang yang memilih tinggal,
meski tahu risikonya.
aku mulai menyadari satu hal yang menakutkan:
mencintai Haruka Sakura berarti mencintai seseorang yang setiap harinya berjalan beriringan dengan kematian—bukan sebagai musuh, tapi sebagai bayangan yang terlalu akrab.
Ia mulai lebih sering menghilang.
Bukan dariku—
melainkan dari kebiasaan lamanya.
Pertarungan tetap ada. Dunia gelap itu tidak pernah benar-benar melepaskannya. Luka baru sesekali muncul di balik lengan kemejanya, disamarkan dengan sikap dingin dan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata.
Namun setiap kali ia kembali, satu hal selalu sama:
ia memastikan aku melihatnya bernapas.
Suatu malam, hujan turun deras. Aku duduk di ruang tengah saat pintu terbuka dengan suara berat. Haruka masuk dengan langkah pincang, jaketnya basah, darah mengalir tipis dari pelipisnya.
Jantungku nyaris berhenti.
“Kamu terluka,” kataku, berdiri terlalu cepat.
“Tidak parah,” jawabnya otomatis.
Aku tidak percaya.
Aku menariknya ke sofa, mengambil kotak P3K dengan tangan gemetar. Saat kapas menyentuh lukanya, ia sedikit meringis—hal kecil, tapi cukup membuat dadaku sesak.
“Kamu tidak kebal,” kataku pelan. “Berhenti bertingkah seolah kematian takut padamu.”
Ia menatapku. Lama.
“Kematian tidak takut padaku,” katanya lirih.
“Ia hanya menungguku."
Tanganku berhenti bergerak.
“Kalau begitu,” kataku, menahan getar,
“aku akan berdiri di antara kalian.”
Ia tertawa kecil—bukan mengejek.
“Tahu apa risikonya?”
“Aku tahu,” jawabku. “Setiap hari bersamamu adalah taruhan. Tapi aku tetap memilih datang.”
Tatapannya berubah. Bukan lagi dingin. Bukan lagi tertutup. Ada ketakutan di sana—bukan untuk dirinya, melainkan untukku.
“Jika suatu hari napasku berhenti di depanmu,” katanya pelan, “aku tidak ingin kamu menyalahkan dirimu.”
Aku menatapnya tanpa mundur.
“Dan jika suatu hari napasmu berhenti,” balasku,
“aku ingin kamu tahu… napas itu tidak sia-sia.
Karena kamu pernah memilih hidup. Meski sebentar. Meski menyakitkan.”
Ia memejamkan mata. Rahangnya mengeras.
Untuk pertama kalinya, Haruka Sakura terlihat seperti pria yang takut mati—
bukan karena kematian itu sendiri,
melainkan karena ada seseorang yang akan ia tinggalkan.
Malam itu, ia bersandar padaku. Tidak sepenuhnya. Tidak lemah. Tapi cukup dekat untuk membuatku sadar—
Cinta ini bukan tentang menyelamatkan Haruka dari kematian.
Ini tentang menantangnya.
Tentang mencintai seseorang yang paru-parunya lelah, sangat keras kepala dan juga hobi berkelahi.
karna berkelahi sudah jadi rutinitas dalam hidupnya, di sana dia bisa melepaskan seluruh emosinya.
lalu berkata pada dunia:
“Jika kau ingin mengambilnya,
kau harus melewati aku terlebih dahulu.”
Dan aku tahu,
mencintai Haruka Sakura berarti siap kehilangan segalanya.
namun tetap memilih tinggal
selama ia masih mau bernapas,
walau hanya satu tarikan.