NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Christian mencengkeram kemudi mobilnya dengan perasaan yang tidak menentu.

Sejak insiden di rumah sakit kemarin, hatinya tidak bisa tenang.

Ia sudah mendatangi rumah utama keluarga Hermawan, namun diusir mentah-mentah oleh penjaga gerbang.

Firasatnya mengatakan bahwa Zahra sedang dalam bahaya besar.

Saat mobilnya melintasi jalan pintas di area belakang perumahan elit tersebut, matanya menangkap kepulan asap hitam yang membubung tinggi ke langit.

Jantungnya berdegup kencang saat melihat asap rumah yang sedang mengalami kebakaran hebat.

"Jangan bilang itu rumah Zahra," gumam Christian

Ia mempercepat laju mobilnya hingga tiba di sebuah jalan setapak yang sepi di balik area taman belakang. Tiba-tiba, ia melihat seorang wanita tua yang berjalan tertatih-tatih sambil memapah tubuh lain yang terkulai lemah.

"Bi!" teriak Christian spontan.

Ia segera menginjak rem dan melompat turun dari mobil tanpa sempat mematikan mesin.

Christian berlari menghampiri mereka, dan matanya seketika membelalak ngeri melihat kondisi wanita yang dipapah oleh Bibi Renggo.

"Den Christian, tolong selamatkan Non Zahra!" tangis Bibi Renggo pecah saat melihat sosok yang ia kenal.

Tubuh wanita tua itu gemetar hebat, sisa abu dan jelaga menempel di wajahnya.

"Astaghfirullah, Zahra!"

Christian hampir jatuh terduduk saat melihat wajah Zahra yang pucat pasi dengan bekas luka bakar yang masih berasap di punggungnya.

Pakaiannya compang-camping dan bau daging terbakar menusuk indra penciumannya.

Tanpa membuang waktu, Christian segera menyambar tubuh Zahra.

Ia membopongnya dengan sangat hati-hati, seolah-olah jika ia sedikit saja kasar, tubuh yang

ringkih itu akan hancur berkeping-keping.

"Cepat masuk, Bi!" perintah Christian.

Bibi Renggo masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang sambil memangku kepala Zahra.

Sepanjang perjalanan, Bibi Renggo menangis sesenggukan, meratapi nasib malang nona mudanya.

Ia terus menggumamkan doa dan kata maaf, sementara tangannya yang keriput mencoba mengusap dahi Zahra yang panas membara.

Christian melajukan mobilnya sekencang mungkin.

Kali ini ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Ia langsung mengarahkan mobilnya ke kediaman pribadinya di pinggiran kota.

Papa Christian, dr. Adrian, adalah seorang dokter bedah ternama yang memiliki fasilitas medis lengkap di rumahnya dimana sebuah klinik pribadi yang lebih mirip rumah sakit mini untuk menangani pasien-pasien khusus.

Sesampainya di halaman rumah, Christian membunyikan klakson berkali-kali.

"PAPA! PAPA TOLONG!" teriak Christian saat pintu depan terbuka.

Dokter Adrian keluar dengan wajah terkejut, namun naluri dokternya segera mengambil alih saat melihat putra tunggalnya menggendong seorang wanita yang keadaannya sangat mengenaskan.

"Bawa ke ruang tindakan, cepat!" perintah Dokter Adrian tanpa bertanya banyak.

Zahra segera diletakkan di atas brankar steril, sementara Christian berdiri mematung di ambang pintu ruang tindakan.

Tangannya masih gemetar dan bajunya kini ternoda oleh darah dan abu dari tubuh Zahra.

"Chris, tunggu di luar. Biarkan Papa bekerja," ucap dokter Adrian sambil mulai memakai sarung tangan bedah dan masker.

Christian mundur perlahan, terduduk di kursi tunggu koridor klinik pribadinya.

Di sampingnya, Bibi Renggo masih menangis tanpa henti.

"Ceritakan pada saya, Bi. Apa yang dilakukan Akhsan dan keluarga itu pada Zahra?"

Bibi Renggo menoleh ke arah Christian dengan matanya yang masih memerah.

"Mereka iblis, Den. Mereka mengunci Non Zahra di gudang, memukulinya, bahkan saat rumah itu terbakar, Den Akhsan sengaja meninggalkannya terkunci di dalam. Jika bukan karena kunci serep, Non Zahra sudah jadi abu sekarang..."

Christian mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengannya menonjol.

Matanya menatap pintu ruang tindakan yang tertutup rapat.

Di balik pintu itu, nyawa wanita yang ia cintai sedang dipertaruhkan.

"Zahra, kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Bahkan jika itu keluargamu sendiri."

Kemudian seorang perawat datang dengan langkah tenang, memberikan segelas teh hangat ke tangan Bibi Renggo yang masih gemetaran hebat.

Uap panas dari teh itu seolah tak mampu mencairkan rasa dingin yang membeku di sekujur tubuh wanita tua itu.

"Minum dulu, Bi. Tenangkan diri Bibi," ucap Christian.

 "Sekarang tolong ceritakan semuanya, Bi. Sebenarnya ada apa? Kenapa Akhsan menyiksa adiknya sendiri sampai sekejam itu? Apa yang terjadi di rumah itu, Bi?" tanya Christian.

Bibi Renggo memegang gelas itu dengan kedua tangan, namun air teh di dalamnya terus bergoyang karena tangisnya yang kembali pecah.

Ia terisak sesenggukan, seolah beban yang dipikulnya selama ini meledak keluar.

"Mereka bukan kakak adik, Den. Mereka suami istri" jawab Bi Renggo dengan suara bergetar, hampir hilang ditelan isak tangis.

Christian tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah Bibi Renggo dengan tatapan tidak percaya.

"Suami istri? Apa maksud Bibi? Bukankan mereka itu saudara kandung dari keluarga Hermawan?"

"Den Akhsan bukan putra kandung Papa Hermawan, Den. Rahasia itu terungkap saat kecelakaan maut itu terjadi," Bibi Renggo menyeka air matanya dengan ujung kerudung yang kotor.

"Non Gea, dia sudah meninggal dunia di tempat saat kecelakaan itu. Seharusnya hari itu adalah hari pernikahan mereka."

Christian sempak terkejut ketika mendengarnya sampai rahangnya mengeras saat ia mencoba mencerna setiap kata.

"Tapi undangan sudah tersebar, nama besar keluarga dipertaruhkan. Papa Hermawan mengambil keputusan gila. Beliau memaksa Non Zahra menikah dengan Den Akhsan untuk menggantikan posisi Non Gea."

Christian membelalakkan matanya dan ingatannya kembali pada prosesi akad nikah di rumah sakit yang ia lihat dari kejauhan.

"Jadi, sosok wanita yang kemarin memakai cadar saat pernikahan, yang duduk kaku di samping Akhsan itu Zahra?"

Bibi Renggo menganggukkan kepalanya dengan lesu.

"Benar, Den. Itu Non Zahra. Sejak saat itu, rumah itu berubah jadi neraka. Den Akhsan membenci Non Zahra karena dia tahu Non Zahra mencintainya sejak lama. Dia menuduh Non Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan itu dan menuduhnya membunuh Non Gea agar bisa memilikinya. Padahal Non Zahra tidak seperti itu, dia gadis yang sangat tulus."

Christian mengepalkan tinjunya hingga terdengar bunyi gemertak tulang.

"Lalu, kenapa tubuhnya penuh dengan luka, Bi?"

"Kemarin siang Den Akhsan meminta saya kembali ke rumah utama kemarin siang, dia ingin mengurung Non Zahra sendirian. Tapi saya tidak tega, Den. Saya bersembunyi di gudang atas, diam-diam mengawasi mereka," Bibi Renggo menutup wajahnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang hebat.

"Malam itu, saya mendengar semuanya dari atas, Den. Saya mendengar bagaimana Den Akhsan menodai kesucian istrinya sendiri dengan cara yang sangat kasar di lantai gudang yang kotor. Dia mabuk, dia terus memanggil nama Non Gea sambil menyiksa Non Zahra. Non Zahra menjerit kesakitan, tapi Den Akhsan tidak peduli. Dia benar-benar merampas kehormatan istrinya seperti binatang..."

Suara Bibi Renggo menghilang dalam tangisan yang menyayat hati.

Christian berdiri seketika, dadanya kembang kempis menahan amarah yang membuncah.

Bayangan Zahra yang menderita di tangan pria yang dipujanya membuat darah Christian mendidih.

"Binatang..." desis Christian.

"Dia bukan manusia. Dia iblis."

Christian menatap pintu ruang tindakan dimana Zahra masih ada disana.

Sekarang ia mengerti mengapa Zahra seolah kehilangan jiwanya.

Bukan hanya fisiknya yang dihancurkan, tapi kehormatan dan cintanya telah diinjak-injak oleh orang yang paling ia cintai.

"Aku bersumpah, Bi," ucap Christian dengan tatapan matanya penuh dendam.

"Akhsan Hermawan akan membayar setiap tetes air mata dan darah Zahra. Dia tidak akan pernah bisa menyentuh Zahra lagi."

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!