Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23 – DATANG UNTUK MENGHANCURKAN
Pagi itu langit mendung tapi panasnya aneh.
Seperti suasana hati yang ditahan terlalu lama.
Bagas duduk di kursi plastik depan kontrakan, map cokelat di tangan. Isinya dokumen dari Riko. Tiga lembar. Hanya perlu tanda tangan.
Tiga lembar.
Harga diri ditukar dengan angka di rekening.
Tangannya gemetar.
Di dalam, Pipit sedang menyapu lantai. Gerakannya pelan. Tenang. Seolah dunia baik-baik saja.
Padahal dunia mereka sedang retak.
Tiba-tiba suara mobil berhenti di depan gang sempit itu.
Bukan motor.
Mobil.
Mengkilap.
Tidak cocok dengan jalan becek di depan kontrakan.
Bagas mengangkat kepala.
Jantungnya langsung turun ke perut.
Itu mobil Bu Rahayu.
Pintu mobil dibuka.
Sepatu hak tinggi turun lebih dulu.
Lalu sosok perempuan dengan kacamata hitam besar, tas mahal di tangan, wajah tegang seperti datang ke medan perang.
Tetangga langsung keluar.
Seperti ada pertunjukan.
Bu Rahayu berdiri memandang kontrakan kecil itu dari ujung ke ujung.
Tatapannya bukan iba.
Tatapannya seperti orang yang sedang menghitung betapa jatuhnya seseorang.
“Ini?” katanya keras tanpa salam. “Ini tempat tinggal kalian?”
Bagas berdiri.
“Ibu…”
Belum selesai.
Bu Rahayu sudah melangkah mendekat.
“Ya Tuhan… gang sempit, tembok lembap, jemuran numpuk di depan. Gas, kamu benar-benar pilih ini?”
Tetangga mulai berbisik.
Suara sengaja diperkeras.
“Aku kira kalian minimal pindah ke apartemen kecil. Ternyata kontrakan begini? Kamu nggak malu?”
Pipit keluar dari dalam rumah.
Wajahnya tenang.
“Ibu,” ia menyapa pelan.
Bu Rahayu menoleh.
Melepas kacamata.
Tatapannya tajam.
“Oh, jadi ini hasil perjuanganmu? Ini yang kamu sebut hidup mandiri? Mandiri atau menyengsarakan anak saya?”
Kalimat pertama sudah menusuk.
Dan ia belum mulai.
Bagas mencoba menahan.
“Bu, jangan di luar…”
“Kenapa? Malu? Kamu saja nggak malu tinggal di sini!”
Ia melangkah masuk tanpa izin.
Melihat dapur kecil.
Kompor satu tungku.
Beras di wadah plastik murah.
Wajahnya berubah jijik.
“Ya ampun… Gas… kamu makan apa di sini? Mi instan tiap hari? Ini hidup atau eksperimen kemiskinan?”
Pipit berdiri di dekat pintu dapur.
Diam.
Bu Rahayu mendekat.
“Dan kamu,” telunjuknya hampir menyentuh wajah Pipit, “puas sekarang? Lihat anak saya seperti ini? Kurus. Wajahnya kusut. Kamu bangga?”
Pipit menahan napas.
“Saya tidak pernah minta semua ini, Bu.”
“Tidak minta? Kamu yang tarik dia keluar dari rumah! Kamu yang bikin dia merasa jadi pahlawan cinta! Sekarang apa? Jadi pecundang bersama?”
Tetangga makin dekat.
Ada yang pura-pura menyapu.
Ada yang pura-pura jemur baju.
Tapi semua telinga tajam.
Bu Rahayu terus.
“Perempuan kalau nggak bisa angkat derajat suami ya minimal jangan jadi batu sandungan! Kamu datang tanpa nama, tanpa harta, tanpa koneksi! Modal air mata doang! Anak saya yang kamu jerumuskan!”
Bagas akhirnya bersuara.
“Cukup, Bu!”
Suara itu keras.
Untuk pertama kalinya di depan umum.
Bu Rahayu menoleh perlahan.
“Kamu membela dia lagi?”
“Saya membela istri saya.”
Sunyi.
Tegangan menebal.
Bu Rahayu tertawa kecil.
“Ternyata benar ya. Perempuan itu kalau sudah masuk ke hidup laki-laki, bisa bikin lupa siapa yang melahirkan.”
Kalimat itu berat.
Menusuk rasa bersalah.
Bagas mengepalkan tangan.
“Ibu tidak pernah lihat apa yang dia tahan di rumah dulu.”
“Oh jadi sekarang saya yang jahat?” suara Bu Rahayu naik. “Saya yang besarkan kamu! Saya yang sekolahin kamu! Sekarang saya jadi monster karena saya nggak setuju kamu miskin?!”
Tangis hampir keluar dari mata Pipit.
Tapi ia tahan.
Bu Rahayu belum selesai.
“Kamu tahu nggak orang-orang ngomong apa? Bilang kamu jatuh karena salah pilih istri! Bilang kamu kena guna-guna! Bilang kamu diperas sampai habis!”
Pipit tersentak.
Itu fitnah.
Dan diucapkan tanpa malu.
Bagas terdiam.
Tepat saat itu, ponselnya berdering.
Riko.
Nama itu muncul di layar.
Bu Rahayu melihat sekilas.
“Siapa?”
Bagas ragu.
“Teman kerja.”
“Angkat! Jangan sampai peluang hilang cuma karena gengsi!”
Bagas menjawab.
Riko langsung bicara cepat.
“Gas, gue butuh jawaban sekarang. Tanda tangan hari ini, duit cair besok. Kalau nggak, gue kasih ke orang lain.”
Bu Rahayu mendengar sebagian.
“Duit cair besok?”
Bagas menutup mic.
Bu Rahayu mendekat.
“Kerja apa?”
Bagas diam.
Riko di ujung sana mendesak.
“Gas! Hidup itu soal berani. Lo mau selamanya diinjak-injak?”
Bu Rahayu langsung bicara tanpa tahu detail.
“Ambil! Lelaki kalau nggak punya uang itu cuma jadi beban! Mau sampai kapan istrimu pura-pura kuat tapi perut kosong?!”
Pipit menatap Bagas.
Tidak bicara.
Tapi matanya berkata: jangan.
Bu Rahayu melanjutkan panjang tanpa rem.
“Gas, dengar ibu baik-baik. Harga diri itu dibangun dari kemampuan! Orang hormat sama kamu karena kamu mampu! Sekarang kamu apa? Nggak punya rumah, nggak punya tabungan, hampir diusir kontrakan! Mau idealisme apa? Idealisme itu buat orang kenyang!”
Kata-katanya deras seperti banjir.
“Perempuan itu nanti bisa cari lagi! Tapi nama kamu kalau hancur karena miskin, selamanya orang injak! Kamu mau jadi bahan kasihan seumur hidup? Mau orang bilang, ‘itu tuh anak Bu Rahayu yang jatuh gara-gara istri nggak jelas’?”
Pipit gemetar.
Fitnah itu disusun rapi.
Disajikan seperti fakta.
Riko di telepon masih menunggu.
“Gas! Lima menit lagi gue tutup!”
Waktu seperti menyempit.
Bagas memejamkan mata.
Lalu perlahan…
Ia berkata ke telepon:
“Gue nggak ambil.”
Sunyi.
Riko mendesah kesal.
“Lo bodoh.”
Telepon mati.
Bu Rahayu terbelalak.
“Kamu nolak?!”
Bagas menatap ibunya.
“Kalau saya jatuh, saya mau jatuh bersih.”
Kalimat itu seperti tamparan balik.
Bu Rahayu gemetar.
“Bersih? Bersih nggak bikin kenyang!”
“Benar. Tapi kotor bikin saya kehilangan diri.”
Sunyi menegang.
Tetangga makin berani mendekat.
Dan di situlah Bu Rahayu meledak.
“Baik! Kalau begitu rasakan! Jangan pernah datang lagi ke rumah! Jangan harap warisan! Jangan harap bantuan! Kamu pilih perempuan ini? Tangani sendiri akibatnya!”
Kalimat itu diucapkan keras.
Jelas.
Tanpa sisa kasih.
Pipit akhirnya bicara.
“Ibu, saya tidak pernah mau memisahkan anak dari ibunya.”
“Diam kamu!” Bu Rahayu membentak. “Kalau bukan karena kamu, dia nggak akan sebodoh ini!”
Itu kalimat paling kejam hari itu.
Dan tepat di depan semua orang.
Bagas melangkah maju.
“Bu. Cukup. Kalau Ibu ingin marah, marah ke saya. Jangan hina istri saya lagi.”
Bu Rahayu terdiam.
Untuk pertama kalinya…
Anaknya berdiri sepenuhnya di depan istrinya.
Tanpa ragu.
Tanpa menoleh.
Wajah Bu Rahayu berubah.
Antara marah.
Antara sakit.
Antara kehilangan.
Ia berbalik.
Melangkah keluar.
Tapi sebelum masuk mobil, ia menoleh lagi.
“Suatu hari nanti kamu akan sadar… cinta tidak cukup.”
Mobil melaju pergi.
Gang kembali sunyi.
Tapi hati mereka bergetar.
Pipit berdiri mematung.
Bagas menatapnya.
“Aku hampir tanda tangan.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu nggak ada…”
Pipit tersenyum lemah.
“Kita miskin boleh. Tapi jangan sampai kita hina diri sendiri.”
Bagas menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya sejak keluar rumah…
Ia merasa meski jatuh, ia berdiri.
Tetangga perlahan masuk kembali.
Bisik-bisik masih terdengar.
Tapi kali ini…
Bagas tidak merasa sekecil kemarin.
Karena ia tahu satu hal.
Ia mungkin kehilangan harta.
Kehilangan warisan.
Kehilangan restu.
Tapi ia tidak kehilangan arah.
Dan justru itu yang membuat Bu Rahayu paling takut.
Karena anak yang berdiri tanpa bergantung…
Tidak bisa lagi dikendalikan.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid