NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Arsitek Kehancuran

Bunker Kepresidenan Rahasia (Lokasi Tidak Diketahui). Pukul 12:30 Siang.

Suasana di ruang komando taktis itu sunyi senyap, hanya terdengar dengungan halus server superkomputer yang mendinginkan ruangan.

Jenderal Besar Marco meletakkan gagang telepon satelit dengan kasar. Wajah tuanya yang penuh kerutan tampak kecewa. Ia berbalik menghadap meja oval besar di tengah ruangan.

Di ujung meja, duduk seorang pria paruh baya dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung. Ia tampak lelah, namun matanya memancarkan ketajaman seorang pemimpin negara.

Presiden Arvanta.

"Dia menolak?" tanya Presiden tenang, tanpa memalingkan wajah dari peta digital Kota Langit Biru yang kini ditandai banyak zona merah.

"Menolak mentah-mentah, Pak Presiden," lapor Jenderal Marco dengan nada frustrasi. "Zero... atau Jay Ares... dia memilih menjadi pelindung istrinya daripada memimpin pasukan loyalis. Dia bilang perangnya bersifat pribadi."

Presiden menghela napas panjang, memijat pelipisnya.

"Sikap yang romantis. Tapi naif," komentar Presiden dingin. "Kita tidak punya waktu untuk drama pribadi. Citra satelit menunjukkan Ivan Dragos mulai mendirikan artileri berat di alun-alun. Jika media internasional mencium bau keterlibatan Vostok, ini akan memicu perang terbuka antar-negara. Nilai mata uang kita akan hancur dalam semalam."

Presiden berdiri, berjalan mendekati peta digital itu.

"Kita butuh solusi cepat, Jenderal. Solusi yang bersih. Solusi yang tidak meninggalkan jejak diplomatik."

"Saya bisa mengerahkan Divisi Lapis Baja ke-4 dari perbatasan selatan, Pak. Tapi butuh waktu 12 jam," tawar Marco.

"Terlalu lama," potong Presiden.

Presiden menoleh, menatap mata Jenderal Marco lekat-lekat.

"Aktifkan Protokol Hades."

Mata Jenderal Marco terbelalak lebar. Wajahnya yang garang seketika pucat, seolah ia baru saja melihat hantu.

"Pak Presiden... dengan segala hormat," suara Marco bergetar. "Protokol Hades? Anda bermaksud memanggil Dia? Itu... itu tindakan gila. Zero adalah 'Perisai', tapi orang itu... dia adalah 'Pedang Patah'. Dia tidak punya kendali moral. Dia akan membantai semua orang, musuh maupun sandera."

"Itulah yang saya butuhkan, Jenderal," kata Presiden dingin. "Saya tidak butuh pahlawan yang menyelamatkan putri. Saya butuh monster yang memakan monster lain. Jay Ares tidak tahu siapa sepupunya yang sebenarnya, kan?"

"Tidak, Pak. Jay hanya tahu sepupunya itu jenius keuangan dan ahli strategi. Dia tidak tahu bahwa sepupunya memegang pangkat bayangan Bintang Lima Gelap di intelijen hitam kita."

"Bagus. Biarkan tetap begitu," Presiden mengambil telepon merah di mejanya, lalu menyerahkannya pada Marco. "Hubungi Akbar Ares. Berikan dia otorisasi penuh. Lisensi untuk Membunuh. Perintahnya satu: Pemusnahan Total. Saya ingin Kota Langit Biru bersih dari Vostok sebelum fajar."

Tangan Jenderal Marco gemetar saat menerima telepon itu. Ia tahu, panggilan ini akan membuka gerbang neraka.

Penthouse Akbar Ares. Pukul 12:45.

Di penthouse mewah itu, suasananya damai dan agak konyol.

Mia Severe sedang mengajari Akbar cara melipat baju yang benar. Akbar, sang miliarder, terlihat kesulitan melipat kaos oblong dengan rapi.

"Bukan begitu, Tuan Jenius," omel Mia sambil tertawa. "Sisi kiri dulu, baru kanan. Kau melipatnya seperti origami gagal."

Akbar tersenyum, menikmati momen domestik ini. "Aku biasa beli baju baru kalau sudah kusut, Mia."

"Dasar boros," cibir Mia.

Tiba-tiba, sebuah suara berdering. Bukan dari ponsel Akbar. Bukan dari interkom.

Suara itu berasal dari dinding di balik lukisan abstrak raksasa di ruang tamu.

TRIIIING. TRIIIING.

Dering telepon tua yang nyaring dan mendesak.

Senyum di wajah Akbar lenyap seketika. Sorot matanya yang hangat berubah menjadi tatapan kosong yang menakutkan.

"Mia," suara Akbar berubah. Datar. Dingin. Tanpa emosi. "Masuk ke kamarmu. Kunci pintu. Pakai headphone peredam suara. Jangan keluar sampai aku menjemputmu."

Mia terkejut melihat perubahan drastis itu. "Akbar? Ada apa? Suara telepon apa itu?"

"Masuk. Sekarang," perintah Akbar. Kali ini bukan permintaan. Itu perintah mutlak yang membuat naluri bertahan hidup Mia menjerit untuk patuh.

Mia mundur selangkah, ketakutan melihat sisi asing Akbar, lalu berlari masuk ke kamar tamu dan mengunci pintu.

Setelah Mia pergi, Akbar berjalan menuju lukisan itu. Ia menggesernya, memperlihatkan sebuah brankas dinding dan sebuah telepon merah model putar kuno.

Akbar mengangkat gagang telepon itu.

"Hades mendengar," ucap Akbar datar.

"Otorisasi Presiden. Kode: Hitam-Omega," suara Jenderal Marco terdengar di seberang sana. "Target: Seluruh elemen Vostok dan pemberontak di Kota Langit Biru. Aturan keterlibatan: Bebas. Tidak ada tawanan."

Akbar memejamkan mata sejenak. Bayangan Mia yang tertawa tadi melintas di benaknya, lalu ia menghapusnya paksa. Ia menggantinya dengan kalkulasi dingin tentang efisiensi pembunuhan.

"Jay ada di lapangan," kata Akbar. "Jika dia melihat metedeku..."

"Jay tidak akan tahu. Dia sibuk bertahan hidup. Lakukan tugasmu, Hades. Bersihkan kota ini agar Jay bisa kembali bermain rumah-rumahan dengan tenang."

"Dimengerti. Eksekusi dimulai dalam 10 menit."

Telepon ditutup.

Akbar membuka brankas dinding itu. Di dalamnya tidak ada uang atau emas.

Isinya adalah sebuah topeng baja hitam polos tanpa lubang mata (menggunakan sensor visual), sepasang sarung tangan taktis dengan cakar titanium, dan sebuah pistol injeksi neurotoksin.

Akbar Ares, sepupu yang konyol, yang tidak bisa melipat baju dan gagal dalam asmara, perlahan menghilang.

Yang tersisa adalah Hades. Hantu militer yang diciptakan untuk melakukan pekerjaan kotor yang bahkan pasukan khusus Jay tidak sanggup melakukannya. Jika Jay berperang dengan kehormatan, Akbar berperang dengan kekejaman murni.

Akbar mengenakan sarung tangan itu. Ia menekan tombol di jam tangannya, mengaktifkan Unit Gerhana (Eclipse Unit)—bukan pasukan manusia, tapi skuadron drone pembunuh otonom berukuran mikro yang ia simpan di berbagai penjuru kota.

Ia berjalan ke dinding kaca, menatap kota yang berasap.

"Maafkan aku, Mia," bisik Akbar pada bayangannya sendiri di kaca. "Pria yang melipat baju denganmu tadi adalah kebohongan. Ini... adalah aku yang sebenarnya."

Akbar mengetukkan jarinya ke kaca.

Di luar sana, ratusan drone kecil seukuran serangga mulai terbang keluar dari ventilasi gedung-gedung Ares Corp, membentuk awan hitam yang berdengung, siap menyuntikkan racun mematikan ke setiap tentara Vostok yang terdeteksi oleh satelit.

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!