NovelToon NovelToon
Lopeyou My Teacher

Lopeyou My Teacher

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Gadis nakal / Romantis / Cintamanis / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...

Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.

Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.

Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.

"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 The Mall Spy & The "Mama" Boss Level

Setelah drama maut di atap gedung lama yang nyaris bikin jantung Gia pindah ke ginjal, hari Sabtu ini harusnya jadi hari kemenangan. Vibes-nya harusnya kayak lagu Lover Taylor Swift—manis, tenang, dan penuh bunga-bunga. Tapi realitanya? Gia udah ganti baju lima kali sampai kamarnya berantakan kayak kapal pecah.

"Ca, gue pakai dress ini kegatelan nggak sih? Apa mending pakai oversized t-shirt sama baggy pants aja biar kelihatan kayak 'anak skena'?" tanya Gia lewat video call ke Caca.

Caca yang lagi maskeran cuma bisa geleng-geleng. "Gi, lo itu mau kencan sama guru olahraga, bukan mau pergi ke fashion week. Pak Radit itu sukanya yang simpel. Pakai yang bikin lo nyaman aja, asal jangan pakai seragam olahraga sekolah, nanti dikira mau latihan dribble di mal."

Gia akhirnya mutusin pakai rok denim mini dan atasan crop top putih yang simpel tapi slay. Dia nggak lupa semprot parfum vanilla yang wanginya bisa kecium sampai lantai bawah. Hari ini, misi Gia cuma satu: Bikin Pak Radit sadar kalau dia nggak salah pilih "masalah" dalam hidupnya.

...

Tempat kencan mereka: Sebuah mal besar di Jakarta Selatan. Strateginya: Datang terpisah. Parkir terpisah. Ketemuan di bioskop lantai paling atas yang lampunya remang-remang.

Gia sampai duluan. Dia nunggu di deket popcorn sambil celingak-celinguk kayak agen rahasia lagi nunggu informan. Lima menit kemudian, cowok itu muncul. Pak Radit nggak pakai kemeja kaku atau kaos polo. Dia pakai jaket bomber hitam, kaos putih, dan celana jeans gelap. Rambutnya nggak pakai pomade berlebihan, agak berantakan dikit tapi justru itu yang bikin dia kelihatan boyfriend material banget.

"Udah lama?" tanya Pak Radit pelan, berdiri di samping Gia tanpa menoleh, pura-pura liat jadwal film.

"Lama banget, Pak. Sampai lumutan," bisik Gia sambil nahan senyum. "Bapak ganteng banget hari ini. Damage-nya nggak masuk akal."

Pak Radit berdehem, berusaha nahan senyum. "Jangan mulai, Gia. Kita di sini buat nonton, bukan buat bahas damage. Ayo masuk, filmnya udah mau mulai."

Di dalam bioskop yang gelap, Gia sengaja milih kursi paling pojok atas. Selama film horor diputar, Gia bukannya takut sama setannya, tapi dia lebih sibuk fokus sama tangan Pak Radit yang ada di sandaran kursi.

Perlahan, Gia menggeser tangannya sampai kelingkingnya nyentuh kelingking Pak Radit. Dia ngerasa Pak Radit tegang sebentar, tapi terus jari-jari besar itu malah balik menggenggam tangan Gia. Hangat. Mantap. Dan bikin Gia ngerasa semua masalah di sekolah kemarin itu worth it.

...

Selesai nonton, perut mereka mulai konser. Gia pengen makan sushi, tapi Pak Radit bilang dia lagi pengen makan makanan Indonesia. Akhirnya mereka milih restoran masakan Sunda yang agak mojok biar nggak terlalu mencolok.

"Pak, nanti pas saya lulus, kita nggak usah backstreet lagi ya? Capek tau, tiap liat orang lewat saya harus akting benerin sepatu," keluh Gia sambil nyuap sambal terasi.

"Sabar, Gia. Kurang dari setahun lagi kamu lulus. Saya juga nggak mau terus-terusan ngerasa kayak pencuri," sahut Pak Radit tulus.

Baru saja suasana jadi romantis, tiba-tiba terdengar suara melengking dari arah pintu masuk restoran.

"RADIT?! YA AMPUN, ANAK MAMA!"

Gia tersedak kerupuk. Pak Radit langsung kaku kayak patung lilin.

Seorang wanita paruh baya yang dandanannya sangat fashionable—lengkap dengan kacamata hitam di atas kepala dan tas branded yang mengkilap—jalan setengah lari ke arah meja mereka. Di belakangnya, ada seorang pelayan yang bawa banyak belanjaan.

"Mama?" suara Pak Radit terdengar pasrah.

"Kamu katanya sibuk urusan yayasan, kok malah makan di sini? Nggak bilang-bilang lagi!" Mama Pak Radit—panggil saja Tante Linda—langsung duduk di kursi kosong di samping Pak Radit tanpa nunggu undangan.

Matanya yang tajam langsung tertuju ke arah Gia. "Lho... ini siapa, Dit? Cantik banget. Kok kayak... masih muda banget ya?"

Gia langsung masang mode "Anak Teladan 2026". "Halo, Tante. Saya... saya Gianna. Temennya... eh, sepupunya... eh..."

"Dia murid saya, Ma," potong Pak Radit cepat. Dia tau Gia bakal ngaco kalau dibiarin ngomong. "Lagi ada urusan tugas kesiswaan, jadi saya traktir makan sebentar."

Tante Linda menyipitkan mata. "Tugas kesiswaan hari Sabtu? Di mal? Pakai baju begini?" Dia nunjuk ke arah crop top Gia. "Radit, Mama emang udah tua, tapi Mama nggak bego ya."

...

Suasana makan siang yang harusnya intim berubah jadi sidang pleno. Tante Linda mulai nginterogasi Gia habis-habisan.

"Gianna, kamu kelas berapa?"

"Dua belas, Tante," jawab Gia sopan (tapi dalam hati udah mau pingsan).

"Cita-citanya mau jadi apa?"

"Mau jadi... pengusaha, Tante. Biar bisa dapet banyak uang terus bahagiain orang tua," jawab Gia asal tapi kedengeran mulia.

Tante Linda manggut-manggut. "Terus, kamu suka nggak sama Pak Radit? Dia di sekolah galak nggak?"

Pak Radit langsung motong. "Ma, udah. Makanannya dingin nih.

"Bentar dong, Dit! Mama kan pengen kenal sama 'murid' kamu yang spesial ini," sahut Tante Linda sambil senyum penuh arti ke arah Gia. "Tau nggak, Gianna? Radit ini dulu pas kuliah itu kaku banget. Mana ada cewek yang betah. Eh, tiba-tiba sekarang kok bisa bawa cewek secantik kamu makan Sunda. Berarti kamu emang hebat."

Gia cuma bisa nyengir kuda. "Pak Radit sebenernya asik kok, Tante. Cuma emang butuh sabar dikit."

"Sabar banget maksudnya?" timpal Tante Linda sambil ketawa. "Duh, Mama suka deh sama gaya kamu. Kamu tuh vibes-nya asik, nggak kayak si Siska yang itu tuh... yang apa-apa diatur."

Mendengar nama Siska disebut, Gia langsung dapet sinyal hijau. Ternyata Mama-nya Pak Radit juga nggak suka sama Siska! Poin tambahan buat Gia!

...

Setelah makan siang yang penuh tekanan batin, Tante Linda akhirnya pamit karena mau lanjut facial. Pak Radit dan Gia buru-buru keluar dari restoran itu sebelum ketemu kerabat yang lain.

"Maaf ya, Gia. Mama saya emang agak... unpredictable," kata Pak Radit sambil mengusap tengkuknya.

"Nggak apa-apa, Pak. Tante Linda asik kok. Kayaknya saya udah dapet restu jalur VIP nih," goda Gia.

Tapi keceriaan Gia nggak bertahan lama. Pas mereka lagi jalan menuju parkiran, Gia ngerasa ada yang ngikutin mereka. Di balik pilar mal, Gia liat sekelebat orang pakai topi dan masker lagi megang kamera DSLR.

"Pak, ada yang moto kita lagi," bisik Gia panik.

Pak Radit langsung waspada. Dia narik Gia ke arah lorong servis yang sepi. "Jangan panik. Kamu lewat sini, tembus ke lobi utara. Saya bakal samperin orang itu."

"Tapi Pak—"

"Gia, dengerin saya. Kalau ini orang suruhan bapaknya Revan atau Sheila lagi, kita harus dapet kameranya. Pergi sekarang!"

Gia lari sesuai instruksi Pak Radit. Sementara itu, Pak Radit dengan langkah taktisnya muter lewat koridor lain buat ngepung si mata-mata.

Pas Pak Radit berhasil nyergap orang itu di deket eskalator darurat, orang itu kaget dan mau kabur. Tapi Pak Radit lebih cepet. Dia megang kerah jaket orang itu.

"Siapa yang nyuruh kamu?!" bentak Pak Radit.

Orang itu ngelepas maskernya. Ternyata dia bukan orang suruhan siapa-siapa. Dia adalah... salah satu admin akun Lambe Turah sekolah mereka yang paling terkenal!

"Eh... Pak Radit... ampun Pak! Saya cuma mau cari konten!" cicit murid laki-laki itu gemetaran.

Pak Radit ngambil kameranya, langsung hapus semua foto kencan mereka. "Kamu tau kan konsekuensinya kalau kamu nyebarin fitnah soal guru? Mau saya panggil orang tua kamu sekarang juga?"

"Jangan Pak! Sumpah saya nggak bakal bilang siapa-siapa!"

Pak Radit balikin kameranya. "Sekali lagi saya liat kamu ngikutin saya, saya pastiin kamu nggak akan lulus ujian praktik olahraga seumur hidup kamu. Paham?!"

Murid itu lari terbirit-birit. Pak Radit menghela napas panjang. Ternyata ancaman itu bukan cuma dari satu orang, tapi dari seluruh penjuru sekolah yang emang haus gosip.

...

Sore harinya, Pak Radit nganter Gia pulang (tetap dengan taktik turun satu blok sebelum rumah Gia).

"Gia," panggil Pak Radit sebelum Gia turun dari mobil.

"Ya, Pak?"

"Makasih buat hari ini. Dan... maaf kalau kencan pertama kita malah jadi ajang interogasi Mama saya dan kejar-kejaran sama mata-mata," kata Pak Radit lembut.

Gia tersenyum, dia megang tangan Pak Radit bentar. "Pak, justru itu yang bikin seru. Kalau kencannya normal, namanya bukan kita. Hati-hati di jalan ya, Daddy."

Gia turun dengan hati yang riang. Tapi pas dia masuk ke dalem rumah, dia liat ibunya lagi duduk di ruang tamu bareng seseorang.

Gia membeku di pintu. Orang yang duduk bareng ibunya adalah... Pak Baskoro, bapaknya Revan.

"Ah, Gianna. Sini duduk. Om Baskoro mau ngomong sesuatu soal beasiswa kamu di universitas luar negeri," kata Ibu Gia dengan nada bangga.

Gia ngerasa dunianya runtuh lagi. Ini bukan soal beasiswa. Ini adalah cara Pak Baskoro buat "menjauhkan" Gia dari Pak Radit secara halus tapi mematikan. Kirim dia ke luar negeri, dan masalah selesai.

"Gimana, Gianna? Kamu mau kan lanjut studi ke London? Om yang urus semuanya, asal kamu... menjauh dari gangguan-gangguan nggak penting di sekolah ini," kata Pak Baskoro dengan senyum yang sangat berkuasa.

Gia menelan ludah. Ini adalah ujian yang jauh lebih berat daripada lari 15 putaran.

.

.

.

[To be continued ke Episode Selanjutnya ]

1
Qaisaa Nazarudin
Astaga Gia ini OON benar ya,Heran deh aku..🤦
Qaisaa Nazarudin
Ngapain juga nyari Gia kesini nya?
Qaisaa Nazarudin
Gitu dong,Aku suka CEWEK YG TEGAS,JUTEK,CUEK,DINGIN DAN BAR-BAR,Bukan cewek yg MELEMPEM..
Qaisaa Nazarudin
Nah itu dia,Jangan kayak murahan banget,Di umpan dikit udah meleleh 🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Cuekin aja ah..kesel aku..
Qaisaa Nazarudin
Nah benar kan dia nganggap kamu anak kecil dong Gia..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan halau sendiri...sok soan gengsi..
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..
Qaisaa Nazarudin
Waah ngasih kode tuh minta di chat..
Qaisaa Nazarudin
Bagus tuh Gia.. SKAKMATT buat si MANTAN...🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Nah kan.. Ini pasti si MANTAN yg Gamon..
Qaisaa Nazarudin
maknyos kenak di jantung,Pasti pernah ditinggal Nikah ama pacarnya tuh,Makanya sekarang dia jomblo..
Qaisaa Nazarudin
Apakah perasaan itu adalah CINTA?? Waahh pak Radit diem.diem.bae udah kencatol duluan tapi sok gengsi..awas pak ketikung pak ntar nyesel lho..😅😅
Qaisaa Nazarudin
Bukan udah bisa ikut Pemilu dong Gia,Tapi udah bisa dibawa ke KUA 😂😂😂
Qaisaa Nazarudin
Duh kata kata mu menusuk jantungku pak..🥹🥹🥹😄😄
Qaisaa Nazarudin
Waahh Gia orang pertama yang bisa digendong oleh gurunya..🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kenapa Alasannya langsung oon kayak gitu,siapa juga gak bakalan percaya Gia..😂😂
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!