NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fondasi yang Baru

Dua tahun kemudian, suara deru mesin kopi dan aroma kayu manis memenuhi kantor kecil namun elegan di sudut kota. Di papan nama depan, tidak ada lagi logo emas yang megah, melainkan tulisan minimalis: “IL Architecture & Associates”.

Luna berdiri di depan meja draf besar, memandangi maket sebuah museum seni yang sedang mereka kerjakan. Rambutnya kini dipotong lebih pendek, memberikan kesan wanita karier yang tangguh namun tetap anggun. “Garis atapnya terlalu kaku, Isaac,” ujarnya tanpa menoleh saat mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali mendekat.

Isaac muncul dengan dua cangkir kopi panas. Ia meletakkan salah satunya di samping Luna dan berdiri di belakangnya, melingkarkan lengannya di pinggang sang istri. “Itu adalah gaya brutalistik yang kau minta kemarin, Sayang. Kau ingin gedung ini terlihat kokoh, bukan?”

“Kokoh bukan berarti tanpa jiwa,” balas Luna sembari berbalik, menyandarkan punggungnya pada meja draf dan menatap Isaac dengan senyum tipis. “Sama seperti kita. Kita sudah cukup kokoh, tapi aku ingin sentuhan yang lebih… hangat.”

Isaac mencium kening Luna. “Aku setuju. Apa pun untuk Direktur Utamaku.”

Namun momen manis itu terganggu oleh suara pintu kantor yang terbuka dengan kasar. Hendra masuk dengan wajah panik. Meski kini ia bekerja sebagai manajer operasional di firma baru mereka, ekspresinya mengingatkan Isaac pada masa-masa kelam dua tahun lalu.

“Pak Isaac, Ibu Luna… maaf mengganggu,” katanya sambil mengatur napas. “Ada surat dari otoritas penjara pusat. Ini tentang Tuan Waren.”

Senyum Luna memudar seketika. “Ada apa dengan pria itu? Apakah dia mengajukan banding lagi?”

Hendra menggeleng. “Bukan. Tuan Waren menolak perawatan medisnya. Kondisi jantungnya memburuk, dan dia hanya memiliki satu permintaan terakhir sebelum dipindahkan ke bangsal isolasi rumah sakit penjara.”

Isaac mengerutkan kening. “Dia ingin bertemu denganku?”

“Bukan Anda, Pak.” Hendra menatap Luna dengan ragu. “Dia ingin bertemu dengan Nyonya Luna. Sendirian.”

Isaac langsung menegang. “Tidak. Itu tidak akan terjadi. Dia sudah cukup menyakitimu, Luna.”

Luna terdiam, menatap kopinya yang mulai mendingin. Ingatan tentang kecelakaan, pengkhianatan, dan kematian ayahnya berkelebat kembali. Namun ada sesuatu dalam dirinya yang merasa bahwa lingkaran ini belum benar-benar tertutup jika ia tidak menghadapi pria itu untuk terakhir kalinya.

“Aku akan pergi, Isaac,” ujarnya pelan namun mantap.

“Luna, kau gila? Dia mungkin punya rencana lain. Dia licik sampai ke tulang rusuknya,” protes Isaac.

“Dia sudah tidak punya kekuatan lagi, Isaac. Dia hanya seorang pria tua yang sekarat di balik jeruji besi.” Luna memegang tangan suaminya, mencoba menenangkannya. “Aku butuh ini. Aku perlu memastikan bahwa dia tidak lagi memiliki kuasa atas ketakutanku. Dan siapa tahu… mungkin ada satu rahasia terakhir tentang Ayah yang belum dia ceritakan.”

Isaac menatap mata Luna yang penuh tekad. Ia tahu ia tidak bisa melarangnya. “Baiklah. Tapi aku akan menunggumu di depan gerbang penjara. Satu menit saja kau merasa tidak nyaman, kau harus keluar.”

Luna mengangguk. Ia tidak tahu bahwa pertemuan ini akan membuka tabir tentang siapa sebenarnya yang menarik pelatuk pada malam kecelakaan ayahnya—dan kenyataan itu mungkin lebih mengejutkan daripada yang pernah mereka bayangkan.

Langkah Luna terasa berat saat melewati koridor penjara yang dingin dan berbau disinfektan. Suara denting kunci besi yang beradu dengan gembok menciptakan gema yang menyesakkan dada. Isaac menunggunya di ruang luar dengan wajah cemas, tetapi Luna tahu ini adalah perjalanan yang harus ia tempuh sendiri.

Saat pintu bangsal isolasi terbuka, Luna hampir tidak mengenali sosok yang terbaring di sana. Tuan Waren, yang dulu selalu tampil dengan setelan jas mahal dan aura kekuasaan yang mengintimidasi, kini tampak menyusut. Kulitnya pucat, matanya sayu, dan napasnya dibantu oleh tabung oksigen yang mendesis pelan.

“Kau datang…” suaranya nyaris berupa bisikan. Tidak ada lagi nada kasar atau sarkasme—hanya kerapuhan seperti kertas tua yang siap robek.

Luna berdiri di sisi ranjang, melipat tangan di dada. “Hendra bilang kau bersikeras bertemu denganku. Apa lagi yang ingin kau sampaikan, Tuan Waren? Bukankah semuanya sudah hancur?”

Pria tua itu tersenyum tipis, penuh penyesalan. “Aku hanya ingin bercerita… tentang masa lalu yang tidak pernah kau ketahui. Tentang aku dan ayahmu, Dendra.”

Luna tertegun mendengar nama ayahnya diucapkan dengan nada begitu akrab.

“Kami adalah sahabat karib jauh sebelum kau lahir,” lanjutnya, menatap langit-langit seolah melihat bayangan masa lalu. “Dendra itu pria yang menyebalkan—keras kepala dan idealis. Tapi dia juga pria paling tulus yang pernah kukenal, terutama jika itu menyangkut dirimu, Luna.”

Ia terkekeh pelan, lalu terbatuk. “Kau tahu? Dendra yang gagah dan disegani itu bisa berubah menjadi pria paling manja jika kau sudah merengek. Saat kau masih sekolah dasar, dia sering membatalkan rapat penting hanya karena kau menangis ingin dibelikan es krim. Baginya, kau adalah satu-satunya harta yang paling berharga.”

Mata Luna mulai berkaca-kaca. Ia teringat bagaimana ayahnya selalu pulang tepat waktu dan selalu memiliki cokelat di sakunya, meski wajahnya tampak sangat lelah setelah bekerja seharian.

“Lalu… ibumu, Natasha,” Tuan Waren menarik napas panjang. “Banyak orang mengira mereka berpisah karena orang ketiga, padahal sebenarnya karena tekanan ekonomi. Saat itu bisnis Dendra sedang di titik terendah, begitu juga denganku. Natasha tidak tahan hidup dalam ketidakpastian. Mereka bercerai saat usiamu tujuh tahun.”

Luna menunduk, jarinya meremas pinggiran jasnya. “Ibu bilang dia hanya pergi mencari mainan cantik untukku. Dia bilang aku harus tetap bersama Ayah…”

“Ya, Dendra yang memintanya mengatakan itu,” potong Tuan Waren lembut. “Dia tidak ingin kau membenci ibumu. Dia memilih menjadi orang tua tunggal dan berjuang dari nol agar kau tetap merasa dicintai. Dia menelan semua rasa sakit itu sendiri.”

Luna memejamkan mata. Rasa mati rasa yang selama bertahun-tahun ia tanam untuk menutupi kerinduannya kini mulai retak. Ayahnya telah melindungi hatinya dengan cara yang begitu sunyi dan menyakitkan.

Tuan Waren meraih tangan Luna dengan jemari gemetar. “Aku iri pada Dendra. Aku iri karena dia sukses lebih dulu dan tetap menjadi pria baik, sementara aku mulai menjual jiwaku pada konsorsium itu. Rasa iri itu berubah menjadi racun. Saat kecelakaan itu direncanakan, aku mengetahuinya. Aku punya kesempatan untuk menghentikan mereka, tapi aku diam. Aku membiarkan sahabatku mati agar jalanku menuju puncak menjadi lebih mudah.”

Air mata Luna akhirnya jatuh. Kebenaran itu terasa seperti sembilu yang mengoyak luka lama.

“Sampaikan permintaan maafku pada Isaac,” bisiknya, mata berkaca-kaca. “Aku gagal menjadi ayah yang baik baginya. Katakan padanya… untuk tidak menjadi sepertiku. Biarkan dia hidup dalam cahaya yang kau bawa.”

Luna menarik tangannya perlahan. Ia melihat pria di depannya bukan lagi sebagai monster, melainkan sebagai manusia yang hancur oleh keserakahannya sendiri.

“Aku tidak bisa menjanjikan maaf yang tulus sekarang, Tuan Waren,” ucap Luna dengan suara bergetar. “Tapi aku akan menyampaikan pesanmu pada Isaac. Dan aku berterima kasih… karena kau telah mengembalikan potongan kenangan tentang Ayah yang selama ini hilang.”

Ia berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, ia mendengar suara lemah itu untuk terakhir kalinya.

“Dendra pasti sangat bangga melihatmu sekarang, Luna… Kau jauh lebih kuat dari kami semua.”

Saat Luna keluar dari bangsal, Isaac langsung menghampirinya dan memeluknya erat. Luna menenggelamkan wajahnya di dada sang suami, menangis sejadi-jadinya—bukan karena sedih, melainkan karena akhirnya ia merasa telah benar-benar pulang.

Rahasia itu telah terungkap. Beban masa lalu kini bukan lagi misteri yang menghantui, melainkan warisan cinta yang siap ia jaga dengan kepala tegak.

Setelah pertemuan emosional di penjara, Luna tidak langsung pulang. Ia meminta Isaac untuk mengantarnya ke sebuah taman kota tua, tempat yang dulu sering dikunjungi Dendra untuk mengajaknya bermain saat akhir pekan.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!