Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Sisa Cahaya
Keheningan yang melanda setelah badai cahaya di jantung Antartika terasa lebih memekakkan telinga daripada ledakan itu sendiri. Kesadaran Adam Satria perlahan kembali, merambat seperti semut di permukaan kulitnya yang terasa terbakar. Hal pertama yang ia rasakan adalah bau tanah basah dan udara yang tipis. Ia tidak lagi berada di dalam gua piramida yang megah. Ia terbaring di atas hamparan salju yang lembut, di bawah langit yang tidak lagi berwarna ungu, namun juga tidak sepenuhnya biru. Langit itu berwarna perak pucat, dengan gumpalan awan yang bergerak secara tidak alami, seolah-olah atmosfer sedang mencoba menata ulang dirinya sendiri.
"Adam..."
Suara itu bukan hologram. Bukan pula bisikan frekuensi di dalam kepalanya. Itu adalah suara manusia yang serak karena debu dan kelelahan. Adam memaksakan matanya terbuka. Di sampingnya, duduk Liora. Wajah wanita itu penuh luka gores, rambutnya yang biasanya diikat rapi kini terurai berantakan, tertutup butiran salju halus.
"Liora? Kau... bagaimana kau bisa sampai di sini?" Adam berusaha duduk, namun seluruh tulang di tubuhnya seolah memprotes setiap gerakannya.
Liora menunjuk ke arah cakrawala. Di sana, kepulan asap hitam raksasa membubung tinggi dari lubang es tempat Adam masuk tadi. Station Zero telah runtuh. "Saat energi piramida itu dilepaskan, terjadi ledakan gravitasi balik. Aku dan beberapa tawanan lain terlempar keluar melalui lorong ventilasi darurat sebelum seluruh tempat itu runtuh. Kau ditemukan pingsan di dekat puing pesawat Albatross-mu."
Adam menatap tangannya. Tongkat kayu itu sudah tidak ada, hancur menjadi abu saat ia menghantam pusat kristal. Namun, rasa hangat di telapak tangannya masih tertinggal. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya sebuah ketenangan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya, seolah-olah kebisingan digital yang selama ini menghantui otaknya telah disapu bersih.
"Apakah kita berhasil?" tanya Adam pelan. "Apakah 'Benih' itu sudah hancur?"
Liora terdiam sejenak. Ia mengambil sebuah perangkat kecil dari sakunya sebuah detektor frekuensi sederhana yang sudah retak layarnya. "Sinyal The Hage emon menghilang dari radar global. The Great Eye buta, Adam. Satelit-satelit mereka di atas sana mulai kehilangan orbit karena tidak ada lagi instruksi dari pusat kendali bawah tanah. Dunia di atas sana... mereka sedang mengalami blackout total."
Adam melihat ke arah langit perak itu. Ia membayangkan kota-kota besar seperti Singapura, New York, dan London yang kini gelap gulita. Tanpa algoritma pengatur, tanpa kontrol media, tanpa sistem skor sosial. Manusia tiba-tiba dikembalikan ke titik nol.
Namun, di tengah rasa kemenangan itu, Adam teringat wajah pria tua di kursi roda tadi. Kesombongannya, dan keyakinannya bahwa "Benih" adalah satu-satunya cara menyelamatkan manusia.
"Ini bukan akhir, Liora," gumam Adam. "Ini hanya jeda. Para elit itu tidak hanya memiliki satu Station Zero. Mereka adalah gurita dengan banyak tentakel."
Liora mengangguk, lalu ia memberikan sebuah benda yang ia temukan di dekat Adam saat ia jatuh: sebuah mikro dip yang terbungkus dalam wadah antipeluru. "Ini keluar dari tabung janin terakhir yang pecah sebelum ledakan. Aku tidak tahu apa isinya, tapi ada label di sana."
Adam menerima mikro dip itu. Dengan tangan gemetar, ia membaca label kecil yang terukir dengan laser: "UNIT 731-SUKES.OR: THE NEPHILIM PROJECT."
Jantung Adam berdegup kencang. Ia teringat penjelasan Bunda tentang Unit 731. Jika Unit 731 di masa lalu adalah tentang ketahanan fisik, dan Station Zero adalah tentang kepatuhan jiwa, maka "Nephilim" kemungkinan besar adalah tentang penggabungan manusia yang benar-benar dirancang untuk menjadi senjata biologis hidup yang memiliki kesadaran kolektif.
"Liora, kita harus segera pergi dari benua ini," kata Adam dengan nada mendesak. "Jika pusat kendali di Antartika hancur, protokol darurat otomatis akan mengalihkan sisa data ke lokasi ketiga."
"Ke mana?"
Adam menatap mikro dip itu, lalu bayangan peta rahasia di dalam memorinya muncul kembali. "Pegunungan Himalaya. Perbatasan Tibet. Ada sebuah biara tua yang dibangun di atas pangkalan udara bawah tanah. Mereka menyebutnya The Ark of Silence. Di sanalah mereka menyembunyikan 'Nephilim' yang sudah matang sebelum proyek Antartika selesai."
Ketegangan baru mulai merayap. Mereka tidak punya pesawat, tidak punya peralatan, dan mereka berada di tengah padang es paling mematikan di bumi. Namun, di kejauhan, Adam melihat sesuatu yang bergerak di antara badai salju. Bukan robot Hage emon, melainkan sekelompok makhluk yang nampak seperti anjing laut, namun bergerak dengan kecerdasan yang tidak biasa. Di belakang mereka, nampak beberapa orang Penjaga yang selamat dari ledakan gua.
Bunda tidak ada di antara mereka, namun salah satu dari Penjaga itu seorang pemuda dengan pakaian bulu tebal mendekati Adam.
"Arsitek, perjalananmu baru saja dimulai," kata pemuda itu. "Dunia luar sedang kacau. Perang saudara pecah di mana-mana karena orang-orang kehilangan pegangan digital mereka. Kau adalah satu-satunya yang membawa frekuensi penyeimbang. Kami akan membantumu keluar dari es ini, tapi setelah itu, kau sendirian."
Adam berdiri, dibantu oleh Liora. Ia menatap hamparan salju yang luas. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi seorang arsitek bangunan atau kode. Ia adalah arsitek harapan.
"Kenapa kalian membantuku?" tanya Adam.
"Karena kau satu-satunya manusia yang berani menghancurkan kekuasaan tuhan palsu dengan tanganmu sendiri," jawab si pemuda. "Tapi ingat, di Himalaya, musuhmu bukan lagi mesin. Musuhmu adalah sesuatu yang terlihat seperti manusia, bicara seperti manusia, tapi tidak memiliki ruh. Mereka adalah Nephilim."
Mereka mulai berjalan menembus badai salju, mengikuti para Penjaga menuju pelabuhan rahasia yang tersembunyi di bawah lapisan es pantai. Setiap langkah Adam terasa berat, namun ia terus melangkah. Ia tahu, di dunia yang kini gelap tanpa listrik, rahasia-rahasia kuno yang selama ini dianggap mitos akan mulai bermunculan satu per satu.
Elit global telah membuka kotak Pandora, dan Adam adalah satu-satunya yang harus menutupnya kembali atau ikut hancur di dalamnya.
Saat mereka mencapai pinggir pantai, sebuah kapal nelayan tua dengan mesin uap nampak menunggu di tengah kabut laut. Kapal itu terlihat sangat rapuh dibandingkan dengan kapal induk siluman Hage emon, namun di mata Adam, itu adalah bahtera penyelamat.
Ia menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya ke arah benua Antartika yang kini mulai tertutup kabut tebal. Sisa-sisa cahaya dari ledakan piramida masih nampak samar di ufuk, seperti bintang yang jatuh ke bumi.
"Selamat tinggal, Arsitek yang lama," bisik Adam pada dirinya sendiri.
Ia melompat ke atas kapal bersama Liora. Saat mesin uap mulai berderu dan kapal mulai membelah es laut, Adam membuka mikro dip itu sekali lagi. Di dalamnya, terselip satu koordinat terakhir yang bukan di bumi.
Moon Station: Gateway to the Stars.
Adam terperangah. Ternyata ambisi elit itu tidak hanya berhenti di bumi. Mereka ingin membawa "Benih" mereka ke luar angkasa, meninggalkan bumi yang sudah mereka hancurkan sebagai bangkai yang kering.
"Kita tidak hanya ke Himalaya, Liora," kata Adam, matanya menatap bulan yang nampak sangat besar malam itu. "Kita harus mencegah mereka meninggalkan planet ini."
Liora menatap bulan, lalu menatap Adam. "Satu langkah demi satu langkah, Adam. Mari kita pastikan manusia di Himalaya tidak menjadi budak lebih dulu."
Kapal itu pun menghilang di balik kabut samudera, membawa dua jiwa yang paling dicari di seluruh galaksi menuju babak peperangan yang lebih gelap dan lebih nyata.