Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan yang Dipersiapkan Guru
“Siapa?” ulang Gao Rui, suaranya tenang namun waspada.
“Ini aku, Peng Bei,” jawab suara dari balik pintu. “Aku ingin berbincang sebentar, jika kau berkenan.”
Nama itu membuat alis Gao Rui sedikit terangkat. Ia bangkit dari ranjang, merapikan jubahnya sekilas, lalu melangkah menuju pintu masuk rumahnya. Dengan satu tarikan pelan, pintu kayu itu terbuka.
Di luar berdiri seorang pria paruh baya dengan jubah tetua berwarna abu gelap. Wajahnya tenang, dihiasi senyum ramah yang tidak berlebihan. Sorot matanya tajam, namun tidak menekan, lebih seperti seorang senior yang datang membawa urusan penting, bukan ancaman.
“Tetua Bei,” sapa Gao Rui sambil menangkupkan tangan dengan hormat.
Peng Bei mengangguk ringan.
“Aku datang tanpa janji. Semoga tidak mengganggu.”
“Silakan masuk,” jawab Gao Rui tanpa ragu. “Kediaman murid sederhana.”
Peng Bei tertawa kecil, lalu melangkah masuk. Gao Rui menutup pintu, kemudian mempersilahkan tetua itu duduk di kursi kayu sederhana di dekat meja rendah. Ia sendiri duduk berhadapan, sikapnya sopan dan terkendali.
Sejenak, Peng Bei hanya mengamati ruangan itu. Senyumnya menipis, berubah menjadi ekspresi yang lebih serius, namun tetap bersahabat.
“Aku tidak akan bertele-tele,” kata Peng Bei akhirnya. “Aku datang karena diminta seseorang.”
Gao Rui menegakkan punggungnya sedikit.
“Diminta… siapa, Tetua?”
“Gurumu,” jawab Peng Bei singkat.
Kata itu membuat Gao Rui terdiam sesaat. Ia memang telah memikirkan kemungkinan ini, namun mendengarnya langsung tetap terasa berbeda.
Peng Bei melanjutkan,
“Aku diminta untuk mengawasi latihanmu. Terutama dalam rangka persiapan kompetisi beladiri antar sekte yang akan datang.”
Kening Gao Rui berkerut tipis.
“Mengawasi… latihan murid?”
“Benar.”
Gao Rui menatap Peng Bei dengan jujur.
“Tetua, izinkan murid bertanya. Kapan Guru Chang menyampaikan permintaan itu kepada Tetua? Seingat murid, tidak ada pertemuan terbuka di antara kalian.”
Peng Bei tidak langsung menjawab. Ia justru tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu memang sudah ia duga akan muncul.
“Sepertinya kau benar-benar lupa,” katanya pelan. “Atau mungkin… kau tidak menyadari saat itu terjadi.”
Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
“Kau masih ingat pertemuan terakhirku dengan gurumu?”
Ingatan Gao Rui langsung berputar. Ia teringat satu momen yang terasa ganjil saat itu. Sebuah pertemuan singkat, hampir tanpa percakapan panjang.
“Jika yang Tetua maksud adalah saat telunjuk guru bersinar…” ucap Gao Rui perlahan, “…dan cahaya itu menembus dahi Tetua.”
Senyum Peng Bei mengembang sedikit.
“Pintar. Ya. Momen itu.”
Gao Rui menghela napas pelan.
“Saat itu, murid mengira guru hanya memberikan teknik unik untuk Tetua.”
Peng Bei mengangguk.
“Itu memang benar. Cahaya itu berisi teknik yang sangat… berharga. Teknik yang mungkin tidak akan pernah kudapatkan jika bukan darinya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Gao Rui lurus-lurus.
“Namun cahaya itu tidak hanya berisi teknik.”
Jantung Gao Rui berdegup sedikit lebih cepat.
“Di dalamnya,” lanjut Peng Bei, “tersimpan juga sebuah perintah. Sebuah titipan kehendak. Bahwa saat gurumu pergi, tugasku adalah mengawasi latihanmu. Memastikan kau berjalan di jalur yang benar, tidak terlalu ceroboh, dan tidak melewatkan potensi yang seharusnya diasah sebelum kompetisi berlangsung.”
Ruangan itu menjadi hening. Dengan kata lain… Gao Rui langsung memahami maknanya. Teknik yang diberikan gurunya kepada Peng Bei bukanlah pemberian tanpa syarat.
“Jadi,” gumam Gao Rui pelan, “teknik itu… bukan gratis.”
Peng Bei tertawa kecil, tidak tersinggung.
“Jadi kau menyebutnya begitu, ya. Gurumu sangat teliti. Ia tidak pernah memberikan sesuatu tanpa alasan.”
Gao Rui menunduk sejenak, mencerna semua itu. Perlahan, ia mengangguk.
“Namun tenang saja,” kata Peng Bei sambil mengangkat satu tangan, seolah menenangkan. “Aku hanya bertindak sebagai pengawas saja untuk mempersiapkan dirimu dalam kompetisi itu.”
Ia menatap Gao Rui dengan ekspresi tegas namun jujur.
“Aku tidak berniat menggantikan posisinya. Gurumu tetaplah gurumu, Boqin Changing. Tidak ada yang berubah soal itu.”
Nama itu diucapkan dengan nada penuh penghormatan.
Gao Rui mengangkat kepala dan menatap Peng Bei. Ketegangan halus di matanya perlahan mereda. Ia berdiri, lalu menangkupkan tangan dengan lebih dalam.
“Murid mengerti,” katanya mantap. “Jika itu memang titipan guru, murid tidak keberatan.”
Peng Bei tersenyum puas.
“Bagus. Mulai besok, lakukan latihanmu seperti biasa. Jika kau butuh latih tanding, aku siap membantu.”
Gao Rui mengangguk sekali lagi.
Di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu. Gurunya bahkan masih memikirkan dirinya saat ia tidak lagi di sisinya.
Gao Rui memandang Peng Bei lebih lama dari sebelumnya. Bukan karena sikapnya barusan, melainkan karena ia menyadari siapa sosok yang duduk di hadapannya.
Tetua Peng Bei. Sosok yang kerap disebut sebagai jenius di antara para jenius di Sekte Bukit Bintang. Memang, secara formal ia hanya menduduki posisi tetua ketiga. Namun di antara sepuluh tetua terkuat sekte, semua orang tahu satu hal, Peng Bei adalah yang termuda. Jarak usia dan perkembangan kultivasinya terlalu mencolok untuk diabaikan.
Perkembangannya dalam dunia persilatan dianggap luar biasa, bahkan oleh generasi sebelumnya. Ada satu fakta lagi yang hampir tak pernah disebut secara terbuka… Peng Bei adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah menjadi juara dalam kompetisi beladiri antar sekte beberapa puluh tahun lalu. Sebuah prestasi yang masih menjadi tolok ukur hingga hari ini.
Gao Rui menarik napas pelan. Lalu ia membuka suara, nadanya tetap sopan namun jujur.
“Tetua Bei,” katanya, “jika Tetua mengawasi dan membantu latihan murid… apakah itu tidak akan menimbulkan masalah?”
Peng Bei mengangkat alis tipis, menunggu kelanjutannya.
Gao Rui menunduk sedikit.
“Murid khawatir… murid-murid Tetua akan merasa iri. Lagipula, status murid bukan murid dari Tetua Bei.”
Sejenak, ruangan itu hening.
Kemudian,
“Hahaha…”
Tawa Peng Bei pecah, ringan namun tulus. Ia menggeleng pelan, seolah mendengar sesuatu yang menggelikan.
“Kau terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu,” katanya sambil tersenyum.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Sudah lima belas tahun ini aku tidak mengangkat murid lagi.”
Gao Rui terkejut, matanya sedikit membesar.
“Lima belas tahun?”
Peng Bei mengangguk.
“Aku memilih fokus pada latihanku sendiri. Murid-murid lamaku pun sudah dewasa. Mereka telah menemukan jalan hidup masing-masing.”
Ia menatap Gao Rui dengan tenang.
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
Tatapannya mengandung keyakinan, bukan sekadar penghiburan.
“Lagipula,” lanjutnya, “jika gurumu yang meminta, apapun harus tetap dilaksanakan.”
Gao Rui terdiam sejenak, lalu menangkupkan tangan dengan lebih dalam.
“Murid mengerti.”
Peng Bei tersenyum lagi, kali ini lebih santai.
“Jadi bersikaplah biasa saja. Anggap aku hanya seorang tetua yang kebetulan lewat untuk melihat bagaimana bocah berbakat luar biasa berlatih.”
Sorot matanya menyipit tipis, mengandung ketertarikan yang jujur.
“Aku sendiri… cukup penasaran. Akan sehebat apa kau di masa depan?”
Gao Rui tidak menjawab. Namun di dalam dadanya, tekadnya semakin mengeras.
Ia tahu, mulai hari ini, latihannya tidak lagi hanya diawasi oleh sektenya… melainkan oleh salah satu legenda hidupnya.
Peng Bei kemudian berdiri. Ia merapikan jubahnya, lalu menatap Gao Rui sekali lagi sebelum berbalik ke arah pintu.
“Besok pagi,” katanya singkat namun jelas. “Kau datang ke halaman kediamanku. Kita mulai dari sana.”
Gao Rui segera bangkit dan menangkupkan tangan dengan hormat.
“Baik, Tetua Bei. Murid akan datang tepat waktu.”
Peng Bei mengangguk puas.
“Santai saja. Jangan tegang. Anggap saja ini pemanasan sebelum kau benar-benar melangkah ke panggung besar.”
Dengan itu, ia melangkah keluar. Pintu kayu tertutup perlahan, menyisakan keheningan di dalam ruangan sederhana itu.
Gao Rui berdiri cukup lama di tempatnya, menatap daun pintu seakan sosok tetua ketiga itu masih berada di baliknya. Baru setelah beberapa napas, ia kembali duduk.
Pikirannya mulai berputar. Ada satu hal yang mengganjal. Satu kemungkinan yang terasa… terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Ditunjuknya Peng Bei sebagai pengawas latihannya. Waktu kemunculannya. Kompetisi antar sekte dan kepergian gurunya. Semua itu tersusun terlalu pas.
Gao Rui mengepalkan tangannya perlahan.
Bagaimana jika ini bukan sekadar firasat, melainkan sebuah rancangan?
Bagaimana jika gurunya telah menyiapkan segalanya sejak awal, menyusun jalan yang harus ia lalui selangkah demi selangkah, lapis demi lapis, tanpa pernah menjelaskannya secara langsung?
Bukan paksaan. Bukan perintah terbuka. Melainkan sebuah rangkaian pengaturan halus, sebuah susunan langkah yang disengaja, di mana setiap pertemuan, setiap orang yang muncul di sekitarnya, memiliki peran masing-masing pada waktu yang tepat.
Gao Rui menarik napas panjang. Jika benar demikian… maka bahkan kepergian gurunya pun bukanlah meninggalkan dirinya sendirian. Melainkan memaksanya berjalan maju, tepat di jalur yang telah dipersiapkan.
“Apa Guru memang sudah sejauh itu memikirkanku…?” gumamnya pelan.
Tidak ada jawaban. Namun untuk pertama kalinya sejak gurunya pergi, Gao Rui tidak lagi merasa ditinggalkan. Sebaliknya, ia merasa sedang diawasi dari jauh, dituntun tanpa terlihat, didorong tanpa disentuh.
Matanya mengeras, tekadnya semakin dalam. Jika ini memang sebuah jalan yang telah dirancang khusus untuknya, maka ia tidak akan menyia-nyiakannya.
Besok, latihan di kediaman Tetua Peng Bei bukan sekadar awal latihan baru, melainkan langkah pertama dari sebuah rencana besar gurunya yang perlahan mulai menyingkap wujudnya.