Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suasana di ruang kerja utama Mansion Pratama pecah seketika. Sebuah vas bunga porselen dari dinasti Ming yang bernilai miliaran rupiah hancur berkeping-keping di lantai marmer, dihantam oleh kemarahan Tuan Pratama.
"TIGA RATUS ENAM PULUH HARI! Satu tahun hampir berlalu dan kalian tidak bisa menemukan satu orang saja?!" suara Tuan Pratama menggelegar, membuat para pengawal dan asisten pribadinya tertunduk gemetar.
Layar monitor besar di depannya menunjukkan grafik merah yang menukik tajam. Saham Pratama Automotive anjlok. Para investor mulai menarik diri karena mereka tahu, otak di balik kesuksesan perusahaan itu bukan sang ayah yang sudah mulai renta, melainkan tangan dingin Aditya yang kini menghilang bak ditelan bumi.
Tuan Pratama mencengkeram kerah baju kepala detektif swastanya. "Tanpa Aditya, perusahaan ini hanya tumpukan besi tua! Aku tidak peduli dia ada di lubang semut mana pun, seret dia pulang! Jika dia menolak, hancurkan apa pun yang membuatnya betah di sana!"
"T-tapi Tuan," asisten pribadinya memberanikan diri bicara, "kami menemukan jejak transaksi aneh di sebuah ATM kecil di Jawa Timur. Atas nama Rian, sahabat Tuan Muda yang ada di Jerman. Sepertinya Tuan Muda menggunakan akses itu secara sembunyi-sembunyi."
Tuan Pratama menyipitkan mata. Kilat licik muncul di wajahnya yang keras. "Rian? Bodohnya aku melewatkan tikus itu. Kirim orang ke koordinat ATM itu sekarang! Periksa setiap bengkel, setiap toko, setiap jengkal tanah di sana. Jika kalian melihat Aditya bersama seorang wanita..." Ia menjeda kalimatnya, wajahnya mengeras, "...bawa dia kembali, apa pun caranya. Jika wanita itu menghalangi, singkirkan dia dari jalannya."
___
Sementara di desa kecil itu, malam terasa begitu tenang. Nadine yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan, sedang duduk di sofa kecil sambil menjahit baju bayi. Aditya berada di lantai, bersandar pada kaki Nadine, membacakan laporan keuangan kecil-kecilan dari bengkel mereka.
"Bulan ini keuntungan bengkel naik lagi, Sayang. Kurasa kita bisa membeli perlengkapan bayi yang paling bagus di kota kabupaten besok," ucap Aditya sambil mengelus lembut perut Nadine yang sudah sangat besar.
Nadine tersenyum manis, jemarinya mengusap rambut Aditya. "Mas, jangan berlebihan. Yang penting bayi kita sehat. Uangnya lebih baik kita tabung untuk persalinan nanti."
Aditya mendongak, menatap mata Nadine dengan penuh pemujaan. "Sayang... aku tidak pernah merasa sebahagia ini seumur hidupku. Terima kasih sudah mengajariku arti hidup yang sebenarnya. Setelah anak ini lahir, aku ingin jujur padamu tentang sesuatu yang besar."
Nadine mengecup kening suaminya. "Apa pun itu, Mas, aku akan selalu bersamamu. Aku tidak butuh tahu siapa Mas di masa lalu, yang aku tahu Mas adalah ayah dari anakku dan tentu nya, mas masih single saat menikahiku."
Tanpa mereka sadari, di seberang jalan, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap terparkir diam. Seseorang di dalamnya sedang membidikkan lensa kamera jarak jauh ke arah ruko mereka.
"Target teridentifikasi," ucap pria di dalam mobil itu ke sambungan telepon. "Tuan Muda sedang bersama seorang wanita lokal. Wanita itu sedang hamil besar."
Di ujung telepon, suara Tuan Pratama terdengar dingin. "Bawa dia malam ini. Jangan biarkan dia membawa apa pun dari tempat sampah itu. Jika ada perlawanan, kalian tahu apa yang harus dilakukan."
___
Malam itu, saat gerimis mulai turun, Aditya baru saja hendak menutup gerbang bengkel ketika ia merasakan firasat buruk. Bulu kuduknya meremang. Ia menoleh ke arah Nadine yang sedang mematikan lampu toko kue.
"Sayang! Masuk ke dalam ruko, sekarang!" teriak Aditya tiba-tiba.
Namun, sebelum Nadine sempat melangkah, tiga mobil hitam besar sudah mengepung ruko mereka. Lampu sorot menyilaukan mata. Aditya berdiri di depan Nadine, melindunginya dengan tubuhnya sendiri, sementara tangan kanannya meraba kunci inggris di saku celananya.
___
Malam yang mencekam itu seketika pecah oleh deru mesin bus besar yang berhenti mendadak di belakang barisan mobil hitam anak buah Tuan Pratama. Klakson panjang menggema, memecah kesunyian desa barokah yang sedang dicengkeram ketakutan.
Pintu bus terbuka. Gus Azmi turun dengan jubah putihnya yang berkibar, diikuti oleh Ning Laila. Di belakang mereka, puluhan santri berbaju koko dan bersarung meloncat turun dengan gerakan yang sangat tangkas, gerakan yang hanya dimiliki oleh mereka yang terlatih dalam seni bela diri Pagar Nusa.
"Ada apa ini? Mengapa kalian berbuat gaduh di wilayah kami?" suara Gus Azmi menggelegar, tenang namun penuh wibawa.
Seorang kepala preman suruhan Tuan Pratama menoleh, meludah ke samping. "Heh, Pak Ustadz! Jangan ikut campur. Ini urusan keluarga besar di Jakarta. Serahkan pria itu dan minggir!"
Aditya, yang masih melindungi Nadine di belakang punggungnya, terkejut melihat sosok yang sangat dihormati istrinya itu ada di sini. "Gus... tolong Nadine," bisik Aditya lirih.
Ning Laila langsung berlari menghampiri Nadine, merangkul bahu gadis itu yang gemetar hebat. "Nadine! Ya Allah, Nak... kamu sedang hamil besar."
Nadine memeluk Ning Laila dengan tangis yang pecah. "Ning... mereka mau membawa Mas Adit paksa. Tolong kami..."
Kepala preman itu kehilangan kesabaran. "Sikat mereka semua! Jangan biarkan rombongan sarung ini menghalangi!"
Gus Azmi memberikan isyarat tangan yang tenang. "Anak-anakku... lindungi kehormatan saudaramu."
Seketika, para santri yang baru saja pulang dari ziarah itu berubah menjadi barisan pelindung yang tangguh. Saat anak buah Tuan Pratama merangsek maju dengan tongkat pemukul, para santri menyambut mereka dengan teknik beladiri tingkat tinggi. Kecepatan tangan mereka menjatuhkan senjata lawan hanya dalam hitungan detik.
Beberapa santri senior melakukan gerakan lock /kuncian yang membuat para preman itu mengerang kesakitan di atas aspal. Tidak ada satu pun pukulan yang mengenai Aditya atau Nadine.
"Siapa kalian sebenarnya?!" teriak si kepala preman yang kini terpojok.
"Kami hanya orang-orang yang belajar bahwa membela yang didzalimi adalah bagian dari iman," jawab Gus Azmi tanpa nada marah, namun tatapannya sangat tajam.
Melihat jumlah santri yang terus turun dari bus kedua dan kemampuan bela diri mereka yang tidak sebanding, anak buah Tuan Pratama mulai kocar-kacir. "Mundur! Mundur! Kita lapor ke Tuan Besar!" teriak mereka sambil berlari masuk ke mobil dan memacu kendaraan mereka menjauh dari lokasi.
Suasana mendadak hening. Para santri berdiri melingkari ruko, membentuk pagar betis yang kokoh.
Gus Azmi mendekati Aditya. Beliau menatap mata pria itu, mencari kejujuran di sana.
Aditya menunduk, ia yang biasanya sombong kini merasa sangat kecil di hadapan pria bersahaja ini. " Gus. Maafkan saya jika kehadiran saya membawa bahaya bagi Nadine."
Nadine mendekati suaminya, memegang lengan baju Aditya erat-erat. "Gus... Mas Adit orang baik. Dia yang selama ini menjaga Nadine dan orang tua Nadine."
Ning Laila mengusap punggung Nadine. "Kami tahu, Nadine. Gus Azmi selalu memantau kabarmu lewat Haji Mulyono. Kami tidak sengaja lewat, tapi mungkin ini cara Allah melindungi kalian."
Gus Azmi menatap ruko mereka yang kini berantakan. "Tempat ini sudah tidak aman. Mata-mata itu akan kembali dengan jumlah yang lebih besar. Aditya, jika kamu benar mencintai Nadine dan calon bayimu, kamu harus mengungsi. Ikutlah ke pesantren malam ini juga."
Aditya menatap Nadine yang pucat pasi karena syok. "Tapi Gus... bengkel dan toko ini..."
"Harta bisa dicari, Aditya. Tapi keselamatan istri dan anakmu tidak ternilai" potong Gus Azmi tegas.
Malam itu juga, dengan bantuan para santri, barang-barang penting milik Nadine dan Aditya segera dikemas.
"Mas," bisik Nadine saat mereka berada di dalam bus santri, duduk berdampingan. "Aku takut. Siapa sebenarnya mereka? Mengapa mereka memanggilmu Tuan Muda?"
Aditya menggenggam tangan Nadine yang dingin, menciumnya berkali-kali. "Nadine... aku minta maaf. Aku akan ceritakan semuanya di pesantren nanti. Aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu."
Aditya menatap keluar jendela, ke arah ruko mereka yang perlahan menjauh. Ia tahu, ayahnya tidak akan berhenti hanya sampai di sini. Pelarian ini baru saja dimulai, dan ia harus bersiap menghadapi badai yang lebih besar demi melindungi malaikat tak bersayap di sampingnya ini.