NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Konferensi pers itu diumumkan secara resmi pukul sembilan pagi.

Dalam hitungan menit, seluruh media bisnis nasional mengangkatnya sebagai headline utama.

Keluarga Wijaya Buka Arsip Proyek Aurora.

Tidak ada bantahan.

Tidak ada pembelaan emosional.

Hanya satu pernyataan tegas: semua dokumen lama akan diaudit oleh lembaga independen, dan hasilnya akan dipublikasikan tanpa sensor.

Langkah itu mengejutkan pasar.

Saham yang sempat anjlok justru berhenti jatuh. Tidak naik signifikan, tapi stabil. Seolah para investor sedang menunggu langkah berikutnya sebelum menentukan posisi.

Di ruang kerja kantor pusat, Alya berdiri di samping Bima saat mereka mempersiapkan detail konferensi pers. Arsen duduk di sisi lain meja. Bukan sebagai lawan. Bukan sebagai sekutu penuh. Tapi sebagai pihak yang kini memiliki kepentingan yang sama.

“Kita harus sepakat pada satu hal,” ujar Arsen tenang. “Kalau kita membuka transaksi luar negeri, nama keluargaku juga akan ikut muncul.”

Alya menatapnya lurus. “Dan jika kita tidak membukanya, investor asing itu akan terus bermain di belakang layar.”

Keheningan turun sesaat.

Bima akhirnya berbicara. “Ini bukan lagi soal siapa yang terlihat bersih. Ini soal siapa yang berani menghentikan permainan.”

Arsen tidak langsung menjawab.

Namun untuk pertama kalinya sejak konflik ini dimulai, ia tidak menyanggah.

Sore harinya, sebuah perkembangan baru muncul.

Tim forensik keuangan menemukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada transaksi mencurigakan.

Perusahaan cangkang yang terhubung dengan investor asing itu ternyata memiliki hubungan kontraktual dengan salah satu anggota dewan aktif saat ini.

Nama itu membuat ruangan terasa lebih dingin.

Dewan yang selama ini menekan Bima.

Dewan yang mendorong stabilitas cepat.

Dewan yang mungkin punya kepentingan agar konflik ini tidak pernah benar-benar selesai.

“Kalau ini benar,” ujar Alya pelan, “maka kita tidak hanya menghadapi investor luar.”

“Kita menghadapi pengkhianatan dari dalam,” lanjut Bima.

Arsen menatap laporan itu lebih lama dari yang lain.

“Dan jika nama ini kita buka,” katanya hati-hati, “kita menciptakan perang internal.”

“Perang sudah dimulai sejak lama,” jawab Alya tanpa ragu. “Kita hanya memilih untuk melihatnya sekarang.”

Malam sebelum konferensi pers, tekanan meningkat drastis.

Email ancaman masuk ke sistem perusahaan.

Bukan ancaman fisik.

Tapi ancaman hukum.

Seseorang mengklaim bahwa pembukaan dokumen lama tanpa izin penuh semua pihak dapat dianggap pelanggaran kerahasiaan korporasi internasional.

Artinya: jika mereka salah langkah, perusahaan bisa diseret ke tuntutan hukum lintas negara.

“Ini upaya menakut-nakuti,” ujar Bima.

“Tapi legalitasnya nyata,” jawab Arsen. “Mereka tidak bermain sembarangan.”

Alya duduk diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau kita mundur sekarang, mereka tahu kita takut.”

“Dan kalau kita maju?” tanya Bima.

“Kita mungkin kehilangan sebagian kursi dewan. Tapi kita mengubah posisi permainan.”

Keputusan diambil.

Konferensi tetap berjalan.

Hari H tiba.

Ruang konferensi dipenuhi wartawan. Kamera menyala. Sorotan lampu terasa panas.

Bima berdiri di podium. Alya di sampingnya. Arsen beberapa langkah di belakang.

Simbol yang tak terucap namun jelas: dua keluarga berdiri dalam satu frame.

“Kami tidak berdiri di sini untuk membela diri,” ujar Bima membuka pernyataan. “Kami berdiri untuk membuka fakta.”

Alya melanjutkan dengan suara stabil, “Proyek Aurora gagal lima belas tahun lalu dalam situasi yang tidak sepenuhnya transparan. Dan hari ini, kami mengakui bahwa penyelidikan internal saat itu tidak menggali cukup dalam.”

Ruangan bergemuruh oleh kilatan kamera.

Beberapa wartawan langsung mengangkat tangan.

“Apakah ini berarti keluarga Anda menyembunyikan informasi?” tanya salah satu dari mereka.

Bima menjawab tanpa ragu. “Ini berarti kami tidak memiliki seluruh kebenaran saat itu. Dan kami tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.”

Langkah berikutnya lebih mengejutkan.

Arsen maju satu langkah.

“Keluarga saya juga terdampak oleh kegagalan proyek itu,” katanya. “Dan kami juga akan membuka catatan internal kami kepada auditor independen.”

Ruangan mendadak hening.

Aliansi itu tidak pernah terbayangkan publik.

Dan di situlah permainan berubah.

Namun efeknya tidak sepenuhnya positif.

Beberapa jam setelah konferensi, salah satu anggota dewan yang namanya terhubung dengan perusahaan cangkang mengundurkan diri mendadak.

Alasannya: alasan pribadi.

Terlalu cepat.

Terlalu bersih.

“Dia melarikan diri sebelum ditarik ke permukaan,” ujar Alya sambil membaca pengumuman resmi itu.

Bima mengangguk pelan. “Artinya kita memang menyentuh simpul yang benar.”

Namun kepergian itu tidak berarti ancaman selesai.

Justru sebaliknya.

Karena orang-orang yang merasa terancam biasanya tidak menyerah begitu saja.

Malam itu, di mansion, suasana terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena ketakutan.

Tapi karena kesadaran.

Mereka baru saja mengguncang struktur yang berdiri lebih dari satu dekade.

Dan struktur seperti itu tidak runtuh dalam sehari.

“Apa kau percaya Arsen sepenuhnya?” tanya Bima tiba-tiba.

Alya terdiam beberapa detik.

“Aku percaya dia tidak ingin dimanipulasi lagi,” jawabnya akhirnya. “Tapi aku belum yakin dia memberitahu semuanya.”

Bima menatap ke luar jendela.

“Kalau dia masih menyimpan sesuatu…”

“Cepat atau lambat itu akan keluar,” potong Alya pelan. “Dan saat itu, kita harus siap.”

Telepon Alya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkatnya perlahan.

Suara di ujung sana rendah, terkontrol.

“Kalian membuat kesalahan besar hari ini.”

Alya tidak langsung menjawab.

“Siapa ini?”

“Hentikan audit itu. Atau bukan hanya perusahaan yang akan runtuh.”

Sambungan terputus.

Ruangan terasa mendadak lebih sempit.

Bima menatapnya tajam. “Siapa?”

Alya menggeleng pelan.

“Tapi dia tidak terdengar panik,” katanya lirih. “Dia terdengar… terbiasa.”

Terbiasa mengancam.

Terbiasa mengendalikan.

Terbiasa berada di balik layar.

Alya menatap ke arah kota yang berkilau di kejauhan.

“Kalau mereka mulai mengancam secara langsung,” katanya pelan, “itu berarti kita benar-benar mendekati pusatnya.”

Dan di suatu tempat yang belum mereka lihat,

seseorang mulai menyadari bahwa dua keluarga yang selama ini dijadikan pion—

tidak lagi bergerak sesuai skenario.

Babak baru telah dibuka.

Namun kali ini,

bukan hanya soal membongkar masa lalu.

Melainkan bertahan dari serangan yang akan datang—

serangan yang mungkin tidak lagi bermain di ranah reputasi,

melainkan menyentuh sesuatu yang jauh lebih personal.

Bukan hanya reputasi perusahaan atau nilai saham yang dipertaruhkan. Bukan hanya nama besar keluarga atau posisi Bima sebagai CEO termuda yang menjadi sorotan. Serangan itu telah menembus batas profesional—menyentuh sesuatu yang jauh lebih personal.

Alya.

Nama itu kini muncul di dalam percakapan dewan direksi, di grup media gosip, bahkan dalam laporan investigasi internal. Foto-fotonya bersama Bima di acara amal, potongan video ketika ia datang ke kantor pusat, hingga riwayat keluarganya mulai diungkit satu per satu. Semua dirangkai menjadi narasi kejam: bahwa pernikahan mereka hanyalah strategi manipulatif untuk mengalihkan perhatian dari konflik internal perusahaan.

Bima menatap layar tablet di ruang kerjanya dengan rahang mengeras. “Mereka mulai menyerang kamu,” ucapnya pelan, tapi nadanya mengandung amarah yang tertahan.

Alya berdiri di dekat jendela, memandang gedung-gedung tinggi yang menjulang di luar sana. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasakan ketakutan yang berbeda. Bukan untuk dirinya sendiri—melainkan untuk apa yang bisa dilakukan orang-orang itu demi menjatuhkan Bima.

“Aku sudah tahu ini akan terjadi,” katanya pelan. “Cepat atau lambat, mereka akan menyentuhku juga.”

Bima bangkit dari kursinya. “Kamu bukan bagian dari permainan mereka.”

“Sekarang aku bagian darinya,” Alya memotong lembut. “Bukan karena kontrak. Tapi karena aku memilih berdiri di sampingmu.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa sunyi sejenak. Bima melangkah mendekat, menatapnya dalam-dalam. Ia tahu Alya benar. Sejak awal, kontrak itu memang dimaksudkan sebagai tameng. Tapi yang tidak pernah ia duga, tameng itu kini menjadi seseorang yang ingin ia lindungi bukan karena kewajiban—melainkan karena perasaan yang tumbuh diam-diam, kuat, dan tak bisa diabaikan lagi.

Di luar gedung, badai opini publik semakin menggila. Seorang anggota dewan lama yang selama ini diam, tiba-tiba muncul dalam wawancara eksklusif, menyiratkan bahwa kepemimpinan Bima “terlalu emosional” dan “dipengaruhi oleh faktor pribadi.” Sebuah tudingan halus, tapi cukup untuk memancing keraguan investor.

Namun yang paling mengganggu bukanlah tuduhan itu.

Melainkan sebuah pesan anonim yang dikirim langsung ke ponsel Alya malam itu.

Kalau kamu peduli pada Bima, menjauhlah sebelum semuanya hancur. Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi.

Alya membaca pesan itu berulang kali. Tangannya sedikit gemetar, tapi bukan karena ia ingin mundur. Justru sebaliknya. Pesan itu mengonfirmasi satu hal: ada sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di balik layar.

Ia menunjukkan pesan itu pada Bima.

Wajah pria itu berubah dingin. “Mereka mulai bermain kotor.”

“Tidak,” Alya menggeleng pelan. “Ini bukan sekadar permainan bisnis. Ini personal. Seseorang ingin kamu kehilangan semuanya. Dan mungkin… seseorang itu tahu lebih banyak tentang masa lalu keluargamu daripada yang kita kira.”

Nama itu belum diucapkan, tapi keduanya memikirkan orang yang sama.

Sosok lama yang selama ini seperti bayangan—tak terlihat, tapi selalu terasa keberadaannya.

Bima menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak ia mengambil alih perusahaan, ia menyadari bahwa konflik ini bukan lagi soal strategi, bukan lagi soal pembuktian diri pada dewan direksi. Ini tentang melindungi orang yang ia cintai. Tentang memastikan bahwa kesalahan masa lalu keluarganya tidak menghancurkan masa depan yang baru saja ia bangun bersama Alya.

Malam semakin larut. Di dalam mansion yang kini terasa lebih sunyi dari biasanya, Alya duduk di ruang keluarga, menatap api kecil di perapian. Ia tahu, mulai sekarang setiap langkah yang ia ambil akan memiliki konsekuensi lebih besar.

Ia bisa saja mundur.

Ia bisa saja memilih keselamatan.

Tapi ia tidak melakukannya.

Sebaliknya, ia berdiri, berjalan ke arah Bima yang sedang berbicara dengan tim hukumnya melalui panggilan video, lalu menunggu hingga percakapan itu selesai.

“Aku tidak akan pergi,” katanya tegas saat Bima menoleh. “Apa pun yang mereka rencanakan, aku ingin tahu. Aku ingin terlibat.”

Bima menatapnya lama. Di mata Alya tidak ada lagi keraguan seperti dulu—tidak ada lagi jarak yang dibuat karena kontrak atau formalitas. Yang ada hanyalah keputusan.

Keputusan untuk bertahan.

Keputusan untuk melawan.

Dan keputusan untuk mencintai tanpa syarat.

Bima akhirnya mengangguk pelan. “Kalau begitu kita hadapi ini bersama. Tapi mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia di antara kita.”

Alya mengulurkan tangannya.

Bima menggenggamnya erat.

Di luar sana, mungkin badai sedang bersiap menghantam dengan kekuatan penuh. Mungkin rahasia lama akan segera terbuka dan mengguncang fondasi yang mereka bangun. Mungkin musuh mereka akan menyerang lebih kejam, lebih personal, lebih berbahaya.

Tapi satu hal telah berubah.

Mereka tidak lagi berdiri di dua sisi kontrak.

Mereka berdiri di sisi yang sama—dengan hati yang sudah saling terikat, dan keberanian yang tak lagi setengah-setengah.

Dan jika serangan berikutnya memang ditujukan untuk memisahkan mereka, maka para musuh itu akan segera menyadari satu kesalahan besar:

Alya dan Bima tidak akan mudah dipatahkan.

Karena sekarang, ini bukan lagi sekadar tentang bisnis.

Ini tentang cinta, tentang kebenaran, dan tentang dua orang yang memilih untuk tidak mundur—bahkan ketika seluruh dunia mencoba menjatuhkan mereka.

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!