NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 (Lanjutan) — Jejak yang Tak Pernah Hilang

Kantin rumah sakit mulai sepi.

Hanya terdengar suara mesin kopi dan langkah perawat yang sesekali melintas.

Sofía dan Isabella duduk berhadapan di sebuah meja kecil dekat jendela. Hujan masih turun, membasahi kaca dan menciptakan garis-garis tipis seperti air mata yang tak selesai jatuh.

Sofía memegang cangkirnya dengan kedua tangan.

“Saya tidak pernah menceritakan ini pada orang asing,” ucapnya pelan. “Tapi entah kenapa… rasanya saya bisa mempercayai Anda.”

Isabella tersenyum lembut, meski dadanya berdebar tak menentu.

“Saya juga merasakan hal yang sama.”

Sofía menarik napas panjang.

“Dua puluh tahun lalu, suami saya dan saya sedang bekerja di ladang kecil kami di pinggiran desa. Saat itu menjelang senja. Kami mendengar suara tangisan.”

Isabella membeku.

“Tangisan bayi,” lanjut Sofía. “Awalnya saya kira itu suara anak kambing. Tapi semakin lama semakin jelas… itu bayi manusia.”

Jari Isabella mengerat pada cangkirnya.

“Kami mengikuti suara itu ke dekat jalan tanah. Di sana ada mobil tua yang sudah ditinggalkan. Di dalamnya… ada seorang bayi perempuan kecil.”

Air mata mulai menggenang di mata Isabella.

“Dia dibungkus selimut mahal,” kata Sofía pelan. “Tapi tak ada nama. Tak ada surat. Hanya gelang kecil dengan huruf ‘A.V.D.L’ terukir sangat halus.”

Isabella tersentak.

A.V.DL

Alessandra Valentina.

Napasnya memburu.

“Apakah… apakah Anda masih menyimpan gelang itu?” tanyanya dengan suara gemetar.

Sofía mengangguk pelan.

“Tentu. Itu satu-satunya benda yang mungkin menghubungkannya dengan masa lalunya. Saya tak pernah membuangnya.”

Air mata Isabella jatuh tanpa bisa dihentikan.

“Saya…” suaranya pecah, “putri saya… saat diculik… dia juga mengenakan gelang kecil berukir inisial namanya.”

Sofía menutup mulutnya dengan tangan.

“Ya Tuhan…”

Isabella menatap lurus ke mata Sofía.

“Wajah putri saya… dia memiliki tahi lalat kecil di belakang telinga kirinya. Dan jari manis tangan kanannya sedikit lebih pendek dari jari telunjuknya.”

Sofía membeku.

Tangannya mulai gemetar.

“Valeria…” bisiknya lirih, “memiliki tahi lalat kecil di belakang telinga kirinya.”

Dunia seolah mengecil di antara mereka.

Dua ibu.

Satu kemungkinan.

Namun keduanya takut untuk percaya terlalu cepat.

Sofía menggenggam tangan Isabella.

“Jika ini benar… maka Tuhan benar-benar menulis takdir dengan cara yang tidak pernah kita pahami.”

Isabella menitikkan air mata dalam diam.

“Selama dua puluh tahun… saya bermimpi melihatnya tumbuh.”

Sofía tersenyum pilu.

“Dan selama dua puluh tahun… saya bersyukur diberi kesempatan membesarkannya.”

Tak ada kebencian di antara mereka.

Hanya keharuan.

Dan cinta yang sama-sama tulus.

Sementara itu, di lorong ICU—

Langkah kaki terdengar dari arah toilet umum.

Ayah Valeria, Miguel, berjalan mendekat sambil mengusap wajahnya yang masih basah oleh air wudu dan air mata. Ia berhenti beberapa langkah dari tiga pria yang berdiri di depan kaca ICU.

Alexander ia kenal.

Itu pemuda yang sejak tadi menjaga putrinya.

Namun dua pria lainnya asing baginya.

Satu pria dewasa dengan aura kuat dan tatapan tajam.

Satu lagi pemuda seusia Valeria, dengan sorot mata penuh kecemasan.

Miguel mendekat perlahan.

“Permisi…”

Daniel menoleh pertama kali.

Wajah pria desa itu sederhana, namun penuh keteguhan.

Alexander langsung melangkah mendekat.

“Pak Miguel,” katanya lembut, “ini Daniel. Sahabat Valeria di kampus.”

Daniel segera menunduk hormat.

“Senang bertemu Anda, Pak.”

Miguel menatapnya cukup lama.

“Ah… Daniel,” gumamnya pelan. “Valeria sering menyebut namamu dalam suratnya.”

Daniel terdiam.

“Ia bilang kau teman yang selalu membantunya belajar.”

Daniel menunduk lebih dalam.

“Justru saya yang banyak belajar darinya.”

Miguel tersenyum tipis.

Lalu tatapannya beralih pada pria dewasa di samping Daniel.

“Anda…?”

Vincenzo melangkah maju sedikit.

“Vincenzo.”

Nada suaranya tegas namun sopan.

Miguel merasakan aura berbeda dari pria itu. Bukan aura biasa. Ada kekuasaan. Ada ketenangan yang lahir dari pengalaman panjang.

“Terima kasih sudah menjaga putri saya bersama mereka,” ucap Miguel tulus.

Vincenzo menatap pria sederhana itu dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

Putri saya.

Kata-kata itu menusuk sekaligus menghangatkan.

“Dia gadis yang luar biasa,” jawab Vincenzo pelan.

Miguel mengangguk.

“Dia memang begitu sejak kecil. Selalu tersenyum meski hidup kami tak pernah mudah.”

Daniel dan Alexander saling berpandangan.

Miguel menatap Valeria di balik kaca.

“Kami menemukannya saat Tuhan menguji kami dengan kesepian,” lanjutnya lirih. “Dia datang seperti cahaya.”

Vincenzo merasakan dadanya sesak.

Cahaya.

Kata itu sama dengan yang sering Isabella gunakan saat menggambarkan Alessandra.

Daniel mulai menyadari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kebetulan.

Alexander berdiri diam, pikirannya berpacu cepat.

Empat bulan.

Gelang berinisial.

Tahi lalat.

Miguel menoleh pada Daniel.

“Valeria selalu bilang… Daniel adalah sahabat yang baik. Dia sangat menghormatimu.”

Hati Daniel bergetar.

Sahabat.

Apakah ia hanya itu?

Atau lebih?

Miguel lalu menatap Vincenzo.

“Apa Anda keluarga pasien lain?”

Vincenzo menahan napas sejenak.

“Istri saya… sedang berbicara dengan ibu Valeria.”

Miguel tersenyum sopan.

“Semoga Tuhan menjaga keluarga Anda juga.”

Vincenzo hanya mengangguk.

Namun dalam hatinya, badai telah dimulai.

Di satu sisi, ia melihat cinta yang tulus dari pria desa ini kepada Valeria.

Di sisi lain… hatinya berteriak bahwa mungkin darah yang mengalir dalam diri gadis itu adalah darahnya sendiri.

Daniel menatap ayahnya.

Papa tahu.

Papa mulai merasakan hal yang sama.

Alexander merasakan ketegangan yang tak terlihat namun sangat nyata.

Jika Valeria benar adalah putri keluarga De Luca…

Maka dunia akan berubah.

Cinta akan menjadi lebih rumit.

Takdir akan berbicara lebih keras.

Di ujung lorong, langkah kaki Isabella dan Sofía mulai mendekat.

Dua ibu.

Dua cerita yang mulai menyatu.

Dan di balik kaca ICU—

Valeria masih terbaring tenang.

Tanpa tahu bahwa identitasnya sedang berdiri tepat di luar pintu.

Bahwa masa lalunya yang hilang kini hanya sejengkal dari kebenaran.

Dan bahwa cinta, keluarga, dan takdir sedang menunggu momen yang tepat untuk membuka semuanya.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!