Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 15 - FOTO YANG TAK BISA DI BANTAH
Keesokan paginya, Ara tiba di kelas dengan kepala yang lebih ringan dari empat hari sebelumnya.
Bukan ringan karena semua masalah sudah selesai. Masalah tidak pernah benar-benar selesai dalam satu malam, Ara sudah cukup umur untuk tahu itu. Tapi ada bedanya antara membawa beban yang belum tahu ke mana harus diletakkan dengan membawa beban yang sudah tahu medannya, sudah tahu jalurnya, sudah tahu bahwa di beberapa titik ke depan ada orang yang tidak akan pergi ketika jalurnya menjadi lebih terjal.
Ia meletakkan tasnya. Duduk. Mengeluarkan buku catatannya.
Di halaman yang sama dari kemarin, di pojok kanan bawah, nama kecil itu masih ada. Tidak dicoret. Tidak ditutupi coretan lain.
Ara menutup bukunya dan menunggu.
Tidak harus lama.
Via datang tepat saat bel peringatan pertama berbunyi, rambut pendeknya rapi hari ini dengan cara yang lebih teratur dari biasanya, seragam dikancingkan sampai atas. Ia berjalan masuk ke kelas dengan langkah yang sudah kembali ke kecepatan normalnya, melempar pandangan sekilas ke seluruh ruangan dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan, lalu menuju bangkunya.
Duduk di sebelah Ara.
Meletakkan tas.
Mengeluarkan buku.
Lalu tanpa menoleh ke Ara, dengan suara yang cukup pelan untuk hanya didengar oleh mereka berdua, Via berkata, "Pagi."
"Pagi," Ara membalas.
"Tidur nyenyak?"
"Lumayan. Kamu?"
"Lumayan juga."
Hening dua detik yang bukan hening yang canggung, hanya hening yang menyesuaikan diri, yang sedang mencari ritme baru setelah kemarin dan percakapan di bangku taman dan semua yang sudah berubah diam-diam di antara mereka.
Lalu Via menoleh ke Ara.
"Jadi," ia berkata, dan nadanya sudah membawa sesuatu yang Ara kenali sebagai mode interogasi Via yang tidak akan berhenti sampai mendapat jawaban yang memuaskannya. "Semalam kamu ke mana?"
Ara berkedip. "Ke minimarket. Ibu minta susu."
"Dan?"
"Dan apa?"
Via menatapnya dengan ekspresi seseorang yang sudah tahu jawabannya tapi ingin mendengarnya diucapkan secara langsung. "Dan ketemu siapa."
Ara membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Lalu membukanya lagi. "Dari mana kamu tahu?"
"Aku tidak tahu pasti. Tapi wajahmu pagi ini berbeda dari kemarin." Via menyandarkan sikunya ke meja. "Dan kemarin malam ada suatu minimarket yang tampaknya sudah jadi tempat pertemuan rutin."
Ara menghela napas. "Gill ada di sana. Sama Fio."
"Fio itu adiknya?"
"Iya. Enam tahun."
Via mengangguk, menyerap informasi itu. "Kalian ngobrol?"
"Iya."
"Soal apa?"
Ara memikirkan percakapan semalam. Tentang kalimat Gill yang diucapkan dengan pelan di bawah lampu minimarket tentang menemukan seseorang yang kelihatan seperti satu hal di luar tapi terasa seperti hal yang berbeda di dalam. Tentang es krim stroberi yang lebih manis dari yang ia duga. Tentang Fio yang dengan serius dan polos menyampaikan hal-hal tentang kakaknya yang Gill sendiri tidak akan pernah ucapkan.
"Banyak hal," Ara menjawab.
"Banyak hal yang spesifik atau banyak hal yang kamu sengaja tidak mau spesifik karena kamu sendiri masih memprosesnya?"
Ara menatap Via. "Kenapa tidak bisa keduanya?"
Via diam sebentar. Lalu mengangguk satu kali. "Oke. Aku tidak akan paksa sekarang." Ia kembali ke buku catatannya. "Tapi nanti kamu cerita."
"Iya."
"Benar-benar nanti. Bukan nanti yang artinya tidak pernah."
"Iya, Via."
"Bagus."
Kelas mulai terisi lebih penuh. Suara pagi yang naik perlahan dari sunyi ke ramai, tas yang diletakkan, kursi yang bergeser, obrolan yang menyala di berbagai sudut ruangan. Semua ritme yang sudah sangat Ara hafal.
Lina dan Diana masuk bersama dari pintu, keduanya langsung menemukan Ara dari jauh dan melempar senyum yang Ara balas dengan senyum yang lebih kecil tapi sungguhan. Mereka duduk di bangku masing-masing tanpa menghampiri lebih dulu, yang Ara syukuri karena pagi ini ia tidak punya energi ekstra untuk percakapan yang membutuhkan banyak navigasi.
Dua menit sebelum bel masuk berbunyi, Ara sudah membuka buku catatannya ke halaman baru, siap untuk memulai pelajaran dengan kepala yang sudah di tempat yang tepat, ketika seseorang duduk di bangku di depannya.
Ara mengangkat kepala.
Via yang duduk di depannya sudah menoleh ke arah pintu dengan ekspresi yang tidak bisa Ara baca dari sudut ini. Beberapa kepala lain juga menoleh. Bisikan kecil menyala di satu-dua sudut kelas.
Ara mengikuti arah pandang mereka.
Dan di ambang pintu kelas XI-A, untuk hari ketiga berturut-turut, Gill berdiri.
Tapi hari ini berbeda dari kemarin dan hari sebelumnya.
Hari ini ia tidak membawa kantong jajanan, tidak membawa susu kotak. Hanya tas di punggung dan tangan dimasukkan ke saku dan ekspresi yang sama seperti selalu, datar dan tidak membutuhkan persetujuan siapa pun untuk eksis di ruang yang ia pilih untuk ada di dalamnya.
Matanya menemukan Ara langsung.
Lalu berpindah ke bangku di sebelahnya.
Via.
Gill berjalan masuk. Berhenti di sisi meja Ara, berdiri di antara meja Ara dan meja di depannya, dan menatap Ara dengan cara yang menyampaikan bahwa ia ada di sini untuk sesuatu yang spesifik.
"Selamat pagi," Ara berkata duluan, karena ia sudah belajar bahwa menunggu Gill mengucapkan basa-basi pembuka adalah strategi yang tidak akan berhasil.
"Hm." Gill mengangguk sedikit. Lalu menoleh ke Via.
Via menoleh balik.
Mereka berdua saling menatap selama dua detik penuh dengan ekspresi yang dari luar terlihat seperti dua orang yang sedang mengukur jarak antara mereka dan memutuskan apakah jarak itu cukup aman untuk dilanjutkan.
"Kemarin," Gill membuka percakapan, "kamu bilang aku tidak sopan."
Via mengangkat alis. "Aku bilang kamu memanggil orang asing dengan sebutan fisik dan itu tidak sopan, iya."
"Aku setuju itu tidak sopan."
Via diam sebentar. Rupanya ia tidak mengantisipasi respons itu.
"Tapi," Gill melanjutkan, "kamu yang datang duluan ke aku tanpa kenal dan nanya urusan orang lain. Itu juga tidak sopan."
"Itu beda—"
"Aku tahu alasanmu. Itu karena peduli sama temanmu." Gill tidak memotong dengan kasar, hanya melanjutkan dengan nada yang sama. "Dan aku menghargai itu. Tapi dari sudut pandangku, kamu adalah orang asing yang masuk ke urusanku tanpa permisi."
Via menatapnya.
"Jadi," Gill berkata, "kita sama-sama mulai dengan cara yang tidak ideal. Aku minta maaf soal cebol."
Hening.
Kelas yang tadinya masih dipenuhi suara pagi mendadak menurun beberapa desibel karena cukup banyak yang sudah memperhatikan percakapan ini dengan tingkat ketertarikan yang tidak disembunyikan.
Via duduk di bangkunya dengan ekspresi seseorang yang sedang memproses sesuatu yang tidak ia duga. Karena Via, dengan semua ketajamannya dan kemampuannya membaca orang, sudah siap untuk banyak kemungkinan dari percakapan dengan Gill. Tapi permintaan maaf yang langsung dan tidak dilapisi basa-basi rupanya bukan salah satunya.
"Oke," Via berkata akhirnya. "Aku minta maaf juga. Soal datang langsung tanpa kenalan dulu."
Gill mengangguk satu kali.
Via mengangguk balik.
Dan selesai. Serapih itu, secepat itu, seperti dua orang yang sama-sama tidak punya waktu untuk rekonsiliasi yang berlebihan dan lebih suka menyelesaikan sesuatu lalu melanjutkan hidup.
Ara menyaksikan seluruh proses itu dari bangkunya dengan perasaan yang hangat mengisi dadanya pelan-pelan.
Gill menoleh ke Ara setelahnya. "Ada yang perlu disampaikan?"
Ara menggeleng pelan. "Tidak ada."
Ia mengangguk. Lalu berbalik untuk pergi ke kelasnya.
Tapi tepat sebelum sampai di pintu, Via bersuara dari bangkunya.
"Gill."
Gill berhenti. Menoleh setengah badan.
Via menatapnya dengan ekspresi yang sudah lebih netral dari kemarin, tapi matanya masih tajam dengan cara yang memperlihatkan bahwa Via sedang menyampaikan sesuatu yang ia pikir perlu disampaikan dan tidak peduli apakah momennya tepat atau tidak. "Ara itu orang yang penting. Pastikan kamu tahu itu."
Bukan ancaman. Bukan peringatan yang dibungkus rapi. Hanya kalimat lurus yang berisi persis apa yang dimaksud tanpa ornamen tambahan.
Gill menatap Via selama dua detik.
"Aku tahu," ia menjawab.
Lalu berjalan keluar kelas.
Pintu menutup di belakangnya.
Dan kelas XI-A, yang sudah menyaksikan pertukaran tiga hari berturut-turut dengan antusiasme yang tidak berkurang, meledak pelan dalam bisikan dan satu dua tawa kecil yang tidak terlalu bisa disembunyikan.
Via kembali ke buku catatannya.
Ara menatap sahabatnya itu dengan sesuatu yang terlalu besar untuk disebut hanya rasa sayang tapi ia belum punya kata yang lebih tepat untuk menyebutnya.
"Via," ia berkata pelan.
"Bel sebentar lagi," Via menjawab tanpa menoleh.
"Aku tahu. Aku cuma mau bilang—"
"Aku tahu apa yang mau kamu bilang." Via masih tidak menoleh. Tapi ada sesuatu di caranya memegang pena yang sedikit lebih longgar dari biasanya. "Dan aku sudah tahu sejak lama. Kamu tidak perlu bilang."
Ara diam sebentar.
Lalu tersenyum ke arah buku catatannya sendiri. "Oke."
"Bagus."
Bel berbunyi.
Guru masuk.
Dan pelajaran dimulai dengan kelas yang sudah sedikit lebih hangat dari biasanya tanpa ada yang bisa menjelaskan dengan tepat dari mana kehangatan itu datang.
---
Jam istirahat pertama.
Via pergi ke kamar mandi, Lina dan Diana pergi ke kantin untuk membeli minuman, dan Ara duduk sendirian di bangkunya dengan buku catatan terbuka tapi tidak sedang mencatat apa pun.
Ponselnya ada di atas meja.
Ia membuka galeri fotonya.
Foto kemarin masih ada di sana. Foto yang diambil Gill di kelas, sedikit miring, pencahayaan tidak sempurna, dan Ara yang tertangkap dengan ekspresi tidak siap.
Ara menatap foto itu lebih lama dari kemarin.
Sesuatu yang ia perhatikan tapi tidak sempat ia proses kemarin, tentang sudut mata Gill di foto itu, tentang sesuatu yang sangat kecil yang ada di sana, sekarang terasa lebih jelas dari jarak yang lebih jauh dan waktu yang sudah lebih banyak berlalu.
Ia menyimpan ponselnya.
Lalu membuka buku catatannya ke halaman kemarin, ke pojok kanan bawah di mana nama kecil itu masih ada.
Masih tidak dicoret.
Ara menatapnya beberapa saat.
Lalu di bawah nama itu, dengan tulisan yang lebih kecil lagi, ia menambahkan tiga kata.
Bukan pernyataan. Bukan kesimpulan. Hanya catatan kecil untuk dirinya sendiri, untuk nanti, untuk ketika ia sudah siap menjawabnya dengan lebih lengkap.
*Apa ini namanya?*
Ia menutup buku catatannya.
Menyandarkan punggungnya ke kursi.
Di luar jendela kelas, langit Eldria hari ini biru bersih, tidak ada mendung, tidak ada awan yang menutup terlalu banyak. Matahari ada di posisinya yang tepat, cahayanya jatuh lurus dan jelas ke permukaan kota di bawah.
Dan di atap sekolah yang sama, dua lantai di atas kelas ini, Ara tahu dengan cara yang belum bisa ia jelaskan secara logis bahwa ada seseorang yang hari ini juga akan membawa kantong plastik jajanan dan ponsel dan mungkin es krim dengan rasa yang berbeda dari kemarin.
Dan ia tahu, dengan cara yang sama tidak logisnya, bahwa ia akan ada di sana juga.
Bukan karena diminta.
Bukan karena situasi yang mendorongnya.
Tapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, ada satu tempat di dunia ini di mana Tiara Alexsandra tidak perlu menjadi siapa pun selain dirinya sendiri.
Dan itu, sekarang, sudah lebih dari cukup alasan.
---
Via kembali dari kamar mandi tepat saat bel istirahat hampir habis, menjatuhkan dirinya ke kursi dengan cara yang menyampaikan bahwa koridor sekolah terlalu ramai untuk seleranya hari ini.
"Kantin nanti?" ia bertanya ke Ara.
"Aku bawa bekal."
Via menatapnya. "Bekal yang mau kamu makan di atap."
Bukan pertanyaan.
Ara tidak menjawab tapi tidak menyangkal.
Via menghela napas dengan cara yang sudah mengandung penerimaan di dalamnya. "Oke." Ia membuka buku catatannya. "Tapi pulang sekolah kamu temenin aku cari makan. Aku belum makan yang enak sejak kemarin."
"Deal."
"Dan kamu bayar setengah."
"Kenapa aku yang bayar setengah?"
"Karena kamu sudah memperumit hidupku dengan drama sekolah selama empat hari ini dan itu bentuk kompensasinya."
Ara menatap Via selama dua detik.
Lalu tertawa.
Bukan tawa kecil yang sopan, bukan yang ia tekan jadi setengah ukuran supaya tidak terlalu mencolok. Tawa yang keluar dengan ukuran aslinya, yang mengisi bangku dan meja dan sudut kecil kelas XI-A di mana dua orang sudah duduk bersama cukup lama untuk tahu bahwa persahabatan yang sesungguhnya adalah yang bisa membuatmu tertawa ketika semuanya sedang rumit.
Via menatapnya dengan ekspresi pura-pura kesal yang tidak menyembunyikan sudut bibirnya yang bergerak ke atas.
"Setuju," Ara berkata ketika tawanya mereda. "Aku bayar setengah."
"Bijak."
Guru jam ketiga masuk.
Pelajaran dimulai.
Dan Ara duduk di bangkunya, buku terbuka, pena di tangan, dengan satu pertanyaan kecil yang masih ada di halaman kemarin di buku catatannya yang tertutup.
*Apa ini namanya?*
Belum ada jawabannya.
Tapi untuk pertama kalinya, ketiadaan jawaban itu tidak terasa menakutkan.
Terasa lebih seperti sesuatu yang sedang dalam perjalanan menuju dirinya, pelan tapi pasti, seperti langit yang berubah warna sebelum matahari terbit. Tidak bisa dipercepat, tidak perlu dipercepat.
Hanya perlu ditunggu.
Dengan sabar.
Dan mungkin dengan beberapa kotak susu dan es krim stroberi dan percakapan di atap yang tidak pernah direncanakan tapi selalu berakhir lebih panjang dari yang dimulai.
Ara membuka buku catatannya ke halaman baru.
Menulis tanggal di pojok kiri atas.
Dan mulai mencatat.