"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Provokasi Gathan
Erena, dengan instingnya yang tajam sebagai wanita Manipulatif, langsung menyadari perubahan mikrosekon pada rahang Azeus saat menoleh ke arah lobi. Ia tahu wanita itu adalah alasan Azeus gila sebulan ini. Tanpa membuang kesempatan, Erena sengaja berjalan lebih dekat, hingga bahunya bersentuhan dengan lengan jas Azeus, sambil membisikkan jadwal rapat dengan nada yang sangat akrab di telinga Azeus. Ia ingin menunjukkan pada Aluna bahwa di dunia profesional ini, dialah yang berkuasa di samping sang CEO.
Aluna melihat pemandangan itu dengan mata yang memanas. Ia segera berbalik, meninggalkan kemegahan Azeus Tower dengan dada yang kian sesak. Sesampainya di apartemen, Aluna terduduk lemas di lantai.
"Cukup. Aku pasrah," bisiknya parau. Ia memutuskan untuk tidak lagi mengejar atau mempedulikan status hubungannya yang membingungkan itu.
Keesokan harinya, Aluna mencoba mengubur perasaannya di balik buku-buku tebal medis.
Di koridor fakultas yang sibuk, ia berpapasan dengan Gathan.
Note: Di usia 25 tahun ini, Gathan sudah melewati masa Koas (Dokter Muda) yang melelahkan. Sekarang dia sudah bergelar Dokter Umum (dr.) dan sedang menjalani masa Internsip atau persiapan mengambil Spesialis Bedah.
Gathan berdiri di dekat papan pengumuman, masih dengan jas putih khas dokter yang tersampir rapi di bahunya. Matanya yang sedingin es menangkap wajah pucat Aluna.
"Kamu pucat. Belum sarapan atau tekanan darahmu rendah?" tanya Gathan tanpa basa-basi, langsung pada diagnosa medis.
Aluna hanya tersenyum getir.
"Cuma kurang tidur, Kak Gathan."
Gathan menutup buku catatannya, menatap Aluna lekat-lekat. Sebagai orang yang tinggal di Apartemen Elit yang sama, dia tahu Azeus belum muncul lagi di sana.
"Azeus lagi? Pria itu memang spesialis pembuat masalah."
"Aku sudah nggak peduli, Kak," sahut Aluna lirih.
Gathan hanya diam, namun ia merogoh saku jasnya dan memberikan sebuah cokelat batangan kepada Aluna.
"Makan ini. Glukosa bagus untuk otak yang stres. Jangan sampai kamu pingsan di tengah praktikum anatomi nanti."
Sikap Gathan yang cuek tapi perhatian itu entah mengapa membuat Aluna merasa sedikit lebih baik. Di saat Azeus sedang sibuk dengan dunianya yang penuh intrik, Gathan tetap menjadi Es Batu yang stabil dan bisa diandalkan.
...
Aluna menghela napas panjang saat berpapasan dengan mahasiswa laki-laki yang tempo hari menjadi korban amukan Azeus. Wajah pria itu masih menyisakan sedikit bekas lebam kebiruan di rahangnya. Dengan perasaan sangat bersalah, Aluna menunduk sedalam mungkin.
"Maaf... Maafkan Kak Azeus ya. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin," ucap Aluna dengan suara bergetar.
Pria itu hanya tersenyum, meski tampak sedikit kaku.
"Nggak apa-apa, Aluna. Aku tahu dia cuma terlalu... protektif. Tapi maaf, aku duluan ya, ada kelas." Ia segera melangkah pergi dengan terburu-buru, seolah bayangan kepalan tangan Azeus masih menghantuinya jika ia berlama-lama di dekat Aluna.
Aluna kini duduk di bangku taman kampus, perlahan membuka bungkus cokelat pemberian Gathan. Di sampingnya, dr. Gathan berdiri bersandar di pilar, menatap Aluna yang sedang mengunyah cokelat dengan pipi yang sedikit menggembung pemandangan yang sangat langka dan manis.
Entah setan apa yang merasuki Gathan yang biasanya dingin, ia tiba-tiba merogoh ponselnya. Dengan gerakan cepat dan tanpa ekspresi, Gathan memotret Aluna dari samping. Cahaya matahari pagi yang menerpa wajah cantik Aluna membuat foto itu terlihat sangat estetik.
Klik.
Tanpa teks panjang, Gathan langsung mengirim foto itu ke nomor WhatsApp Azeus.
Di Azeus Tower, ponsel Azeus bergetar di atas meja rapat yang sedang membahas Laporan Laba Rugi. Azeus melirik layar, dan sedetik kemudian matanya hampir keluar dari tempatnya.
"Gathan bajingan..." desis Azeus pelan, rahangnya mengeras.
Darah Azeus mendidih melihat Gathan bisa berduaan dengan nyawanya di saat ia sendiri sedang disekap oleh tumpukan dokumen busuk ini. Ada rasa cemburu yang membakar, tapi jauh di lubuk hatinya, ia yakin Gathan bukan pengkhianat. Gathan hanya sedang memamerkan kemenangannya karena bisa menghirup udara yang sama dengan Aluna.
"Sial! Kenapa dulu gue nggak ambil kedokteran aja sih?! Biar bisa satu profesi sama dia, pakai jas putih bareng, koas bareng".. batin Azeus frustrasi. Ia membayangkan dirinya menjadi dokter bedah paling tampan yang selalu mendampingi Aluna di ruang operasi.
Azeus menatap ponselnya dengan ekspresi yang sangat mengerikan, campuran antara marah, gemas, dan iri, sampai-sampai ia tidak sadar kalau suasana di ruangan itu mendadak sunyi.
Irwan yang menyadari bos mudanya kembali kumat di tengah jam kerja, langsung berdeham keras. Ia melangkah mendekati kursi Azeus dan berbisik tepat di telinganya.
"Den Azeus, tolong simpan ponselnya. Fokus pada grafik di depan Anda. Ingat pesan Ayah Anda, profesionalisme adalah kunci agar Nona Aluna tetap berada di apartemen itu," peringat Irwan dengan nada dingin dan tanpa ampun.
Azeus yang sedang berada di bawah pengawasan ketat Irwan hanya bisa menekan layar ponselnya dengan geram. Tanpa kata-kata, ia mengirimkan rentetan emotikon wajah merah marah kepada Gathan. Napasnya memburu, rahangnya mengeras menahan cemburu yang meledak, namun ia tak bisa mengetik ancaman panjang karena mata elang Irwan terus mengintai di balik pundaknya.
Azeus menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan hasratnya untuk melempar ponsel itu ke wajah Irwan. Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku jas dengan gerakan kasar, kembali menatap layar proyektor dengan tatapan yang seolah ingin memakan seluruh data angka di sana.
^^^^
Di taman fakultas, Gathan yang melihat balasan singkat namun penuh emosi dari Azeus itu mendadak tertawa ngakak. Suara tawa yang berat dan renyah itu meledak, memecah keheningan di sekitar mereka.
Aluna tersentak. Ia menghentikan kunyahan cokelatnya dan menoleh dengan wajah polos. Matanya mengerjap-ngerjap tidak percaya.
"Kak Gathan... ketawa?" gumam Aluna takjub. Ini adalah pemandangan langka, melihat si Es Batu bisa tertawa lepas tepat di depan matanya.
Gathan yang menyadari dirinya lepas kendali langsung berusaha kembali ke ekspresi datar andalannya. Ia berdeham, namun sudut bibirnya masih kedutan menahan senyum. Melihat wajah Aluna yang masih belepotan cokelat dan menatapnya dengan bingung, Gathan kembali jahil. Ia mengangkat ponselnya dan memotret Aluna lagi.
Klik!
Tertangkaplah wajah Aluna yang sedang melongo menatap ke arah kamera.
"Kak! Hapus nggak!" Aluna mulai curiga. Ia sadar Gathan sedang menjadikannya bahan lelucon untuk dikirim ke Azeus. Aluna segera bangkit dan mendekat, berusaha merebut ponsel Gathan.
"Pasti jelek banget fotonya! Kak Gathan mah gitu, hapus ih!"
Gathan malah tertawa lagi sambil menghindar. Ia mulai berlari kecil menjauhi bangku taman, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi agar tidak terjangkau oleh tangan mungil Aluna.
"Nggak. Ini bukti buat si singa di kantor biar dia makin panas," sahut Gathan sambil terus berlari.
"Kak Gathan! Sini nggak ponselnya!" Aluna mengejar Gathan dengan wajah kesal sekaligus gemas, berlari-lari kecil di antara pilar kampus.
Kejadian itu membuat Aluna sejenak melupakan luka di hatinya tentang Azeus dan Erena. Tanpa ia sadari, Gathan sedang mencoba menghiburnya dengan cara yang paling unik, meski di kantor pusat sana, Azeus mungkin sudah hampir meledak melihat notifikasi foto-foto terbaru dari sahabatnya itu..