NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Puing-puing ego.

Hari itu, jagat maya dikejutkan oleh sebuah unggahan video yang langsung memuncaki daftar tren. Elli Kirana, yang biasanya tampil dengan polesan riasan sempurna dan latar belakang kehidupan jetset, muncul di layar ponsel dengan wajah polos tanpa riasan, rambut yang terikat seadanya, dan mata yang bengkak.

Dalam video berdurasi dua menit itu, ia membacakan pernyataan yang terdengar seperti vonis mati bagi reputasi sosialnya. Ia mengakui telah menyebarkan fitnah keji terhadap Nana karena rasa iri dan dengki. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar dipaksakan, namun ia tidak punya pilihan. Somasi dari Aska & Co adalah pedang yang menggantung di lehernya.

"Saya mengakui bahwa semua tuduhan saya terhadap Saudari Nana adalah kebohongan yang saya buat untuk menjatuhkan kehormatannya..."

Nana menonton video itu di meja kantornya. Ia tidak merasa puas atau gembira. Ia hanya merasa lega karena bayang-bayang fitnah itu akhirnya sirna. Namun, ia juga menyadari satu hal: Aska benar. Dunia hukum dan profesionalitas yang dijalani pria itu memang berdarah. Aska tidak menghancurkan Elli dengan otot, melainkan dengan memaksanya menghancurkan dirinya sendiri di depan publik.

"Kejam, tapi efektif," gumam Gani yang ikut mengintip dari balik bahu Nana. "Wanita itu tidak akan bisa menunjukkan wajahnya di acara sosial mana pun setelah ini. Kudengar dia langsung memesan tiket ke luar negeri pagi ini."

Nana mematikan layar ponselnya. "Dia memilih jalannya sendiri, Gani. Sekarang, aku harus fokus pada naskah. Aku tidak mau Bang Aska berpikir aku hanya jago dalam membuat drama."

Pukul 01.00 Dini Hari. Kesibukan di Stellar Komik Studio mencapai puncaknya. Mengingat target rilis yang semakin dekat, Nana dan beberapa tim inti terpaksa lembur. Kebetulan, Aska juga sedang berada di kantornya yang terletak tidak jauh dari sana, menyelesaikan berkas banding untuk kasus korporasi besar.

Sekitar pukul satu pagi, Aska mampir ke studio. Ia beralasan ingin mengambil beberapa dokumen riset fisik yang sempat tertinggal di meja Nana. Saat ia masuk, suasana studio sangat sepi, hanya ada lampu meja Nana dan Gani yang menyala di sudut ruangan.

Nana tampak serius memperbaiki detail ekspresi pada panel utama, sementara Gani duduk di meja sebelahnya, tertidur dengan kepala berbantalkan lengan.

"Masih belum selesai?" suara berat Aska memecah keheningan malam.

Nana tersentak, lalu menoleh dengan mata yang sedikit merah karena kelelahan. "Bang Aska? Kenapa belum pulang?"

"Pengacara tidak punya jam pulang jika berkasnya belum sempurna," jawab Aska singkat. Ia melangkah mendekat, matanya melirik sekilas ke arah Gani yang mendengkur halus, lalu kembali ke layar monitor Nana. "Garis ini terlalu kaku. Kau sedang lelah, sebaiknya berhenti sekarang daripada merusak bab ini."

Nana menghela napas, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sedikit lagi, Bang. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mengejar standar yang Abang inginkan."

Aska terdiam sejenak. Ia melihat betapa kerasnya gadis ini berusaha. Ada rasa tanggung jawab yang bergejolak di dadanya, rasa bersalah karena keluarganya, terutama Tris, telah membuang waktu Nana selama setahun terakhir. Ia merasa harus memastikan Nana tidak gagal kali ini.

Tiba-tiba, ponsel Nana yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Nama "Tris" muncul di layar.

Nana hendak meraihnya, namun ponsel itu terus berdering. Karena tidak ingin suara deringnya mengganggu Gani yang sedang tidur, Nana ragu untuk mengangkatnya.

"Biar aku saja," ujar Aska dingin. Ia menyambar ponsel itu sebelum Nana sempat mencegahnya.

Aska menekan tombol hijau dan mengaktifkan speakerphone. Suara musik kencang dan igauan tidak jelas langsung memenuhi ruangan.

"Nana... Na... angkat... kenapa kau jahat sekali?" suara Tris terdengar sangat mabuk, bicaranya pelo dan tidak beraturan. "Aku di klub... jemput aku... seperti dulu... aku benci Elli... aku mau kamu... Na, mawar putihnya sudah layu... kenapa kau tidak ambil?"

Wajah Nana memucat karena malu dan kesal. Ia menatap Aska yang wajahnya kini tampak sangat datar, namun matanya memancarkan kilat kemarahan yang tertahan.

"Tris," suara Aska memotong racauan itu. Suaranya rendah, tenang, namun sangat mengintimidasi.

Hening sejenak di seberang sana. Tris tampaknya mencoba mencerna suara siapa yang baru saja ia dengar. "Bang ... Bang Aska? Kenapa ponsel Nana di Abang?"

"Dengar baik-baik, pecundang," kata Aska dengan nada yang sangat tajam. "Jika kau menelepon nomor ini lagi, aku akan memastikan Ibu mencoret semua fasilitasmu bulan ini. Kau mabuk di saat orang yang kau sakiti sedang bekerja keras memperbaiki hidupnya? Kau benar-benar sampah."

"Bang... aku cuma mau Nana..."

"Nana tidak ada di sini untukmu. Dia sedang bersamaku, mengurus hal-hal yang jauh lebih penting daripada kegalauanmu yang tidak berguna. Pergi pulang atau aku akan mengirim orang untuk menyeretmu dari klub itu."

Klik.

Aska mematikan telepon dan meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan dentuman kecil. Ia menatap Nana yang masih terpaku.

"Maaf, Bang... aku tidak tahu dia akan menelepon selarut ini," bisik Nana.

Aska menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan tangan. "Jangan meminta maaf atas kesalahan orang lain. Itu kebiasaan burukmu yang harus dihilangkan jika ingin sejajar denganku."

Aska melirik jam tangannya. "Matikan monitor. Aku akan mengantarmu pulang. Kau tidak akan bisa menggambar dengan benar setelah mendengar gangguan dari adikku itu."

"Tapi Gani—"

"Biarkan dia tidur di sana. Itu risiko pekerjaan," potong Aska tidak sabar.

Nana menurut. Ia membereskan barang-barangnya dengan cepat. Saat mereka berjalan menuju lift, Nana berjalan sedikit di belakang Aska, menatap punggung tegap pria itu. Kekagumannya semakin berlipat. Aska selalu tahu cara memutus rantai yang mengikatnya pada masa lalu, meski caranya selalu kasar dan dingin.

Di dalam mobil, suasana sangat sunyi. Nana menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota Jakarta yang masih terang.

"Bang," panggil Nana pelan.

"Apa?"

"Apa Abang tidak lelah mengurusi kekacauan yang kubuat. Maksudku, masalah fitnah kemarin, lalu sekarang Tris."

Aska tidak menoleh, matanya tetap fokus pada jalanan. "Aku melakukannya karena aku benci ketidakteraturan. Tris adalah ketidakteraturan dalam keluargaku, dan fitnah itu adalah ketidakteraturan dalam nama baik firmaku. Kau hanya kebetulan berada di tengah-tengahnya."

Nana tersenyum tipis. Jawaban yang sangat "Aska". "Tetap saja, terima kasih. Suatu hari nanti, aku akan berdiri di posisi di mana aku yang akan membantumu membereskan 'ketidakteraturan' itu."

Aska memberikan seringai tipis yang hampir tidak terlihat. "Ambisi yang bagus. Tapi sekarang, tidurlah. Kau terlihat seperti mayat hidup."

Nana menyandarkan kepalanya ke jok mobil yang nyaman. Dalam kantuknya, ia berjanji pada diri sendiri. Langkahnya mungkin masih jauh di belakang Aska, tapi setiap hari, jarak itu semakin memendek. Ia tidak akan berhenti sampai Aska benar-benar melihatnya sebagai seorang wanita yang tangguh, bukan lagi sekadar tanggung jawab yang merepotkan.

Sementara itu, di sebuah klub malam, Tris duduk sendirian di pojok ruangan dengan botol minuman di tangan. Kata-kata Aska terus terngiang. "Dia sedang bersamaku." Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada pukulan fisik mana pun. Tris menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan Nana, tapi ia juga sedang kehilangan rasa hormat dari satu-satunya orang yang ia takuti di dunia ini.

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!