"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak sudi bercerai
"Jadi bener, paman kan yang ngutang bukan ayah?" ujar Nila membulatkan mata, muak mendengar kebohongan pamannya.
Ajis si sulung kakak ayah Nila, ketika ibu Nila masih hidup hubungan antar keluarga mereka dibilang cukup renggang lalu membaik semenjak ibunya meninggal. Mungkin karena hanya dia keluarga yang ayah Nila miliki,
Namun perlahan Nila menyadari apa yang dulu membuat keluarga mereka tidak dekat, yaitu sifat licik pamannya.
"Sama aja mau siapapun yang ngutang. Uangnya juga aku pakai buat ngerawat ayahmu!" pekik Ajis membela diri, suaranya mengeras seakan tak sudi dihakimi.
"Ya tapi, ga mungkin dong habis 500 juta cuma buat bantu ayah. Sisanya pasti buat kebutuhan keluarga paman sendiri kan?" mengangkat alis, Nila bertanya dengan raut curiga. Jangan anggap dia akan diam begitu saja,
"Kenapa sih harus ribut, ga enak kedengeran tetangga. Nanti semua tahu kalau kita kelilit utang.." cibir Raisa sedari tadi diam menonton keributan yang terjadi.
Gadis itu menoleh ke arah Nila, "Kak Nila, harus banget yah meributkan siapa yang ngutang? buat apa aja?"
"Harusnya kakak ngerti dong, kita kan keluarga. Gausah perhitungan, habisnya banyakan siapa... Yang namanya keluarga harus saling membantu."
"Betul, dengar itu? Belajarlah dari adikmu. Bersikaplah dewasa." saran Ajis merendahkan suara, mulai kembali tenang.
Kakinya beranjak pergi mengambil selembar kertas. "Aku butuh tanda tanganmu disini,"
"Nggak!" tegas Nila bersungguh sungguh, dengan tatapan sinis memandang bergantian ayah dan anak tadi.
Nila tersenyum sepat, menatap gadis yang berdiri angkuh di depannya. "Kamu udah pinter ya bisa ngomong gitu?"
"Karena ini masalah keluarga, jadi ga boleh perhitungan. Iya kan? Kalau gitu, kenapa ga jual saja rumah paman---kenapa harus rumah ayah yang dijual." tambahnya sambil mencerca,
Ajis menggertakkan gigi, dibuat geram oleh ucapan Nila. "Dasar keras kepala,"
Kakinya berjalan menghampiri, sigap menarik lengan Nila dengan kasar. "Ayo tanda tangan,"
Tak diam saja, Nila menggeliat kuat berusaha melepaskan diri. "Ga mau, aku ga mau tanda tangan."
Melihat ayahnya kesusahan Raisa tak diam saja, langsung mendekat ikut membantu memegangi tubuh Nila agar tak berkutik. "Cuma tanda tangan apa susahnya sih?"
"Enggak! Aku gak mau!" jerit Nila mencoba berontak, mengguncangkan tubuhnya.
Terus saja dia jejalkan sebuah pena ke tangan Nila, mengarahkan pada secarik kertas yang disandarkan pada meja rias.
"Nggak!" seru Nila membuat tangannya kaku agar sulit untuk gerakkan. "Aku ga mau rumah ini dijual!"
"Gausah protes! Toh rumah ini terlalu besar buat kamu. Nanti kamu tinggal di rumah paman saja!" bujuknya tak bergeming.
"Lepaskan dia!"
Ketiganya menoleh ke sisi pintu, terkejut mendengar suara yang memanggil nama Nila.
Bagaimana mereka bisa tahu dan sejak kapan mereka membuntutinya? Nila bertanya-tanya akan kedatangan dua pria yang tak pernah mereka sangka. "Elang?"
"Lepaskan atau aku akan panggil polisi. Kalian bisa dipenjara karena kasus kekerasan dan pemerasan." tambah Herman bersikap serius, menunjukkan layar ponsel yang telah merekam kejadian.
Sepertinya dia sempat menyiapkan barang bukti untuk memojokkan mereka. Ajis pun gugup hingga tak sadar telah melonggarkan cengkramannya,
Kesempatan bagus! Gadis itu bersentak melepaskan diri kemudian berlari menghampiri Elang.
"Siapa kalian? Kenapa ikut campur," ujar Raisa mengernyit.
Penampilan Elang yang terlihat mencolok seketika membuat Ajis mengerti, ternyata dia punya nyali datang kesana. "Hhh! Cuma pria buta..."
"Jadi kamu mengajak suamimu kesini?" tanya Ajis menatap remeh.
"Gawat, semoga paman ga ngomong kasar. Aku ga mau Elang sakit hati," benak Nila, tanpa sadar meremas kuat ujung jari yang digandengnya.
Elang mengerutkan alis, berpikir kalau Nila saat ini pasti tengah ketakutan. "Cecunguk sialan!"
"Begini saja, dari pada kita ribut---gimana kalau kita bicara baik-baik? Paman juga minta maaf tadi sempat kasar sama kamu." ujarnya bertindak sok ramah demi membujuk Nila,
Entah apa rencananya kali ini, tapi sepertinya mereka berusaha tenang menyimak.
"Nila, dengerin baik-baik. Paman ga akan ngejual rumah kamu! Asalkan---kalian berdua bercerai." ungkap Ajis dengan penuh yakin.
Asalkan Nila menurut dan kembali lajang, maka dia bisa membujuk tuan tanah lalu memaksa Nila agar mau diperistri. Sungguh ide bagus bukan?
"Apa maksud paman? Apa hubungannya pernikahanku sama semua ini?" ketus Nila menaruh curiga, mana mungkin dia setuju.
"Ga ada hubungannya. Paman cuma ga mau kamu sia-sia menikahi pria buta pengangguran sepertinya!"
"Ayahmu pasti sedih ngelihat putri satu-satunya banting tulang cuma buat ngurus pria buta. Soal hutang---biar rumah paman saja yang dijual,"
"Ayah!" lugas Raisa melotot,
"Diam. Dia adalah kakakmu, kita harus membantunya---hanya kita keluarga yang dia punya." jawab Ajis berdusta agar semakin terlihat meyakinkan.
"Apa ayah sudah gila? Ngapain coba! Harusnya biarin aja si bodoh ini hidup dengan suami butanya." pikir Raisa, terlukis raut penuh tanda tanya di wajahnya. Tak percaya kalau Ajis rela berbuat semacam itu,
"Gimana Nila? Kamu mau kan cerai dengannya?"
Elang terdiam, cukup terkesan melihat sandiwara tersebut. Jadi dia ingin berlagak baik? Pasti ada rencana licik.
"Pilihan yang sulit. Apa yang akan kamu pilih?" gumam Elang dalam hati, tampak penasaran menanti jawaban Nila.
"Pertanyaan bodoh apa ini?" gerutunya lirih, mengepalkan tangan, pandangan Nila tertunduk kesal.
"Jual saja." lanjut Nila menatap sinis,
Jelas dia tahu kalau pamannya tak mungkin mendadak baik. Lagipula hanya kebohongan yang bisa keluar dari mulut pamannya,
"Apa?!" Ajis yang terkejut berusaha memastikan kalimat tadi.
"Aku bilang jual saja. Aku akan tanda tangan," sahutnya tanpa ragu,
Dia berjalan maju, dengan cepat menorehkan goresan tinta pada dokumen tadi. "Maafkan aku ayah. Pria itu lebih penting dari rumah ini! Aku harap ayah mengerti.."
"Sudah!" tegas Nila berdiri tegap menghadap ke arah pria yang terpaku mendengar keputusannya.
"Mulai sekarang, aku sudah ga ada urusan lagi sama keluarga ini. Aku akan bawa semua barang-barang milik ayah dan ibuku,"
Nila melangkah ke tengah dua pria yang telah menunggunya. "Pak Herman, mohon bantuannya.." menunduk singkat.
"Tentu saja, serahkan kepadaku. Aku akan bawa semua kardus-kardus ini," sahutnya sigap menanggapi, tampak terkejut akan keputusan Nila.
Dengan ekspresi datar Nila menggandeng Elang, bersikap tak acuh sebagai pertanda bahwa dirinya memang serius membuang hubungan keluarga di antara mereka.
"Ayo kita pulang." Nila menuntun Elang keluar rumah, sampai ke dalam mobil yang terparkir rapi di halaman.
Sedangkan Herman membuntuti dari belakang, bersiap membuka bagasi mobil.
"Barang-barangnya cukup banyak, ga akan muat kalo dimasukin semua."
"Aku akan memanggil orang untuk membawa sisanya, bagaimana? Gapapa kan." ujar Herman memberi saran.
Nila menggangguk memahami, mana mungkin dia mempersulit. "Iya. Kalau gitu saya akan kembali ke kantor,"
"Bareng kami aja. Kebetulan, aku juga ada rapat! Motormu nanti biar dibawa sama bawahanku," bujuk Herman penuh semangat,
Meski begitu dia adalah istri atasannya. Mana mungkin diacuhkan begitu saja?
"Masuklah. Aku bisa menunggu di perusahaan sampai jam pulang," tambah Elang ikut meyakinkan.
Nila termenung mendengar bujukan tadi, sepertinya tak bisa menolak. "Kalau gitu, biar saya bantu---"
"Ga usah, tinggal 1 kardus lagi. Sisanya diangkut nanti," ucap Herman menggeleng cepat sebelum kembali ke dalam rumah.
"Tunggu saja di dalam." pinta Elang menatap punggung gadis yang sibuk menunggu di luar,
Nila beranjak menempati kursi, tubuhnya bersandar dengan pandangan menatap ke depan.
Entah kenapa wajahnya yang terlihat murung malah mengusik batin Elang. "Padahal kita bisa berpura-pura cerai untuk membohongi pamannya."