Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan yang Menyiksa
Ye Chenxu memejamkan mata. Dengan sisa kehendak yang hampir padam, ia memaksa jiwanya untuk melakukan satu hal yang paling berbahaya, Sutra Kehampaan Awal.
Ia tidak memutarnya dengan perlahan sebagaimana mestinya, sebab dirinya tidak punya waktu untuk itu.
Ye Chenxu memaksanya berputar dengan liar. Dalam sekejap, energi kacau dari sekeliling—energi yang biasanya merusak—diserap masuk ke dalam tubuhnya seperti arus banjir yang menjebol bendungan.
“Uhukk!”
Darah segar menyembur dari sudut bibirnya, membasahi dadanya yang sudah compang-camping.
Rasanya seolah-olah menelan lava cair. Namun ia tidak berhenti.
Ye Chenxu menelan rasa sakit itu, mengubah penderitaan menjadi bahan bakar untuk mempertahankan percikan kesadarannya.
Hari pertama adalah siksaan yang tak terlukiskan. Tulang-tulangnya terdengar retak secara internal saat energi baru yang kasar mencoba mencari ruang.
Otot-ototnya tercabik, mengalami siklus kehancuran dan perbaikan yang terjadi puluhan kali dalam satu jam.
Meridiannya nyaris runtuh berkali-kali, namun setiap kali hampir hancur, Sutra Kehampaan menarik fragmen-fragmen itu kembali dan menyatukannya lebih kuat dari sebelumnya.
Hari kedua, perubahan fisik mulai terlihat. Kulitnya yang pucat perlahan mengelupas, menyingkap lapisan kulit baru yang memiliki kilau kelabu samar.
Rasa sakit yang tajam mulai berubah menjadi mati rasa yang dingin. Tubuhnya mulai beradaptasi dengan lingkungan yang mematikan ini, bukan lagi sebagai penyusup, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kehampaan.
Hari ketiga, keajaiban kecil terjadi. Ye Chenxu mampu menegakkan punggungnya. Ia duduk bersila di tengah genangan darahnya yang sudah mengering dan mulai menyerap kehampaan langsung dari tanah melalui pori-porinya.
Setiap inci tubuhnya diremukkan lalu dibentuk ulang. Di tempat yang terkutuk ini, tidak ada pil pemulihan yang mewah, juga tidak ada obat herbal yang menenangkan.
Hanya ada satu hal yang menjaganya tetap tegak, kehendak murni untuk bertahan hidup dan membalas dendam.
Namun, kemauan saja tidak cukup untuk mengisi perut yang kosong dan energi yang menipis.
Saat energi vitalnya mencapai titik nadir, Ye Chenxu harus bergerak.
Siluman pertama yang ia hadapi adalah Lintah Merah. Makhluk mengerikan bertubuh transparan sebesar lengan manusia, yang hidup dengan menyedot energi vital dari makhluk hidup yang sekarat.
Siluman itu tidak memiliki mata, namun bisa merasakan panas tubuh dari kejauhan.
Pertempuran itu berlangsung dengan brutal. Ye Chenxu yang masih dalam kondisi terluka parah harus bergulat di atas tanah berlumpur, menusukkan jemarinya langsung ke tubuh kenyal lintah tersebut.
Dia kehilangan banyak darah, namun saat berhasil mencengkeram inti siluman merah di dalam tubuh makhluk itu, tubuhnya berguncang hebat.
Energi liar dari Lintah Merah meledak di dalam pembuluh darahnya. Namun, di tengah guncangan itu, suara dentum bergema di dalam batinnya.
Satu lagi meridian terbuka.
Energi kehampaan kini mengalir lebih lancar, membawa rasa hangat yang aneh ke anggota tubuhnya yang kaku. Ia memakan daging siluman itu dengan tatapan kosong dan mengunyahnya demi kelangsungan hidup.
Hari-hari berlalu tanpa hitungan yang pasti. Di Hutan Terlarang, waktu terasa melingkar. Tidak ada suara manusia yang memanggil namanya.
Yang ada hanyalah siklus abadi antara pembunuhan siluman dan meditasi mendalam.
Kesunyian mulai merayap ke dalam pikirannya seperti kabut beracun. Kadang, ia tertawa sendiri di bawah pohon mati, menertawakan takdirnya yang begitu ironis.
Kadang, ia terdiam berjam-jam, mematung seperti patung batu hingga debu hutan menutupi bahunya.
Di ambang kegilaan dan hilangnya jati diri, suara Dewa Kehampaan selalu menuntunnya kembali ke jalan yang dingin.
“Jangan takut pada sunyi, Chenxu. Sunyi adalah rumahmu yang sebenarnya. Di dalam kehampaan, tidak ada kebohongan dan tidak ada pengkhianatan. Terimalah dia sebagai bagian dari jiwamu.”
Lalu pada malam ketujuh belas, sebuah fenomena aneh terjadi.
Bulan hitam menggantung di langit, dikelilingi oleh awan yang berputar seperti pusaran air. Badai kehampaan meletus di dalam hutan, meratakan pohon-pohon kecil dan menerbangkan bebatuan.
Ye Chenxu berdiri di tengah badai itu dengan tangan terbuka lebar.
Tubuhnya menggigil hebat, uap kelabu keluar dari setiap pori-porinya.
Sebuah jeritan terpendam yang sarat dengan beban penderitaan selama dua kehidupan akhirnya lolos dari bibirnya.
BOMM!!!
Meridian keempat terbuka dengan paksa!
Sebuah aura berdenyut keluar dari tubuhnya, menciptakan gelombang kejut yang membuat hutan bergetar.
Siluman-siluman dalam radius ratusan langkah yang biasanya ganas, kini melarikan diri dengan ketakutan yang murni.
Saat membuka mata setelah terobosan tersebut, dunia tampak benar-benar berbeda. Ia tidak lagi melihat hutan sebagai kumpulan pohon dan batu.
Ye Chenxu bisa merasakan aliran energi tanah yang berdenyut di bawah kakinya, bisa mendengar denyut kehidupan kecil di balik kulit pohon yang jauh, bahkan bisa melihat jejak-jejak kehampaan—benang-benang hitam tipis—yang menjahit realitas di udara.
Tetapi bersamaan dengan kekuatan itu, dia merasakan sesuatu yang hilang.
Empati manusianya mulai berkurang. Perasaan hangat yang biasanya ia miliki terhadap kenangan-kenangan kecil mulai tumpul.
Pemuda kurus itu menyadari dengan kengerian yang tenang, bahwa dirinya mulai meninggalkan sisi kemanusiaannya.
Dalam salah satu meditasi terdalamnya, di tengah kehampaan yang sempurna, sebuah bayangan ibunya muncul.
Wajah itu tampak terbelenggu oleh rantai di sebuah ruang bawah tanah yang gelap. Ibunya tersenyum lemah ke arahnya, namun air mata mengalir di pipinya yang cekung.
Bayangan itu seolah berbisik dan memanggil namanya dengan suara yang paling lembut di dunia.
Hatinya yang mulai membeku tiba-tiba bergetar hebat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ye Chenxu merasakan takut.
Bukan takut mati, melainkan takut kehilangan alasan mengapa ia ingin menjadi kuat.
Ye Chenxu takut jika terus berjalan di jalur kehampaan ini, suatu hari ia akan menatap ibunya dan tidak merasakan apa pun.
Di tengah kesunyian Hutan Terlarang, Ye Chenxu perlahan turun dari posisi meditasinya. Ia berlutut di atas tanah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
“Aku akan kembali, Ibu,” bisiknya ke dalam tanah. “Aku akan menjadi cukup kuat untuk membakar dunia yang menyakitimu. Aku akan membalas setiap tetes air mata yang kau jatuhkan.”
Ia berhenti sejenak dan mengepalkan tangannya hingga kuku menusuk telapak tangannya.
“Namun ... aku bersumpah, aku tidak akan kehilangan diriku sepenuhnya. Kehampaan boleh menjadi senjataku, tapi ia tidak akan pernah menjadi tuanku.”
Kehampaan di sekelilingnya seolah berdenyut pelan, menanggapi sumpahnya. Seolah-olah hutan itu sendiri mengakui keberadaan sebuah kehendak yang mampu menjinakkan kegelapan.
Di sebuah gua kecil di tengah Hutan Terlarang, seorang pemuda duduk bersila. Tubuhnya yang penuh bekas luka kini terlihat lebih tegap, dibalut oleh energi kelabu yang stabil dan misterius.
Matanya, saat terbuka, menunjukkan kedalaman yang tenang, seperti sumur yang tak berdasar namun memiliki dasar yang murni.
Fondasi kultivasinya kini telah mencapai Pengolah Tubuh Tahap Menengah Awal dengan empat meridian terbuka.
Secara angka, itu mungkin terlihat biasa di dunia luar. Namun kualitas energi yang mengalir di dalamnya, kekuatan fisik yang ditempa di neraka kehampaan, dan mentalitas yang telah melewati ambang kegilaan, membuatnya melampaui kultivator biasa di tahap lanjut sekalipun.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭