Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Axlyn menatap isi kulkas dengan ekspresi bingung. “Hanya apel ini yang bisa aku makan. Jujur saja, aku tidak pandai memasak apapun. Jangankan makanan, masak air saja kadang gosong karena suka lupa.”
Kay tersenyum. “Baiklah. Aku akan buat sesuatu untuk kita.”
“Kita?” Axlyn menyipitkan mata.
“Iya. Aku datang ke dapur juga karena kelaparan. Ditambah aku melewatkan makan malam,” jawabnya ringan.
Beberapa menit kemudian, dapur yang tadinya mencekam berubah hangat. Kay sibuk membuat roti panggang isi keju dan cokelat, sementara Axlyn duduk di kursi sambil mengunyah sisa apelnya dengan bahagia.
“Sayang, apa kalian berdua melihatnya? Papah sedang memasakkan sesuatu untuk kita. Apakah kalian senang? Meski Papah kalian tidak mengetahui bahwa kalian ada di dalam perut Mamah saat ini, setidaknya dia masih perhatian kepada kita, bukan?”
Cahaya lampu kini menyala terang, mengusir semua bayangan menyeramkan. Kay melirik Axlyn yang tengah makan dengan wajah puas. Ada perasaan hangat yang tidak bisa Kay jelaskan, jika berada di dekat Axlyn.
“Lagi? Perasaan ini muncul lagi setiap aku berada di dekatnya. Perasaan nyaman dan hangat yang tak bisa aku dapatkan belakangan ini. Sepertinya aku benar-benar harus mencari tahu semua tentangmu, Axlyn!” Kecurigaan Kay kini semakin kuat.
“Untuk lain kali,” kata Kay santai, “kalau nanti kamu berdiri lagi tengah malam pakai baju putih, tolong sisir rambut dulu. Jangan sampai seisi Mansion ini menganggapmu sebagai sosok penampakan setan.”
Axlyn mencebik. “Kalau kau teriak lagi, maka seisi Mansion ini akan tahu bahwa Tuan Kayvaran adalah seorang penakut.”
Kay kembali tertawa, ia tidak menyangka akan senyaman ini setiap berada di dekat Axlyn. Pusing kepalanya, mual dan bahkan nafsu makan yang belakangan ini hilang seolah kembali begitu saja. Untuk sekian lamanya, Kay akhirnya bisa menikmati lagi makanannya.
Dan di tengah malam yang awalnya menegangkan itu, dapur tersebut dipenuhi suara cekikikan kecil, aroma roti panggang, dan rasa hangat yang tak mungkin dimiliki makhluk halus mana pun. Karena yang benar-benar hadir di sana bukanlah hantu. Melainkan seorang calon ibu yang sangat lapar dan seorang calon ayah yang sedikit penakut, tapi sepenuh hati perhatian meski kenyataan itu masih menjadi rahasia yang Axlyn simpan dengan rapat.
Selesai dengan makanan masing-masing, baik Kay maupun Axlyn pun memutuskan untuk kembali ke kamar mereka. Kay bahkan bersikeras mengantarnya sampai di depan pintu kamar, seolah ia tidak ingin melepas kebersamaan ini meski hanya sedikit lebih lama.
“Terima kasih sudah mengantarku, meski sebenarnya kau tidak perlu melakukannya,” kata Axlyn dengan hati berbunga-bunga.
“Tidak masalah, tidurlah yang nyenyak. Selamat malam, Axlyn.” Ucap Kay sebelum berbalik pergi menuju ke kamarnya sendiri.
“Mmm, selamat malam juga untukmu… Kay!” balas Axlyn, meski nama pada kalimat itu hampir tidak terdengar.
...****************...
Pagi itu datang dengan cahaya yang terlalu tenang. Langit membentang biru pucat di atas kota, burung-burung melintas rendah, dan rumah megah keluarga itu kembali dipenuhi rutinitas seperti biasanya seolah apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi yang sengaja dikubur dalam diam.
Di ruang makan, Kay sudah duduk rapi dengan setelan jas hitamnya. Wajahnya tenang, nyaris dingin, tak menyisakan jejak gejolak yang sempat menggetarkan udara di antara mereka beberapa jam lalu. Disisinya sudah ada Hezly, sedangkan di hadapannya ada Spencer dan Noah untuk sarapan bersama.
Meja makan panjang telah dipenuhi hidangan terbaik seperti roti panggang mentega impor, telur setengah matang dengan taburan truffle, sup krim hangat, hingga jus segar yang biasanya selalu menjadi pilihannya. Semuanya tersusun sempurna, seperti disiplin yang selama ini ia pegang dalam hidupnya.
Namun begitu aroma makanan itu mencapai inderanya… perutnya langsung bergejolak. Kay menegang di kursinya. Rahangnya mengeras. Tangan yang memegang cangkir kopi berhenti di udara. Aroma mentega terasa terlalu tajam. Telur itu… amis. Sup krim… membuat tenggorokannya naik turun menahan mual.
“Sial! Lagi-lagi morning sickness ini. Sampai kapan aku harus mengalaminya, baru semalam sudah sedikit membaik. Kenapa sekarang mulai lagi ‘sih?” umpat Kay dalam hati.
“Pelayan,” suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Ya, Tuan?”
“Ganti.”
“Yang mana, Tuan?”
“…Semua.”
Pelayan itu berkedip tak percaya. Jarang sekali ia melihat Kay menolak makanan. Apalagi semuanya sekaligus. Tidak hanya para pelayan, Spencer dan Hezlyn pun kini menatapnya dengan tatapan bingung. Berbeda dengan Noah yang sudah terbiasa menghadapi gejala kehamilan yang Kay alami karena kehamilan wanita itu yang sekarang entah berada dimana.
Kejadian itu pun tidak luput dari perhatian Axlyn yang duduk di meja lain bersama rekan pengawalnya. Sebab Axlyn tahu bahwa Kay tidak pernah pilih-pilih soal makanan, tidak juga ada alergi apapun. Namun, Axlyn tetap memilih diam dan mengamati apa yang terjadi selanjutnya.
“Apa dia sedang sakit? Padahal semalam dia terlihat baik-baik saja. Makannya pun sangat lahap?” Axlyn sendiri hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.
Belum sempat perintah dijalankan, Kay tiba-tiba menutup mulutnya dan berdiri cepat. Kursinya bergeser tajam di atas lantai marmer. Semua orang di ruang makan utama terdiam. Kay memalingkan wajah, napasnya berat. Sensasi mual itu begitu kuat hingga untuk sesaat ia merasa dunia berputar.
“Ada apa?” tanya Spencer sedikit panik dengan kondisi Kay yang seperti itu, pasalnya ia baru pertama kali melihatnya seperti itu.
“Sudah biasa… morning sicknessnya kembali bekerja. Sudah sejak kembali dari Praha dia seperti itu.”
Bukan Kay yang menjawab, melainkan Noah yang sudah terbiasa melihat keadaan Kay belakangan ini. Ia bahkan masih lanjut menikmati sarapannya, seolah tidak terganggu sama sekali dengan mual yang dialami Kay.
“Papah cakit?” tanya Hezlyn polos pada Spencer.
Spencer mengabaikan sikap santai Noah dan beralih kembali menatap Kay. Sebab ia merasa bertanggung jawab dengan kondisi Kay selama di tempatnya. “Kay, apakah perlu memanggil dokter?”
Kay mengangkat tangan, memberi isyarat agar tidak mendekat. Lagi-lagi Kay membenci dan bahkan merasa semain mual dengan gaya rambut Spencer yang masih saja tiodak berubah seperti permintaannya terakhir kali.
Pandangan Kay tanpa sengaja beralih ke sisi lain ruangan. Meja lebih kecil di dekat jendela, tempat para pengawal biasanya makan secara terpisah. Di sana, Axlyn tengah duduk bersama dua rekannya. Ia tidak menyentuh hidangan mewah yang sama. Di hadapannya hanya ada semangkuk bubur hangat sederhana dengan irisan jahe tipis dan sedikit acar segar di sampingnya. Uap tipis naik perlahan.
Bersambung….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌