Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Tak lama kemudian, prosesi akad dimulai. Nadira duduk bersama bridesmaid lain, menahan napas saat Jeffi mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan tegas. Sekali tarikan napas, sah.
Tepuk tangan dan ucapan “sah!” menggema.
Nadira ikut tersenyum lebar. Ada rasa aneh di dadanya—campuran haru, nostalgia masa SMA, dan perasaan bahwa waktu benar-benar berjalan cepat.
Setelah akad, acara resepsi berlangsung hangat. Tamu berdatangan, ucapan selamat mengalir. Della dan Jeffi duduk berdampingan di pelaminan, terlihat serasi dan bahagia.
Di sela-sela acara, Della berbisik pada Nadira saat memberi selamat kepada pengantin baru.
“Eh… nanti jangan kabur dulu ya. Ada lempar bunga”
Nadira langsung mengerutkan dahi.
“Eh, jangan arahkan ke aku ya. Aku belum siap jadi calon berikutnya,” bisiknya setengah panik.
Della tertawa pelan.
“Kita lihat aja nanti”
Menjelang sore, saat matahari mulai meredup, momen itu tiba. Para tamu perempuan yang belum menikah berkumpul di depan pelaminan. Nadira sebenarnya ingin bersembunyi, tapi teman-teman Della menariknya masuk ke barisan.
“Diraaa, sini!” seru salah satu dari mereka.
“Ya ampun…” gumam Nadira.
Della berdiri membelakangi mereka, memegang buket bunga.
“Satu… dua… tiga!”
Buket itu melayang di udara.
Dalam sepersekian detik, Nadira refleks mengangkat tangan dan…
Pluk.
Buket itu jatuh tepat di pelukannya.
Hening sepersekian detik. Lalu sorak sorai meledak.
“WOOO!”
“Dira selanjutnya!”
Wajah Nadira memerah. Ia menatap Della yang tertawa puas di atas pelaminan.
“Kamu sengaja ya?!” teriak Nadira setengah malu, setengah tertawa.
Della hanya mengedipkan mata nakal.
Sorakan belum juga reda ketika beberapa tamu mulai menggoda tanpa ampun.
“Cepet nyusul, Dira!”
“Udah ada calonnya belum nih?”
“Jangan-jangan diam-diam sudah ada!”
Nadira hanya bisa tertawa gugup sambil memeluk buket itu lebih erat, seolah bunga-bunga pastel di tangannya bisa jadi tameng dari semua godaan.
“Aduh… kalian ini ya,” keluhnya setengah malu.
Di atas pelaminan, Della masih tersenyum lebar. Jeffi berdiri di sampingnya, ikut tertawa melihat Nadira jadi pusat perhatian.
Beberapa detik kemudian, MC kembali mengambil alih suasana. Musik mengalun lagi, tamu-tamu perlahan kembali ke meja masing-masing. Keramaian menyebar, tak lagi terpusat pada Nadira.
Namun detak jantungnya belum sepenuhnya tenang.
Ia menunduk, memperhatikan buket itu. Bunganya segar, wangi lembutnya naik ke hidung. Tiba-tiba, ada rasa aneh yang tak bisa ia jelaskan—bukan panik, bukan takut.
Harap.
“Dira…”
Suara itu membuatnya menoleh.
Seorang pria berdiri tak jauh darinya. Tinggi, mengenakan kemeja abu-abu rapi. Wajahnya familiar, tapi Nadira butuh beberapa detik untuk mengenali.
“Arga?” gumamnya pelan.
Arga—teman satu angkatan mereka dulu, yang jarang ikut nongkrong tapi selalu muncul di momen penting. Ia tersenyum kecil, sedikit canggung.
“Selamat ya… eh, maksudnya selamat buat Della,” katanya, lalu tertawa pelan karena salah tingkah.
Nadira ikut tersenyum.
“Iya… akhirnya ya”
Beberapa detik hening. Tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya santai.
“Tadi… kamu dapat buketnya,” ujar Arga, mengangguk ke arah bunga di tangan Nadira.
“Iya. Kayaknya ada yang sengaja ngarahin,” balas Nadira sambil melirik pelaminan.
Arga tertawa kecil.
“Berarti tinggal nunggu waktunya”
Biasanya, kalimat seperti itu akan membuat Nadira defensif. Menghindar. Mengalihkan topik.
Tapi kali ini, ia hanya tersenyum.
“Mungkin,” jawabnya ringan.
Angin sore bertiup pelan, membuat ujung gaunnya bergerak lembut. Musik Sunda kembali terdengar di kejauhan. Della dan Jeffi sedang berfoto bersama keluarga, wajah mereka bersinar dalam cahaya senja.
Nadira menatap pemandangan itu sekali lagi.
Bukan dengan iri.
Bukan dengan rasa tertinggal.
Melainkan dengan kesadaran baru: setiap orang punya waktunya sendiri. Della menemukan jalannya bersama Jeffi. Dan Nadira… tidak perlu terburu-buru mengejar apa pun.
“Dira,” panggil Arga lagi, sedikit lebih berani kali ini.
“Nanti kalau sudah selesai semua… mau ikut kumpul sama teman-teman? Kita rencana nongkrong sebentar”
Nadira menatapnya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Arga memandangnya lebih hangat, lebih terbuka.
Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat buket di tangannya.
“Boleh” jawabnya sambil tersenyum
Arga tersenyum lebih lebar.
Di atas pelaminan, Della yang tanpa sengaja melihat mereka dari jauh hanya mengangkat alis dan berbisik pada Jeffi “Kayaknya buketnya jatuh di tangan yang tepat”
Langit sudah berubah jingga tua ketika acara mulai mereda. Tamu-tamu satu per satu berpamitan, suara musik tak lagi sekeras siang tadi. Lampu-lampu gantung di bawah tenda menyala hangat, menciptakan suasana temaram yang syahdu.
Nadira berdiri di pinggir halaman, masih memegang buket bunga yang kini sedikit layu di ujungnya. Ia baru saja selesai mengobrol dengan Arga dan beberapa teman lama. Tawa mereka masih terngiang di telinganya.
“Eh, jangan lupa kabarin kalau udah jadian ya!” celetuk salah satu teman membuat Nadira memutar mata sambil tertawa.
“Baru aja ketemu setelah sekian lama” balasnya bercanda.
Sebelum benar-benar pulang, Nadira melangkah menuju pelaminan. Della dan Jeffi masih berdiri di sana, meski wajah mereka jelas lelah—lelah yang bahagia.
“Dira…” Della langsung membuka tangan ketika melihatnya mendekat.
Nadira memeluknya erat. Kali ini pelukannya lebih lama.
“Selamat ya Bu Istri” bisik Nadira lembut.
Della tertawa kecil di bahunya.
“Terima kasih sudah ada dari awal sampai akhir”
Nadira mundur sedikit, menatap sahabatnya itu.
“Kamu kelihatan bahagia banget Dell”
“Aku memang bahagia” jawab Della jujur lalu menatap Nadira dengan sorot yang lebih lembut “Dan kamu juga akan bahagia. Dengan cara dan waktumu sendiri”
Kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam.
Jeffi ikut tersenyum.
“Hati-hati di jalan ya Dira”
Nadira mengangguk. “Iya. Kalian istirahat yang cukup ya setelah ini”
Ia melangkah turun dari pelaminan, menoleh sekali lagi. Della melambaikan tangan kecil padanya. Lampu-lampu di belakang pelaminan membuat siluet mereka tampak seperti potongan adegan film yang perlahan memudar.
Jalan kampung malam itu lebih tenang dibanding pagi tadi. Angin membawa sisa aroma masakan dan bunga. Nadira berjalan pelan, sepatu haknya ia tenteng di tangan karena tanah sedikit lembap.
Langit gelap bertabur bintang.
Ia menarik napas panjang.
Hari ini terasa panjang. Penuh emosi. Penuh tawa. Penuh kenangan.
Saat sampai di depan rumah, lampu teras sudah menyala. Dari dalam terdengar suara televisi pelan. Abah duduk di kursi ruang tamu, Mama menyandarkan tubuhnya dengan selimut tipis.
“Udah selesai acaranya?” tanya Mama lembut.
“Iya Ma. Lancar. Sah” jawab Nadira sambil tersenyum.
“Alhamdulillah” gumam Abah.
Nadira masuk ke kamarnya, meletakkan buket bunga di meja kecil dekat jendela. Ia membuka sanggulnya perlahan, membiarkan rambutnya terurai. Wajahnya lelah, tapi matanya berbeda.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap souvenir itu.
Ponselnya bergetar pelan.
Pesan masuk.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap souvenir itu.
Ponselnya bergetar pelan.
Pesan masuk.
Dari Arga.
“Sudah sampai rumah?
Nadira menatap layar itu beberapa detik, lalu tersenyum kecil.
“Sudah😊” balasnya singkat.
Ia meletakkan ponsel, lalu berbaring menatap langit-langit kamar.
Nadira baru saja memejamkan mata ketika ponselnya kembali bergetar.
Kali ini bukan Arga.
Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit terdiam.
Raka.
Ia duduk kembali, bersandar ke kepala ranjang, lalu membuka pesannya.
“Gimana tadi acara nikahnya temen kamu?”
Singkat. Sederhana. Tapi entah kenapa, membuat jantungnya berdetak sedikit berbeda.