"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwaku sudah tertinggal di sini
..."Kamarku di seberang, tapi jiwaku tertinggal di nadimu."...
......................
"Sial," umpat Agung seraya memutar bahunya yang mendadak kaku seolah disemen. Rasa berat itu begitu nyata, namun egonya menolak kalah; ia yakin itu hanya trik sugesti murahan dari si pemandu wisata.
Tanpa memedulikan sopan santun, Agung melangkah masuk ke dalam kamar yang luas itu. Ia tidak sadar, di kegelapan sudut ruangan, Sang Kukang yang mendekam di punggung Syifa mulai menggeliat beringas. Makhluk itu memutar kepalanya yang kecil, lubang hidungnya kembang kempis menghirup aroma mangsa baru yang segar—seorang pria yang dengan sombongnya menawarkan diri untuk "menyangga" beban terkutuk itu.
Di sisi lain ranjang, Syifa merintih. Hawa panas yang sempat mereda kini kembali membakar kulitnya tepat setelah Penyang pergi. Kehadiran Penyang ternyata adalah pelindung; Sang Kukang seolah meringkuk ketakutan jika pria Dayak itu ada di dekatnya.
Jika aku bersama Penyang, apakah kutukan ini akan lepas? Syifa melamun dalam diam, hingga sebuah suara berat memecah keheningan.
"Kau melamun?"
Syifa tersentak hebat. Agung sudah berdiri sangat dekat, bayangannya menelan tubuh Syifa. Pada detik itu, Sang Kukang bereaksi. Makhluk itu tidak menyukai persaingan, namun ia menginginkan inang baru. Dengan satu gerakan sentakan gaib yang kasar, sesuatu yang tak kasat mata mendorong pundak Syifa dari depan dengan kekuatan penuh.
Syifa kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke belakang, limbung menuju lantai yang keras. Namun, sebelum punggungnya menyentuh lantai, tangan Agung melesat lebih cepat. Dengan refleks yang dipacu adrenalin, pria itu menyambar pinggang Syifa, menarik tubuh wanita itu dengan sentakan kuat hingga dada mereka berbenturan keras.
Napas mereka memburu, beradu di udara yang mendadak terasa tipis. Agung tidak melepaskannya; ia justru mempererat dekapannya, mengunci tubuh ramping Syifa di antara lengan kokohnya.
Deg!!
Pada detik itu, detak jantung mereka seolah melebur dalam frekuensi yang sama. Ada dezir panas yang menjalar dari telapak tangan Agung yang menyentuh kulit punggung Syifa—sebuah getaran yang membuat bulu kuduk berdiri namun sekaligus memabukkan. Sepasang mata mereka saling mengunci dalam jarak yang sangat intim, hanya menyisakan ruang bagi uap napas yang bersahutan.
Agung menatap bibir Syifa dengan pandangan haus yang tak tertahankan, sementara Syifa merasakan serangan kantuk dan gairah yang aneh merayapi kesadarannya. Di mata mereka, dunia di luar kamar itu seolah lenyap. Mereka tidak lagi melihat benci; yang ada hanyalah pemujaan gila yang dipaksakan oleh sesuatu yang hitam yang kini perlahan merangkak dari pundak Syifa, mulai melilitkan kuku-kuku panjangnya ke leher Agung yang sedang terbuai.
Agung terpaku, membiarkan logikanya lumpuh di hadapan Syifa. Di balik topeng angkuhnya, batinnya berteriak heran—bagaimana mungkin seorang pria yang terbiasa mematikan perasaan bisa luluh dalam sehari? Ini tidak masuk akal, pikirnya.
Namun, matanya tak bisa berhenti memuja raut Syifa. Ia ingin merengkuhnya bukan karena nafsu, melainkan karena getaran ganjil yang menuntutnya untuk menetap.
Syifa pun terperangkap dalam dezir yang sama, sebuah perasaan murni yang melampaui kuasa Sang Kukang.
Pria ini... dia nyata, bisik hatinya pilu.
Agung adalah perwujudan kriteria idamannya; rahang yang tegas dan tatapan yang mampu meruntuhkan benteng pertahanannya. Ada dorongan kuat untuk menyerahkan diri pada rasa ini, namun kenyataan bahwa mereka baru bertemu kemarin membuat debar itu terasa terlarang sekaligus manis. Ia sangat ingin mencintai pria ini dengan normal, tanpa bayang-bayang maut yang mengintai.
Kesadaran itu menghantam Syifa seperti air es. Jika ia membiarkan rasa ini tumbuh, ia hanya sedang menuntun Agung menuju lubang kubur. Cinta yang mekar di pandangan pertama ini justru menjadi ancaman paling nyata. Syifa tersentak, tangannya yang halus gemetar saat mendorong perlahan dada bidang Agung untuk menciptakan jarak.
"Agung, lepas..." bisik Syifa dengan suara serak, napasnya masih memburu di ceruk leher pria itu. "Aku jatuh untuk bangun, bukan untuk kau peluk selamanya."
Agung tidak langsung melepaskan. Alih-alih menjauh, ia justru menurunkan tangannya ke jemari Syifa, mengaitkan jari-jarinya dengan kelembutan yang menyakitkan. Ia membawa punggung tangan Syifa ke bibirnya, mengecupnya singkat namun dalam, sambil matanya tetap menghujam tepat ke manik mata Syifa. Gerakan itu begitu intim, sebuah janji tanpa kata yang membuat pertahanan Syifa nyaris runtuh kembali ke dalam dekapan yang sangat ia dambakan itu.
"Hanya memastikan kau tidak dihipnotis buaya Kalimantan," suara Agung merendah, sangat jantan hingga menggetarkan udara di antara mereka. Ia perlahan mundur satu langkah, memberikan ruang bagi Syifa untuk bernapas, meski tatapannya masih memuja seolah wanita di depannya adalah karya seni paling rapuh yang pernah ia temukan.
"Kau kenapa ke sini?" tanya Syifa, suaranya naik satu nada, berusaha menutupi guncangan batin yang nyaris meruntuhkan pertahanannya.
"Kebetulan aku menginap di sini. Dan... aku nyasar," jawab Agung kaku. Ia merogoh saku, mengeluarkan kartu akses kamarnya dengan gerakan gugup. Namun, deretan angka di kartu itu seolah menertawakannya; nomor kamar itu memang berada di lorong yang sama, tepat di seberang kamar Syifa, namun tetap saja itu bukan alasan sah untuk menyelonong masuk tanpa izin. Sebuah dusta yang amat transparan.
Syifa menatap kartu itu, lalu beralih ke mata Agung dengan tatapan dingin yang menusuk. "Aku wanita, kau pria. Kau tidak pantas masuk sembarangan seperti tadi. Meskipun kamarmu tepat di depan mataku, alasanmu tetap murahan, Agung."
Darah Agung mendidih. Rasa cemburu yang sedari tadi mengendap melihat keakraban Syifa dengan si pemandu lokal akhirnya meledak. "Jika aku tidak masuk, kau mungkin sudah dilahap buaya Kalimantan itu! Kau terlalu percaya pada orang asing!"
"Namanya Penyang, bukan buaya!" sela Syifa cepat, suaranya meninggi membela pria yang ia anggap sebagai satu-satunya harapan.
Agung tersenyum kecut, sebuah tawa getir yang penuh penghinaan. "Syifa, sadarlah! Kita ini sama-sama pendatang di tanah Dayak. Seharusnya kau lebih percaya padaku, sesama orang kota. Penyang itu... dia mirip dukun yang bisa menghipnotismu!" Ia melangkah mendekat, mencoba meyakinkan Syifa dengan wajah yang memerah. "Lihat ini! Sejak dia menepuk bahuku tadi, pundakku terasa seberat beton! Dia pasti melakukan sesuatu untuk menyingkirkanku!"
Agung memutar bahunya dengan kasar, berusaha menunjukkan beban yang menyiksanya. Namun, ia tertegun. Detik itu juga, beban yang tadinya menindih seolah menguap lenyap secara misterius. Bahunya mendadak ringan. Ia menggerakkan lengannya berkali-kali dengan wajah frustrasi, sementara Syifa hanya menatapnya dengan pandangan kian merendahkan.
"Lihat? Tidak ada apa-apa, kan?" Syifa mendengus. "Kau hanya pria cemburu yang sedang berhalusinasi dan mencoba mengarang cerita mistis untuk menjelekkan orang lain!"
Syifa melangkah hendak membuka pintu, namun Agung justru menahan pintu itu dengan satu tangan kokohnya. Ia melangkah maju satu tindak, mempersempit jarak hingga Syifa bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat dan beraroma maskulin. Tatapan Agung yang tadinya penuh amarah perlahan mencair, berubah menjadi binar pemujaan yang dalam.
"Aku memang cemburu, Syifa," bisik Agung rendah, suaranya mendayu membelai rungu. Ia meraih telapak tangan Syifa yang gemetar, mengabaikan penolakan sejenak. Dengan lembut, ia mengusap punggung tangan Syifa menggunakan ibu jarinya, menciptakan sensasi panas yang menjalar hingga ke ulu hati. "Tapi bukan karena aku gila. Aku hanya tidak tahan melihat pria lain berada terlalu dekat dengan sesuatu seindah dirimu."
"Kau tahu, kamarku memang di seberang," gumamnya lagi, kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari telinga Syifa. "Tapi jiwaku sudah tertinggal di sini, sejak detik pertama aku melihatmu di bandara. Jangan paksa aku menjauh saat hatiku justru memohon untuk menetap."
Syifa terpaku, jantungnya berpacu dalam ritme yang tidak beraturan. Rayuan itu terasa begitu tulus, sebuah tarikan gravitasi dari pria yang benar-benar memujanya sebagai seorang wanita, bukan sebagai inang kutukan. Namun, ia segera tersentak dari sihir itu. Ia menarik tangannya dengan sentakan kecil.
"Keluar, Agung! Sekarang!" usir Syifa parau. "Aku memesan kamar ini untuk diriku sendiri, bukan untuk berdua."
Agung menatapnya lama dengan pandangan penuh damba sekaligus luka, sebelum akhirnya ia mundur dan melangkah keluar menuju kamarnya di seberang. Syifa segera membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya merosot di balik pintu dengan napas tersengal, tak menyadari bahwa beban di bahu Agung sebenarnya tidak hilang, melainkan sedang bersembunyi jauh di dalam batin pria itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
karena apa coba