persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Tentang Rencana di Balik Senyum dan Undangan yang Terasa Asing
Kamis pagi ini, sekolah terasa lebih tenang, tapi saya tahu ini adalah jenis ketenangan yang ada di mata badai. Arkan datang dengan sepatu baru yang lebih mengkilap dari sebelumnya, seolah-olah siraman es teh saya kemarin hanyalah ritual pembaptisan untuk kemewahannya yang baru. Dia tidak lagi memandang saya dengan kemarahan yang meluap-luap, melainkan dengan senyum yang sangat simetris—senyum yang biasanya dimiliki oleh politikus yang sedang menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin.
Di meja depan, saya melihat Arkan sedang berbicara serius dengan Kayla. Mereka berbisik-bisik, sesekali Arkan menunjukkan sesuatu di layar ponselnya. Kayla tampak ragu, tapi akhirnya dia mengangguk pelan. Ada semacam kesepakatan rahasia yang sedang mereka bangun di sana.
"Bumi, ada undangan buat kamu," Dara tiba-tiba muncul di samping saya, meletakkan selembar kertas berwarna biru muda yang wangi parfum mahal.
Saya membuka kertas itu. Isinya adalah undangan perayaan kecil-kecilan atas terpilihnya mading sekolah kita sebagai mading terbaik se-kota di sebuah kafe akhir pekan ini. Di bawahnya tertulis: Panitia Mading & Arkananta.
"Kamu mau datang?" tanya Dara, matanya menatap saya dengan tatapan menyelidiki.
"Saya bukan anak mading, Dara. Dan saya rasa Arkan tidak benar-benar menginginkan saya di sana kecuali untuk dijadikan pajangan sebagai orang yang 'kalah'," jawab saya sambil melipat kembali undangan itu.
"Jangan salah, Bumi. Arkan itu pintar. Dia tahu kalau dia terus-menerus memusuhimu secara terbuka, Kayla akan merasa kasihan padamu. Tapi kalau dia mengajakmu masuk ke dunianya dan menunjukkan betapa tidak nyambungnya kamu di sana, Kayla akan sadar bahwa kamu memang sudah tertinggal," kata Dara dengan analisisnya yang selalu tajam seperti silet.
Saya terdiam. Benar juga. Arkan sedang mencoba menggunakan strategi 'rangkul dan jatuhkan'. Dia ingin menunjukkan pada Kayla bahwa Bumi yang sekarang hanyalah cowok berantakan yang suka nongkrong di belakang sekolah dan tidak cocok berada di kafe mewah bersamanya.
"Bumi! Kamu datang kan?" Kayla tiba-tiba menghampiri meja saya. Suaranya terdengar sangat memohon. "Arkan sendiri yang bilang dia mau kita semua kumpul. Dia mau minta maaf secara resmi soal kejadian kemarin lewat acara ini. Tolonglah, Mi. Sekali ini saja demi aku."
Saya menatap mata Kayla. Di sana masih ada sisa-sisa persahabatan kami yang dulu, tapi sudah tercampur dengan keinginan kuat untuk membuat Arkan terlihat baik di mata saya. "Kenapa harus di kafe, Kay? Kenapa tidak di sekolah saja?"
"Karena Arkan mau suasananya lebih santai. Dia sudah booking tempatnya. Ayo dong, Mi. Senja juga boleh ikut kok kalau kamu mau ajak dia," tambah Kayla cepat.
Saya menoleh ke arah Senja yang sedang membereskan peralatan gambarnya. Senja tampak ragu. Dia pasti merasa sangat tidak nyaman berada di lingkungan anak-anak organisasi yang bicaranya selalu tinggi.
"Bagaimana, Senja? Kamu mau ikut?" tanya saya.
Senja menatap saya, lalu menatap Kayla. "Kalau Bumi pergi, saya ikut. Saya tidak mau Bumi sendirian di sana."
Keputusan pun dibuat. Kami akan datang ke acara itu. Bukan untuk merayakan mading, tapi untuk melihat sejauh mana topeng yang dipakai Arkan bisa bertahan.
Saat jam istirahat, saya melihat Arkan sedang sibuk menelepon seseorang di koridor. Wajahnya tampak sangat puas. Dia melihat saya lewat dan memberikan jempolnya. "Sampai ketemu di kafe, Bumi. Saya sudah siapkan tempat duduk spesial buat kamu."
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah dia yang memukulmu di depan orang banyak, tapi dia yang mengajakmu makan malam sambil menyiapkan lubang di bawah kursimu. Arkan sedang menyiapkan panggungnya, dan saya sedang menyiapkan mental saya untuk tetap menjadi Bumi yang tidak mudah terpesona oleh lampu kristal.