Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
Joel tetap di kantor polisi untuk memantau penyelidikan Hamizah. Dia juga punya jalur langsung ke pemeriksa forensik, jadi dia akan segera melapor begitu laporan resmi kematian Igor keluar.
Riggs sudah pulang setelah Kayson menyuruhnya pergi. Adiknya terlihat seperti orang yang hampir roboh.
Kasus pembunuhan bukan bidang Riggs. Dia biasanya jadi si penawan hati, si perayu ulung. Dia tidak pernah turun tangan langsung. Dan jujur saja, Kayson tidak ingin adiknya terpapar kekerasan seperti itu. Dia tidak ingin Riggs melihat lagi adegan seperti tadi.
“Lo selalu berusaha lindungin semua orang,” kata Stella pelan “Tapi siapa yang lindungin lo?”
“Gue enggak butuh perlindungan.”
“Lo tadi bilang lo masuk ke rumah itu karena Lo pikir pelakunya mungkin masih ada di dalam. Dia pembunuh, Kayson. Kalau dia balik nyerang lo gimana?”
“Gue bawa senjata. Dan Joel backup gue.”
“Gue enggak mau terjadi apa-apa sama lo.”
Mereka mendekati gerbang rumah. Kayson memperlambat mobil, lalu menoleh ke arahnya. “Terus aja ngomong kayak gitu, Stella, nanti gue mulai mikir lo mulai jatuh cinta sama gue!”
Nada suaranya seharusnya terdengar menggoda, bercanda. Dia ingin mengurangi sedikit rasa takut dan sakitnya.
Setelah jeda singkat, Stella berkata pelan, “Ya, gue sih cuma peduli. Dari dulu juga peduli. Mungkin itu masalahnya.”
“Apa?” Kayson tertegun.
Sial.
Dia tersadar, membuka gerbang, lalu menginjak gas dan berhenti tepat di tengah jalan melingkar menuju pintu utama. Dia mematikan mesin dan berbalik menghadap Stella.
“Coba ulangi.”
Stella melepas sabuk pengamannya dan condong ke arahnya.
“Gue peduli sama lo, Kayson. Lo bukan orang asing buat gue. Dari dulu gue peduli, bahkan waktu lo bikin gue marah, tapi gue tetap peduli.”
Itu terdengar bagus buat Kayson.
"Jadi ya, gue peduli dan gue enggak mau terjadi apa-apa sama lo. Kalau lo disiksa atau dibunuh. Gue gak bisa bayangin. Gue butuh lo.”
Refleks, Kayson malah menggeleng.
Tidak mungkin Stella mengatakan semua itu padanya. Tidak mungkin dia bilang membutuhkannya.
Stella menarik napas tajam, lalu tangannya langsung meraih gagang pintu. Dia membukanya dan berlari masuk ke rumah.
“Stella!” Kayson berusaha mengejarnya, tapi sabuk pengamannya masih terpasang dan menariknya kembali.
Sambil mengumpat pelan, dia melepaskannya dan berlari menyusul.
Kayson berhasil menangkap Stella saat dia hampir sampai di tangga. Dia memutar tubuhnya agar menghadapnya.
“Berhenti, Kayson. Lepasin gue. Gue lagi berusaha enggak bikin diri gue keliatan bodoh lagi dengan bilang—”
“Lo mau bilang apa pun ke gue, bilang aja, Babby. Tapi dengerin gue dulu, ya? Tolong.” Napasnya berat. “Gue nggeleng tadi karena gue enggak percaya lo ngomong begitu ke gue. Kalau lo benar-benar ... ahh sial ... Pokoknya gue juga peduli sama lo.”
Peduli?
“Gue peduli,” ulangnya, suara serak. “Gue mau lo ada di hidup gue. Gue juga butuh lo. Kalau sesuatu terjadi sama lo dan lo hilang dari dunia gue … semuanya enggak bakal sama lagi, Stella!”
...────୨ৎ────...
Riggs membuka pintu rumahnya, masuk dengan langkah berat, lalu melempar jasnya ke kursi terdekat.
Hari yang mengerikan.
Dia memijat pangkal hidung sambil berjalan ke dapur. Kepalanya berdenyut dan bayangan ketakutan di mata Stella terus terulang di benaknya.
Igor sudah mati. Dan Stella menutupinya. Ia tidak memberi tahu detektif terakhir kali Riggs bertemu Igor, Riggs bahkan sempat meninju pria itu. Detail kecil itu pasti akan langsung menempatkannya di urutan teratas daftar tersangka.
Riggs mengambil botol air dari kulkas, mengangkatnya ke bibir dan ....
Kenapa lampu kamarnya menyala?
Riggs mematung. Botol di tangannya terasa licin. Perlahan, dia menoleh ke arah kamar. Pintu setengah tertutup, cahaya mengalir dari celahnya.
Dia yakin sudah mematikan lampu sebelum pergi.
Riggs mengembalikan botol air ke kulkas dan menutup pintunya pelan, bergerak setenang mungkin. Mungkin dia salah ingat. Mungkin dia memang lupa mematikan lampu saat terburu-buru pergi pagi tadi.
Dia sedang cemas memikirkan Stella, dan dia benar-benar keluar rumah dengan tergesa. Mungkin saja dia memang lupa.
Atau ... mungkin memang tidak ada siapa pun.
Riggs meraih pisau panjang dari rak dapur lalu berjalan pelan menuju kamar tidur. Napasnya naik turun cepat saat ia melangkah maju.
Gerakannya tidak sehalus Kayson, tapi tidak jauh berbeda. Dan meski kemampuan bertarungnya tidak selengkap Kayson, ia menyandang sabuk hitam tingkat dua.
Papa mereka dulu bersikeras agar keduanya belajar taekwondo sejak kecil.
Bagi Papa mereka, bela diri adalah bekal hidup yang wajib dimiliki. Kayson kemudian mengambil berbagai macam pelatihan tambahan, sementara Riggs tetap fokus pada aliran yang paling ia sukai.
"Papa gak mau kamu jadi orang yang mulai duluan. Tapi kalau ada yang nyerang kamu, kamu harus bisa bela diri."
Kata-kata Papanya terlintas di kepala saat Riggs mendekati pintu kamar.
Ia membukanya. Engselnya pun berderit pelan.
Dan ...
Kamar itu kosong. Tempat tidur masih berantakan, lampu menyala terang dari atas. Tidak ada yang tampak aneh. Tidak ada yang terlihat berpindah sedikit pun.
Ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Ia hanya terlalu tegang. Semua mimpi buruk tentang Stella sudah masuk ke kepalanya. Ia punya sistem keamanan. Kalau ada orang masuk, pasti ia tahu.
Tapi sistem Stella tidak berbunyi.
Pikiran itu memicu keparnoan dalam dirinya.
Tapi ... tepat sebelum ia merasakan gerakan di belakang punggungnya. Sesuatu menghantam bagian belakang kepalanya dan Riggs terlempar ke lantai. Pisau pun terlepas dari genggamannya.
"Lo gak pantas buat dia!"