Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Setelah badai kilat kamera dan ketegangan yang menguras emosi di hotel, Permadi akhirnya membawa Rengganis pulang ke mansion mereka.
Suasana rumah yang tenang dan harum aromaterapi menyambut mereka, memberikan privasi yang sangat dibutuhkan setelah drama nasional yang melelahkan.
Permadi membantu Rengganis turun dari mobil dan membimbingnya perlahan menuju kamar utama mereka yang megah.
Ia memastikan istrinya duduk nyaman di sofa empuk sebelum ia sendiri menghempaskan tubuhnya di samping Rengganis sambil menghela napas panjang.
"Aahh, masalah ini benar-benar menyebalkan," keluh Permadi sambil menyandarkan kepalanya di bahu kursi.
"Gara-gara drama si sampah itu, 'Kitty'-ku jadi tidak bisa beraksi optimal."
Rengganis yang tadinya masih nampak lesu dan pucat, tiba-tiba mengernyitkan dahi.
Ia menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.
"Kitty? Kitty siapa, Mas?" tanya Rengganis polos.
Pikirannya langsung melayang ke mana-mana—apakah itu nama kucing peliharaan Permadi yang baru, atau mungkin istilah bisnis yang tidak ia ketahui?
Permadi menatap istrinya dengan ekspresi wajah yang datar namun matanya berkilat nakal.
Ia menunjuk ke arah bagian bawah tubuhnya sendiri dengan santai.
"Ya 'Kitty'-ku. Senjataku. Dia sudah siap tempur sejak di Labuan Bajo, tapi harus tertahan gara-gara infus, pingsan, dan konferensi pers. Kasihan dia, tertekan mental juga."
Rengganis terdiam selama tiga detik sebelum otaknya yang jenius sebagai dokter menangkap maksud tersembunyi suaminya.
Begitu sadar bahwa pria berwibawa di depannya ini baru saja memberi nama panggilan "imut" untuk aset paling pribadinya, pertahanan Rengganis runtuh.
"Hahahaha! Ya ampun, Mas!"
Rengganis tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair.
Beban berat yang sejak tadi menghimpit dadanya seolah menguap begitu saja.
Ia tidak menyangka Permadi Wijaya yang ditakuti banyak orang bisa sekonyol itu.
"Kitty? Kamu beri nama 'Kitty' untuk itu? Hahaha!" Rengganis terus tertawa hingga memegangi perutnya.
Permadi mendengus, namun sudut bibirnya terangkat melihat istrinya kembali ceria.
"Kenapa? Lucu? Dia itu lucu-lucu mematikan, Ganis."
"Dasar berondong!" seru Rengganis sambil mencubit gemas pipi Permadi.
"Baru 25 tahun sudah punya selera humor yang aneh-aneh saja. Kamu ini benar-benar ya..."
"Berondong-berondong begini, kamu cinta kan?" balas Permadi sambil menarik Rengganis ke dalam pelukannya.
Malam itu, di tengah kesunyian rumah mereka, tidak ada lagi air mata kesedihan.
Hanya ada tawa dan pelukan hangat. Permadi berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan obat manapun: menyembuhkan trauma Rengganis dengan cara yang paling tidak terduga.
Rengganis masih berusaha mengatur napasnya di sela-sela tawa, namun rasa penasarannya sebagai seorang istri sekaligus dokter tidak bisa dibendung.
Ia menatap Permadi yang kini memasang wajah sok serius, seolah-olah sedang membahas proyek investasi bernilai triliunan rupiah.
"Mas, jujur padaku," ucap Rengganis sambil menyeka air mata di sudut matanya.
"Kenapa namanya harus 'Kitty'? Itu singkatan dari apa?"
Permadi berdehem, merapikan kerah kausnya, lalu menatap Rengganis dengan tatapan tajam yang biasanya ia gunakan di ruang rapat.
"Kamu benar-benar ingin tahu?"
Rengganis mengangguk cepat, wajahnya memerah karena menahan tawa yang siap meledak lagi.
"Kitty itu singkatan dari..." Permadi menggantung kalimatnya sebentar, memberikan efek dramatis.
"Kekuatan Intens Terjang Tanpa Yield."
Hening sejenak. Rengganis mencoba mencerna istilah teknis yang dicampuradukkan dengan bahasa bisnis dan gairah pria itu.
Begitu ia menyadari betapa absurd dan "percaya diri" singkatan itu, tawa Rengganis pecah lebih keras dari sebelumnya.
"AHAHAHA! Mas! Kamu benar-benar sakit jiwa!" seru Rengganis.
Tawanya begitu hebat hingga seluruh tubuhnya terguncang.
Rasa geli yang luar biasa itu menekan kandung kemihnya yang memang sedang sensitif karena kondisi fisiknya yang belum stabil sepenuhnya setelah infus dan syok. Rengganis tidak bisa mengerem otot-ototnya lagi.
"Aduh, Mas, stop! Aku... hahaha!"
Tiba-tiba Rengganis terdiam dengan wajah yang mendadak panik, namun tawanya tetap tersisa di bibir.
Ia merasakan ada sesuatu yang hangat merembes di celana tidurnya.
"Mas, aku mengompol," bisik Rengganis pelan, antara malu dan masih ingin tertawa.
Permadi tertegun sejenak melihat noda basah yang mulai muncul di celana istrinya, lalu sedetik kemudian ia ikut tertawa terbahak-bahak.
Pria dingin itu tertawa sampai terjatuh dari sofa, berguling di atas karpet mahal mereka.
"Dokter spesialis kandungan mengompol gara-gara 'Kitty'?" ejek Permadi di sela tawanya yang menggelegar.
"Ini rekor baru dalam sejarah keluarga Wijaya!"
"Diam kamu, Berondong! Ini semua salahmu!" teriak Rengganis sambil melempar bantal sofa ke arah suaminya, meski ia sendiri masih tertawa sesenggukan.
Di tengah situasi yang memalukan sekaligus sangat intim itu, semua trauma tentang Laras dan konferensi pers tadi sore benar-benar lenyap.
Yang tersisa hanya sepasang suami istri yang sedang menertawakan kekonyolan hidup mereka sendiri.
Permadi bangkit dari lantai dengan sisa tawa yang masih menghiasi wajah tampannya.
Melihat Rengganis yang duduk mematung dengan wajah semerah tomat karena malu, ia segera menggendong istrinya menuju kamar mandi utama yang luasnya nyaris seukuran kamar kost elit.
"Mas, turunkan! Aku bisa jalan sendiri, aku malu!" protes Rengganis sambil menutupi wajahnya dengan tangan.
"Tidak ada kata malu untuk pasien 'Kitty'," goda Permadi sambil mendudukkan Rengganis di tepi bathtub marmer.
Dengan telaten, Permadi menyalakan air hangat, mengatur suhunya agar pas di kulit.
Ia mulai membantu Rengganis melepaskan pakaiannya yang basah dengan gerakan yang sangat lembut, seolah sedang menangani porselen mahal yang mudah retak. Namun, saat kulit mulus Rengganis terpapar udara dingin dan air hangat mulai mengalir, suasana berubah menjadi sedikit lebih berat.
Permadi menelan ludah. Matanya yang tadi penuh tawa kini meredup, berubah menjadi gelap penuh gairah saat melihat lekuk tubuh istrinya di bawah siraman air.
Tangannya yang sedang menyabuni punggung Rengganis mulai bergerak melambat.
"Ganis..." bisik Permadi tepat di telinga istrinya.
"Boleh aku mencobanya sekarang? Aku janji, sangat pelan. Hanya pemanasan untuk 'Kitty'."
Rengganis merasakan napas panas Permadi di lehernya, membuat bulu kuduknya meremang.
Ia hampir saja goyah, namun akal sehatnya sebagai dokter segera memberi peringatan. Kondisi jaringannya masih butuh waktu untuk regenerasi sempurna.
"Lusa, Mas. Lusa, oke?" jawab Rengganis sambil membalikkan badan dan menatap mata suaminya dengan memohon.
"Berikan aku waktu 48 jam lagi agar semuanya benar-benar pulih. Aku tidak mau pingsan lagi."
Permadi menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak yang mulai membakar dadanya. Ia mengecup dahi Rengganis lama.
"Baiklah. Lusa aku akan menagih janjimu. Jangan harap ada diskon waktu lagi setelah itu."
Setelah ritual mandi yang penuh "ujian kesabaran" itu selesai, Permadi membungkus Rengganis dengan jubah mandi tebal dan membawanya kembali ke tempat tidur.
Mereka berbaring berdampingan, menatap langit-langit kamar yang mewah.
"Kita masih dalam masa liburan, Sayang. Rencana awal kita kan mau bulan madu. Setelah drama Jakarta ini selesai, kamu mau bulan madu ke mana? Paris? Maladewa? Atau kita sewa pulau pribadi?" tanya Permadi sambil memainkan jari-jari Rengganis.
Rengganis tampak berpikir sejenak. Setelah semua tekanan mental yang ia lalui, ia tidak butuh kemewahan yang berlebihan.
Ia hanya butuh kebahagiaan sederhana yang nyata.
"Kulineran yuk, Mas," jawab Rengganis antusias.
"Aku ingin makan semua makanan pinggir jalan yang enak, tanpa harus takut difoto wartawan. Aku ingin makan bakso, martabak, sate dan semuanya!"
Permadi tertawa kecil. "Hanya itu? Sultan Wijaya menawarkan dunia, dan istrinya hanya minta bakso?"
"Iya! Besok kita mulai kulineran. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu sambil makan enak," tegas Rengganis.
"Baiklah, Sayang. Mulai besok, agenda kita adalah kulineran sampai kamu kenyang. Tapi ingat..."
Permadi menarik Rengganis ke dalam pelukannya, "...hari berikutnya, giliran aku yang 'kulineran' padamu. Lusa, kan?"
Rengganis mencubit perut Permadi sambil tertawa.
"Iya, Sayang! Lusa!"
Setelah ritual mandi yang penuh ujian iman bagi Permadi selesai, ia dengan sangat telaten membantu Rengganis mengenakan gaun tidur dari sutra murni berwarna putih tulang.
Bahan lembut itu jatuh sempurna di tubuh Rengganis, memberikan kesan elegan sekaligus rapuh yang membuat naluri melindungi Permadi semakin kuat.
Permadi tidak membiarkan Rengganis melangkah sendiri ke tempat tidur.
Ia kembali mengangkat tubuh istrinya, membawanya ke ranjang king size mereka yang sudah dirapikan oleh pelayan.
"Sudah, Sayang. Sekarang waktunya kita bubuk," ucap Permadi lembut, menggunakan istilah yang membuat Rengganis kembali tersenyum kecil.
Permadi menyelimuti Rengganis hingga sebatas dada, lalu ia sendiri menyusul naik ke atas ranjang.
Ia mematikan lampu utama melalui panel kendali di samping tempat tidur, menyisakan lampu tidur yang temaram dan memberikan suasana tenang.
"Sini," gumam Permadi sambil menarik kepala Rengganis agar bersandar di lengan kekarnya.
Rengganis melingkarkan tangannya di pinggang Permadi, menghirup aroma sabun dan maskulinitas suaminya yang menenangkan.
"Mas, terima kasih ya untuk hari ini. Terima kasih sudah membela aku di depan semua orang."
Permadi mencium kening istrinya dalam-dalam. "Itu sudah kewajibanku. Tidak akan ada satu orang pun yang boleh membuatmu menangis lagi, termasuk aku sendiri. Tidurlah, mimpikan rencana kulineran kita besok."
Rengganis memejamkan matanya, merasakan kantuk yang luar biasa mulai menyerang setelah seharian penuh dengan emosi yang naik-turun.
Di dalam pelukan Permadi, ia merasa berada di tempat paling aman di dunia.
"Selamat tidur, Mas. Selamat tidur, 'Kitty'," bisik Rengganis jahil sesaat sebelum ia benar-benar terlelap.
Permadi hanya bisa mendengus geli mendengar ejekan istrinya.
Ia memejamkan mata, mempererat pelukannya seolah memastikan bahwa esok pagi saat ia bangun, Rengganis masih akan tetap berada di sana, di dalam dekapannya.
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh