NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Kecewa atau Marah?

Aqqela memandang keduanya dengan sorot mata sulit di artikan. Dingin, pilu, kecewa atau bahkan marah.

Fattah dan Oliver sendiri sama-sama merunduk-entah kenapa jadi menciut saat Aqqela melihat mereka se-berantakan ini.

Malu lebih tepatnya.

Dada Aqqela bergetar aneh, menatap ngilu lebam di wajah keduanya.

"Bos!" rengek Noel dan Jimmy tak rela meninggalkan keduanya.

"Lanjut jalan gue bilang!" kata Catu-kapten cheerleaders galak membuat keduanya terlonjak, "Biarin bos kalian di marahi dulu," lanjutnya sinis, membuat Oliver dan Fattah jadi merapatkan bibir diam.

Sementara Mattew di sebelah Catu berlagak polos tak tau menahu apapun, kini berteriak sakit saat telinganya jewer Catu dan di giring keluar lapangan.

"Jef, kamu nggak papa, kan?" cemas Aya menghampiri Jefan, kemudian mengomeli Noel di sebelahnya dan memukulnya kesal.

Aqqela mengalihkan wajah sambil menarik napas dalam, "Lo berdua, kalau udah bosen hidup, langsung gantung diri aja di monas, nggak perlu nyakitin diri sendiri terus."

Fattah dan Oliver mengulum bibir mereka rapat.

"Gimana? Udah ngerasa keren sekarang?" tanyanya dingin.

Oliver dan Fattah saling lirik sebentar, sambil merintih kecil, memegang sudut bibir mereka yang terluka.

Aqqela tersenyum sinis, "Seneng, tim sekolah kalian di diskualifikasi cuma karena sifat kekanakan kalian? Kalian pasti bangga lah ya, waktu semua orang tau kalau kalian itu berandalan-nya sekolah?"

Fattah mengalihkan wajah sambil menggigit bibirnya samar, sementara Oliver menunduk dalam-dalam.

"Serius gue tanya, elo berdua tuh maunya apa, sih?" tanya Aqqela sudah lelah, "Setiap ketemu pasti ribut. Kelakuan kalian yang kayak gini nih, bikin nama geng motor di cap sampah sama banyak orang."

"Dia nonjok duluan," kata Oliver menunjuk Fattah yang mendelik.

"Elo nabrak gue duluan anjing," bantahnya tak mau kalah.

"Dua-duanya salah," ucap Aqqela tegas membuat keduanya tersentak dan langsung diam.

"Sadar nggak kelakuan kalian bikin rugi banyak orang? Sekolah biayain tim mahal banget buat bisa masuk ke turnamen ini. Apalagi Taruna yang keluarin dana banyak buat persiapan penyambutan turnamen ini. Tapi tuan rumahnya malah di diskualifikasi. Lo berdua pikir ini lucu?"

Fattah mengangkat alis dan tertegun.

"Kenapa kalian suka banget bertindak sesuka kalian tanpa mau mikirin dampak buat orang-orang di sekitar kalian? Lo berdua itu bosgeng-nya. Yang di jadiin contoh sama anak buah kalian. Udah lihat, kan? Mereka malah ikut tawuran tadi.

Gimana, udah puas?"

Oliver menyenggol lengan Fattah kesal, "Elo, sih."

Fattah ternganga kesal dan mendorongnya balik, "Elo," katanya sewot.

"Stop!" kata Aqqela membuat keduanya reflek diam.

Aqqela mengalihkan wajah mencoba menenangkan diri, "Jangan berantem atau tawuran lagi! Dan jangan bikin malu sekolah lagi!"

Fattah dan Oliver menggigit bibir, merasa tersudut sekarang.

"Udahlah, mending kalian obati luka kalian dulu!" kata Aqqela, kemudian menoleh ke arah beberapa anggota PMR sekolahnya yang berdiri di luar lapangan, "Diva, Irma!" panggilnya lantang.

Kedua gadis yang mengenakan rompi PMR warna merah itu, berlari masuk ke lapangan.

"Tolong ya, mereka berdua di bawa ke UKS! Gue mau beliin mereka minum."

Fattah dan Oliver kompak ternganga tak terima.

Diva mengangguk, "Siap, kak."

Aqqela melirik ke arah keduanya, "Ikut sama mereka ke UKS!" katanya tegas dan langsung beranjak.

Diva tersenyum, meraih tangan Fattah, "Ayo, kak!"

"Gue nggak mau," kata Fattah menepis kasar tangan Diva, membuat gadis itu terkejut.

Tidak berbeda jauh dengan Oliver yang memberikan respon penolakan serupa ke Irma.

Merasa belum ada pergerakan, Aqqela menghentikan langkah dan menoleh. Ternganga sepenuhnya melihat Irma dan Diva berusaha membujuk Oliver dan Fattah supaya mau ikut ke UKS, tetapi keduanya kekeuh menolak.

"Ayo dong, kak! Itu lukanya bisa parah kalau nggak di obati," bujuk Diva.

"Ck, gue nggak mau kalau nggak sama Aqqela," decak Fattah tak senang.

"Sama. Nggak usah maksa-maksa, ya!" kata Oliver menepis tangan Irma.

"Ya Tuhannn!" erang Aqqela frustasi dan kembali mendekat, "Lo berdua tuh bener-bener, ya! Hih gue blender juga nih lama-lama," geramnya.

"Kak Qell, gimana? Mereka nggak mau," lapor Irma memelas.

Fattah dan Oliver merapatkan bibir, sok polos.

"Ya udah ayo, sama gue! Awas ya kalau ribut-ribut lagi! Gue pasung lo berdua," ancamnya.

Aqqela yang kesal menarik tangan Fattah dan Oliver-membawa keduanya pergi, sambil mengomeli mereka dengan galak, sudah seperti emak-emak yang memarahi anaknya saat main tapi nggak pulang-pulang.

Tentu saja hal itu tak luput dari perhatian orang-orang di tribun. Rata-rata mendengus geli melihat kejadian itu.

Dan perlu di ingat, tinggi Aqqela hanya 160 cm -normal untuk anak cewek, tapi jelas tubuh mungilnya tenggelam di antara Fattah dan Oliver yang jangkung.

***

Kedua pemuda itu duduk bersebelahan di ranjang UKS.

Mereka kompak saling lirik sinis dengan ekspresi wajah dingin saat Aqqela pergi mencari kotak P3K, membuat keadaan canggung.

"Kalian lapar nggak? Biar gue chatanak OSIS suruh bawain makan," seru Aqqela sambil berjongkok di depan lemari-mencari obat.

"Kalau aku sih nggak lapar ya," balas Oliver tersenyum lebar.

Sok ganteng banget anjir. Fattah meliriknya dengan ujung mata.

"Kalau Fattah, lapar nggak?" tanya Aqqela menoleh padanya.

"Enggak," jawabnya serak.

"Oh, ya udah. Minum aja ya kalau gitu?"

Fattah memegangi perutnya yang sakit-karena di tendang Oliver tadi, jadi mengangguk pelan.

Sok manis banget anjir. Oliver berdecih sinis, meliriknya tak suka, tapi kemudian tersenyum saat Aqqela mendekat membawa kotak P3K.

Aqqela menarik napas-mendekati Fattah lebih dulu, "Cuma di wajah aja kan yang luka?"

Pemuda itu memandangi Aqqela tertegun. Dadanya ber-desir hangat, merasa tersentuh.

"Kok Fattah dulu yang di obati? Aku enggak?" protes Oliver.

"Iya, habis ini."

Oliver langsung merogoh sakunya mencari HP sambil manyun.

Aqqela mulai memajukan tangan dan dengan hati-hati menyentuh lebam keunguan di tulang pipi Fattah, membuat pemuda itu merintih.

"Udah tau kalau sakit, yakin bakalan di ulangi lagi?"

Fattah terdiam merasa tersudut begitu saja, "Maaf...!"

Aqqela mulai telaten membersihkan luka di wajah Fattah menggunakan kapas dan pembersih luka. Kemudian baru mengobatinya dengan hati-hati.

Apalagi ada darah di sudut bibirnya, membuat Aqqela cemas begitu saja dengan matanya tanpa sadar sudah memerah, khawatir.

Fattah merintih kecil, memandang Aqqela dengan kerlipan berubah. Dia perlahan memajukan tangan untuk mengusap kelopak mata Aqqela.

"Gue nggak papa. Jangan nangis!" kata cowok itu dengan suara rendahnya-sehingga Oliver tidak mendengar.

Aqqela menggigit bibir, berusaha menguasai diri. Entah kenapa jadi merasa bersalah sekarang.

Lalu dia mengulurkan tangan untuk memberikan plester luka di pelipis Fattah.

"Udah," kata Aqqela, "Mana lagi yang sakit?" tanyanya meraih pipi Fattah, membuat Oliver melirik tak senang.

"Enggak ada," balasnya menggeleng, walau diam-diam memegangi perut kanannya.

"Sebentar, ya!" pamitnya lalu bergeser ke depan Oliver.

Cowok tampan itu memandang Aqqela sengit, "Masih ingat kalau aku lagi sakit, juga?" sindirnya tajam, lalu membuang muka kesal.

Aqqela mendengus pelan, "Elo mau drama ngambek-ngambekan terus atau gue obatin?"

"Kamu obatin."

Aqqela menonyor pipi Oliver kesal, kemudian mengobati wajah cowok itu dengan telaten, membuat Oliver diam-diam melirik ke Fattah dan tersenyum miring, membuat cowok itu mendecih sinis.

"Za, ini punya gue yang sebelah sini belum," kata Fattah cepat membuat Oliver mengumpat.

"Gue dulu anying. Tadi kan udah elo,"

protesnya tak terima, "Qell, jangan mau! Aku dulu."

"Za, sebelah sini sakit banget, seriusan," kata Fattah memelas menunjuk dagunya, membuat Oliver menendang kakinya, "Apa sih lo?"

"Elo yang apa tai?" umpatnya.

"Za, obatin gue lagi!" kesal Fattah.

"Iya, bentar, ya!" Aqqela memberikan plester luka ke dagu Oliver, "Nah, udah."

"Belum semua. Ini belum, yang ini belum, terus bagian ini juga belum," kata Oliver merengek kesal, menahan tangan Aqqela yang ingin mendekati Fattah lagi.

Fattah mendorong muka Oliver sebal, lalu menarik tangan Aqqela agar mengobati wajahnya lagi.

"Ca, gue dulu! Sakit semua..." kata Fattah memajukan bibir bawahnya.

Aqqela mendesah sabar, "Iya-iya, yang mana

"CK, AKU DULU PERHATIIN!" kesal Oliver menarik tangan Aqqela, membuatnya hampir jatuh.

Fattah mengumpat dan menarik tangan Aqqela lebih keras, "Nggak bisa. Gue dulu yang harus di perhatiin."

"APA SIH KOK MALAH PADA NGE-GAS?"

amuk Aqqela menepis tangan keduanya, membuat Fattah dan Oliver menegak kaget.

Aqqela menipiskan bibir, "Gini aja, kalian saling ngobatin berdua!"

"HAH?" Keduanya ternganga lebar.

"Dah, beres. Gue mau keluar dulu, beliin kalian minum," pamitnya dan beranjak keluar.

Brak!

Pintu di tutup.

Meninggalkan keduanya yang saling lempar pandang dengan tatapan sinis.

Hening.

"Apa lo lihat-lihat?" tanya Fattah menantang.

Oliver menegak, "Lah, elo yang apa? Mau gue obatin? Sini gue suntik mati sekalian," balasnya tak mau kalah.

Fattah berdecih sinis dan melemparkan bantal ke muka Oliver, sebelum akhirnya memilih beranjak pergi, meninggalkan Oliver yang mengumpat kesal.

Fattah melengos geram, menaiki tangga ingin menuju kelasnya, tapi dia terkejut melihat seseorang turun dari sana.

Tatapan Fattah berubah menajam saat mata hazel itu menguncinya.

Rahang Fattah mengeras samar, sebelum akhirnya memilih beranjak.

"Cewek lo baru?"

Fattah berhenti melangkah dan menatap dingin pemuda itu.

Lucanne Arvinethur.

Begitulah sederet tulisan di nametag pemuda itu.

"Kenapa?"

"Gue nggak nyangka kalau lo bisa se-cepat ini lupain Sandrina," kata Lucanne tenang.

Fattah tersenyum miring, "Ada masalah sama lo?"

"Ya...nggak ada, sih. Cuma gue lagi bayangin, gimana kecewanya Odit, kalau cowok yang dia puja-puja, bisa se-gampang itu dapat pengganti dia."

Rahang Fattah mengeras, merasa tersinggung begitu saja. Dia menarik kasar kerah baju Lucanne, membuat pemuda blesteran itu tersenyum sinis.

"Gue salah ngomong?" tanyanya meremehkan.

"Elo nggak usah ikut campur urusan gue anjing!"

"Lo jatuh cinta sama anak pembunuh Sandrina, jelas itu jadi urusan gue."

"Jangan bawa-bawa Aqqela ke masalah kita!" sentak Fattah.

Lucanne terkekeh, "Why? Karena elo, adik sepupu gue ketabrak. Pelakunya adalah Michael. Dan sekarang, lo justru jatuh cinta sama anak pembunuh dari cewek lo? Brengsek banget lo-"

"ANJING!" Fattah melayangkan pukulan keras ke wajah, membuat Lucanne terjatuh ke begitu saja, "Lo nggak usah sok tau soal apapun! Dan jangan usik Aqqela, kalau lo masih pengen hidup tenang di sekolah ini."

Lucanne tersenyum miring, mengusap sudut bibirnya yang terluka, "Lo segitu sukanya sama dia? Emang lo yakin, hatinya udah buat lo?

Walaupun mereka udah putus, gue bisa rasain dari matanya, kalau yang Aqqela cinta itu masih Oliver, bukan elo. Jadi, lo baper sepihak doang? Ck, kasihan banget."

Fattah terdiam dengan dada tertohok begitu saja. Raut wajahnya jadi dingin, merasa tersudut dan di hakimi sekarang.

Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya, membuat Lucanne jadi tersenyum sinis merasa menang.

"Elo emang bisa genggam dia sekarang, tapi enggak sama hatinya. Sukses terus, buat cinta sepihak lo!"

Dia melirik ke Lucanne yang menepuk bahunya seakan menyemangati.

"Gue nggak peduli sama omongan manusia gagal move on kayak lo!" sinis Fattah membuat Lucanne jadi tersentak diam, "Udah setahun. Move on! Odit aja nggak pernah lihat ke arah lo bahkan sampai dia meninggal. Kasihan banget."

"Apa?" Lucanne ternganga kesal.

Fattah tersenyum miring dan bergegas pergi meninggalkannya.

Meski diam-diam, tangan Fattah mengepal samar mengingat ucapan Lucanne.

"Sukses terus, buat cinta sepihak lo."

Fattah menggigit bibir. Meneguk ludahnya samar, entah kenapa harus memikirkan kalimat sialan itu.

***

Aqqela melangkah keluar dari lift yang berhenti di lantai satu, menuju ke parkiran sekolah yang ramai.

"Aqqela!" panggil Oliver membuat Aqqela menoleh.

"Apa?"

"Pulang sama aku, ya!" pintanya.

Alis Aqqela terangkat sebelah, "Elo bukannya naik bus?"

Oliver mengangguk, "Iya, nanti kan aku bisa antar kamu naik taxi. Aku tau kalau kamu nggak tinggal di asmara sini," balasnya membuat Aqqela jadi melebarkan mata samar.

"Aah, gitu? Sorry, tapi gue mau balik sendiri aja. Duluan, ya!!" pamitnya membuat Oliver mengumpat pelan.

"Udah lah bos, mending kita naik bus. Pak Raji udah ngomel-ngomel tuh karena kita di diskualifikasi," kata Jimmy merangkulnya pergi.

Di sisi lain, Aqqela melangkah ke parkiran. Alisnya terangkat melihat Fattah yang melamun diam di atas motornya dengan tatapan tak berbaca.

"Fat, Aqqela tuh!" Noel menepuk bahunya membuat Fattah menoleh, melihat Aqqela yang mendekat.

Aqqela mengeryit, entah kenapa jadi

kebingungan melihat raut wajah Fattah yang tak seperti biasanya.

"Elo kenapa?" tanya Aqqela cemas.

Fattah mengalihkan wajah sesaat, "Mau pulang sekarang?" tanya Fattah serak.

Aqqela merapatkan bibir, merasa ada yang tak beres.

"Iya."

"Ya udah, naik!"

Aqqela dengan ragu mulai memakai helm dan menaiki motor Fattah. Hal itu tidak luput dari perhatian Noel yang bersama mereka.

"Noel, duluan, ya!" pamit Aqqela.

"Oh iya, hati-hati!" Noel melambaikan tangan ceria.

Motor itu melaju pergi meninggalkan halaman sekolah.

Fattah menghela napas berat, menatap jalanan di depannya dengan cengkraman tangan pada setir kemudi kuat.

"Elo ada masalah, ya?" tanya Aqqela.

"Gue nggak mau bahas," balas Fattah dingin membuat Aqqela terdiam.

"O-oh, ya udah kalau gitu..."

Aqqela menarik tubuhnya ke belakang. Wajah gadis itu jadi murung saat di diamkan Fattah. Entah kenapa jadi menciut, tak berkutik melihat Fattah saat sedang begini.

Sampai Aqqela kaget, saat tangan kirinya di raih oleh Fattah tanpa banyak kata, agar Aqqela memeluknya, membuat gadis itu melebarkan mata samar.

"Gue ada salah sama lo, ya?" tanya Aqqela dengan kedua tangannya kini bergerak memeluk perut Fattah dan menaruh dagunya di bahu cowok itu tanpa bantahan.

Fattah hanya diam. Dia hanya menunjukkan aura dingin, seakan marah dan kecewa, sehingga Aqqela tidak berkutik dan memilih memeluk cowok itu saja.

***

Keduanya melangkah memasuki unit apartemen dengan keheningan yang masih menyelimuti.

Aqqela bahkan memainkan jari-jemarinya kikuk, merasa menciut di sebelahnya.

Ceklek!

Aqqela masuk lebih dulu, hendak menuju ke kamarnya.

"Aza!"

Aqqela menghentikan langkah saat baru meraih knop pintu dan menoleh ke arahnya.

"Apa?"

Fattah melangkah mendekat dan menatap Aqqela tepat, "Kenapa tadi lo lebih pilih buat tolong dua-duanya?" tanyanya dingin.

Aqqela agak kaget saat di berikan pertanyaan itu, "Gue-"

"Kenapa lo nolong gue juga? Padahal gue tau banget kalau lo mau nolong Oliver bukan gue," potongnya tajam membuat Aqqela tersentak.

Aqqela mengerutkan kening, "Maksud lo apa? Gue nggak pernah mikir begitu."

Fattah diam agak lama, "Maksud gue... kenapa lo harus obatin gue juga kalau lo cuma terpaksa?"

Aqqela melebarkan mata, "Gue nggak terpaksa."

Fattah mengalihkan wajah, dengan raut wajahnya makin dingin, "Asal lo tau, gue lebih pilih malu karena lo nggak pilih gue waktu di lapangan tadi, daripada gue harus di kasihani kayak gitu."

"Fat, apaan, sih?" Aqqela ternganga samar, "Gue nggak maksud gitu."

"Jelas lo ada maksud, Ca. Bahkan tanpa di tanya pun, semua orang tau, kalau Oliver yang bakal lo pilih tadi, bukan gue." Fattah tersenyum sinis, "Kenapa? Lo takut, bikin gue malu di depan banyak orang?"

Aqqela mendelik kecil, "Maksud lo apa, sih?

Kenapa jadi kayak gini? Tadi kita masih baik-baik aja."

"Karena yang lo cinta itu Oliver, bukan gue," katanya menyentak marah, membuat Aqqela terlonjak kaget.

Fattah menggigit bibir, "Gue udah biasa di pandang sampah sama orang-orang. Elo nggak perlu takut bikin gue tersinggung kalau tadi lo pilih Oliver."

Aqqela tertohok begitu saja. Merasa tenggorokannya kering dan tercekat. Kelopak matanya mulai menyayu dan menatap Fattah yang menatapnya tajam.

"Fattah..." Aqqela menggigit bibir, merasa hilang kata melihat tatapan menakutkan Fattah.

"Gue nggak bohong, kalau gue marah banget setiap lihat lo sama Oliver. Lo pikir gue nggak lihat, kalian pelukan di lapangan tadi?" tanyanya marah.

Aqqela membulatkan mata begitu saja, "A-apa?"

"Kalian emang udah putus. Tapi gue bisa rasain masih ada benang yang bikin kalian selalu terhubung."

"Gue nggak-"

"Udah, lah." Fattah melengos lelah dan terkekeh miris, "Nggak perlu jelasin apapun. Perasaan gue nggak penting buat lo. Gue sih yang bego dari awal, udah ngerasa menang saat berhasil genggam lo, padahal gue tau hati lo buat siapa."

Bening yang menumpuk di pelupuk matanya akhirnya jatuh ke pipi Aqqela.

Fattah menarik napas panjang, "Kita emang nikah karena paksaan," katanya serak. Dia meneguk ludah getir, "Tapi gue benci banget milik gue di sentuh orang lain."

"Fattah, elo salah paham-"

"Salah paham soal apa?" tanyanya meradang, "Gue selama ini marah kalau itu tentang Oliver. Lo pikir gue nggak bisa tersinggung beneran, Za?"

Aqqela tergagap, merasa tersudut sekarang.

Fattah menatapnya tajam, "Gue emang brengsek, nakal, berandalan. Nggak pantes buat cewek setinggi lo, yang pinter dan jadi panutan banyak orang. Tapi apa lo pikir cowok kayak gue cuma main-main saat mutusin buat nikahin elo?"

Aqqela tertegun. Terdiam begitu saja mendengar ucapannya dengan air mata kembali jatuh di pipinya.

"Sekarang, terserah lo mau ngapain. Gue udah nggak peduli lagi. Atau lo mau Oliver aja yang jagain lo? Gue udah capek cemburu terus-terusan," katanya serak dan berbalik badan meninggalkan Aqqela yang terdiam di tempatnya.

Cemburu?

Mata Aqqela melebar sepenuhnya dan menatap Fattah yang memutar knop pintu kamarnya.

"Shaka, gue-"

"Jangan ngomong apa-apa!" kata Fattah menoleh tajam padanya, "Gue lagi nggak ada kekuatan lagi buat debat sama lo."

Brak!!!

Pintu di tutup nyaring, meninggalkan Aqqela yang merunduk dengan bahu bergetar dan mulai terisak pelan.

***

Jam dinding menunjukkan pukul satu pagi.

Aqqela melangkah ke dapur ingin mengambil minum.

Dia membuka kulkas, meraih botol air minum dan meneguknya.

"Gue udah capek cemburu terus-terusan."

Ucapan Fattah kembali terngiang di kepalanya, membuat dadanya bergetar kecil, entah kenapa perasaannya jadi memberat.

Dia melangkah keluar dari dapur. Saat melewati kamar Fattah, dia berhenti. Membuka pintu sambil mengintip sedikit.

Fattah sudah tidur, membuatnya melangkah memasuki kamar cowok itu.

Aqqela mendesah berat, menarik selimut menutupi tubuh Fattah dan mengusap lembut kepala pemuda yang sedang terlelap nyenyak itu.

"Gue minta maaf!" ucapnya serak.

"Maaf karena lo harus lihat Oliver peluk gue tadi. Gue nggak ada maksud kayak gitu," katanya dengan mata berkaca-kaca dengan tangannya menyentuh pipi Fattah lembut.

"Tapi elo salah paham..." Aqqela menggigit bibir, "Gue pilih kalian dua-duanya, bukan karena gue takut bikin lo malu, kalau gue pilih Oliver."

Aqqela menarik napas dalam-dalam, "Justru itu. Gue mau pilih elo tadi, tapi gue nggak tega biarin Oliver malu di depan banyak orang."

Air mata Aqqela perlahan menetes di pipinya, "Please, kasih gue waktu sebentar lagi, buat ngomong ke dia, kalau kita udah nikah! Dan kasih gue waktu buat bener-bener lupa sama Oliver. Karena mau gimana pun, dia yang udah lama bareng gue."

Aqqela menghapus air matanya, "Gue bingung kenapa perasaan gue se-aneh ini. Tapi gue pengen bareng lo terus..."

Karena mau bagaimanapun, Fattah adalah orang yang sudah bersumpah di depan Tuhan-nya, untuk menjaga dan menemaninya seumur hidup. Aqqela tidak mau menutup mata untuk itu.

Aqqela mengusap kepala Fattah dan memajukan wajah, mencium kening pemuda itu lembut dan cukup lama.

"Makasih karena udah jagain gue selama ini!"

bisiknya memandang sayu pemuda yang sedang tertidur pulas itu.

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!