"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"
Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.
Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.
"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."
Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahanan Terakhir di Helsinki
Udara di dalam rumah aman itu mendadak menjadi sangat tipis, seolah-olah oksigen dihisap keluar oleh ketakutan yang merayap di dinding-dinding kayu. Suara deru mesin di luar sana tidak lagi terdengar seperti kendaraan biasa; itu adalah suara kepungan predator yang telah mencium bau darah dari ribuan kilometer. Protokol Dead Man's Switch milik Arkan adalah racun terakhir yang ia suntikkan ke dunia sebelum ia mati—sebuah tindakan balas dendam dari kubur yang memastikan bahwa Elena tidak akan pernah benar-benar bebas selama aset ayahnya masih menjadi incaran dunia.
Elena mencengkeram pistol di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menatap Eros, pria yang baru saja ia ketahui telah mengorbankan separuh hidupnya di penjara bawah tanah demi melindunginya. Rasa bersalah yang tadi sempat menghimpit kini bertransformasi menjadi kemarahan yang dingin. Ia tidak akan membiarkan Eros terluka lagi. Tidak hari ini, tidak selamanya.
"Liam, berapa banyak orang yang kita punya?" tanya Eros. Suaranya masih lemah, tapi otoritasnya sebagai seorang komandan lapangan kembali muncul. Ia memaksakan diri turun dari ranjang medis. Saat kakinya menyentuh lantai, ia meringis, tapi tatapannya tetap tajam mengunci pada sosok Liam.
"Hanya sepuluh orang di dalam rumah ini, dan dua tim sniper di luar," Liam menjawab sambil memeriksa magasin senjatanya. "Tapi musuh yang datang bukan lagi pasukan terorganisir yang bisa kita ajak bicara. Mereka adalah tentara bayaran, pemburu hadiah yang tidak peduli pada diplomasi mafia. Mereka hanya ingin kepalamu, dan kode aset itu"
"Berapa lama bantuan Vanya bisa sampai?" Elena menyela, matanya beralih ke arah Ayahnya yang kini tampak menggigil di sudut ruangan, memegangi kepalanya yang dipenuhi memori pengkhianatan.
"Vanya sedang tertahan di perbatasan. Dia tidak bisa membawa pasukan besar masuk ke Finlandia tanpa memicu perang antar negara," Liam mendesis frustrasi. "Kita sendirian, El."
Eros mengambil jaket taktis dari meja dan mengenakannya dengan gerakan yang menyakitkan. Ia mendekat ke arah Elena, meletakkan tangannya yang besar di atas tangan Elena yang memegang pistol. "Jangan hanya menembak, El. Ingat apa yang kuajarkan di desa dulu saat kita berburu di hutan. Tenangkan napasmu, kunci targetmu, dan jangan biarkan emosimu menarik pelatuknya sebelum kau yakin."
Elena mengangguk, merasakan kehangatan tangan Eros yang memberinya kekuatan instan. "Aku bukan lagi gadis desa yang ketakutan, Eros. Aku adalah wanita yang akan memastikan kita semua keluar dari sini hidup-hidup."
BOOM!
Sebuah granat asap menghantam jendela depan, memenuhi ruang tamu dengan kabut abu-abu yang mencekik. Lampu rumah seketika padam, menyisakan cahaya merah dari sistem darurat yang berkedip pelan. Suara kaca pecah terdengar dari berbagai arah secara bersamaan. Penyerangan telah dimulai.
Eros menarik Elena ke balik meja mahoni yang tebal, menjadikannya barikade sementara. Di sisi lain ruangan, Liam dan anak buahnya mulai melepaskan rentetan tembakan ke arah jendela. Suara senapan mesin beradu, menciptakan simfoni kematian yang memekakkan telinga.
"Mereka masuk dari pintu belakang!" teriak salah satu anak buah Liam sebelum tubuhnya terlempar akibat terjangan peluru dari arah dapur.
Eros tidak menunggu lama. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi pria yang baru saja dijahit lukanya. Ia menarik pisau komando dari sabuknya dan melesat ke arah lorong gelap. Elena mengikutinya, jantungnya berdebar kencang, tapi tangannya tetap stabil. Di ujung lorong, dua pria berpakaian serba hitam muncul dengan senjata otomatis.
Eros menjatuhkan diri ke lantai, meluncur di bawah garis tembak mereka, dan dengan satu gerakan sapuan, ia memotong urat nadi salah satu penyerang. Penyerang kedua mengarahkan senjatanya ke kepala Eros, tapi sebelum ia sempat menekan pelatuk, sebuah peluru menembus tenggorokannya.
Elena berdiri di belakang Eros dengan pistol yang masih mengeluarkan asap. Ia baru saja membunuh manusia pertamanya demi melindungi pria yang ia cintai. Tidak ada rasa mual, tidak ada keraguan. Hanya ada insting bertahan hidup yang murni.
Eros menatap Elena sejenak, ada rasa bangga sekaligus pedih di matanya melihat Elena kehilangan kepolosannya. Namun, mereka tidak punya waktu untuk sentimentalitas.
"Bawa Ayah ke ruang perlindungan bawah tanah!" teriak Eros pada Liam yang baru saja melumpuhkan penyerang di ruang tamu.
Mereka menggiring Ayah Elena menuju pintu baja di bawah tangga. Namun, saat mereka hampir mencapainya, sebuah ledakan besar menghancurkan atap rumah. Bagian dari bangunan itu runtuh, memisahkan Elena dan Eros dari Liam dan Ayah mereka.
"Elena!" Liam berteriak dari balik reruntuhan kayu yang terbakar. "Bawa dia keluar lewat terowongan darurat! Aku akan menahan mereka di sini!"
"Tidak, Liam!" Elena mencoba merangkak melalui celah reruntuhan, tapi Eros menariknya kembali.
"Liam benar, El! Jika mereka mendapatkanmu, semua ini berakhir! Kita harus memancing mereka menjauh dari Ayahmu!" Eros menyeret Elena menuju pintu rahasia di balik rak buku.
Mereka berlari menembus terowongan sempit yang lembap dan dingin, yang berakhir di sebuah gudang tua di tengah hutan, beberapa ratus meter dari rumah utama. Saat mereka keluar, Elena menoleh ke belakang. Rumah aman itu kini dilalap api, menerangi langit malam Finlandia dengan warna oranye yang mengerikan.
Eros terhuyung, ia jatuh berlutut di atas salju. Luka-lukanya terbuka kembali akibat aktivitas fisik yang ekstrem. Darah mulai merembes deras dari jaket taktisnya.
"Eros! Tidak, tetaplah bersamaku!" Elena memeluk tubuh Eros, mencoba menahan pendarahan dengan tangannya sendiri.
"Dengarkan aku, Elena," Eros terengah, wajahnya kini sepucat salju di sekeliling mereka. "Aset itu ... Ayahmu tidak menyimpannya dalam bentuk uang atau emas. Dia menyimpannya dalam sebuah chip yang ditanamkan di dalam liontin yang selalu kau pakai sejak kecil. Liontin dari ibumu."
Elena menyentuh lehernya. Ia masih memakai liontin perak berbentuk hati yang kusam itu. Ia tidak pernah melepasnya, bahkan saat Arkan menyiksanya, karena itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya.
"Hancurkan liontin itu jika aku mati, El. Jangan biarkan siapa pun mendapatkannya," bisik Eros.
"Kamu tidak akan mati!" Elena berteriak.
Tiba-tiba, suara langkah kaki di salju terdengar mendekat. Bukan langkah tentara bayaran, melainkan langkah yang sangat tenang dan teratur. Dari balik bayang-bayang pohon, muncul sesosok pria yang sangat Elena kenali, tapi kehadirannya di sini adalah cacat logika yang paling mengerikan.
Itu adalah Marco.
Anak buah kepercayaan Eros yang seharusnya sudah tewas ditembak Vanya di pelabuhan Indonesia. Marco berdiri di sana dengan senyum tipis, memegang pistol dengan peredam suara. Di sampingnya berdiri Vanya, yang menatap Eros dengan pandangan yang dingin.
"Vanya? Marco?" Elena berdiri, mencoba menghalangi tubuh Eros dengan tubuhnya sendiri. "Apa yang terjadi?"
Vanya melangkah maju, ia memainkan sehelai rambutnya yang tertutup salju. "Maafkan aku, Eros. Tapi dewan menawarkan sesuatu yang tidak bisa kau berikan. Mereka menawarkan pengampunan penuh bagiku jika aku menyerahkan liontin itu dan kepalamu."
"Dan Marco ... dia tidak mati?" tanya Elena tak percaya.
"Vanya adalah ahli dalam menciptakan ilusi kematian, Elena," sahut Marco dingin. "Kami sudah bekerja sama sejak di pelabuhan. Arkan hanya pion kecil untuk membuat kalian lari ke Rusia, tempat di mana kami bisa menjebak kalian tanpa campur tangan hukum internasional."
Eros tertawa lemah di atas salju, sebuah tawa yang penuh penghinaan. "Jadi ini akhirnya, Vanya? Kau berkhianat demi kursi tua yang berdebu?"
"Aku berkhianat demi kelangsungan hidupku, Eros. Kau yang memilih untuk mati demi seorang gadis desa," jawab Vanya. Ia mengarahkan senjatanya ke arah Elena. "Berikan liontin itu, Elena. Atau aku akan memastikan kematian Eros menjadi sangat lambat dan menyakitkan di depan matamu."
Elena berdiri tegak. Ia meraba liontin di lehernya. Ia menatap Eros yang sedang sekarat, kemudian menatap Vanya yang berdiri dengan angkuh. Di tengah badai salju Finlandia yang semakin mengamuk, Elena menyadari bahwa tidak ada lagi tempat untuk lari. Musuh ada di depannya, pengkhianat ada di sampingnya, dan kekasihnya sedang menjemput maut.
Ia menarik napas panjang, kemudian dengan satu gerakan cepat, ia tidak memberikan liontin itu, melainkan memasukkannya ke dalam mulutnya dan menelannya bulat-bulat.
"Jika kalian menginginkan aset ini, kalian harus membedah perutku," ucap Elena dengan mata yang berkilat penuh tantangan. "Dan jika kalian membunuhku sekarang, kodenya akan hancur bersamaku."
Vanya tertegun. Marco terdiam. Bahkan Eros menatap Elena dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Gadis desa itu telah melakukan pengorbanan yang paling gila demi melindungi rahasia dan pria yang ia cintai.
Vanya menggeram geram. Ia melangkah maju dan menghantamkan senjatanya ke wajah Elena hingga wanita itu jatuh pingsan di samping Eros. "Bawa mereka berdua ke pesawat! Jika dewan menginginkan chip itu, mereka harus melakukan operasi di Moskow. Dan pastikan Eros tetap hidup ... aku ingin dia melihat bagaimana jantung dunianya dibelah."
dalam keadaan apapun dia tetep sigap
harus ada rencana
semoga mereka baik" aja😭
dh pasrah ajaa 🥲
jangan cengeng lagi kaya kmren