Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlihatkan Gadis Polos
“Sekarang yang mukul dia adalah aku,” ujar Kael dengan suara datar. “Katakan saja, mau ganti rugi berapa?”
Kalimat itu langsung membuat seluruh aula gempar. Bisik-bisik bermunculan dari segala arah, bercampur dengan tatapan tak percaya.
“Apa? Cewek kampung itu ternyata tunangan Tuan Kael?” ujar Rosse terkejut, matanya membelalak.
“Kalau tunangannya Tuan Kael, siapa juga yang mau sama Boris,” sahut Adela dengan suara bergetar, jelas mulai panik.
Bu Santi menggeleng keras, wajahnya memerah karena emosi dan tidak terima.
“Nggak mungkin!” bentaknya. “Keluarga Rothwell itu cuma orang kaya baru! Mana mungkin punya janji pernikahan dengan keluarga Blackwood di kota Zhenkai!” Bentak Bu Santi, suaranya meninggi, penuh penolakan.
Namun sebelum suasana makin memanas, Farel melangkah maju sambil bertepuk tangan pelan, satu demi satu, suaranya terdengar jelas di tengah aula yang mulai sunyi.
“Ini momen bersejarah, Tuan Kael,” ujarnya dengan senyum miring. “Kamu sampai diragukan begitu?”
Ia menoleh ke arah Bu Santi, tatapannya berubah tajam.
“Kayaknya dunia bakal berubah setelah ini.” “Grup keluarga Johnson… sepertinya bakal bangkrut deh.”
Ancaman itu meluncur ringan dari mulut Farel, tapi efeknya langsung terasa.
Wajah Bu Santi seketika memucat. Tubuhnya yang tadi tegap mendadak goyah, lututnya melemas, lalu—
Bruk.
Ia berlutut di lantai aula, tepat di hadapan Kael.
“A-aku nggak tahu, Tuan Kael…” suaranya bergetar. “Aku sungguh nggak tahu kalau keluarga Rothwell itu besannya keluarga Blackwood.”
Kepalanya tertunduk, tangannya gemetar menempel di lantai.
“Tolong… maafkan aku. Ampuni keluarga Johnson,” pintanya berulang, nadanya penuh kepanikan.
Sementara itu, di balik Aren, Mirea mengamati semua itu dalam diam.
Di dalam hatinya, ia tersenyum kecil.
Nggak disangka Tuan Kael lebih berkuasa dari yang aku bayangkan, batinnya santai.
Lihat deh… cewek-cewek di ruangan ini, tatapan mereka ke aku kayak mau makan aku hidup-hidup.
Mirea melihat sekelilingnya, tatapan sinis terlempar kearahnya setelah mengetahui bahwa ia adalah tunangan Tuan Kael.
Kael sedikit menunduk, tatapannya tenang tapi mengandung tekanan yang membuat suasana terasa semakin berat.
“Kamu nggak seharusnya minta maaf ke aku,” ujarnya pelan namun jelas. “Tapi ke tunanganku.”
Ia menggeser pandangannya ke arah Mirea, lalu memberi isyarat kecil dengan dagunya.
“Dia yang berhak nentuin mau maafin kamu dan anakmu… atau nggak.”
Ucapan itu seperti palu yang dijatuhkan di tengah aula.
Mirea tertegun. Matanya membelalak, refleks menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
Kael hanya tersenyum tipis, senyum yang sulit ditebak maknanya, lalu menoleh kembali ke depan.
Bu Santi langsung berbalik arah, tubuhnya masih berlutut di lantai. Kini ia merangkak setengah mendekat ke arah Mirea, wajahnya penuh kepanikan.
“Nona Mirea, aku mohon…” suaranya bergetar. “Tolong bilangin ke Tuan Kael… ampuni anakku.”
Kepalanya kembali tertunduk, tangannya saling menggenggam seolah memohon belas kasihan.
Di balik wajahnya yang tampak kaget dan diam, Mirea menatap Kael sekilas.
Di dalam hatinya, senyum dingin perlahan muncul.
Mau permainkan aku?
Oke… biar aku kasih lihat apa itu cewek polos sebenarnya.
Mirea menarik napas pelan, lalu melangkah setengah maju dari balik Aren. Suaranya lembut, nyaris bergetar, namun terdengar jelas di tengah aula yang sunyi.
“Kakak-kakak, Tuan Kael, Tuan Farel…” ujarnya perlahan. “Masalah hari ini… akulah yang salah sampai bikin para tamu kaget.”
Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam di depan tubuhnya, sikapnya terlihat begitu rendah hati.
“Meski aku yang tersakiti. Tapi dibanding aku, luka yang sudah mereka terima… rasanya nggak seberapa.”
Kata-katanya membuat beberapa tamu saling berpandangan. Bahkan Bu Santi yang masih berlutut tampak terdiam, tak menyangka arah pembicaraan akan seperti ini.
Kael menatap Mirea beberapa detik, lalu sudut bibirnya terangkat.
“Oke…” katanya pelan, senyum puas terukir di wajahnya. “Jadi maksud Nona Mirea adalah…?”
Nada suaranya seperti sedang menguji, memastikan ia tak salah menangkap makna.
Mirea mengangkat wajahnya, lalu tersenyum manis senyum yang terlihat polos di mata semua orang.
“Suruh Pak Boris minta maaf sama aku,” ujarnya lembut. “Lalu anggap masalah ini… selesai.”
“Angkat orang itu,” ujar Kael memerintah.
Farel langsung menjentikkan jarinya, seolah perintah itu perkara sepele. Ia melirik sekeliling, lalu meraih sebuah ember berisi air yang berada tak jauh dari sana. Tanpa ragu, ia mengangkatnya dan menyiramkannya langsung ke tubuh Boris.
Byur!
Air mengguyur wajah dan dada Boris. Tubuhnya tersentak, napasnya terengah saat kesadarannya perlahan kembali.
“Ibu…” gumam Boris lirih, suaranya serak.
Bu Santi buru-buru menghampiri, mengangkat tubuh anaknya hingga terduduk. Tangannya gemetar memegang bahu Boris.
“Lihat kelakuanmu!” bentaknya panik. “Cepat minta maaf sama Nona Mirea!”
Namun yang terjadi justru di luar dugaan.
Alih-alih menurut, Boris malah menarik tubuhnya mundur, punggungnya merapat ke lantai marmer. Matanya membelalak, wajahnya pucat pasi, menatap ke arah Mirea seolah melihat sesuatu yang jauh lebih menakutkan dari sekadar kemarahan.
“Ka… kamu…” katanya terbata, jari tangannya terangkat menunjuk ke arahnya, gemetar hebat.