Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Sore itu, langit di luar tampak mendung, seolah alam sedang memberikan pertanda akan badai besar yang sebentar lagi melanda rumah mereka. Araluna turun dari motor besar Arsen dengan perasaan yang masih tidak enak. Sepanjang jalan dari kampus, ia terus memikirkan sikap Bunda yang dingin pagi tadi.
Begitu pintu depan terbuka, suasana rumah terasa begitu mencekam. Tidak ada suara televisi, tidak ada aroma masakan. Hanya ada keheningan yang menyesakkan paru-paru.
"Assalamualaikum..." ucap Luna pelan, disusul Arsen di belakangnya yang tetap dengan wajah kaku, namun rahangnya tampak mengeras karena instingnya menangkap aura bahaya.
Begitu mereka melangkah ke ruang tengah, langkah mereka terhenti seketika. Di sana, Papa Arga berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Di sampingnya, Bunda duduk dengan mata sembab bekas tangis, namun tatapannya tajam menghunus.
Di atas meja kopi, tergeletak sebuah pakaian. Itu adalah kaos tipis merah marun milik Luna yang ia pakai semalam saat masuk ke kamar Arsen—kaos yang tertinggal di bawah ranjang Arsen karena mereka terlalu terburu-buru saat Papa mengetuk pintu pagi buta tadi.
"INI APA ALUNA?! ARSEN?!" suara Papa Arga menggelegar, menggetarkan seluruh ruangan. Beliau menyambar kaos itu dan melemparkannya tepat ke depan kaki mereka.
Araluna melotot, ia terkejut bukan main. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat benda itu. Pikirannya kosong, tangannya mulai gemetar hebat. Ia menoleh ke arah Arsen, berharap ada keajaiban, namun ia melihat Arsen juga terdiam mematung.
"Papa tanya sekali lagi! Kenapa baju tidur Luna bisa ada di bawah tempat tidur kamu, Arsen?!" bentak Papa lagi, kali ini ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Arsen hingga jarak mereka hanya beberapa senti. "Jawab Papa! Kalian pikir Papa bodoh?!"
Arsen menarik napas panjang, mencoba mempertahankan kewarasannya di tengah situasi yang hancur ini. Sifat kakunya adalah satu-satunya hal yang mencegahnya untuk tidak tumbang di depan Papa.
"Pa, itu..." Arsen mencoba bicara, namun suaranya tercekat.
"APA?! MAU ALASAN APA LAGI?!" Papa Arga berteriak lagi. "Bunda kamu melihat semuanya semalam, Arsen! Bunda melihat kamu memeluk Luna di dalam kamar itu! Papa awalnya tidak percaya saat Bunda menceritakannya pagi tadi, tapi setelah Papa periksa kamar kamu... Papa menemukan ini!"
Luna merasa dunianya runtuh. Ia menatap Bunda yang kini mulai terisak lagi. "Bunda... Luna... Luna bisa jelasin..."
"Jelasin apa, Luna?!" Bunda akhirnya bersuara, suaranya parau dan penuh luka. "Jelasin gimana kamu bisa mengkhianati kepercayaan Bunda? Jelasin gimana kalian berdua berani melakukan hal menjijikkan itu di rumah ini?! Di bawah atap yang sama?!"
Tangisan Luna pecah. Ia jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan tangan. "Maafin Luna, Bun... Maafin Luna..."
Namun, Arsen justru mengambil langkah berani. Ia maju, berdiri melindungi Luna yang bersimpuh di lantai. Ia menatap Papa Arga dengan sorot mata yang tidak lagi kaku, melainkan sorot mata seorang pria yang siap menanggung segalanya.
"Jangan salahkan Luna, Pa. Semuanya salah saya. Saya yang menarik dia, saya yang memaksa dia," ucap Arsen dengan suara berat dan mantap. "Kalau ada yang harus Papa hukum, hukum saya. Usir saya dari rumah ini, tapi tolong jangan sakiti Luna."
Papa Arga tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan kekecewaan. "Kamu pikir dengan bersikap heroik seperti ini, kesalahan kalian terhapus? Kalian adalah saudara! Walaupun tidak sedarah, kalian tinggal sebagai keluarga! Apa kata orang kalau mereka tahu?!"
Papa kemudian menunjuk ke arah pintu. "Masuk ke kamar kalian masing-masing! Jangan ada yang keluar sebelum Papa memutuskan apa yang harus dilakukan pada kalian berdua. Dan Arsen... jangan harap kamu bisa menyentuh Luna lagi setelah ini."
Suasana sore itu berakhir dengan kehancuran total. Araluna ditarik paksa oleh Bunda menuju kamarnya, sementara Arsen tetap berdiri di ruang tengah di bawah pengawasan tajam Papa Arga. Tanggal merah yang awalnya menjadi sahabat Luna, kini menjadi saksi bisu berakhirnya rahasia panas mereka, meninggalkan luka yang mungkin tidak akan pernah bisa sembuh bagi keluarga itu.