NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 16

Pendar lampu gantung di restoran tepi pantai Senggigi menciptakan suasana yang begitu magis. Angin laut yang lembut membawa aroma garam dan bunga kamboja, menyentuh kulit Sasya yang malam itu mengenakan gamis sutra berwarna emerald. Di seberangnya, Alkan tampak santai dengan kemeja linen putih, namun tetap memancarkan aura wibawa yang tak pernah luntur.

"Mas... bisa nggak, ponselnya disimpan dulu di saku?" Sasya memulai, nada bicaranya mencoba tetap manis meski hatinya mulai terasa "panas" seperti prosesor yang dipaksa bekerja berat.

Alkan mendongak, menyadari tatapan istrinya. "Maaf, Sya. Ini Linda, anak angkatan bawahmu. Dia terus-menerus mengirimkan log sistemnya yang error. Katanya sangat mendesak."

Sasya menghela napas. Linda. Dia tahu mahasiswi itu. Bukan karena kepintarannya, tapi karena hobinya yang selalu mencari alasan untuk berada di dekat Alkan. Dan sekarang, di tengah makan malam romantis mereka, Linda mengirimkan foto screenshot kode yang sebenarnya bisa diselesaikan hanya dengan membaca buku panduan dasar.

"Mas tahu nggak? Foto yang dia kirim itu... dia pakai refleksi di layar monitor supaya wajahnya yang penuh makeup itu kelihatan," gumam Sasya sambil mengaduk jus alpukatnya.

Alkan tertegun, ia melihat kembali layar ponselnya. Benar saja. Ada pantulan wajah mahasiswi itu yang sedang berpose menopang dagu. Alkan langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas.

"Saya nggak sadar, Sya. Maafkan ketidakpekaan saya," Alkan meraih tangan Sasya di atas meja, menggenggamnya erat. "Variabel gangguan seperti itu tidak akan pernah masuk ke dalam fungsi utama hidup aku lagi. Fokus aku cuma kamu."

Setelah makan malam, mereka kembali ke vila pribadi yang memiliki akses langsung ke pantai tersembunyi. Suara deburan ombak menjadi musik latar yang alami. Lampu-lampu kuning temaram menyinari kolam renang pribadi yang jernih.

Begitu masuk ke dalam kamar, Alkan tidak membiarkan Sasya menjauh. Ia menarik pinggang istrinya dari belakang, memeluknya erat, menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Sasya yang harum aroma vanilla.

"Mas... tadi katanya capek?" bisik Sasya, tubuhnya meremang merasakan hembusan napas Alkan yang hangat.

"Lelahnya hilang begitu melihat kamu cemburu," goda Alkan dengan suara rendah yang serak. "Ternyata istri saya kalau sedang cemburu jauh lebih menarik daripada semua teori keamanan jaringan."

Alkan membalikkan tubuh Sasya sehingga mereka kini berhadapan. Di bawah cahaya lampu remang, tatapan Alkan begitu intens, seolah sedang melakukan deep scanning ke dalam jiwa Sasya. Kelembutan yang selama ini ia tunjukkan kini berubah menjadi gairah yang tak tertahankan.

Alkan menunduk, mencium bibir Sasya dengan penuh penekanan. Bukan lagi sekadar kecupan lembut, melainkan sebuah pernyataan kepemilikan yang mendalam. Sasya melingkarkan lengannya di leher Alkan, membalas setiap sentuhan suaminya dengan keberanian yang baru ia temukan.

Dalam keheningan malam Lombok, suhu di dalam ruangan itu terasa meningkat drastis. Alkan membimbing Sasya menuju tempat tidur besar yang sudah bertabur kelopak mawar. Setiap sentuhan tangan Alkan di kulit Sasya terasa seperti aliran listrik yang mensinkronkan detak jantung mereka dalam satu frekuensi yang sama.

"Sasya," bisik Alkan tepat di bibir istrinya, "di sini, tidak ada lagi batas antara kita. Kamu adalah rumah saya, satu-satunya tempat saya ingin pulang dan meletakkan seluruh dunia saya."

Malam itu, diiringi irama ombak yang konsisten, dua insan yang dipersatukan lewat jalan yang rumit itu saling memberikan diri mereka seutuhnya. Sebuah penyatuan yang panas namun tetap sakral, membuktikan bahwa cinta yang dibangun di atas logika dan doa akan menghasilkan ledakan rasa yang tak tertandingi oleh simulasi apa pun.

Matahari pagi menyelinap masuk dari balik gorden yang tersingkap sedikit. Sasya terbangun dengan posisi kepala bersandar di dada bidang Alkan. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang stabil dan tenang.

Alkan mengelus rambut Sasya yang berantakan, mencium puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. "Masih cemburu sama Linda?"

Sasya tertawa kecil, menyembunyikan wajahnya di balik selimut. "Linda siapa? aku sudah hapus namanya dari memoriku."

"Bagus," Alkan memeluknya lebih erat. "Karena di database hati saya, datanya sudah di-permanently deleted tanpa sisa. Cuma ada satu entitas tunggal di sana: Sasya Malik Al-Azhar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!