NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Main sama Maya

Aku memejamkan mata di kamar, awalnya hanya ingin berpura-pura tidur.

Arven berhenti di depan pintu, dia sudah memutar kenopnya tetapi setelah itu menjauh. Suara televisi dari ruang tengah kembali terdengar samar. Aku menarik napas pelan, berusaha menenangkan pikiranku yang masih penuh dengan kata-kata Maya.

Cuma sebentar, pikirku.

Tapi tubuhku ternyata lebih lelah dari yang kusadari. Pikiran yang terlalu penuh membuatku tenggelam tanpa perlawanan.

Aku benar-benar tertidur.

Saat aku terbangun, ruangan sudah gelap. Lampu kamar mati, hanya cahaya tipis dari celah pintu yang menunjukkan malam sudah datang.

Aku mengusap wajah, duduk perlahan. Kepala terasa agak berat, tapi tidak pusing. Tanganku meraba meja di sisi kasur, lalu sisi kasur ku.

Tidak ada.

Aku mengerutkan kening, menyalakan lampu kamar. Pandanganku langsung tertuju ke meja kecil tempat aku yakin meletakkan ponsel sebelum tertidur.

Kosong.

"Hmm?" gumamku pelan.

Aku berdiri, memeriksa bantal, selimut, lantai. Tidak ada.

Dadaku mulai terasa tidak nyaman.

Aku yakin tadi aku meletakkannya di sana. Aku ingat jelas.

Aku keluar kamar.

Arven ada di ruang tengah, duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Lampu redup menyinari wajahnya, membuat ekspresinya terlihat tenang.

"Ven," panggilku.

Ia menoleh. "Kenapa?"

"Kamu lihat hp aku nggak?" tanyaku sambil mendekat. "Perasaan aku simpan di meja dekat kasur."

Arven mengernyit ringan, lalu menggeleng pelan.

"Nggak," katanya. "Kamu yakin taruh di situ?"

"Iya aku ingat kok," jawabku spontan.

Ia menutup laptopnya, lalu berdiri. Ia mendekatiku, bukan ke kamar, tapi ke arahku. Tangannya terangkat, menyentuh lenganku dengan lembut, menenangkan.

"Mungkin kamu salah ingat," ucapnya pelan. "Kamu tadi ngantuk banget. Bisa aja kamu taruh di tempat lain."

Aku menatapnya. Wajahnya sama seperti biasa perhatian, lembut, tidak ada tanda aneh.

"Tapi aku yakin-"

"Seren," potongnya halus, bukan keras. "Kamu akhir-akhir ini sering kecapekan. Ingatan bisa keacak sedikit. Nggak apa-apa."

Nada suaranya membuatku ragu pada diriku sendiri.

Ia tersenyum kecil, lalu mengusap kepalaku. "Nanti juga ketemu. Sekarang kamu minum dulu, terus tidur lagi ya?"

Aku ingin membantah. Ingin bilang ini rasanya berbeda, bukan sekadar lupa. Tapi kata-kata itu terasa terlalu berat untuk diucapkan.

Aku mengangguk pelan.

"Iya mungkin aku salah ingat."

Arven tersenyum lagi, kali ini lebih lega. Tangannya tetap di kepalaku sedikit lebih lama dari biasanya, seolah memastikan aku benar-benar tenang.

Aku kembali ke kamar tanpa ponsel.

Di balik pintu yang tertutup, aku duduk di tepi ranjang, menatap meja kecil itu lagi. Karena aku menyerah aku kembali tertidur.

Keesokan harinya datang dengan perasaan yang campur aduk.

Aku sudah bersiap sejak pagi, memilih baju dengan sedikit lebih lama dari biasanya. Tanganku sempat berhenti di depan cermin, menatap bayanganku sendiri, mencoba memastikan aku terlihat normal. Seperti orang yang benar-benar akan pergi bertemu temannya.

Saat aku keluar kamar, Arven sudah ada di ruang tengah. Ia menoleh begitu melihatku. Tatapannya menyusur sebentar, lalu berhenti di wajahku.

"Kamu cantik," katanya akhirnya.

Nada suaranya lembut, tapi matanya tidak sepenuhnya tenang. Ada kekhawatiran yang tidak ia sembunyikan.

Aku tersenyum kecil. "Cuma ketemu Maya kok."

Ia mengangguk pelan, lalu menarik napas. "Setidaknya aku antar sampai mall, ya?"

Kalimat itu terdengar seperti kompromi yang sudah ia siapkan sejak awal. Dadaku menghangat, sekaligus terasa sedikit bersalah.

"Iya," jawabku pelan. "Boleh."

Di perjalanan, suasana lebih sunyi dari biasanya. Arven menyetir dengan fokus, tangannya menggenggam setir erat. Sesekali ia melirik ke arahku, lalu cepat-cepat kembali menatap jalan.

Sesampainya di mall, ia ikut turun. Kami berjalan berdampingan, langkah kami pelan. Arven memilihkan kafe kecil dekat pintu masuk, tempat yang tidak terlalu ramai, dengan kursi yang menurutnya 'lebih nyaman'.

"Aku tunggu di sini," katanya. "Biar gampang lihat orang datang."

Aku mengangguk.

Waktu berjalan pelan.

Aku tidak bisa mengecek ponsel aku bahkan masih belum menemukannya sejak malam tadi. Jadi aku hanya bisa menatap sekitar, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi, pasangan yang tertawa, keluarga kecil yang berjalan sambil membawa belanjaan.

Sesekali aku melirik jam tangan Arven.

Tiga puluh menit.

Satu jam.

Arven duduk di seberangku, punggungnya tegak, matanya sesekali bergerak ke arah pintu masuk. Setelah waktu terasa terlalu lama, aku mulai gelisah.

"Ven," panggilku pelan. "Kamu pulang aja dulu. Aku bisa nunggu sendiri."

Ia langsung menggeleng, hampir tanpa berpikir.

"Nggak," katanya. "Aku temenin sampai Maya datang."

"Tapi kamu pasti ada kerjaan-"

"Aku nggak keberatan."

Nada suaranya tegas tapi tetap lembut. Aku menelan kata-kataku sendiri. Lagi-lagi, aku mengalah.

Waktu terus berjalan.

Aku kembali melirik jam tangannya. Hampir dua jam.

Perutku terasa kosong, bukan karena lapar, tapi karena sesuatu yang tidak jelas. Aku mengusap telapak tanganku sendiri, mencoba menenangkan diri.

"Dia belum datang juga," gumamku, lebih seperti bicara ke udara.

Arven mengikuti arah pandangku ke jamnya. "Mungkin terlambat."

"Mungkin," jawabku cepat, lalu tersenyum kecil. "Dia lagi sibuk juga, kan. Mau nikah sebulan lagi."

Aku mencoba terdengar masuk akal. Meyakinkan diriku sendiri. Arven menatapku beberapa detik. Tatapannya lembut, tapi ada sesuatu yang seperti menahan kata-kata di baliknya.

 

Waktu terus bergerak, terasa makin lambat.

Aku kembali melirik jam di pergelangan tangan Arven. Hampir dua jam. Jarum pendeknya sudah lewat dari yang aku perkirakan, dan entah kenapa dadaku ikut terasa berat.

"Dia belum datang" gumamku pelan, lebih ke diriku sendiri.

Arven ikut melirik jamnya, lalu kembali menatap ke arah pintu masuk mall. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya sedikit mengeras.

"Mungkin masih sibuk," katanya.

Aku mengangguk kecil. "Iya mungkin."

Aku menghela napas, lalu tersenyum tipis, memaksakan nada yang terdengar santai. "Maaf ya, kamu jadi ikut nunggu lama."

Ia menoleh ke arahku. "Kenapa minta maaf?"

"Harusnya aku bisa nunggu sendiri."

Arven tidak langsung menjawab. Ia mencondongkan badan sedikit ke depan, sikunya bertumpu di meja. Matanya menatapku.

"Kalau gitu," katanya akhirnya, suaranya rendah dan hati-hati, "mau main sama aku aja? Sambil nunggu Maya."

Aku terdiam.

"Main?" ulangku pelan.

"Iya," katanya sambil mengangkat bahu sedikit. "Kita keliling sebentar. Atau ngopi di tempat lain. Kalau dia datang, kita balik ke sini."

Ada nada ringan di suaranya, seolah itu ide spontan. Aku menatapnya beberapa detik. Ada rasa bersalah yang menyelinap, tapi juga kelegaan yang tidak bisa kutolak.

"Kalau kamu nggak keberatan."

"Aku yang nawarin," potongnya cepat, lalu tersenyum kecil. "Jadi jangan mikir macam-macam."

Aku tertawa pelan. "Kamu tuh!"

Kami berdiri bersamaan. Saat berjalan berdampingan, langkah Arven menyesuaikan langkahku, sedikit lebih pelan dari biasanya. Tangannya sempat menyentuh punggung tanganku.

Di dalam mall, suara ramai terasa lebih samar. Aku mencoba menikmati momen itu tawa kecil, obrolan ringan, langkah-langkah tanpa tujuan jelas.

Sesekali mataku tanpa sadar mencari jam tangan Arven lagi.

Belum ada perubahan.

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, mungkin Maya benar-benar sibuk. Pernikahannya tinggal sebulan lagi. Banyak yang harus diurus.

1
humei
coba cari tau seren , jgn terlalu percaya arven
humei
iya . kemana arven 🙃
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!