Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Cahaya yang Tidak Padam.
“Apa … apa itu?”
Suaranya keluar pelan, nyaris tak terdengar, seperti seseorang yang takut jika sedikit lebih keras saja, sesuatu yang rapuh akan pecah. Tangannya yang tadi gemetar perlahan berhenti mencengkeram kain bajunya.
Aku merasakannya bahkan sebelum melihatnya.
Tarikan napasnya berubah.
Yang tadinya pendek, tersendat, seperti udara selalu kurang, kini mengalir lebih panjang. Dada kecilnya terangkat dan turun dengan ritme yang lebih tenang. Warna pucat di wajahnya mulai surut, digantikan semburat merah tipis di pipinya, bukan sehat sepenuhnya, tapi cukup untuk menandakan bahwa tubuhnya tidak lagi melawan dirinya sendiri.
Aku membuka penglihatanku yang lain.
Di sekeliling tubuhnya, aura perak itu masih ada, rapuh serta penuh retakan, namun lapisan abu-abu yang menyelubunginya … menipis. Tidak menghilang. Tidak juga runtuh.
Hanya bergeser sedikit, seperti kabut yang tersibak oleh cahaya pagi.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Tapi nyata.
“Kamu …” Yu Yan berbisik. Matanya membesar, menatapku seakan baru pertama kali benar-benar melihatku. “Kamu melakukan sesuatu?”
Aku ingin menjawab.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak sengaja, bahwa aku hanya mengikuti dorongan aneh dari dalam dada kecil ini. Tapi lidahku terlalu berat. Tubuhku terlalu kecil. Yang bisa kulakukan hanya menatap balik, merasakan jantung mungilku berdebar cepat—terlalu cepat—seolah takut detik berikutnya semua ini akan lenyap.
Tapi itu bekerja.
Sedikit.
Aku bisa merasakannya.
Lalu dunia terasa miring.
Kepalaku mendadak berat, seperti ditarik ke bawah oleh sesuatu yang lembut tapi tak bisa dilawan. Di dahiku, biji cahaya itu berdenyut pelan.
Sekali …
Dua kali …
Lalu ritmenya melambat. Sinar keemasan yang tadi samar tapi hangat, meredup seperti bara yang kehabisan napas.
Cahaya itu padam.
Aku menguap lebar tanpa bisa menahannya. Kelopak mataku turun, dan dunia di sekitarku menjadi kabur, warna-warna menyatu.
Aku merasakan gerakan cepat.
Yu Yan sudah mendekat, tangannya menyelip di bawah tubuhku, mengangkatku dengan hati-hati seolah aku terbuat dari kaca tipis. Pelukannya erat tapi gemetar.
“Kamu lelah,” bisiknya. Suaranya lembut, penuh rasa bersalah yang tidak ia ucapkan sepenuhnya. “Maaf … aku tidak seharusnya …”
Kalimatnya menggantung.
Aku tidak mendengar sisanya, tapi aku merasakannya.
Matanya.
Di balik kelelahan dan ketakutan yang masih tersisa, ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan kebahagiaan. Bukan juga kelegaan penuh.
Tapi sebuah titik kecil yang baru menyala.
Harapan.
Dan sebelum aku benar-benar tertidur, aku tahu satu hal dengan pasti.
Untuk pertama kalinya, dia percaya bahwa rasa sakit di dadanya tidak harus selamanya.
[PoV Yu Yan]
Tanganku masih hangat.
Hangatnya belum pergi, walau cahaya itu sudah tidak ada lagi. Rasanya seperti saat Ibu menggenggam tanganku waktu aku takut, tapi lebih dalam. Hangatnya masuk ke tanganku, lalu ke dadaku.
Dadaku biasanya sakit.
Aku tidak tahu kenapa. Sejak lama rasanya seperti ada benda keras di dalam sana. Kalau aku bernapas, rasanya sempit. Kadang sakit sekali, seperti dicubit dari dalam.
Tapi sekarang … tidak begitu.
Waktu cahaya kuning dari bayi itu menyentuhku, dadaku tidak sakit seperti biasanya. Masih terasa aneh, tapi bukan sakit. Seperti kalau lututku luka lalu dibersihkan, perih, tapi tidak menakutkan.
Aku menarik napas pelan.
Tidak sesak.
Aku melihat ke bawah.
Bayi itu tidur di pelukanku. Namanya Shen Yu. Pipinya bulat dan lembut. Matanya tertutup, tapi wajahnya kelihatan tenang, seperti tidak ada apa-apa di dunia ini yang bisa menyakitinya.
Aku tahu itu tidak benar.
Aku tidak tahu dari mana aku tahu. Tapi aku tahu.
“Kamu … siapa?” bisikku pelan, takut dia bangun.
Aku ingat kata-kata Ibu Shen.
Dia bisa melihat.
Aku mengangguk kecil, walau tidak ada yang melihatku.
Tapi tadi … dia tidak cuma melihat.
Dia seperti menyentuh dadaku. Bukan pakai tangan. Tapi rasanya nyata. Seperti dia tahu aku sakit, walau aku tidak bilang apa-apa.
Mataku terasa panas.
Aku mengusap pipiku dengan cepat, tapi airnya terus keluar. Aku tidak merasa sedih. Aku juga tidak takut.
Rasanya … lega.
Seperti habis menangis lama sekali tanpa tahu kenapa, lalu tiba-tiba bisa berhenti.
Aku memeluk Shen Yu lebih erat. Tubuhnya kecil dan hangat.
“Terima kasih,” kataku pelan. Suaraku bergetar sedikit. “Terima ... kasih …”
Dia tidak menjawab.
Tapi tidak apa-apa.
Untuk pertama kalinya, aku merasa dadaku tidak sendirian.