Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Sentuhan yang Tak Sengaja
Suasana di dalam mobil SUV sewaan yang dikemudikan Dino terasa sangat mencekam. Ban mobil berdecit tajam saat Dino membanting setir keluar dari area parkir apartemen, menghindari SUV hitam yang mencoba menjepit mereka di gerbang keluar.
"Pegang yang kencang! Aku tidak mau ada yang muntah di mobil ini, apalagi di tas kameraku!" teriak Dino, matanya melotot menatap kaca spion.
Di kursi belakang, Ryuga dan Kiara terombang-ambing akibat manuver liar Dino. Karena ruang kabin yang terbatas dan tas-tas peralatan yang menumpuk di lantai, mereka terpaksa duduk sangat rapat.
Baju mereka masih basah kuyup akibat guyuran sprinkler di tangga darurat tadi. Kain kemeja Ryuga yang tipis menempel pada kulitnya, begitu juga dengan kaos Kiara. Setiap kali Dino menikung tajam, tubuh mereka bersentuhan bukan lagi sekadar bahu yang bersinggungan, tapi gesekan yang mengirimkan sengatan listrik aneh ke saraf mereka.
Saat Dino melakukan pengereman mendadak untuk menghindari truk sampah, tubuh Kiara terdorong ke depan. Secara refleks, Ryuga melingkarkan tangannya di pinggang Kiara untuk menahannya agar tidak terbentur kursi depan.
Tangan Ryuga mendarat tepat di pinggang ramping Kiara. Kulit mereka yang sama-sama hangat karena adrenalin terasa begitu kontras dengan baju yang dingin dan lembab. Kiara membeku. Ia bisa merasakan nafas Ryuga yang panas di tengkuknya.
"Maaf," bisik Ryuga, namun ia tidak segera melepaskan tangannya. Ia justru mempererat pegangannya sejenak, memastikan Kiara benar-benar stabil.
Sentuhan yang tak sengaja itu yang seharusnya terjadi karena keadaan darurat mendadak terasa sangat disengaja oleh waktu. Kiara bisa merasakan detak jantung Ryuga yang berdegup kencang di punggungnya, sebuah ritme yang tidak bisa disembunyikan oleh wajah datar sang CEO.
"Dino! Fokus ke jalan, jangan ke spion tengah!" tegur Kiara dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba mengalihkan perhatian dari tangan Ryuga yang masih berada di pinggangnya.
"Aku sedang fokus! Tapi kalian di belakang itu... waduh, kalau difoto pakai teknik long exposure, pasti kelihatan aura merah jambunya!" seru Dino sambil terus memacu mesin. "Ryuga! Tolong ambilkan martabak di tas depan, aku butuh asupan karbohidrat untuk melakukan drift di tikungan depan!"
Ryuga terpaksa melepaskan tangannya dari pinggang Kiara untuk menjangkau tas di depan. Ada rasa kehilangan yang aneh saat kontak fisik itu terputus. Ia menyodorkan kotak martabak ke Dino dengan wajah yang kembali "kulkas", meski telinganya sedikit memerah.
"Makanlah, dan jangan sampai kita menabrak pembatas jalan," ucap Ryuga dingin.
Untuk menghilangkan kecanggungan, Kiara membuka tas peralatannya dan mengeluarkan jam tangan perak yang menjadi kunci utama mereka. Namun, karena guncangan mobil yang hebat, tangannya gemetar saat mencoba membuka sekrup kecil di bagian belakang jam.
"Sini, biar ku pegangi," Ryuga mengulurkan tangannya.
Ia menangkupkan tangan besarnya di atas tangan Kiara yang memegang jam. Kini, jari-jari mereka bertautan kulit bertemu kulit, hangat bertemu hangat. Ryuga membantu menstabilkan posisi jam tersebut sementara Kiara memutar obeng kecilnya.
Sentuhan ini lebih intens daripada sebelumnya. Di bawah pencahayaan lampu jalan yang masuk lewat jendela, Kiara melihat fokus di mata Ryuga. Pria ini tidak menatap jamnya, ia justru sedang menatap jemari Kiara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Anda menekan terlalu keras, Pak," bisik Kiara.
"Maaf... aku hanya ingin memastikan kau tidak meleset," sahut Ryuga suara rendah.
Tepat saat itu, sekrup kecil itu terlepas, menampakkan sebuah ukiran laser mikroskopis di balik tutup jam. Bukan kode angka, melainkan sebuah pola sidik jari yang sudah lama mengering.
"Itu sidik jari ayahku," suara Ryuga bergetar.
Ketegangan yang Memuncak
Dino tiba-tiba menginjak rem dengan keras hingga mobil berhenti di pinggir jalan tol yang sepi.
"Kita kehilangan mereka," napas Dino tersengal. "SUV hitam itu putar balik di gerbang tol tadi."
Keheningan menyelimuti kabin mobil. Di kursi belakang, tangan Ryuga dan Kiara masih bertautan di atas jam tangan itu. Tak satupun dari mereka yang bergerak untuk melepaskan.
"Ryuga," panggil Kiara pelan.
Ryuga menoleh. Jarak mereka sangat dekat. Aroma hujan, martabak, dan sandalwood bercampur menjadi satu aroma yang akan mereka ingat selamanya.
"Terima kasih," lanjut Kiara.
Ryuga hanya mengangguk, lalu perlahan menarik tangannya, namun ia menyempatkan diri untuk mengusap punggung tangan Kiara dengan ibu jarinya sebuah sentuhan akhir yang tak lagi bisa disebut 'tak sengaja'.
Mobil SUV itu kini terparkir di bawah jembatan layang yang gelap untuk menghindari pantauan CCTV jalan tol. Hujan mulai turun, membasahi kaca mobil dan menciptakan suasana isolasi yang semakin kental di dalam kabin.
Ryuga perlahan menarik tangannya, namun sisa kehangatan dari jemari Kiara seolah masih tertinggal di telapak tangannya. Ia berdehem, mencoba mengembalikan kontrol diri yang sempat goyah akibat sentuhan yang terlalu lama tadi.
"Dino, matikan semua lampu kabin," perintah Ryuga, suaranya kembali berat dan berwibawa.
"Sudah, Pak Bos. Kita sekarang resmi jadi bayangan," sahut Dino. Ia memutar tubuhnya di kursi pengemudi, menatap kotak jam yang masih terbuka di tangan Kiara. "Jadi, sidik jari itu... maksudnya apa? Ayahmu sengaja meninggalkan noda lemak di jam mahal?"
Kiara menggeleng, ia mendekatkan lampu kecil dari ponselnya ke arah ukiran tersebut. "Ini bukan noda lemak biasa, Dino. Ini teknik etching asam. Ayah Ryuga menggunakan sidik jarinya sebagai cetakan untuk membuat pola sirkuit mikroskopis. Jika kita menempelkan sidik jari yang tepat sidik jari Ryuga di atas pola ini, sirkuitnya akan menutup dan mengaktifkan pemancar."
Ryuga menatap jarinya sendiri, lalu menatap Kiara. "Kau yakin?"
"Secara teknis, iya. Tapi resikonya besar. Jika ini adalah jebakan yang dipasang Bramasta, sirkuit ini bisa memicu penghancuran data di dalam microchip secara permanen."
Ryuga tidak ragu. Ia meraih jam tangan itu dari tangan Kiara. Saat ia melakukannya, ujung jarinya kembali bersentuhan dengan telapak tangan Kiara. Kali ini, mereka berdua saling menatap selama beberapa detik sebuah komunikasi tanpa kata yang mengakui bahwa mereka kini berada di kapal yang sama, tenggelam atau selamat bersama.
Sambil menunggu Ryuga mempersiapkan mental, Dino sibuk memeriksa kamera DSLR-nya. Ia merasa ada yang aneh dengan bobot kameranya sejak mereka keluar dari apartemen.
"Tunggu dulu..." Dino meraba bagian bawah bodi kameranya. "Sial! Ada magnetic tracker kecil di sini! Pantas saja SUV hitam itu bisa mengikuti kita sampai ke tol!"
Dino membuka jendela sedikit dan melempar pelacak kecil itu ke dalam truk kontainer yang kebetulan lewat di bawah jembatan. "Dadah, penjahat! Selamat jalan-jalan ke pelabuhan bersama supir truk!"
Dino menyeringai puas. "Itulah gunanya punya sahabat fotografer, Pak Bos. Kami tahu setiap inci peralatan kami. Sekarang kita benar-benar bersih."
"Lakukan sekarang, Ryuga," bisik Kiara.
Ryuga menempelkan ibu jarinya ke pola sidik jari di balik jam. Selama beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Lalu, sebuah bunyi klik mekanis yang sangat halus terdengar. Jam itu bergetar, dan jarum detiknya mulai berputar mundur dengan kecepatan tinggi.
Zzzzzzt...
Sebuah proyeksi holografik kecil muncul dari titik pusat jam, memancarkan titik-titik cahaya ke langit-langit mobil yang gelap. Titik-titik itu membentuk sebuah peta konstelasi bintang.
"Itu bukan peta bintang," Kiara terkesiap.
"Itu adalah denah lantai gudang arsip lama milik pemerintah di luar kota. Tempat di mana semua dokumen properti keluarga Dewangga yang disita negara disimpan."
*Sentuhan Terakhir*
Karena antusias, Kiara tanpa sadar mencengkeram lengan Ryuga. "Kita menemukannya! Ryuga, kita menemukannya!"
Ryuga menoleh ke arah Kiara, melihat binar di matanya yang terkena cahaya hologram. Rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Ia tidak melepaskan tangan Kiara dari lengannya. Sebaliknya, ia menaruh tangannya di atas tangan Kiara, menepuknya pelan.
"Kita belum selesai, Kiara," ucap Ryuga lembut. "Tapi setidaknya, malam ini aku tahu siapa yang bisa kupercaya."
Dino berdehem keras-keras dari depan. "Ehem! Tolong ya, hologramnya bagus sekali, tapi bisakah kita pindah dari sini sebelum supir truk itu menyadari dia membawa pelacak?"
Ryuga menarik napas panjang, senyum tipis tersungging di bibirnya. "Jalan, Dino. Ke arah utara."
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?