Inara Zahra Putri seorang siswi SMA kelas XI, ia pandai dalam seni lukis dan memiliki bakat bernyanyi.
Namun ia selalu menyembunyikan kemampuannya karena takut tidak diterima atau di anggap tidak serius dalam akademik.
Karena, sang ayah ingin ia menjadi seorang dokter di masa depan dan mengambilan pelajaran tentang kedokteran.
ia merasa dilema!!!
Apakah ia tetap memenuhi harapan keluarga menjadi dokter...?
Atau memperdalam bakatnya dalam bidang seni...?
••《 Inara juga memiliki rahasia kecil yang selalu ia simpan dalam hatinya, ia menyukai seseorang secara diam-diam...!》••
☆☆Dalam cerita mengacu pada paduan budaya Minang kabau dan kehidupan perkotaan modern.
●● Cerita ini hanya fiktif belaka murni karangan author tidak sesuai dengan sejarah..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Makan bersama dirumah Inara
Ia terkejut mendengar teriakan dari teman-temannya Inara.
"Nara....!" Terdengar suara dari arah pantai, Kenzo terkejut ia langsung berlari kearah pantai.
Tak menunggu lama ia melompat kedalam laut dan melihat inara hampir tenggelam, ia berenang dengan cepat dan membawa inara ketepi.
Untung ia cepat, inara belum menghirup air banyak, inara masih sadar tetapi sudah lemas, mungkin telah menelan air laut.
"Bang Ken, aku takut dan juga kedinginan!." Ucapnya sambil menggigil karena kedinginan,
Kenzo tidak menjawab ia hanya memeluknya, ia tidak memungkin membiarkan inara basah kuyub seperti itu. Kenzo membawa Inara kecafe Kennara, teman-temannya mengikuti dari belakang.
Setelah inara mengganti pakaian, ia hanya bisa memakai baju kenzo, karena disana tidak ada pakaian wanita.
"Bang Ken terimakasih telah menyelamakanku, oh ya jangan kasih tahu bunda ya, kejadian hari ini.." ucap Inara kepada Kenzo.
"Hm!" Kenzo hanya berdehem rasa khawatir dan cemas dalam hati belum hilang, tidak berani berbicara dengan Inara takut ia kelepasan, dan memarahi Inara yang bertindak ceroboh.
Melihat Kenzo hanya cuek tidak melihatnya, menjawab pertanyaannya hanya dehemam, matanya memerah kenzo tidak pernah bersikap dingin kepadanya.
"Hiks...bang Ken maafkan aku, apakah kamu marah padaku, maafkan aku?." Ucap inara sedikit terisak karena menangis. Ia menghampiri kenzo yang dari tadi membelakangi.
Sedangkan teman-temannya tidak berani bersuara, karena mereka juga tidak bisa membantu dalam situasi seperti ini.
"Bang Ken." Ucap Inara lagi sambil memegang tangan Kenzo. "Jika kamu marah, marahi saja aku jangan abaikan aku." Ucapnya lagi.
Kenzo menghela nafasnya baru ia melihat Inara berdiri dihadapannya, dengan mata memerah.
"Kamu selain nakal, juga cengeng! Mengapa menangis sudah tahu salah!" Ucap Kenzo sambil menghapus air mata Inara dengan ibu jarinya.
"Kamu tahu betapa khawatirnya aku tadi, melihatmu tenggelam, jika aku terlambat datang..." ucap Kenzo tidak berbicara lagi.
"Maaf telah membuatmu khawatir." Ucap inara menunduk ia tahu ia salah." Tadi aku tidak sengaja terjatuh lalu tersapu ombak besar, aku tidak bisa melawan lagi." Ucap lagi.
"Maaf telah membuatmu khawatir, kelak tidak terulang lagi." Ucapnya lagi.
"Masih ada kelak!." Sambung kenzo sambil melihat inara yang menunduk.
"Tidak tidak, ini yang terakhir." Kata inara dengan cepat.
"Jangann beri tahu bunda ya?" Ucapnya lagi dengan lembut.
"Apa, yang kamu berikan untuk menutup mulutku." Kata Kenzo santai.
"Aku akan memasak untukmu selama seminggu." Balas Inara lagi.
"Oke, deal kamu memasak untukku selama seminggu." Ucap Kenzo,
Melihat keaadan inara baik-baik saja juga tidak perlu memberitahu ayah dan bundanya takut membuat mereka khawatir.
Satu minggu kemudian inara memasak setiap hari untuk Kenzo, baik pagi maupun malam ia memasak makanan untuk kenzo, sesuai perjanjian hanya satu minggu sekarang waktu perjanjian habis.
Pas hari lomba Olimpiade Matematika, inara merasa dunia tidak lagi bebas untuk bermain, setiap hari waktunya diisi dengan belajar dan lomba.
Inara kembali masuk kedalam labor komputer, seperti biasa anak-anak SMA lain juga datang kesekolahnya, dan sekolah kembali diliburkan selama satu hari.
Setelah siang hari ia ia keluar dari ruangan ujian dengan lelah.
"Aku ingin liburan aku sangat lelah." Ucapnya saat sampai diluar ia langsung menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Aira dan Naura, ia tidak berani memeluk Kenzo.
Kebetulan keluhannya didengar oleh Bu Siskawati wali kelas mereka dan guru matematika, dua guru itu saling memandang dan geleng kepala.
"Kamu boleh libur satu hari dirumah, dan setelah ini persiapan dirimu untuk lomba Olimpiade tingkat nasional." Ucap Bu siska kepada Inara, ia juga tidak tega, lalu memberikan libur kepada Inara.
"Ibu jangan bercanda, aku bukan anak kecil lagi yang mudah ibu tipu!, besok kita memang libur, apa ibu lupa kita memang tidak sekolah hari sabtu" Ucap Inara lagi.
"Tetapi jika ibu mengizinkan aku libur hari senin dengan senang hati." Ucap inara dengan santai.
"Jangan harap!, kamu sudah libur selama dua hari sabtu dan minggu tidak ada nambah hari lagi, bersiapkan dirimu untuk Olimpiade berikutnya tingkat nasional dan ujian semester 1." Ucap bu Siska pergi dari sana meninggalkan Inara sedang melongo.
Sedangkan guru matematika hanya tertawa sambil mengikuti bu Siskawati.
"Kamu usil juga pada anak-anak." Ucapnya kepada bu siska,." Tidak nyangka aku kamu begitu akrab dengan muridmu, bisa saling bercanda." Ucapnya lagi.
"Muridku tahun ini memang beda, rada-rada gimana gitu... apalagi gadis itu nakal, ceroboh,cengeng dan sedikit manja tetapi manjanya itu beda, bukan manja seperti anak mami ya!
"Contohnya kejadian tadi!, padahal dia bisa menjawab semua soal dengan benar, tetapi dengan enteng mengeluh minta liburan, mengatakan otaknya lelahlah! Menurutmu apakah ada murid seperti itu" ucapnya kepada guru matematika namanya bu Mita.
"Iya kamu benar, ia memang sedikit beda, jika murid lain pasti dengan sombongnya mengatakan dia yang terbaik, tapi muridmu ini...! Sudahlah bagaimanapun juga ia meraih sebidang prestasi untuk sekolah kita." Balas bu Mita.
Ditempat Inara, semua teman-temannya inara pergi kerumah Inara untuk merayakan keberhasilan Inara lomba Olimpiade dan juga terpilih peserta Olimpiade nasional.
Bunda Dewi juga ikut merayakannya, ia memasak bebagai macam hidangan untuk para temannya inara.
" lebih bagus merayakan dirumah Inara banyak makanan dari pada dipantai malah berbahaya kalau tidak...." ucapan Gilang terhenti karena Inara menyelanya.
"Kalua enak makanlah sepuasnya, masakan bundaku tiada duanya." Ucap Inara kepada Gilang dengan membesarkan matanya kepada Gilang.
Yang lainnya malah ketawa, bukan takut melihat Inara tetapi hanya lucu dan terlihat gemas.
Kenzo mencubit pipi Inara karena ia duduk paling dekat dengan inara, ingin rasanya ia gigit pipi Inara, tetapi hanya cubitan yang ia berikan. (Cubitan tidak kuat ya)
"Aww..!! Mengapa mencubit ku." Ucap inara sambil mengusap pipinya, sedikit memerah.
"Jangan membesarkan matamu seperti itu." Ucap Kenzo lalu ia meletakkan makanan dipiring Inara,
"makanlah, keburu dingin!" Ucapnya lagi kepada Inara sambil mengisi piring Inara dengan makanan.
" Kalian juga makan..., jangan banyak bicara saat makan." lalu kepada yang lainnya khususnya ia memandang Gilang dengan datar.
"Apa salahku." Ucap Gilang pelan, tetapi masih didengar oleh orang disampingnya yaitu Hasna dan Zayyan.
Zayyan tertawa keras, Gilang belum juga menyadari dimana salahnya. Hanya heran melihat Zayyan tertawa.
"Ada yang lucu!."ucapnya kepada Zayyan, lalu memakan makan yang ada dipiringnya,." Hemm!! Masakan bunda dewi memang enak." Ucapnya lagi
" kalau enak makanlah, masakan bunda Dewi banyak, ciek, duo, tigo, ampek, ado ampek macam piliahlah ma yang lamak?." Ucap Zayyan sambil menghitung macam-macam masakan bunda Dewi.
.
.
.
terima atau tidak masalah nanti?