"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan dibalik ancaman
"Tunggu, kamu pernah ke sini kan?" celetuk Ajis menghentikan langkah kaki pria yang tengah mengangkut kardus besar di depannya.
Herman menoleh dengan raut datar menatap pria tadi. Sebenarnya dia tidak ingin ikut campur tapi apa boleh buat,
"Iya, aku ingat. dulu kamu ke sini ngasih uang." tambahnya mengangkat alis. "Oh---jadi dia orang yang menabrak adikku?"
"Iya, dan sepertinya uang yang dulu aku berikan sudah lebih dari cukup." tegas Herman bereaksi datar,
"Apa kamu juga anggota keluarga Wijaya?"
"Tidak, kami berteman. Aku tidak punya hubungan dengan keluarga Wijaya," dusta Herman, tidak mungkin mengatakan kalau dia hanya seorang bawahan.
Tak heran kalau pria itu mengenalinya sebab dulu Ajis sering berkunjung dan sempat menguping pembicaraan Herman dengan mendiang ayah Nila.
Herman berjalan pergi tak ingin mengambil pusing, toh Nila sudah memutuskan untuk tak lagi berhubungan. Jadi tak ada alasan baginya meladeni Ajis,
"Ee-tunggu!" panggilnya menatap punggung pria yang berhasil dihentikan. "Kira-kira bagaimana ya, reaksi Nila kalau tahu suaminya lah yang membunuh ibunya?"
Herman mengernyit, tanpa menoleh dia bertanya. "Apa yang kamu mau?"
Ajis tersenyum licik, sepertinya dia bisa mengambil keuntungan dari semua ini. "Hehe, tenang saja--aku tidak akan meminta uang, lagipula aku tahu keadaan pria itu." mengosok telapak tangan,
"Pak Rangga memberitahuku kalau dia kehilangan hak waris. Sekarang dia cuma pengangguran buta dan hidup dari sumbangan keluarga wijaya."
"Kamu sudah tahu sebanyak itu. Terus apa lagi yang kamu minta?" jawab Herman melirik dengan raut datar, tak pernah menyangka kalau pria tadi masih berkomunikasi dengan Rangga.
Apakah Nila tahu tentang ini? Tak ada pilihan lain, Herman membalikkan badan. "Katakan?!"
"Sepertinya kamu cukup kaya. Penampilanmu seperti bos besar---Ehem! Jadi gini,"
"Putriku tahun kemarin lulus sebagai ahli gizi. Sayangnya sampai saat ini dia belum dapat kerja, bantu dia untuk dapat pekerjaan yang bagus." pintanya penuh harap.
Herman melirik singkat gadis yang tengah berdiri berpangku tangan. Sikapnya sangat sombong, wajar kalau dia sulit mendapat kerja. "Akan aku usahakan."
"Bagus! Jangan sampai lupa, aku akan beri waktu sebulan. Secepatnya kabari... Oh ya!" Ajis berlari ke sisi lain, tampak tergesa-gesa mencoret sebuah kertas.
"Telpon ke nomor ini." ucapnya menyodorkan secarik kertas.
Tanpa berbasa-basi, Herman memasukkan catatan kecil tersebut ke dalam saku. Berjalan keluar tanpa berpamitan,
Dia bawa kardus berisi barang-barang milik Nila dan diletakkannya ke dalam bagasi mobil,
"Ceritanya nanti saja kalau sudah di kantor." batin Herman melirik sebentar keadaan kursi belakang.
Sepertinya atmosfer disana kurang baik, gadis itu terlihat bungkam sedangkan Elang juga berdiam dengan raut datar.
"Biarin aja deh..." benaknya mengabaikan, bersiap mengemudi.
Malam hari,
"Apa dia baik-baik saja?" batin Elang berjalan keluar kamar,
Seketika tercium aroma masakan memenuhi ruang, sungguh menggugah selera. Matanya menoleh ke arah dapur dan mendapati punggung gadis yang sudah berdiri menghadap kompor. Tangannya begitu lihai mengaduk, tengah menyiapkan hidangan makan malam.
"Kenapa coba dia repot-repot masak? Padahal dia bisa pesan makanan," gumam Elang dalam hati, menerbitkan senyum lega.
Dia pikir Nila akan berlarut murung karena kejadian tadi siang. "Apa makanannya sudah siap?"
Nila menoleh singkat, "Sebentar lagi." meneguk sedikit kuah sup yang dibuat, mencicipi rasanya apakah sudah pas.
"Kok kamu tahu kalau aku lagi masak? Apa baunya kecium dari kamar?" tanya Nila sambil menuangkan masakannya ke dalam mangkuk.
"Hmm," Elang berdehem singkat.
Dibawah cahaya hangat dari sinar lampu, gadis itu berjalan membawa hidangan ke atas meja makan. Menatap rapi dalam waktu singkat,
Seperti biasa mereka duduk bersebelahan, Nila sengaja karena mungkin Elang akan kesusahan saat menikmati masakannya. Jadi dengan begini, dia bisa mudah memberi bantuan.
"Hati-hati, masih panas..." serunya mendekatkan mangkuk serta menyerahkan sendok sup ke tangan Elang.
"Aku udah lama buta, jadi udah terbiasa. Gausah ngajarin aku, kayak anak kecil aja..." kritik Elang sedikit kesal,
Bukan tak suka, dia cuma merasa malu mendapat perhatian yang begitu intens dari seorang gadis.
"Ya tapi, tetap harus hati-hati. Nanti lidahmu bisa terbakar," jawab Nila bersikukuh lalu kembali menatap piringnya.
Mereka pun menikmati makan malam masing-masing. Nila tersenyum puas melihat pria yang tampak lahap memasukkan setiap suapan ke dalam mulut,
Nila sengaja memotong setiap bahan dalam ukuran kecil untuk mempermudah Elang, agar tak sulit menyendok lauk.
Dia selalu memikirkan hal terkecil tanpa tahu kalau suaminya tidak benar-benar buta.
"Oh ya, ada yang mau aku tanyakan." sontak Elang tanpa meletakkan sendoknya.
"Hm? Apa?" sahut Nila mengangkat alis, menoleh ke samping. Kira-kira apa yang ingin pria itu tanyakan?
Digosoknya singkat gagang sendok sebelum menyandarkan ke pinggiran mangkuk, "Ini soal masalah tadi,"
"Bukannya rumah itu berharga? Kenapa kamu setuju buat ngejual rumah itu?" merendahkan suara,
Entah kenapa dia merasa penasaran, padahal seharusnya tak ada lagi yang harus ditanyakan. Lagipula gadis itu sudah dewasa, dan keputusan tersebut tidak datang dari paksaan Elang.
Nila terdiam sebentar sambil menundukkan pandangan. "Dulu mungkin iya. Tapi sekarang, itu cuma bangunan kosong.." perlahan kembali memandang wajah pria di sampingnya.
"Ayahku sudah pergi ke rumah barunya bersama ibuku. Dan aku juga sudah menemukan rumah baruku." lugas Nila tersenyum menatap Elang dengan penuh kehangatan,
Elang tersentak kaget, tak berani menoleh ataupun bertatap muka. Ucapan tadi benar-benar tertancap tepat di hatinya, bak sutra lembut membelai sanubari.
"Tapi pasti banyak kenangan kan di rumah itu?" tambah Elang, mulai merasa bersalah.
"Kenangannya udah aku simpan di hati. Jadi ga akan hilang, kamu juga gitu kan? Walau sekarang kamu ga tinggal di rumahmu yang dulu. Kenangan keluargamu bakal tetap kebawa dan kesimpan dalam hatimu," seakan ingin mengusir kegusaran Elang.
Pasti pria itu tak enak hati, karena Nila menjual rumahnya dan memilih untuk mempertahankan pernikahan mereka. Bukankah sia-sia? Lagipula pernikahannya akan berakhir setelah satu tahun.
"Kenapa dia masih bisa senyum selebar itu? Dan kepadaku---apa yang dia lakukan kalau tahu akulah penghancur kebahagiannya?" pikir Elang menggertakkan gigi.
Andai saja 10 tahun lalu, kecelakaan itu tidak terjadi. Pasti keluarga Nila masih lengkap, dan mungkin mereka tidak harus bertemu.
"Cepat habisin, nanti nasinya ga enak kalo kelamaan kerendam kuah." pinta Nila mencairkan suasana,
"Oh ya, aku juga mau tanya." tambahnya dengan pipi mengembung. Baru saja memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut,
Elang melirik sambil berdehem singkat, "Hm?"
Nila menutupi ambang mulutnya sembari berbisik, "Apa kamu ga punya rencana buat melepas kacamata?"
"Untuk apa?" Elang menoleh dengan kedua alis terangkat.
Nila membuang muka sedikit menjauh, terlihat ragu menyuarakan pendapat. Jangan sampai menyinggung perasaan Elang, "Ya--ini kan di rumah,"
"Bukannya---lebih enak, kalau ga usah pakai kacamata?" bergumam pelan karena takut.
Tapi pria itu justru hanya diam melanjutkan makan. Bibirnya menekuk maju, Nila dibuat kesal karena merasa diabaikan.
"Apa kamu merasa ga nyaman? Apa menurutmu kita kurang akrab?" ucap Nila menunduk ke arah Elang, sengaja mengintip agar mendapat sahutan.
"Aku melepas kacamata, kalau lagi mandi sama tidur aja. Udah kebiasaan---jadi susah buat merubah," dalih Elang bersikukuh.
Dia hanya tak ingin kerepotan karena harus memakai softlens untuk menutupi warna pupilnya. Lagipula, kalau dituruti gadis itu pasti semakin ngelunjak.
"Yah---masa ga mau sih..." rengek Nila memasang wajah cemberut.
"Terima kasih makanannya." ucap Elang membuang muka, beranjak pergi meninggalkan dapur. Sepertinya dia tak ingin membujuk,
Memandang punggung yang menjauh, Nila mendengus kesal. "Hhhh, dasar wajah rata!"