"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkai dibalik wajah cantik
..."Cintamu memuja parasnya, pusakaku melihat mautnya."...
......................
Satu minggu kemudian, lorong hotel yang mewah itu mendadak terasa dingin dan lembap, seolah dinding-dindingnya mulai berkeringat karena hawa mistis yang merayap. Tepat pukul delapan pagi, sebuah ketukan pintu yang berat dan berirama aneh mengejutkan Syifa dari tidurnya yang dipenuhi mimpi buruk.
"Syifa, ini Penyang!"
Syifa melonjak turun dari ranjang, jantungnya bertalu-talu. Dengan gerakan terburu-buru, ia membuka sedikit celah pintu, hanya menyembulkan kepalanya dengan sisa kantuk yang masih menggelayut. "Tunggu sepuluh menit lagi, aku mandi dulu," ucapnya serak.
Penyang tertegun di depan pintu, tubuhnya mendadak kaku seolah kaki-kakinya telah berakar ke lantai. Di dalam saku celananya, Taring Malun yang dibungkus kain kuning pusaka bergetar hebat, mengeluarkan hawa panas yang membakar. Ujung taring itu seolah menggigit telapak tangannya sendiri, memberikan sinyal bahaya yang memekakkan indera keenamnya.
Penyang meremas pusaka itu, mencoba menguatkan batinnya yang mulai goyah. Sebagai keturunan murni yang membawa darah leluhur dan berbagai pusaka penjaga di tubuhnya, penglihatannya kini terbelah. Di mata orang biasa, Syifa mungkin cantik, namun berkat Taring Malun, Penyang melihat kengerian yang tak terperikan.
Wajah Syifa di hadapannya bukan lagi paras wanita kota yang rupawan, melainkan sebuah topeng kematian. Kulit porselennya tampak terkelupas seperti kertas terbakar, menampakkan borok-borok besar yang berdenyut-denyut mengerikan. Lubang-lubang busuk di pipinya mengeluarkan cairan kuning kental yang berbau anyir bangkai, seolah ada ribuan ulat tak kasat mata yang sedang berpesta di balik daging wajahnya. Bau itu begitu nyata, begitu busuk hingga membuat ulu hati Penyang mual.
"Puna taluh bawi ji dituh..." maki Penyang dalam hati dengan suara bergetar.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan napasnya yang mulai sesak oleh bau anyir bangkai. "Taluh kambe dia tau manaharpang pusaka leluhurku!". Penyang tahu benar, borok itu adalah tanda bahwa Syifa adalah inang dari sesuatu yang haus akan nyawa.
Syifa, yang mengira Penyang terpana oleh kecantikannya, justru memiringkan kepala dan tersenyum—sebuah senyum yang di mata Penyang justru membuat daging di sudut bibir Syifa robek dan mengeluarkan ulat-ulat gaib.
"Kau terus menatapku begitu? Aku jadi merasa tidak diizinkan untuk mandi," goda Syifa, suaranya terdengar merdu di telinga manusia, namun terdengar seperti parauan hantu di telinga Penyang.
Penyang masih melongo, tubuhnya mematung dengan urat-urat leher yang menegang keras. Lidahnya terasa kelu, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang menjulur dari kerongkongannya dan mencengkeram pita suaranya hingga bungkam. Ia ingin sekali berteriak, meluapkan kengerian yang menyiksa dadanya: Syifa, kau ini inang dari iblis! Kau pembawa maut yang sedang mencari nyawa!
Namun, setiap kali ia mencoba membuka mulut, bau bangkai yang menguap dari borok gaib di wajah Syifa justru menyumpal pernapasannya, membuatnya mual dan limbung. Di balik sakunya, Taring Malun dalam balutan kain kuning itu berdenyut makin liar, memancarkan panas yang membakar kulit pahanya—sebuah alarm gaib yang memekakkan batinnya: Ada tumbal yang diminta. Ada nyawa yang harus dipersembahkan.
Di saat ketegangan mistis itu memuncak, pintu kamar di seberang berayun terbuka dengan sentakan kasar. Agung keluar dengan wajah kuyu dan mata merah akibat kurang tidur, namun amarahnya langsung tersulut saat melihat Penyang berdiri begitu dekat, seolah sedang "menikmati" Syifa yang hanya berbalut gaun tidur tipis di balik pintu.
Lampu di lorong hotel berkedip-kedip, seolah merespons energi negatif yang berbenturan. Udara terasa semakin berat, pengap dengan bau anyir yang mulai bercampur dengan aroma parfum maskulin Agung yang tajam.
"Hei! Apa yang kau lihat, hah?!" bentak Agung. Suaranya menggelegar, memecah keheningan yang mencekam. Ia melangkah maju dengan gagah, cemburunya meledak hebat. Ia tidak sadar bahwa pria yang ia maki itu sedang bertaruh nyawa menahan guncangan gaib agar tidak jatuh pingsan di depan "bangkai berjalan" yang sedang dipujanya.
Agung mendorong Syifa masuk ke dalam kamar dengan gerakan tegas yang seolah-olah mengurung wanita itu dari marabahaya dunia luar. Daun pintu tertutup rapat, menyisakan Syifa dalam keheningan yang mendadak terasa begitu sakral.
Di balik pintu, Syifa menyandarkan punggungnya, membiarkan napasnya menderu tak beraturan. Ia menyentuh dadanya yang bergetar. Selama ini, pria-pria di hidupnya, termasuk Broto, melihatnya dengan tatapan penuh pamrih. Namun Agung berbeda. Sikap protektif pria itu yang liar dan tanpa kompromi membuat Syifa merasa benar-benar menjadi wanita yang utuh, yang dijaga dengan nyawa. Ia tersenyum bodoh, membayangkan rahang tegas Agung yang mengeras saat membelanya. Di dalam kepalanya, pesona Agung kini menetap permanen, menciptakan desir romantis yang tak bisa ia bendung.
Namun, di lorong hotel yang dingin, suasana berubah menjadi medan laga yang sunyi. Agung berdiri tegap, otot-otot lengannya menegang keras saat ia mencengkeram kerah baju Penyang.
"Kau pikir karena kau asli Dayak, aku takut padamu?" desis Agung dengan suara rendah yang mengancam. "Soal wanita yang kucintai, kita bisa bertempur sampai ajal."
Penyang, yang masih merasa mual karena penglihatan gaibnya, mencoba mengatur napas di tengah cekikan itu. "Tenang, bro... dia bukan tipeku."
"Bukan tipe katamu? Matamu tadi seolah menelanjangi dia!" Agung semakin murka, ia melayangkan pukulan cepat ke arah wajah Penyang.
Penyang tidak tinggal diam. Sebagai keturunan murni yang terlatih dalam seni bela diri tradisional yang mengalir dalam darahnya—ia memiringkan kepala dengan gerakan sangat halus. Ia membiarkan tinju Agung lewat hanya satu inci dari pipinya. Dengan gerakan yang mengalir seperti arus sungai namun sekuat akar pohon tua, Penyang menangkap pergelangan tangan Agung dan memutarnya dengan teknik kuncian yang mematikan.
Agung tersentak, mencoba membalas dengan hantaman lutut, namun Penyang bergerak lebih lincah. Mereka bertukar kuncian dan tangkisan dengan kecepatan yang mengerikan di lorong sempit itu.
“Duh heh, ji payah ku te beken jikau. Puna asi-asi hatue jituh!” batin Penyang meratap di tengah desingan gerakannya.
Pertarungan jarak pendek itu mencapai puncaknya saat Agung mencoba melakukan bantingan bahu. Namun, Penyang menggunakan berat tubuh Agung sendiri untuk memutar balik situasi. Dengan sapuan kaki yang sangat presisi, Penyang menjatuhkan tumpuan Agung.
BRAK!
Tubuh Agung menghantam lantai berkarpet dengan keras. Dalam sekejap, Penyang sudah berada di atasnya, mengunci pergerakan Agung dengan teknik kuncian lantai yang membuat Agung tak berkutik. Penyang menekan titik saraf di leher Agung, membuat pria itu terdiam dalam posisi mengancam.
"Dengar baik-baik, Agung," bisik Penyang, suaranya kini dalam, dingin, dan penuh peringatan mistis yang mencekam. "Hati-hati dengan perasaanmu. Terkadang, rasa sayang yang terlalu dalam itu bukan datang dari hatimu sendiri, tapi ada 'sesuatu' yang memaksamu untuk merasa begitu."
Agung melotot, mencoba meronta, namun Penyang semakin mengunci. Penyang ingin sekali berteriak bahwa Syifa adalah inang dari taluh yang berbahaya, bahwa kecantikan yang Agung puja hanyalah borok yang tersamar. Namun, Penyang menahan lidahnya. Ia melihat binar cinta yang tulus di mata Agung, dan ia tahu jika ia bicara lebih banyak, Agung akan menuduhnya penuh tipuan untuk berebut Syifa.
"Bukan sembarangan yang bisa dipegang, dan bukan sembarangan rasa yang bisa kau telan mentah-mentah," lanjut Penyang sembari melepaskan kunciannya dengan kasar. "Aku tak ingin bersaing denganmu. Aku hanya tak ingin melihatmu mati konyol karena sesuatu yang tak bisa kau lihat."
Penyang berdiri dengan tenang, merapikan bajunya yang berantakan dengan napas yang masih memburu. Ia memilih untuk bungkam soal borok gaib itu, bukan karena ia takut, melainkan karena ia sadar akan sumpah pamali yang mengikatnya sebagai keturunan murni; membongkar aib gaib seseorang tanpa diminta hanya akan membalikkan kutukan itu kepada dirinya sendiri. Selain itu, Penyang tahu bahwa logika Agung yang terdidik di kota tidak akan pernah bisa menerima kenyataan tentang taluh yang bersarang di tubuh Syifa—bicara sekarang hanya akan membuat Agung menganggapnya gila dan justru memicu pertumpahan darah yang lebih sia-sia.
Agung berdiri perlahan, mengusap debu di pakaiannya sambil menatap Penyang dengan amarah yang kini mulai digerogoti oleh rasa was-was yang dingin, seolah peringatan pria Dayak itu baru saja menanamkan benih kecurigaan yang berdenyut di nadinya.
Apakah syifa? Agung memilih mengelak pikirannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamus :
Puna taluh bawi ji dituh...
Arti
Memang setan perempuan ini...
Taluh kambe dia tau manaharpang pusaka leluhurku!
Arti
Makhluk halus tidak akan sanggup berhadapan dengan pusaka leluhurku!
Sumpah pamali adalah Menjaga Rahasia Alam Atas
Taring malun adalah jimat perlindungan diri dan penembus mata batin, hanya orang Dayak yang bisa menggunakannya.
karena apa coba