Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Guru yang Dingin
Lonceng sekolah yang menandakan berakhirnya jam pelajaran terakhir berdentang panjang, memecah kesunyian koridor yang tadinya dipenuhi suara gumaman guru-guru di balik pintu kelas. Siswa-siswi mulai berhamburan keluar, menciptakan kebisingan yang kontras dengan suasana hatiku yang tetap tenang, sedingin es yang tidak tersentuh matahari.
Aku tidak terburu-buru. Dengan gerakan yang penuh perhitungan, aku merapikan alat tulisku dan memasukkan buku catatan ke dalam tas. Yui sempat mencoba mendekat, mungkin ingin mengajakku pulang bersama atau sekadar menanyakan keadaanku lagi, namun aku hanya memberinya anggukan singkat yang mengisyaratkan bahwa aku memiliki urusan yang tidak bisa ditunda. Yukino, di sisi lain, bahkan tidak menoleh saat dia meninggalkan kelas, meskipun punggungnya tampak lebih tegang dari biasanya.
Aku melangkah menuju ruang guru. Koridor ini terasa lebih panjang saat hanya ada sedikit orang yang berlalu-lalang. Cahaya senja yang masuk melalui jendela kaca memberikan bayangan panjang yang seolah-olah menuntun langkahku menuju sebuah pengadilan kecil.
Aku berhenti di depan pintu kayu bertuliskan "Ruang Guru". Aku mengetuk tiga kali—ketukan yang mantap, tidak ragu, namun tetap menunjukkan rasa hormat yang sepantasnya.
"Masuk," suara Shizuka Hiratsuka terdengar dari dalam, berat dan berwibawa.
Aku mendorong pintu itu. Suasana di dalam cukup sepi; sebagian besar guru sudah pulang atau sedang mengawasi kegiatan klub. Shizuka duduk di mejanya yang terletak di pojok, dikelilingi oleh tumpukan kertas laporan yang tampak tidak pernah habis. Dia tidak mengenakan jas labnya sekarang, hanya kemeja putih dengan kancing atas yang sedikit terbuka, memberikan kesan wanita karier yang sedang berada di titik jenuhnya.
"Kau datang juga, Saiba," ucapnya tanpa mendongak dari dokumen yang sedang dia coret dengan pulpen merah. "Tutup pintunya. Aku tidak ingin percakapan ini menjadi konsumsi publik."
Aku melakukan apa yang diperintahkannya. Aku berjalan mendekat dan berdiri di depan mejanya, menjaga jarak yang cukup namun tetap masuk dalam zona personalnya. Aroma rokok yang samar bercampur dengan parfum mawar yang dewasa memenuhi udara di sekitarku.
"Aku berasumsi Sensei tidak memanggilku ke sini hanya untuk mendiskusikan nilai sastraku yang sempurna," ujarku dengan nada puitis yang sedikit dibumbui sarkasme halus.
Shizuka akhirnya meletakkan pulpennya dan bersandar pada kursi kerjanya. Dia menatapku tajam, matanya menyisir setiap inci wajahku dan seragamku, seolah sedang mencari bukti fisik yang luput dari pengamatannya tadi siang.
"Nilaimu memang sempurna, Saiba. Tapi perilakumu hari ini jauh dari kata 'murid teladan'," Shizuka menarik napas panjang, tangannya bergerak mengambil sebatang rokok dari kotak di mejanya, namun dia hanya memutarnya di sela jari tanpa menyulutnya. "Bau tembakau di belakang gedung olahraga itu bukan milikmu, aku tahu itu. Tapi lebam di ulu hati Tatsuya dan gemetar ketakutan di mata teman-temannya... itu adalah hasil karyamu, bukan?"
Aku tidak langsung menjawab. Aku menatap langsung ke matanya, tidak memberikan ruang bagi rasa bersalah karena memang aku tidak merasakannya. "Variabel pengganggu terkadang butuh sedikit tekanan agar tidak merusak harmoni, Sensei. Mereka mengirimkan surat ancaman kepada Yuigahama-san dan Yukinoshita-san. Aku hanya memastikan bahwa pengirimnya memahami konsekuensi dari pilihan kata-katanya."
Shizuka terdiam sejenak. Dia tampak sedikit terkejut dengan kejujuranku yang tanpa kompromi. "Jadi kau mengakuinya? Kau tahu bahwa aku bisa saja memberimu skorsing atau bahkan mengeluarkanmu karena kekerasan fisik?"
"Anda bisa, tapi Anda tidak akan melakukannya," balasku dengan senyum tipis yang penuh percaya diri. "Karena Anda tahu bahwa jika Anda melakukannya, pengganggu seperti mereka akan merasa menang, dan keadilan yang Anda junjung sebagai guru akan ternoda oleh prosedur yang kaku. Anda memanggilku ke sini bukan untuk menghukumku, Sensei. Anda memanggilku karena Anda... khawatir."
Mendengar kata terakhirku, Shizuka membuang muka sejenak. Ada rona merah yang sangat tipis muncul di pipinya, sesuatu yang jarang terlihat pada sosok "Wanita Besi" Akademi Sakura ini.
"Kau benar-benar pria yang berbahaya, Saiba. Kau bicara seolah-olah kau sudah melihat isi kepalaku," bisiknya. Dia bangkit dari kursinya, berjalan mendekatiku hingga jarak di antara kami hanya tersisa beberapa puluh sentimeter.
[Keahlian Analitis: Master - Evaluasi Kedekatan]
[Status: Shizuka Hiratsuka berada dalam mode defensif-emosional]
[Opsi: Berikan ketenangan atau pertegas dominasi narasi]
Shizuka mendongak menatapku—meski dia tinggi untuk ukuran wanita, aku tetap lebih tinggi darinya. "Aku mengkhawatirkanmu bukan hanya sebagai murid, tapi sebagai seseorang yang baru saja kembali dari ambang kematian. Kau bertindak seolah-olah kau tidak punya beban, seolah-olah kau bisa menyelesaikan segala hal dengan tanganmu sendiri. Tapi ini sekolah, Saiba. Bukan medan perang."
Aku mengangkat tanganku, sebuah gerakan yang sangat berani bagi seorang murid. Aku tidak menyentuhnya, namun aku merapikan kerah kemejanya yang sedikit terlipat, persis seperti yang dilakukan Kato padaku tadi pagi. "Dunia ini selalu menjadi medan perang bagi mereka yang peduli, Sensei. Aku hanya memilih untuk menjadi pemenang daripada korban yang menunggu bantuan."
Tatapan Shizuka melembut. Ketegasan di wajahnya perlahan luruh, digantikan oleh ekspresi seorang wanita yang merasa kelelahan dengan segala beban tanggung jawabnya.
"Kau pria yang terlalu dewasa untuk usiamu, Ren Saiba," suaranya kini lebih lembut, hampir seperti bisikan. "Terkadang aku merasa bahwa kau bukan muridku... tapi seseorang yang dikirim untuk menguji batas kesabaranku—atau mungkin kesepianku."
Suasana di ruang guru yang dingin itu mendadak menjadi sangat panas oleh ketegangan yang tidak terucapkan. Aku tahu, variabel hubungan ini baru saja bergeser dari guru-murid menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks dan intim.
Keheningan di ruang guru itu terasa semakin pekat, seolah waktu sengaja melambat untuk membiarkan setiap kata-kata terakhirku mengendap di udara. Shizuka Hiratsuka masih berdiri sangat dekat dariku. Aku bisa mencium aroma sisa tembakau yang samar di ujung jemarinya, namun yang lebih mendominasi adalah aroma kedewasaan yang lelah—sebuah campuran antara kopi pahit dan kerinduan yang ia sembunyikan di balik otoritasnya.
Mata Shizuka yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini tampak bergetar. Ia menatapku bukan lagi sebagai subjek laporan kedisiplinan, melainkan sebagai seorang pria yang baru saja merobek dinding pertahanan emosionalnya.
"Kesepian, ya?" Shizuka mengulang kata itu dengan suara yang hampir tidak terdengar. Ia menarik napas panjang, mencoba mendapatkan kembali kendali atas dirinya sendiri. "Kau benar-benar tidak punya rasa takut, Saiba. Menyinggung kehidupan pribadi seorang guru di tengah interogasi kedisiplinan... itu adalah variabel yang sangat tidak sopan."
Aku tidak menarik tanganku kembali setelah merapikan kerahnya; aku hanya membiarkannya menggantung di udara sejenak, menciptakan jarak yang sangat intim. "Sopan santun hanyalah protokol untuk mereka yang ingin menjaga jarak, Sensei. Dan aku pikir, setelah apa yang terjadi hari ini, kita sudah melewati tahap itu."
Shizuka terkekeh pendek, namun tawanya terdengar sedikit getir. Ia berbalik, berjalan perlahan menuju jendela besar yang menghadap ke arah gerbang sekolah. Semburat warna jingga sisa senja menyapu wajahnya, menonjolkan garis-garis kedewasaan yang tetap terlihat cantik di mataku.
"Tatsuya dan teman-temannya sudah pulang. Aku menyuruh mereka segera pergi sebelum mereka sempat mengadu ke kantor kesiswaan," ucap Shizuka sembari menatap ke luar. "Aku melindungi posisimu, Saiba. Bukan karena aku setuju dengan kekerasan, tapi karena aku tahu apa yang akan terjadi jika orang-orang seperti mereka terus dibiarkan merasa berkuasa."
Aku melangkah maju, berdiri di belakangnya namun tetap memberikan ruang yang cukup agar ia tidak merasa terpojok. "Anda melakukan hal yang benar, Sensei. Seorang guru bukan hanya mengajarkan apa yang ada di buku, tapi juga menjaga ekosistem di mana murid-muridnya bisa bernapas tanpa rasa takut."
"Dan siapa yang akan menjaga ekosistem milikmu, Ren?" Shizuka berbalik secara tiba-tiba, menatapku dengan tatapan yang sarat akan beban emosional. "Kau bertindak sebagai pelindung bagi Yuigahama, bagi Yukinoshita... kau bahkan bertindak seolah kau pelindung bagiku. Tapi kau sendiri... kau hanyalah seorang remaja yang belum lama ini terbangun dari koma."
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kedewasaan melampaui usia tubuh ini. "Mungkin kematian mengajariku bahwa tidak ada gunanya menunggu pelindung yang tidak pernah datang. Jadi, aku memutuskan untuk menjadi pelindung itu sendiri. Termasuk untukmu, Shizuka."
Penggunaan nama depannya tanpa gelar kehormatan membuat Shizuka terpaku. Matanya membelalak kecil. Di dunia yang sangat memperhatikan hierarki ini, apa yang kulakukan adalah sebuah pelanggaran berat. Namun, di antara kami berdua saat ini, hierarki itu telah lebur oleh ketulusan yang analitis.
Shizuka tidak marah. Ia justru menghela napas panjang, bahunya yang tadinya tegang perlahan luruh. "Kau benar-benar anak nakal yang paling merepotkan. Jika ada yang mendengar kau memanggil namaku seperti itu, aku akan berada dalam masalah besar."
"Maka pastikan tidak ada yang mendengarnya selain dinding ruangan ini," balasku dengan nada yang sedikit menggoda.
[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]
[Status: Karakter 'Shizuka Hiratsuka' Berhasil Dieksplorasi secara Mendalam]
[Peningkatan Afinitas: Sangat Tinggi]
Shizuka kembali ke mejanya, mengambil sebatang cokelat dari laci—satu dari sedikit kebiasaannya untuk meredakan stres selain merokok. Ia mematahkan setengahnya dan menyodorkannya padaku.
"Makan ini. Dan setelah itu, pulanglah. Adikmu pasti sudah menunggumu untuk makan malam," ucapnya, suaranya kini kembali pada nada gurunya yang biasa, namun ada kelembutan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Dan Saiba... soal kejadian hari ini, aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi. Tapi jika kau terluka lagi di masa depan karena mencoba menjadi pahlawan sendirian... aku sendiri yang akan memastikan kau mendekam di ruang guru selamanya untuk menulis permintaan maaf."
"Terdengar seperti tawaran yang cukup menarik bagi seorang penulis seperti aku, Sensei," ujarku sembari menerima cokelat itu.
Aku berjalan menuju pintu, namun sebelum keluar, aku berhenti dan menoleh sekali lagi. Shizuka sudah duduk kembali di kursinya, menyulut rokoknya yang tertunda tadi dengan ekspresi yang jauh lebih tenang.
"Sampai jumpa besok, Shizuka. Cobalah untuk tidur lebih awal, variabel kelelahan tidak cocok dengan wajah cantikmu," ucapku dengan suara yang cukup keras untuk didengar, namun cukup pelan untuk tidak keluar dari ruangan itu.
Pintu kututup perlahan. Di koridor yang mulai gelap, aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang tetap stabil. Aku tahu, hari ini aku bukan hanya menyelesaikan konflik fisik, tapi aku juga baru saja menanamkan pengaruh yang sangat kuat pada salah satu variabel paling berpengaruh di sekolah ini.
Saat aku berjalan menuju loker sepatu, aku melihat Kato Megumi masih duduk di kursi taman di bawah cahaya lampu jalan yang baru menyala. Ia tampak sedang menunggu seseorang, atau mungkin ia memang hanya senang berada di sana, menyatu dengan kesunyian malam.
Sepertinya, kejutan hari ini belum benar-benar berakhir.