NovelToon NovelToon
Dicerai Saat Mengandung

Dicerai Saat Mengandung

Status: tamat
Genre:Single Mom / Anak Genius / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:667.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan yang sudah bulat

Malam semakin larut, namun atmosfer di balkon itu terasa kian berat. Hana berdiri tegak, menatap lurus ke kegelapan taman dengan tatapan kosong. Keputusannya sudah bulat. Ia tahu, pernikahan ini mungkin terdengar gila dan tidak berlandaskan cinta, namun baginya, ini adalah satu-satunya benteng yang bisa menghalau Cakra Ardiwinata dari hidupnya selamanya.

Setiap kali ia ragu, bayangan enam tahun lalu kembali menghujam. Saat ia bersimpuh memohon penjelasan, namun Cakra justru lebih memilih percaya pada fitnah kejam Nyonya Inggit. Kata cerai yang diucapkan Cakra kala itu telah membunuh sisi lembut dalam diri Hana, menyisakan reruntuhan hati yang kini ia bangun kembali menjadi dinding kebencian yang kokoh.

Setelah Pak Sutoyo berpamitan untuk istirahat, Hana berbalik hendak masuk ke dalam kamarnya. Namun, saat ia melintasi Tama, pria itu dengan lembut namun pasti menahan pergelangan tangannya.

"Hana, tunggu...." suara Tama terdengar berat, sarat akan keraguan. "Apakah kau tidak akan menyesal dengan keputusanmu ini? Tolong, pikirkan baik-baik sekali lagi."

Hana menghentikan langkahnya, menatap tangan Tama yang memegang lengannya sebelum beralih menatap mata kakak tirinya itu dengan dingin.

"Apakah Mas Tama keberatan?" tanya Hana datar. "Atau Mas sudah memiliki wanita lain yang ingin Mas nikahi?"

Tama tersentak, ia melepaskan pegangannya seolah terkena sengatan listrik. "B.... bukan begitu, Han. Kau tahu sendiri situasinya. Mendiang ibuku dulu telah berbuat sangat jahat terhadapmu dan juga ibumu. Aku merasa.... aku merasa tidak pantas menikahi mu, meski hanya dalam status."

Hana menghela napas panjang, ia melangkah mendekat ke arah Tama, menatapnya dengan saksama.

"Mas Tama tenang saja. Ini hanya pernikahan hitam di atas putih. Kita buat perjanjian," ucap Hana dengan nada yang sangat terencana. "Setelah satu tahun, kita akan bercerai secara baik-baik. Jika Mas benar-benar ingin menebus kesalahan mendiang ibunya Mas terhadap keluargaku, maka lakukan pernikahan ini. Jadilah pelindungku dan El secara resmi. Bagaimana?"

Tama terpaku. Ia menatap Hana seolah sedang melihat orang asing. Gadis lembut yang pertama kali dikenalnya kini telah bertransformasi menjadi wanita yang penuh perhitungan karena rasa sakit yang luar biasa.

Di dalam hati Tama, ada rasa senang yang ia sembunyikan dalam-dalam, karena sejujurnya, ia mulai menyimpan rasa pada Hana. Namun, di sisi lain, ia merasa miris melihat Hana menggunakan pernikahan sebagai alat balas dendam.

Setelah terdiam cukup lama, Tama akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Jika itu yang kau inginkan untuk mendapatkan ketenanganmu kembali.... aku setuju. Aku akan melakukannya demi menebus dosa masa lalu keluargaku kepadamu."

Hana tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Terima kasih, Mas Tama. Aku akan segera mengurus semuanya."

.

.

Pagi itu di kediaman Pak Sutoyo, suasana di ruang makan terasa lebih sunyi dari biasanya. Setelah sarapan usai, Hana mengajak El untuk duduk sejenak di ruang tamu. Ia merasa inilah saat yang tepat. Baginya, El harus tahu lebih awal agar bisa beradaptasi. Hana yakin, meski Tama adalah kakak tirinya, pria itu adalah sosok ayah yang paling sempurna untuk El karena ketulusan dan pengabdiannya selama ini.

Kini, El duduk di kursi tunggal, sementara Hana dan Tama duduk berdampingan di sofa hadapannya. El menatap mereka bergantian dengan kening berkerut. Ada firasat tidak enak yang menyelimuti hati bocah jenius itu.

Hana menghela napas panjang, mencoba menekan kegugupannya. Tama yang menyadari itu segera menggenggam tangan Hana, memberikan kekuatan.

"El, Bunda ingin bicara serius," ucap Hana lembut. "Selama ini Bunda tahu jika El sangat merindukan sosok seorang ayah di sampingmu...."

El terdiam. Di dalam benaknya, ia berteriak, 'Betul sekali Bunda, dan El kini sudah bertemu dengan Ayah. Hanya Ayah Cakra yang sangat El sayangi di dunia ini.' El hanya bisa tersenyum getir di dalam hati.

"El, Bunda dan Om Tama berencana untuk segera menikah. Bunda ingin meminta restu darimu, Sayang," lanjut Hana.

Deg!

Jantung El seolah merosot ke lantai. Matanya seketika berkaca-kaca. Harapannya agar Bunda dan Ayah Cakra bersatu kembali hancur berkeping-keping. El langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak sanggup melihat tautan tangan Hana dan Tama. Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan ketidak sediaannya, namun Hana yang saat ini lebih didorong oleh keinginan balas dendam dan rasa sakit hati, seolah menutup mata.

"El, kenapa diam? Bunda harap El bisa menerima Om Tama sebagai ayah sambung mu. Om Tama sangat menyayangimu, Nak!"

El tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk patuh dengan bahu yang bergetar kecil, masih tak berani menatap ibunya.

Tama mengusap bahu El dengan lembut. "Kamu tenang saja El, Om Tama janji akan menjaga kamu dan ibumu dengan baik. Om harap kamu bisa bahagia seperti ibumu." Tama menatap Hana dengan penuh keyakinan, sementara Hana mulai menyadari ada gurat kesedihan yang mendalam di wajah putranya. Namun, keputusannya sudah bulat.

Setelah pengumuman itu, suasana rumah terasa sangat canggung. Hana dan Tama mengantarkan El ke sekolah seperti biasa, ditemani Mbak Pur. Setelah menurunkan El, Hana kembali ke kantor dengan pikiran yang bercabang, sementara Tama mulai sibuk mengurus berkas administratif di kepolisian untuk mendapatkan izin menikah.

.

.

Menjelang jam istirahat, El berjalan gontai menuju kantin belakang dekat gudang olahraga. Cakra sudah menunggu di sana dengan pakaian penyamarannya. Begitu melihat wajah putranya yang murung, Cakra langsung berlutut dan memegang kedua bahu El.

"El, ada apa? Kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Cakra cemas.

El menatap Ayah kandungnya dengan mata yang basah. "Ayah.... tadi pagi Bunda dan Om Tama bilang mereka mau menikah secepatnya. Bunda minta restu sama El."

"APA?!"

Cakra tersentak, ia berdiri tegak dengan mata yang menyala karena amarah. Kedua tangannya mengepal keras hingga buku jarinya memutih. Informasi ini jauh lebih cepat dan lebih nyata dari yang ia bayangkan sebelumnya.

"Ibumu benar-benar akan menikah dengan Tama?" tanya Cakra sekali lagi dengan nada tak percaya.

El hanya mengangguk lemah. "Bunda bilang Om Tama akan menjadi ayah sambung ku."

Cakra memalingkan wajahnya, menatap tembok gudang dengan penuh kebencian.

'Hana, aku tidak akan membiarkan kamu menikah dengan pria itu! Aku tidak peduli jika aku harus menghancurkan segalanya, tapi pernikahan ini tidak boleh terjadi. Kau hanya milikku, dan El hanya anakku!' batin Cakra bergemuruh.

Cakra kembali menatap El, kali ini dengan tatapan yang sangat serius. "El, dengarkan Ayah. Jangan biarkan dirimu sedih. Ayah akan mencari cara untuk menghentikan semua ini. Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menggantikan posisi Ayah di sampingmu dan Bundamu."

El hanya bisa berharap dalam diam, terjepit di antara cinta untuk ayahnya dan kepatuhan pada bundanya

Bersambung..

1
Tira Aneri
suuukaaa
fitria linda
tiba2 dipunggung, bukannya lengan yg tdk tertutup rompi anti peluru.... kirain typo
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
bukanya TK yh kok sd😂
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: oalah 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nani Te'ne
Suka
Kaira Caem
teman Hana yg nolongin dia pertama kali pergi dari Cakra kemana ya kok gc pernah di ceritakan sih.
Lies Atikah
cakra masih setia menunggu hanna
Lies Atikah
hadir thor
Lin
Alur ceritanya menarik mengajarkan tentang keikhlasan
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
Yati Syahira
wajar el pingin ortunya bersatu
Yati Syahira
nenek lampir belum tobat ya
Yati Syahira
diketemukan tdk masalah cakra
Yati Syahira
mirip ,tapi tdk bida di ingkari anak pasti akan cari jati dirinya tdknsalah juga cakra pingin jumpa anaknya
Yati Syahira
nyesel selalu belakangan
Yati Syahira
tama cemburu ya
Yati Syahira
hana jdi keren
Yati Syahira
keren hana
Yati Syahira
nenek lampir masih menghantui ya
Yati Syahira
akhirnya ketemu dgn cakra
Yati Syahira
ceo kho bidoh ric0
Yati Syahira
bagus hana pergi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!