NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:39.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kota Batu Hitam

Cahaya matahari siang itu begitu terik hingga membuat batu-batu cadas di bibir tebing seolah berasap.

Sebuah tangan pucat dengan kuku yang kotor dan retak mencengkeram pinggiran tebing. Urat-urat biru menonjol di punggung tangan itu, menunjukkan kekuatan cengkeraman yang tak wajar.

Dengan satu sentakan kuat, sesosok tubuh melompat naik dari kegelapan jurang, mendarat di tanah berumput kering.

Lin Xuan berdiri tegak, napasnya sedikit memburu.

Pakaiannya tak lebih dari kain perca yang dililitkan menutupi bagian vital. Tubuhnya kurus, tapi setiap ototnya terdefinisi tajam seperti dipahat dari batu. Kulitnya pucat pasi karena seminggu tak terkena matahari, penuh dengan bekas luka goresan yang baru sembuh.

Dia mengangkat wajah, membiarkan sinar matahari membakar kulitnya.

Namun, dia tidak merasakan kehangatan.

Akibat Kitab Suci Tulang Asura, suhu tubuhnya turun drastis. Matahari hanya terasa seperti cahaya silau yang mengganggu, bukan lagi pelukan hangat alam semesta.

"Dunia manusia..." bisik Lin Xuan. Suaranya serak karena jarang digunakan.

Di hadapannya membentang Hutan Kabut, wilayah pinggiran yang memisahkan Jurang Maut dengan peradaban.

"Jangan melamun," suara Gu Tianxie menyadarkannya. "Kau terlihat seperti mayat berjalan. Jika masuk kota dengan penampilan begini, kau akan menarik perhatian Sekte Bayangan atau perampok rendahan."

Lin Xuan menunduk melihat dirinya sendiri. Benar. Dia tampak seperti iblis liar.

"Ke arah mana kota terdekat?" tanya Lin Xuan dalam hati.

"Timur. Tiga puluh mil. Kota Batu Hitam (Black Stone City). Tempat sampah bagi para kultivator liar, pedagang pasar gelap, dan buronan. Tempat yang sempurna untuk tikus sepertimu bersembunyi."

Lin Xuan mengangguk. Dia meraba saku darurat yang dia buat dari kulit ular, memastikan kantung racun dan inti monster (Beast Core) aman. Itu modal pertamanya.

Tanpa membuang waktu, Lin Xuan melesat ke dalam hutan. Gerakannya sunyi, kakinya hampir tidak meninggalkan jejak di tanah, berkat latihan Langkah Hantu Tanpa Jejak.

Dua jam kemudian.

Gerbang Kota Batu Hitam menjulang tinggi, terbuat dari batu vulkanik kasar yang disusun asal-asalan. Tidak ada penjaga yang memeriksa identitas. Di kota ini, siapa pun boleh masuk asal membayar pajak masuk satu keping perak.

Lin Xuan, yang telah mencuri jubah abu-abu lusuh dari jemuran seorang petani di pinggir hutan, berjalan menunduk. Tudung kepalanya menutupi sebagian besar wajah.

Dia melempar sekeping perak (yang dia temukan di saku mayat petani lain yang mati di hutan) ke keranjang penjaga.

Penjaga itu, seorang pria kekar berwajah bopeng dengan kultivasi Qi Condensation Lapisan 2, hanya melirik malas. Aura Lin Xuan ditekan habis-habisan oleh teknik penyembunyian yang diajarkan Gu, membuatnya tampak seperti manusia biasa atau kultivator gagal.

"Masuk. Jangan buat onar di jalan utama. Kalau mau membunuh, lakukan di gang belakang," dengus penjaga itu.

Lin Xuan tidak menjawab, terus berjalan masuk.

Kota itu bising. Aroma keringat, arak murah, dan logam panas memenuhi udara. Kios-kios berjejer di pinggir jalan, menjajakan segala sesuatu mulai dari Pil Pemulihan kualitas rendah hingga budak wanita.

Lin Xuan mengabaikan semuanya. Matanya yang tajam memindai setiap papan nama toko.

Dia berhenti di depan sebuah bangunan tua dengan papan kayu lapuk bertuliskan: "Paviliun Harta Seribu Mata".

"Toko pegadaian," kata Gu. "Pemiliknya pasti licik, tapi mereka menerima barang tanpa banyak tanya."

Lin Xuan mendorong pintu masuk.

Kring.

Lonceng kecil berbunyi. Interior toko itu gelap dan berdebu. Di balik meja kasir yang tinggi, seorang pria tua kurus dengan jenggot kambing sedang memoles sebuah cermin kuningan. Matanya sipit dan licik.

Kultivasi: Qi Condensation Lapisan 5. Satu tingkat di atas Lin Xuan.

"Selamat datang, Tuan Muda," sapa pria tua itu dengan nada yang dibuat-buat ramah. "Mau beli artefak? Atau... menjual sesuatu yang 'panas'?"

Lin Xuan mendekati meja. Tanpa bicara, dia mengeluarkan bungkusan kulit ular dari balik jubahnya dan meletakkannya di meja.

Pria tua itu mengangkat alis, membuka bungkusan itu dengan satu jari.

Matanya berkilat saat melihat isinya: Dua pasang taring Serigala Gigi Baja, satu kantung racun Ular Kabut, dan tiga butir Inti Monster (Beast Core) berwarna merah keruh.

"Barang bagus," gumam pria tua itu. "Serigala Gigi Baja sulit dibunuh karena kulitnya keras. Ular Kabut racunnya mematikan. Dan Inti Monster ini... hm, sedikit retak, tapi masih mengandung Qi."

Dia menatap Lin Xuan, mencoba menaksir kekuatan pemuda di depannya. Jubah lusuh. Aura lemah. Sendirian.

Senyum licik muncul di wajah si pemilik toko.

"Lima puluh Batu Roh. Untuk semuanya," katanya datar.

Lin Xuan terdiam. Dia tahu harga pasar. Inti Monster saja satu butirnya bernilai 30 Batu Roh. Kantung racun itu minimal 50. Total barang ini setidaknya berharga 200 Batu Roh.

"Dua ratus," kata Lin Xuan singkat. Suaranya dingin dan berat.

Pria tua itu tertawa meremehkan. "Anak muda, kau pasti baru keluar dari hutan. Di sini ada pajak, ada biaya risiko. Lima puluh. Ambil atau pergi."

Tangan pria tua itu bergerak di bawah meja, Dia berniat menekan harga, atau bahkan mengambilnya paksa jika pemuda ini melawan.

"Aku bilang, dua ratus," ulang Lin Xuan. Dia tidak beranjak.

"Kau berani menawar di tokoku?" Aura Qi Condensation Lapisan 5 meledak dari tubuh pria tua itu, menekan ke arah Lin Xuan. "Aku berbaik hati memberimu uang. Jangan sampai aku berubah pikiran dan mematahkan kakimu!"

Di dunia kultivasi, yang kuat memakan yang lemah. Pria tua itu yakin dia lebih kuat.

Tapi dia salah menilai mangsanya.

Alih-alih mundur ketakutan, Lin Xuan justru melangkah maju.

BLAM!

Tangan kanan Lin Xuan menghantam meja kayu tebal itu.

Bukan hantaman biasa. Tulang jarinya yang sekeras besi hitam menembus kayu setebal lima inci itu seolah menembus kertas.

Pria tua itu terlonjak kaget. "K-kau..."

Sebelum dia sempat bereaksi, tangan Lin Xuan sudah mencengkeram kerah jubah pria tua itu dan menariknya kasar melewati meja.

BRAK!

Wajah pria tua itu dihantamkan ke permukaan meja.

"A-apa yang kau lakukan?! Aku dilindungi oleh Geng Kapak Hitam!" teriak pria tua itu, mencoba mengalirkan Qi untuk melepaskan diri.

Tapi cengkeraman di lehernya seperti catut besi. Tulang Asura Lin Xuan menahan aliran Qi lawan dengan kekuatan fisik murni.

Lin Xuan mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya yang tertutup tudung ke telinga pria tua itu.

"Aku tidak peduli siapa pelindungmu," bisik Lin Xuan. Nada bicaranya datar, tanpa emosi, seperti orang yang sedang membicarakan cuaca. "Dua ratus lima puluh Batu Roh. Lima puluh ekstra untuk ketidaksopananmu."

"Kau gila! Lepaskan atau aku teriak!"

Lin Xuan tidak menjawab. Dia hanya menekan ibu jarinya ke tulang selangka pria tua itu.

KREK!

"AAAAARGH!" Jeritan pria tua itu tertahan karena lehernya dicekik. Tulang selangkanya patah semudah mematahkan ranting kering.

Rasa sakit dan ketakutan melanda mata pria tua itu. Dia menyadari satu hal: Pemuda ini bukan kultivator biasa. Dia pembunuh. Matanya kosong, tidak ada keraguan sedikitpun untuk mencabut nyawa.

"Ba-baik! Baik! Dua ratus lima puluh! Lepaskan!"

Lin Xuan melepaskan cengkeramannya, membiarkan pria tua itu merosot ke lantai sambil memegangi bahunya yang hancur.

Dengan gemetar, pria tua itu merogoh laci di bawah meja dan mengeluarkan kantung kain berat.

"I-ini... 250 Batu Roh. Ambil dan pergi! Jangan pernah kembali!"

Lin Xuan mengambil kantung itu, menimbangnya di tangan. Berat. Energinya nyata.

"Senang berbisnis denganmu," kata Lin Xuan datar.

Dia berbalik dan berjalan keluar toko dengan santai, seolah baru saja membeli sayuran, meninggalkan pemilik toko yang menggigil ketakutan di lantai.

Di luar, Lin Xuan tersenyum tipis di balik tudungnya.

"Manusia," gumamnya. "Lebih mudah dipatahkan daripada tulang serigala."

"Bagus," puji Gu di kepalanya. "Sekarang kau punya modal. Cari penginapan terpencil, beli pakaian layak, dan buat identitas baru. Mulai besok, nama Lin Xuan sudah mati. Kau adalah Mu Chen."

Lin Xuan menyusuri jalanan kota yang ramai, menghilang di antara kerumunan manusia.

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!