Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Jalan Kehampaan
Ye Chenxu menggigit bibirnya begitu keras hingga berdarah. Ia tidak berteriak atau melawan. Dengan tangan gemetar, ia mulai mengumpulkan kembali kayu-kayunya satu per satu.
Hinaan seperti ini adalah makanannya sehari-hari. Sejak kecil, ia telah diajari bahwa di dunia ini, kekuatan adalah segalanya, dan mereka yang tidak memiliki akar spiritual hanyalah debu yang boleh diinjak-injak.
Namun, saat meraih sepotong kayu terakhir, dunianya mendadak berputar.
Rasa sakit yang hebat, seperti ribuan jarum yang ditusukkan ke otaknya secara bersamaan, meledak di dalam kepalanya.
Ye Chenxu mengerang, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Penglihatannya menjadi gelap. Dadanya sesak, seolah-olah jantungnya sedang diremas oleh tangan raksasa yang dingin.
Ia ambruk sepenuhnya ke tanah. Darah mengalir dari dahinya yang terluka akibat jatuh tadi, lalu merembes ke tanah.
Di dalam lautan kesadarannya yang gelap, sesuatu yang telah tertidur selama enam belas tahun tiba-tiba terbangun. Sebuah titik hitam kecil di pusat jiwanya mulai berputar, menyedot semua kegelapan dan mengubahnya menjadi badai.
Ingatan-ingatan yang bukan miliknya menerjang seperti banjir bandang yang menghancurkan tanggul.
Pemandangan dewa-dewa yang jatuh, langit yang terbakar, pedang yang mengkhianati tuannya, dan rasa dingin dari kehampaan abadi.
Semua itu menghantam jiwanya dengan kekuatan yang hampir menghancurkan kesadarannya yang lemah sebagai manusia fana.
Aku adalah ... Dewa Kehampaan.
Aku adalah ... Ye Chenxu.
Dua identitas itu berbenturan, melebur, dan akhirnya menyatu dalam sebuah proses yang menyakitkan namun megah.
Di dunia nyata, tubuh Ye Chenxu yang tergeletak di lumpur tiba-tiba berhenti gemetar. Suasana di sekitarnya mendadak sunyi secara tidak alami. Burung-burung berhenti berkicau, dan angin seolah-olah berhenti berhembus.
Pemuda angkuh yang tadinya hendak menendang Ye Chenxu lagi, tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri.
“Hei, bangun! Jangan pura-pura mati, sialan!”
Perlahan, Ye Chenxu menggerakkan jarinya. Ia bangkit, bukan dengan gerakan lemah seorang pemuda yang sekarat, melainkan dengan keanggunan yang aneh dan menakutkan.
Saat berdiri tegak, debu dan lumpur seolah-olah meluncur jatuh dari pakaiannya, ditolak oleh aura yang tidak terlihat.
Lalu, ia membuka matanya.
Pemuda di depannya terhuyung mundur saat melihat sepasang mata yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang pemuda cacat seperti Ye Chenxu.
Mata itu sedalam samudra purba, dingin seperti es di puncak gunung tertinggi, dan membawa tekanan yang membuat napasnya tercekat di tenggorokan.
Ye Chenxu melihat tangannya sendiri yang kurus dan penuh luka. Ia merasakan meridiannya yang hancur dan tubuh fana ini yang begitu rapuh hingga rasanya seperti terbuat dari kertas.
Namun, ia juga merasakan jiwanya. Jiwa Dewa Kehampaan yang tidak bisa dihancurkan oleh reinkarnasi itu sendiri.
“Tubuh ini ... sungguh menyedihkan,” bisiknya. Suaranya kecil, namun setiap kata seolah-olah membawa berat sebuah gunung.
Ia mengabaikan pemuda-pemuda yang gemetar ketakutan tanpa alasan yang jelas.
Ye Chenxu menatap langit kelabu di atasnya. Petir kembali menyambar di kejauhan, menerangi wajahnya yang kini tampak tenang.
Akar spiritual yang rusak? Meridian yang tersumbat? Bagi orang lain, itu adalah hukuman mati.
Tetapi bagi sang Dewa Kehampaan, itu hanyalah sebuah kanvas kosong yang siap dilukis kembali dengan hukum-hukum terlarang.
“Tiga muridku ... sahabatku... wanitaku ...” Ye Chenxu menyunggingkan senyum tipis yang mematikan.
“Tunggu aku di puncak itu. Aku akan memastikan bahwa kali ini, kehampaan yang kalian takuti akan benar-benar menelan kalian tanpa sisa.”
Tiba-tiba, ia memutar kepalanya ke arah utara. Di balik cakrawala, di sana berdiri Pegunungan Hitam yang diselimuti kabut abadi.
Dia merasakan fluktuasi energi liar, seperti aura siluman yang kuat yang tengah bergejolak. Sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk memperkuat wadah fana ini.
***
Kabut pagi yang dingin dan lembap menyelimuti, merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu rumah tua yang nyaris roboh.
Di atas balai-balai bambu yang keras, Ye Chenxu perlahan membuka matanya.
Setiap inci tubuhnya memprotes. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar pegal akibat kerja paksa, melainkan sensasi terbakar yang menjalar dari sumsum tulang hingga ke ujung saraf.
Setiap tarikan napas seolah-olah menarik ribuan jarum perak yang membara ke dalam paru-parunya. Luka di dahinya, bekas hantaman tanah kemarin, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang lemah.
Meridian di sekujur tubuhnya terasa kaku, membatu, dan mati rasa—seperti saluran air yang telah tersumbat lumpur selama puluhan tahun.
Namun, dibandingkan dengan rasa sakit fisik yang merobek itu, gelombang ingatan yang baru saja bangkit jauh lebih menyesakkan dada.
Kehancuran semesta yang megah namun mengerikan.
Wajah murid yang ia sayangi saat menghunuskan pedang ke arahnya.
Kilatan zirah emas sahabatnya yang berkilau di tengah darah keemasan yang tumpah.
Dan tatapan dingin wanita yang dicintainya, ternyata semua itu memiliki harga yang bisa ditukar dengan nyawa.
"Kesunyian abadi," bisik Ye Chenxu. Suaranya serak, nyaris hilang di telan suara angin pagi.
Dia bangkit perlahan, setiap gerakannya diiringi bunyi tulang yang memilukan. Ia membersihkan debu dan sisa lumpur kering di pakaiannya yang lusuh dengan gerakan pelan.
Matanya menatap ke luar jendela yang tak memiliki daun pintu, memandang langit kelabu yang perlahan memudar seiring munculnya cahaya fajar yang pucat.
Ye Chenxu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak batin yang meluap, namun ia segera menekannya ke dasar jiwa yang paling dalam.
Sebagai mantan Dewa Kehampaan, ia tahu bahwa emosi adalah beban bagi mereka yang ingin mendaki puncak.
Ia kembali memejamkan mata sejenak dan menggunakan sisa-sisa kesadaran ilahinya yang masih murni untuk memindai kondisi tubuh barunya.
Tetapi hasilnya sungguh menyedihkan!
Meridian tersumbat di lebih dari tujuh puluh persen jalurnya, membentuk simpul-simpul energi mati yang sulit ditembus. Akar spiritualnya begitu tipis dan redup, nyaris tak terlihat, seolah-olah akan padam ditiup angin sepoi-sepoi.
Tubuh fana ini tidak hanya rapuh, tapi juga berada di ambang kehancuran biologis.
Di dunia kultivasi yang kejam, kondisi seperti ini hanya pantas menjadi sampah, alas kaki bagi mereka yang kuat, atau debu yang terlupakan oleh sejarah.
Namun, di tengah kondisi yang membuat putus asa itu, bibir Ye Chenxu justru melengkung membentuk senyuman tipis yang dingin.
"Bagiku, ini bukan kelemahan," gumamnya pada kegelapan ruangan. "Melainkan sebuah kanvas kosong."
Di dalam lautan kesadarannya yang luas namun sunyi, sosok roh Dewa Kehampaan yang agung perlahan membuka mata.
Sosok itu adalah proyeksi dari esensi sejatinya—sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh hukum reinkarnasi mana pun.
Jalur kultivasi yang tak tercatat dalam kitab-kitab hukum dunia fana mulai terurai di benaknya. Huruf-huruf emas kuno yang memancarkan aura purba berputar, membentuk sebuah teks yang mampu membuat langit dan bumi gemetar jika dibacakan.
Sutra Kehampaan Awal!
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
satu....
tunggu pembalasanku 🤭