NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Momen Kecil yang Menguatkan Cinta

Cinta kami tidak tumbuh dalam peristiwa besar.

Ia tumbuh dalam jeda.

Seperti sore itu.

Aku duduk di meja belajar dengan buku-buku terbuka, tapi pikiranku tidak benar-benar ada di sana. Pensil di tanganku berhenti bergerak sejak beberapa menit lalu. Bukan karena aku tidak mengerti materinya—melainkan karena bayangan seseorang yang duduk di sofa seberang terlalu mengganggu konsentrasiku.

Haruka.

Ia baru pulang. Jasnya tergantung rapi. Kemejanya diganti dengan kaus hitam sederhana. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru mencuci muka. Ia duduk dengan berkas di tangan, tapi tatapannya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal di dunia lain.

Aku memperhatikannya diam-diam.

Cara ia menghela napas perlahan.

Cara dadanya naik turun—napas yang dulu terasa rapuh, kini sedikit lebih stabil.

Cara ia masih terlihat waspada bahkan saat duduk santai.

“Kamu mau terus menatapku?” tanyanya tiba-tiba tanpa menoleh.

“Atau ada yang ingin kamu katakan?”

Aku tersentak kecil, lalu tersenyum. “Ketahuan ya.”

Ia melirikku sekilas. “Kamu selalu lupa kalau aku memperhatikan.”

Aku bangkit, membawa buku dan duduk di lantai dekat kakinya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jarak aman versi kami.

“Aku cuma mau belajar,” kataku. “Tapi otakku lagi mogok.”

Ia menutup berkasnya. “Materi apa?”

Aku menyodorkan buku itu. Ia menerimanya tanpa banyak bicara, lalu mulai menjelaskan. Suaranya tenang. Pelan. Tidak seperti di kelas—tidak formal, tidak berjarak.

Dan entah sejak kapan, belajar bersamanya menjadi… nyaman.

Aku menyadari sesuatu yang kecil tapi penting:

Ia tidak pernah membuatku merasa bodoh.

Tidak pernah meremehkan.

Tidak pernah memotong kalimatku.

Jika aku salah, ia membenarkan dengan sabar.

Jika aku bingung, ia mengulang tanpa mengeluh.

“Haruka,” panggilku di tengah penjelasannya.

“Hm?”

“Kamu sadar tidak,” kataku pelan, “kalau kamu jauh lebih lembut di rumah dibanding di kampus?”

Ia berhenti bicara.

Tatapan matanya turun ke buku, lalu ke tanganku yang masih memegang ujung halaman.

“Aku tidak bisa lembut di semua tempat,” jawabnya akhirnya.

“Ada dunia yang hanya bertahan jika aku keras.”

Aku mengangguk. “Tapi di sini… kamu manusia.”

Ia menatapku lama. Terlalu lama.

“Dan itu berbahaya,” katanya pelan.

Aku tersenyum kecil. “Iya. Tapi kamu tetap melakukannya.”

Ia tidak membantah.

Malam itu, hujan turun lagi.

Tidak deras. Hanya rintik pelan yang mengetuk jendela seperti ingatan lama.

Aku berdiri di dapur, membuatkan teh. Saat berbalik, aku mendapati Haruka sudah berdiri di belakangku—terlalu dekat.

“Kamu capek,” katanya.

“Sedikit,” jawabku jujur.

Ia mengambil cangkir dari tanganku, meniupnya pelan sebelum menyodorkannya kembali. Gerakan kecil. Sepele. Tapi membuat dadaku hangat.

“Kamu tidak harus melakukan semuanya sendiri,” katanya.

Aku menatapnya. “Begitu juga kamu.”

Ia terdiam. Lalu mengangguk kecil.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihatnya duduk tanpa memegang ponsel. Tanpa berjaga. Tanpa tatapan waspada.

Ia hanya… ada.

Kami duduk berdampingan di sofa, tidak saling menyentuh, tapi bahu kami cukup dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Tidak ada pengakuan cinta.

Tidak ada janji.

Hanya dua orang yang memilih tetap tinggal di ruangan yang sama...

Malam itu, listrik tidak mati.

Tapi hujan membuat rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

“Ada film baru,” kataku sambil mengangkat remote.

Haruka melirik layar. “Genre apa?”

Aku ragu sepersekian detik.

“…horor.”

Ia mengangkat alis. “Kamu yakin?”

“Tentu,” jawabku cepat. Terlalu cepat.

“Aku nggak selemah itu.”

Itu bohong.

Aku sangat takut film horor.

Tapi entah kenapa, malam itu aku ingin duduk di sampingnya lebih lama.

Dan ini alasan paling masuk akal yang bisa kupikirkan.

Film dimulai.

Lampu kami redupkan. Suara hujan berpadu dengan musik latar yang pelan tapi mengganggu. Aku duduk tegak, tangan di pangkuan, wajah sok tenang.

Di dalam kepalaku:

Kenapa aku memilih ini.

Kenapa bukan film dokumenter.

Kenapa aku keras kepala.

Lima belas menit pertama masih aman.

Tiga puluh menit… mulai tidak.

Aku melirik Haruka dari samping.

Ia duduk santai, satu tangan di sandaran sofa, wajahnya datar seolah yang muncul di layar hanyalah angka statistik.

Tentu saja.

Orang yang hidup dengan dunia gelap tidak akan takut hantu.

Adegan itu muncul tanpa peringatan.

Suara keras. Wajah tiba-tiba. Lampu berkedip.

Aku menahan teriakan dengan susah payah.

“…kamu nggak apa-apa?” tanyanya tanpa menoleh.

“Ng—nggak,” jawabku cepat. “Santai.”

Dua menit kemudian, adegan lain muncul. Lebih dekat. Lebih gelap. Lebih sunyi.

Tubuhku menegang.

Aku bergeser sedikit.

Lalu sedikit lagi.

Tanpa sadar, jarak kami hampir tidak ada.

Haruka menoleh. “Alya.”

“Iya?”

Suaraku kecil.

“Kamu gemetar.”

Aku ingin menyangkal. Tapi film kembali menampilkan adegan itu.

Dan pertahananku runtuh.

“Aku cuma…,” aku menelan ludah, “…boleh nggak…?”

Kalimatku menggantung.

Ia mematikan film.

Ruangan langsung sunyi. Hanya suara hujan yang tersisa.

“Apa?” tanyanya pelan.

Aku menunduk, malu pada diriku sendiri. “Aku takut. Dari tadi.”

Ia terdiam beberapa detik.

Lalu menggeser tubuhnya, duduk lebih tegak.

“Kemarilah,” katanya singkat.

Aku menoleh, ragu.

Ia menepuk pahanya—bukan memerintah, bukan memaksa.

Hanya memberi ruang.

Aku mendekat perlahan, lalu duduk menyamping, kepalaku bersandar di dadanya. Tangannya terangkat sebentar—seolah bertanya—lalu jatuh dengan hati-hati, memeluk bahuku.

Tidak erat.

Tidak menekan.

Cukup untuk membuatku bernapas lega.

Dan saat itu… aku sadar sesuatu.

Dadanya hangat.

Detak jantungnya stabil.

Tidak terburu-buru. Tidak waspada.

Ia tidak sedang menjadi dosen.

Bukan kalangan atas.

Bukan mafia.

Ia hanya… seseorang yang memelukku agar aku tidak takut.

“Aku kira kamu berani,” katanya pelan.

“Aku pura-pura,” jawabku jujur, suaraku teredam di dadanya.

Ia menghembuskan napas kecil. Hampir seperti tawa.

“Kamu tidak perlu berpura-pura di sini,” katanya.

“Di hadapanku.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi dadaku terasa penuh.

Aku memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, tubuhku benar-benar rileks. Tidak ada rasa ingin berjaga. Tidak ada dorongan untuk kuat.

Hanya nyaman.

Dan aku mengerti arti kata itu malam itu.

Bukan tempat yang aman.

Bukan dunia tanpa bahaya.

Tapi seseorang yang membuatmu berani menutup mata—

tanpa takut jika dunia runtuh saat kamu tertidur.

Haruka mengusap punggungku perlahan.

Gerakan kecil. Hampir tak terasa.

“Kita ganti film,” katanya.

Aku tersenyum kecil, masih memejamkan mata.

“Iya. Tapi… jangan horor.”

“Deal.”

Dan di pelukan itu,

di pangkuan yang tenang,

aku tidak lagi takut pada layar gelap.

Karena untuk pertama kalinya,

aku tahu rasanya pulang tanpa harus pergi ke mana pun.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!