NovelToon NovelToon
Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Ketos / Reinkarnasi / Obsesi / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:563
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesucian di Balik Kamar

Dua tahun setelah mereka berhijrah, di sebuah panti asuhan yang mereka bangun di pelosok Indonesia, Odelyn sedang membagikan makanan kepada anak-anak yatim. Wajahnya kini bersinar dengan kecantikan yang sangat tenang.

Dibalik wajah cantik yang bersinar penuh ketenangan tersebut nyatanya masih ada secarik kisah kelam diantara odelyn dan hediva.

Meskipun mereka sudah tinggal satu atap sebagai pasangan mualaf yang taat, Hediva menunjukkan tingkat kesabaran yang baru. Ia tidak ingin menyentuh Odelyn hanya karena "hak" sebagai suami.

Ia ingin melakukannya saat Odelyn benar-benar merasa sudah pulih secara batin dan tidak lagi terbayang-bayang masa lalunya yang kelam dengan Juan atau rasa bersalahnya pada Gavin.

​Malam demi malam, Hediva tidur di sofa atau di sisi ranjang yang jauh, hanya untuk memastikan Odelyn merasa aman. Ia hanya akan mengecup kening Odelyn setelah shalat tahajud bersama, tanpa menuntut lebih.

​"Kenapa kamu nggak pernah minta, Hediva?" tanya Odelyn suatu malam saat mereka sedang melipat sajadah bersama.

​Hediva tersenyum tulus, wajahnya kini terlihat lebih teduh dengan janggut tipis yang rapi.

"Aku ingin setiap inci kebersamaan kita adalah ibadah, Lyn. Aku mau nunggu sampai kamu ngerasa bahwa aku adalah pelabuhan terakhirmu, bukan karena kewajiban, tapi karena rida Allah."

Mendengar kata-kata itu, tembok terakhir di hati Odelyn runtuh. Ia menyadari betapa mulianya pria di depannya ini. Selama bertahun-tahun ia mengejar bayangan, padahal surga ada tepat di depannya.

​Malam itu, Odelyn berdandan dengan cantik, namun sederhana. Ia menghampiri Hediva yang sedang membaca Al-Qur'an di pojok ruangan. Odelyn dengan lembut menutup kitab suci itu, lalu meraih tangan Hediva dan menciumnya dengan takzim—sesuatu yang belum pernah ia lakukan dengan setulus ini.

​"Hediva... bimbing aku. Malam ini, aku sepenuhnya milikmu. Bukan karena aku takut kehilanganmu, tapi karena aku mencintaimu karena Allah," bisik Odelyn pelan.

​Hediva tertegun. Ia melihat ketulusan yang murni di mata Odelyn. Saat Odelyn memeluknya dengan erat, air mata Hediva pecah. Ia menangis terharu, bukan karena nafsu, tapi karena ia merasa perjuangan sabarnya selama bertahun-tahun akhirnya dijawab oleh Tuhan.

Ia merasa telah mendapatkan kembali "Odelyn-nya" yang sejati.Setelah malam yang penuh haru itu, hubungan mereka menjadi jauh lebih harmonis.

Namun, ujian baru muncul. Ternyata, dampak dari masalah jantung Odelyn dan stres masa lalu membuat kesuburannya terganggu. Dokter di rumah sakit syariah tempat mereka berkonsultasi menyatakan bahwa peluang Odelyn untuk hamil kembali cukup kecil.

​"Kita akan berikhtiar, Lyn. Tapi hasilnya, kita serahkan ke Pemilik Nyawa," ucap Hediva menyemangati.

​Mulailah perjalanan mereka sebagai Pejuang Garis Dua.

​Mereka rutin melakukan pengobatan herbal.

​Mereka rajin bersedekah ke panti asuhan setiap hari Jumat dengan niat meminta keturunan.

​Odelyn belajar mengatur pola makan sehat dan menjaga kesehatan jantungnya agar siap menjadi "rumah" bagi janin baru.

​Setiap bulan, saat hasil testpack masih menunjukkan garis satu, Odelyn sempat merasa sedih. Namun, berbeda dengan dulu yang langsung depresi, sekarang ia langsung mengambil air wudhu dan shalat.Tahun pertama sebagai pejuang garis dua berlalu tanpa hasil.

Teman-teman mereka mulai bertanya, bahkan Elara (masa lalu Hediva) sempat terdengar mencibir bahwa "mungkin itu kutukan".

​Namun, Hediva justru semakin protektif. "Kalau Allah belum kasih, berarti Allah mau kita lebih lama berduaan untuk memperbaiki diri," kata Hediva setiap kali melihat Odelyn menatap stroller bayi di mall dengan mata berkaca-kaca.

​Mereka menjalani proses IVF (bayi tabung) yang melelahkan fisik Odelyn. Hediva selalu ada di sampingnya, memegang tangannya saat jarum suntik masuk ke kulit istrinya.

Mereka berdua belajar bahwa anak bukan sekadar "penerus tahta", tapi amanah yang harus dijemput dengan kesabaran luar biasa.Suatu pagi di bulan Ramadhan, setelah mereka melaksanakan shalat Subuh berjamaah dan berdoa di waktu mustajab, Odelyn merasa tubuhnya sedikit berbeda.

Ia tidak ingin berekspektasi tinggi karena sudah puluhan kali kecewa.

​Dengan tangan gemetar, ia mencoba testpack terakhir yang ia punya. Ia meletakkannya di pinggir wastafel dan menutupnya dengan tisu, tak berani melihat.

​"Hediva... tolong liat," panggil Odelyn dari dalam kamar mandi.

​Hediva masuk, perlahan membuka tisu itu. Matanya membelalak. Di sana, dua garis merah terlihat sangat jelas dan tegas.

​Hediva langsung jatuh tersungkur dalam sujud syukur yang sangat lama di lantai kamar mandi. Odelyn ikut berlutut di sampingnya, mereka berpelukan sambil menangis sesenggukan.

Kali ini bukan tangisan kesedihan karena kehilangan Arsa, tapi tangisan syukur atas kesempatan kedua.

1
Anonymous
Keren banyak banget plot twisnya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!