Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api yang Menyatu
Mereka sudah tidak lagi hidup sembunyi. Setelah beberapa tahun pengasingan, Sari dan Arka membangun tempat tinggal permanen di puncak bukit yang menghadap kawah utama—sebuah sarang batu vulkanik raksasa yang Arka bentuk sendiri dengan api dan cakarnya. Dindingnya tinggi, melengkung seperti benteng alami, dengan lubang besar di tengah yang terhubung langsung ke lava mengalir di bawah—tempat Arka tidur, tubuhnya tenggelam separuh di lava hangat seperti manusia tidur di air panas.
Sari tidur di sisi sarang yang lebih tinggi, di atas batu datar yang ia lapisi dengan kain tahan api dan bulu rusa yang lembut. Setiap malam, ia duduk di tepi lubang lava, memandang Arka yang tenggelam separuh tubuh di lava merah menyala. Cahaya lava memantul di wajah Sari, membuat matanya hijau zamrud berkilau seperti permata yang terbakar.
Malam itu hujan turun deras di luar, tapi hujan tidak pernah mencapai sarang—api Arka selalu menciptakan uap panas yang menolak air. Sari duduk di tepi lubang, kakinya menggantung di atas lava, rambut hitam merahnya berkibar ditiup hembusan panas dari napas Arka.
Arka muncul perlahan dari lava, tubuh besarnya basah oleh cairan panas yang langsung mengering di udara. Ia berubah ke bentuk manusia—gerakan yang sudah ia kuasai dengan sempurna. Kulitnya merah keemasan seperti bara, rambut hitam panjang dengan semburat merah, matanya merah lava tapi lembut saat memandang Sari. Tubuhnya tinggi, berotot, tapi masih ada jejak kepolosan di wajahnya—jejak anak naga yang dulu bersandar di pangkuan Sari.
Ia berlutut di depan Sari, tangan manusia itu gemetar saat menyentuh pipi Sari.
“Kau tidak tidur lagi,” katanya pelan, suara manusia itu dalam dan hangat seperti api yang terkendali.
Sari tersenyum kecil, tangannya menutupi tangan Arka. “Aku tidak bisa tidur kalau kau gelisah. Aku merasakannya… api di dadamu tidak tenang malam ini.”
Arka menunduk. “Aku… mikir tentang kita. Tentang apa yang kita rasakan. Tentang apa yang klan bilang: hubungan terlarang. Aku takut kalau perasaan ini salah. Aku takut kalau aku akan menyakitimu.”
Sari mengangkat wajah Arka dengan kedua tangan. “Kau tidak akan menyakitiku. Kau sudah membuktikannya ribuan kali. Setiap kali kau melindungiku, setiap kali kau memilih tidak membakar meski marah… kau sudah membuktikan bahwa api-mu bukan ancaman. Ia adalah pelindung.”
Arka menatap Sari lama. Lalu ia mendekat pelan—sangat pelan. Bibirnya menyentuh bibir Sari dengan lembut, ragu, tapi penuh rasa yang sudah lama dipendam. Ciuman itu singkat pada awalnya—hanya sentuhan. Tapi lalu Sari membalas, tangannya merangkul leher Arka, menariknya lebih dekat.
Ciuman menjadi lebih dalam. Api di dada mereka berdua meledak pelan—bukan api yang menghancurkan, tapi api yang menyatu, menciptakan cahaya emas-merah tipis yang melingkupi tubuh mereka seperti pelukan dari dalam. Panas dari tubuh Arka menyengat kulit Sari, tapi bukan membakar—panas itu seperti pelukan yang hangat, yang membuat Sari merasa hidup lebih dari sebelumnya.
Mereka berpisah pelan, napas tersengal. Arka menyentuh dahi Sari dengan dahinya sendiri.
“Aku mencintaimu,” katanya, suara manusia itu penuh emosi. “Bukan sebagai anak mencintai ibu. Tapi sebagai laki-laki mencintai wanita. Dan aku takut… kalau cinta ini akan menghancurkanmu.”
Sari tersenyum, air mata emas mengalir di pipinya. “Cinta ini tidak akan menghancurkan. Cinta ini yang membuat kita kuat. Aku juga mencintaimu, Arka. Dan aku tidak takut lagi. Karena aku tahu… api kita tidak akan saling membakar. Kita akan saling menerangi.”
Arka memeluk Sari erat—pelukan manusia yang hangat, penuh rasa. Tubuhnya masih panas, tapi Sari tidak mundur. Ia memeluk balik, kepalanya bersandar di dada Arka, mendengar detak jantung naga yang kini berirama dengan detak jantungnya sendiri.
Mereka duduk begitu lama—di bawah langit malam Merapi, dikelilingi lava yang berdenyut pelan seperti menyanyikan lagu pengantar tidur.
Tapi kedamaian itu terpotong oleh suara langkah di luar sarang.
Sari dan Arka langsung berdiri. Arka kembali ke bentuk naga dengan cepat—sisik merah menyala terang, sayap membentang siap melindungi.
Raden Surya muncul di pintu sarang, diikuti dua puluh Phoenix bersenjata lengkap—rantai api, tombak api, dan panah api gelap. Di belakang mereka, tetua berjubah hitam—pemimpin faksi bayang Naga Tanah—tersenyum dingin.
“Kalian sudah terlalu jauh,” kata Raden Surya. “Hubungan ini adalah pengkhianatan terbesar. Naga api dan Phoenix… kalau kalian bersatu, keseimbangan empat raja akan runtuh. Kami tidak akan biarkan itu terjadi.”
Arka menggeram—geraman yang menggetarkan seluruh bukit. Api merah meledak dari mulutnya, membentuk tembok api yang menghalangi pintu sarang.
“Kalian tidak akan menyentuhnya,” katanya, suara naga itu dalam dan menggelegar. “Ia milikku. Dan aku miliknya.”
Sari berdiri di samping Arka, api Phoenix-nya menyala penuh—merah keemasan yang hampir putih. “Kalau kalian ingin perang… kalian akan dapat perang. Tapi ingat: api kami bukan untuk menghancurkan. Api kami untuk melindungi.”
Raden Surya mengangkat tangan. Phoenix-pengikutnya melemparkan tombak dan panah api sekaligus—serangan yang terkoordinasi, api gelap yang dicampur bayang Naga Tanah.
Arka meraung. Sayapnya membentang penuh. Ia meniup badai api merah—api yang membakar tombak dan panah sebelum menyentuh Sari. Lava di bawah sarang naik mengikuti gerakannya, membentuk tembok lava yang menghalangi serangan.
Tapi tetua berjubah hitam maju. Ia mengangkat tangan—bayang hitam muncul dari tanah, membentuk tentakel besar yang menyambar ke arah Arka.
Arka menukik cepat, sayapnya mengiris tentakel itu. Api dari sayapnya membakar bayang itu, tapi tetua tertawa.
“Kau masih muda, naga api. Kau tidak tahu kekuatan kegelapan asli.”
Sari melompat ke depan. Api Phoenix-nya membentuk perisai besar yang melindungi Arka dari tentakel berikutnya. Tapi kekuatannya terbagi—ia harus melindungi Arka dan menyerang sekaligus.
Raden Surya melemparkan tombak api terakhir—tombak yang ditujukan tepat ke dada Sari.
Arka meraung lagi—raungan yang menggetarkan gunung. Ia melompat ke depan Sari, tubuh besarnya menahan tombak itu dengan dada. Tombak itu menembus sisiknya—luka dalam yang mengeluarkan darah lava panas.
Sari berteriak. “ARKA!”
Arka tidak jatuh. Ia menggenggam tombak itu dengan cakarnya, menariknya keluar, lalu meniup api merah ke arah Raden Surya. Api itu membakar tombak dan rantai musuh, membuat Phoenix-pengikut mundur.
Tetua berjubah hitam menggeram. “Mundur! Ia sudah terlalu kuat!”
Mereka pergi, meninggalkan sarang yang berasap dan lava yang bergolak.
Arka jatuh berlutut, darah lava mengalir dari luka di dadanya. Sari berlari ke arahnya, tangannya menyentuh luka itu. Api Phoenix-nya mengalir ke dalam luka—menyembuhkan perlahan, tapi Sari sendiri gemetar karena kehabisan tenaga.
“Kau bodoh,” bisik Sari, air mata emas mengalir. “Kenapa kau tangkap tombak itu?”
Arka tersenyum lemah—dalam bentuk naga, senyum itu terlihat lucu tapi penuh cinta. “Karena aku tidak mau kau terluka lagi. Kau sudah terluka terlalu banyak karena aku.”
Sari memeluk leher besar Arka. “Dan aku tidak mau kau mati karena aku. Kita saling lindungi. Itu janji kita.”
Arka mengangguk. Luka di dadanya perlahan menutup, meninggalkan bekas merah gelap—bekas pertama yang permanen di sisiknya.
Malam itu, mereka tidur bersama di sarang yang hangus. Arka melingkari tubuh Sari dengan ekornya, pelukan pelindung. Sari bersandar di dada besar Arka, mendengar detak jantung naga yang kini berirama dengan detak jantungnya sendiri.
Dan di luar, bayang hitam kecil itu tersenyum—senyum yang penuh rencana.
Api baru sudah menyatu.
Tapi perang baru saja dimulai.